NovelToon NovelToon
Cinta Tapi Menyakitkan

Cinta Tapi Menyakitkan

Status: tamat
Genre:Romantis / Pernikahan Kilat / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Felicialetha

Cinta Tapi Menyakitkan, adalah kisah sebuah rumah tangga Anindita Putri dan Elnino Karisma.

El menikahi Anin karena ingin melupakan istrinya yang meninggalkan dirinya begitu saja. Sementara Anin karena sudah jatuh cinta pada El, akhirnya mau dinikahi.

Saling menyakiti bermula ketika Anin tahu bahwa El sudah pernah menikah, dan belum menceraikan istri pertamanya. Pernikahan untuk El adalah sebuah cara untuk melupakan istri pertamanya, dan belum memiliki perasaan cinta pada sosok Anin yang membuat Anin sangat tersakiti.

Anin berusaha untuk bangkit sendiri, dalam sakit hatinya, tiba-tiba banyak sosok pria dengan tulus mencintai Anin dan membuat Anin merasa di cintai, tapi dalam kondisi Anin tidak bisa bercerai dengan El.

Penasarankan bagaimana akhirnya kisah cinta Anin dan El? Akankah El kembali pada istri pertamanya, atau akan tetap bertahan dengan Anin, dan mencintainya?
Yuuuk baca Novel ini sampai akhir 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Felicialetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sunrise

Setelah sholat subuh, Rais menghampiri Anin di kamar hotelnya, berniat untuk mengajak Anin melihat sunrise di pinggir pantai.

"Tok tok toookkk..." suara pintu diketuk

Anin baru saja merapikan alat sholatnya, lalu merapikan rambutnya asal sebelum akhirnya membuka pintu.

"Nin.. Udah bangun belum?" tanya Rais dari balik pintu

"Udah, Is.. Sebentar.." ucap Anin menjawab

Setelah mengikat rambutnya, Anin membukakan pintu kamarnya itu.

"Nin.. ikut aku yuuu.." ucap Rais dengan bersemangat

"Kemana Is?" tanya Anin dengan suara yang masih serak-serak

"Ayo ikut aja.." jawab Rais dengan senyum mengembangnya

Anin dengan senang hati ikut dengan Rais yang sudah menggandeng tangannya itu.

Anin masih memakai piyama merahnya yang serba panjang itu, begitu juga dengan Rais yang masih menggunakan baju santai rumahannya.

Rais menggandeng Anin menuju ke pinggir pantai, sebentar lagi matahari akan terbit.

Rais mengajak Anin untuk duduk di pinggir pantai, sembari menatap sinar matahari yang malu-malu menampakan cahayanya.

"Indah banget ya warnanya.." ucap Anin sangat kagum

Rais hanya tersenyum manis ke arah Anin

"Secantik senyum kamu, Nin.." ucap Rais dalam batinnya

Sunrise terus menampakan sinarnya, menerangi pulau Lombok ini. Indah sangat terasa, udara sejuk, dan hangatnya sinar matahari pagi begitu jelas terasa dikulit. Anin dan Rais begitu asik menikmati suasana indah itu, sembari sik bermain pasir dan dinginnya air laut, membuat keduanya basah kuyup.

Maura, Dian dan Ima tak sengaja juga melihat kebersamaan Anin dan Rais yang sedak asik bermain-main itu, hingga keduanya basah kuyup.

"Asik banget ya merekaaa.." ucap Ima sembari terus menatap Rais dan Anin

"Bahagia banget deh jadi si Anindita itu, di cintai dua orang sekaligus, suaminya sama Pak Rais" ucap Dian berdecak kagum pada Anin

"Ih kalian!" ucap Maura dengan ketus merasa tak nyaman dengan pemandangan yang ia lihat itu, dan tak suka dengan ucapan Dian

Maura berjalan lebih dulu meninggalkan Dian dan Ima yang masih memperhatikan Rais dan Anin. Maura berjalan sembari mendengus kesal.

