Dear Viona,
Terima kasih, karena telah memberikan warna-warni kehidupan disisa waktuku.
Terima kasih, karena telah mencintaiku dengan tulus.
Mencintaimu adalah hal terindah yang pernah kurasakan.
Bersamamu, kurasakan seperti seorang yang paling sempurna. Memiliki segalanya, dirimu dan cintamu.
Berjanjilah, untuk tidak menangisi kepergianku!
Karena aku selalu ada didekatmu, menjagamu, memelukmu, lewat penglihatan yang kutitipkan padamu.
I Love You, Sasha....
Salam,
Galang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose_Dreamers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VhieDjar 33
#Sasha Pov
Malas rasanya untuk beranjak dari tempat tidur yang nyaman ini, ketika sinar matahari mulai menggelitikku untuk segera membuka mata.
Dengan langkah gontai, aku melangkahkan kaki ku menuju kamar mandi. Aku segera melakukan rutinitas pagiku membersihkan badan. Setelah selesai mandi, aku membuka lemari pakaian lalu mengambil pakaian yang akan aku pakai hari ini ke kampus.
Waktu menunjukan pukul 07.05 pagi, aku segera bergegas ke dapur untuk sarapan. Setelah selesai dengan sarapanku, aku mulai menyiapkan semua buku-buku yang akan aku bawa hari ini ke kampus, tidak lupa membawa ponsel dan juga laptop kesayanganku.
Sebelum berangkat, aku menyalakan laptop dan membuka aplikasi sosmed. Ya, sekedar untuk melihat ada berita apa pagi ini dari teman-teman kampusku.
Tring
Notif pesan masuk dari seseorang yang akunnya baru tadi malam aku follback.
"***Selamat pagi..." ~Pengagum rahasia
"Semangat beraktivitas 😊" ~Pengagum rahasia***
Setelah melihat isi pesannya, aku tidak berniat untuk membalasnya. Aku menekan tombol kembali, lalu mematikan laptop dan memasukkannya kedalam tas.
Baru saja hendak melangkahkan kaki menuju keluar Apartemen, langkahku terhenti karena ponselku tiba-tiba berdering.
"Nomor baru lagi. Siapa sih?" gumamku
Aku menggeser tombol hijau pada layar ponselku.
"Hallo,"
Aku menyapa seseorang yang berada disebrang telpon, tapi tidak ada balasan darinya.
"Hallo, siapa sih?" Tanyaku pada seseorang yang meneleponku.
"Kalau kamu gak ngomong, aku jadi merasa diteror loh." Ucapku, tapi tetap tidak ada jawaban dari sebrang sana.
Dengan kesal aku matikan sambungan telponnya, tapi lagi-lagi ponselku berdering.
"Siapa sih? Gak punya kerjaan ya pagi-pagi udah neror orang?" Cerocos ku saat sambungan telpon terhubung.
"Loh, Sha. Kamu kenapa marah-marah?" Suara pria dari sebrang telpon.
"Eh, Kak Lang. Maaf-maaf, kirain yang neror aku. Barusan ada yang nelpon aku lagi, aku jadi takut." Ucapku pada Kak Galang.
Yah, ternyata sipenelpon bukanlah nomor yang tadi menerorku, melainkan telpon itu dari Kak Galang.
"Hari ini kamu kuliah?" Tanya Kak Galang.
"Iya, ini baru mau berangkat." Ucapku.
"Kakak tunggu kamu dibawah ya." Ucap Kak Galang, aku hanya mengangguk walau kak Galang tidak melihatnya.
"Iya kak, aku kesana sekarang." Ucapku seraya mematikan sambungan telpon dari kak Galang.
Aku segera melangkahkan kaki bergegas keluar dari kamar ku.
Setelah sampai diluar, aku melihat Kak Galang tengah berdiri bersandar pada mobilnya.
Aku segera menghampiri Kak Galang, lalu tidak berlama-lama kamipun masuk kedalam mobil. Kak Galang langsung menghidupkan mobilnya, dan mobilpun melaju dengan kecepatan sedang.
"Ada yang nelpon kamu lagi?" Tanya Kak Galang, aku hanya mengangguk menjawabnya.
"Blockir aja nomornya, biar gak nelponin kamu lagi. Kakak kan udah bilang, kamu jangan angkat telpon dari nomor tidak dikenal." Ucap Kak Galang dengan rasa khawatir di wajahnya.