Anin terlihat sudah kedinginan, Rais dengan cepat mengajak Anin untuk segera kembali ke kamar hotel mereka.

"Kamu kedinginan ya Nin? Sudah yuuu, kita ganti baju mandi, lalu kita sarapan" ucap Rais pada Anin

"Ayooo.." jawab Anin yang sudah merasa menggigil itu

Rais lalu merangkul Anin, seolah ingin menghangatkan Anin. Rais berjala mengantarkan Anin terlebih dulu ke kamarnya.

"Maaf ya kamu jadi kedinginan.." ucap Rais setelah Anin membuka pintu kamarnya

"Seru banget, Is.. Makasih yaaa" ucap Anin dengan senyum bahagianya

Rais masih saja terdiam di depan pintu kamar Anin, walau sebenarnya ia pun sudah kedinginan.

"Udah sana.. Mau ngapain lagi?" Ucap Anin pada Rais yang masih terdiam itu

"Hehe maaf maaf.. Dikira mau ngajak masuk dulu" jawab Rais dengan centilnya

"Huuu sana cepat mandi, ganti baju. Katanya lapar.." ucap Anin meledek Rais

Anin lalu menutup pintu kamarnya begitu saja, walau Rais masih terdiam disana. Perasaan Anin menjadi aneh pada Rais, selalu merasa berdebar-debar yang tak biasa.

"Kenapa sih selalu berdegup sekencang gini, Nin? Kamu gak boleh jatuh cinta sama Rais! Jangan kecawakan Rais, Nin.. Jangan!" ucap Anin pelan pada dirinya sendiri

Anin langsung menuju toilet untuk mandi dan berganti pakaian.

...----------------...

Pagi-pagi sekali El sudah siap untuk pergi menuju kerumah Pak Hendra untuk pergi bersama kerumah Hana. El tidak pernah tahu dimana rumah Hana, makanya ia mengajak Pak Hendra untuk pergi bersama.

Tak lama El sudah tiba di rumah Pak Hendra yang masih menjadi mertuanya itu.

"Pa.." ucap El sembari menyalami Pak Hendra yang membukakan pintu rumahnya itu

"El.. Ayo kita langsung berangkat aja kerumah Hana.." ucap Pak Hendra dengan wajah datarnya karena ia masih merasa kesal pada El

El dan Pak Hendra langsung menuju kerumah Hana. Dengan kecepatan sedang El terus melajukan mobilnya. Pak Hendra menunjukan jalan kerumah Hana. Tak butuh waktu lama, Pak Hendra dan El sudah tiba dirumah Hana.

Pak Hendra turun lebih dulu, lalu diikuti oleh El.

"Tok tok toookkk.." Pak Hendra mengetuk pintu rumah Hana

"Assalamu'alaikum.." ucap Pak Hendra memberi salam

"Walaikumsalam.." jawab seorang wanita dari dalam, yang ternyata adalah Ibu dari Hana, wanita yang Pak Hendra juga kenal.

"Bu Sari, Punten saya mau bertemu dengan Hana.. Apa Hana ada?" ucap Pak Hendra sembari saling bersalaman dengan Bu Sari, Ibu dari Hana

"Eh Pak Hendra, ada Pak.. Mari masuk atuh kedalam.. sama siapa Pak?" ucap Bu Sari mempersilahkan masuk, lalu menanyakan seseorang yang berdiri di belakang Pak Hendra

El tersenyum ramah, lalu ikut menyalami Bu Sari.

"Menantu saya.." jawab Pak Hendra singkat dengan senyum tipisnya

El dan Pak Hendra menunggu di kursi ruang tamu, sementara Bu Sari memanggil Hana yang ada di kamarnya di lantai 2.

Hana begitu tercengang ketika ayah sahabatnya itu sampai mencari dirinya kerumah begini, Hana dengan cepat merapikan rambutnya, mengganti pakaiannya dengan yang lebih sopan karena tadi ia menggunakan celana pendek sepaha.

Setelah dirasa rapi, Hana segera menemui Pak Hendra dan El yang sudah menunggunya di ruang tamu itu.