"Takutnya kalau orang itu nelpon karena ada penting gitu." Ucapku
"Kalau penting, dia pasti bicara. Bukan malah diam aja kan?" Ujar Kak Galang padaku.
"Iya deh, iya. Aku gak bakal angkat telpon dari nomor tidak dikenal lagi." Ucapku dengan nada manja, aku melihat kak Galang tersenyum padaku.
"Bukan kakak mau larang kamu untuk menerima telpon, Kakak cuma takut kamu kenapa-napa." Ucap Kak Galang.
Aku melihat Kak Galang, dan Kak Galang pun menatapku sekilas seraya tersenyum tulus padaku. Tangannya terangkat mengusap kepalaku.
Ah, rasanya nyaman sekali diperlakukan seperti ini sama Kak Galang. Walau aku tidak merasakan getaran hebat di dadaku saat bersama Kak Galang, lain halnya saat aku berada didekat dia. Jantung ku akan bedegub kencang, ada getaran aneh kurasakan saat bersamanya.
Setelah beberapa menit berlalu, kamipun sudah sampai di kampus. Aku keluar dari dalam mobil di ikuti Kak Galang. Kami pun masuk kedalam gedung kampus.
"Nanti setelah pulang kuliah, kakak mau ngajak kamu kesuatu tempat. Mau gak?" Tanya Galang saat kami berjalan beriringan menuju kelas ku.
"Kemana, Kak?"
"Ada, pokoknya kamu pasti suka tempatnya." Ucap Kak Galang tersenyum lembut padaku.
"Iya, deh. Percaya aja sama Kak Lang mah!" Ucap ku seraya tersenyum pada Kak Galang.
Kak Galang terkekeh mendengar ucapanku, ia mengacak rambutku gemas.
"Ih, Kakak. Rambut aku jadi acak-acakan gini." Ucapku seraya membetulkan rambutku.
Kak Galang malah semakin tertawa melihatku.
Kamipun sampai didepan kelasku.
"Aku masuk dulu ya kak," Aku membalikan badanku hendak melangkahkan kaki, namun tanganku dicegah Kak Galang.
"Kenapa?" Tanyaku pada Kak Galang yang kini matanya menatapku dengan tajam.
Ia menarik lenganku hingga aku terjatuh dalam pelukannya.
Deg
Jantungku berdebar saat mata ku melihat tatapan Kak Galang yang lembut, aku melihat wajahnya dari jarak sepuluh senti. Dan itu membuatku malu, wajahku terasa panas. Dengan segera aku menundukan kepalaku, supaya tidak ketahuan perubahan wajahku yang mungkin sekarang menjadi merah seperti udang rebus.
Kak Galang mengangkat kepala ku dengan lembut, pandangan kamipun beradu kembali.
Senyum Kak Galang membuat Jantungku semakin berdegup kencang.
Wajah kak Galang semakin mendekati wajahku. Aku benar-benar merasa gugup dibuatnya.
"Apa kali ini Kak Galang benar-benar akan menciumku?" gumam ku dalam hati.
Hanya tinggal dua senti lagi jarak bibir Kak Galang dengan bibirku.
"Woy, kalau mau pacaran jangan disini dong!" Suara seseorang berhasil membuat kami kaget.
"Citra!" Ucap Kak Galang kesal, saat tahu adiknya berada tepat dibelakang Kak Galang.
Citra yang melihat wajah kesal kakaknya, terkekeh puas.
"Lagian mau ciuman didepan umum. Lihat noh, semua orang liatin kalian berdua." Ucap Citra seraya menunjukan orang-orang yang sedang melihat kearahku dan kak Galang.
Sontak itu semua membuatku sangat malu, dengan tergesa aku segera berlari masuk kedalam kelas, meninggalkan Citra dan Galang yang masih berdebat di depan kelas.
**Hai, semua...
Jangan lupa kasih jejak setelah baca ya. Like, komen, dan Vote karya aku. Supaya aku makin semangat untuk terus berkarya 😊
Jangan lupa untuk mampir juga ke cerita ku yang ke - 2 berjudul "My Little Princess"
Mohon dukungannya ya 😊😊😊**
tapi galang sedikit obsesi sama viona alias shasha..bukan karna galang cinta..karna klo dia cinta pasti akan bertanya gimana perasaan wanitanya..bukan dengan egoisnya bilang nggak mau di tinggalin dan nggak membiarkan wanitanya memilih siapa yang sebenarnya ada di hati wanitanya..