"Eh Papa.." ucap Hana sembari menghampiri Pak Hendra yang sedang duduk bersampingan dengan El tampak tak ada obrolan itu

"Iya Na.. Maaf ya, Papa datang kemari, mengganggu kamu.." ucap Pak Hendra dengan senyum getirnya

"Enggak ganggu kok Pa.." jawab Hana dengan memaksakan senyumnya pada El yang ia lihat duduk bersampingan dengan Pak Hendra

"Begini Hana kami kemari ingin memastikan, apa benar Anin hamil?" langsung tanya El dengan merasa tak sabar

Hana terlihat sangat gugup, peluhnya tiba-tiba turun seiring rasa canggung yang membelenggunya setelah mendengar pertanyaan dari mulut El.

"Jawab jujur Na.." ucap Pak Hendra dengan suara sendunya

Hana menatap dalam kearah Pak Hendra, tatapan Pak Hendra begitu penuh harap kejujuran dari Hana.

"Hana tolong, Na.. Jawab Papa.. Papa ingin tahu" ucap Pak Hendra lagi sembari memegang tangan Hana

"Kamu tidak ingin kan Anin sampai bercerai dan melahirkan seorang diri tanpa suaminya?" lanjut ucap Pak Hendra untuk meyakinkan diri Hana

Hana menatap ke arah El, bergantian kembali menatap Pak Hendra.

"Maafin Hana, Pa..." ucap Hana suaranya sangat sendu menahan sedihnya

"Iya Anin sedang hamil, hamil anaknya Kak El.. Sebenarnya waktu Hana mengantar Anin ke klinik itu Anin dinyatakan hamil oleh Dokter.." lanjut ucap Hana, Hana meraih tangan Pak Hendra

Pak Hendra dan El sama-sama terkaget mendengar pengakuan Hana, tak habis fikir kenapa Anin tak memberitahukan semua ini.

"Maafin Hana, Pa.. Maaf.. Anin yang minta untuk tidak menceritakan ini pada siapapun" ucap Hana kini dengan air mata yang menetes mengalir dipipinya

Pak Hendra seketika memeluk Hana, mengusap lembut punggung Hana. Pak Hendra sudah menganggap Hana seperti anaknya sendiri, saudara Anin, karena memang mereka cukup sangat dekat dan sudah lama bersama.

"Iya Na.. Papa ngerti kok.." ucap Pak Hendra dengan senyum tipisnya

"Aku gak habis fikir kenapa Anin menyembunyikan ini semua dari aku.." ucap El pelan, matanya mulai berkaca-kaca

Pak Hendra lalu berpamitan pada Hana, lalu mengajak El yang masih bersedih itu untuk segera pulang. Dalam perjalanan Pak Hendra masih saja terdiam, sementara pikiran El kemana-mana.

"Kenapa Anin gak jujur sama aku yaaa.. Padahal Anin meminta aku untuk bersama Erina, tapi dia sendiri tega membiarkan anaknya sendiri tanpa ayah.." ucap El dengan suara getirnya pandangannya lurus kedepan

"Karena Anin terlalu sakit bila bersama kamu!" jawab Pak Hendra dengan ketusnya

El tak habis pikir bahwa ayah mertuanya itu akan berkata begitu.

"Papa pasti juga marah banget sama aku sebenarnya" ucap El dalam hatinya

...----------------...

Anin dan Rais baru saja selesai sarapan di restoran, Resort tempat ia menginap itu.

Sore hari Anin dan Rais akan segera kembali ke Bandung, dan pulang. Anin tak ingin menyia-nyiakan waktu liburannya ini, Anin mengajak Rais untuk berjalan-jalan membeli oleh-oleh.

"Is kita jalan yuu, cari oleh-oleh sebelum pulang" ucap Anin sedikit merengek manja

"Ayo Nin.." jawab Rais dengan senyum mengembang di wajahnya

Ada seorang pria menatap ke arah Anin dan Rais, sedari tadi pandangannya terus memperhatikan kebersamaan Rais dan Anin yang duduk bersama itu.

"Benar itu Rais dan Anin!" ucapnya sembari mendengus kesal

Anin dan Rais bergandengan berjalan keluar dari Resto itu, menuju sebuah tempat belanja oleh-oleh khas Lombok. Saat melewati parkiran, tiba-tiba ada yang memegang pundak Rais dari samping.

Seketika Rais menghentikan langkahnya, dan menoleh kearahnya.

"Benar dugaan ku!" ucapnya dihadapan Rais dan Anin

Anin dan Rais sama-sama terdiam, tercengang melihat siapa yang menghentikan langkahnya itu.

Seseorang yang tak ingin lagi Anin temui rasanya.

Anin begitu ketakutan melihat sosok yang kini ada dihadapannya itu, membuat Anin menggenggam erat tangan Rais, dan bersembunyi dibalik tubuh tegap Rais.

"Jadi sekarang kamu pengkhianat Is?" ucapnya sembari mendengus kasar

Terlihat jelas wajahnya sudah tersulut emosi.

Rais masih terdiam ia berusaha menenangkan Anin yang berada dibalik tubuhnya itu agar tidak ketakutan.

"Apa maksud kamu?" tanya Rais dengan kesalnya

1
ega
el itu lelaki plin plan goblok ga punya perasaan, egoiss
Herta Siahaan
gimana kabarnya Erina y
Herta Siahaan
duh malang nasibmu nak ... sepertinya hidup mu nak ... g bisa terbayangkan
Herta Siahaan
pelihara dan terima Erina yg tak berdosa.... pasti doa anak teraniaya seperti dia penolong gian
Herta Siahaan
yah sakit sih perbuatan Elvira tapi Erina hanya korban Anin. coba bayangkan kalau itu terjadi padamu. diah kehilangan maminya terus ayahnya jahat lagi
Herta Siahaan
paling Antoni mau menjadikan Elvira budak seksnya.... dasar laki-laki tak punya hati
Herta Siahaan
kasian Erina thor anak yg hanya korban ibunya dan Antonio yg bejad pasti tak sayang anaknya
Herta Siahaan
haduh rusak pertahanan Anin .. pasti Elvira terbahak 😆😆😆
Herta Siahaan
duduh Elvira... dasar ya.... buat anak tak jelas bapak nya ... kasian Erina Korba ibu yg gitu ...
Herta Siahaan
kan feeling g salah... kasian Erina thor. tuh maknya manusia biadab
Herta Siahaan
wah kayaknya Erina harus ikut Anin dan Ek deh kayaknya Elvira ada niat jahat ma Erina... kasian dia dimanfaatkan ma maknya
Herta Siahaan
ada apa sih dgn mu Elvira.... katanya iklaa dan ini ingin rujuk ada yg g beres nih ma Elvira bang El ..
Herta Siahaan
jangan jadi perusak rumah tangga orang yg kamu cintai Ris....
Herta Siahaan
Rais tanggung jawab kamu yg mulai buat Anin memberontak jd sebagai teman yg menyanginya kembali kan Anin
Herta Siahaan
jujur nin kasihan orang tuamu... jgn jd korban keegoisan mu
Herta Siahaan
tuh kan Anin makin runyam masalah mu. kamu sich ... yg ini belum selesai dah ditambah.
Herta Siahaan
anin dan Rais salah seharusnya mereka jujur diasaat situasi anin begini makin Buat anin tertuduh yg selingkuh
Herta Siahaan
El yg ganteng selidiki donk. masa masih jg oon ya. Elvira mendadak hadir dan membiarkan Anin tersiksa dan malah menuduh anin tanpa merasah bersalah hnya dgn melihat aja
Herta Siahaan
hadehhh selalu begitu ya.. hamil tanpa diketahui suami dan akhirnya sianak tanpa ayah. anak jg yg jadi korban
Herta Siahaan
buka mata kalian wahai orang tua. gimana kalau anakmu dipoligami mau.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!