Andara Agustin, gadis malang yang tidak diinginkan keberadaannya. Kehadirannya dianggap sebagai kesialan. Kalau bukan karena wasiat sang Nenek, Dara pasti sudah pergi dari keluarga yang memperlakukan dirinya tak lebih dari sampah.
Namun, takdir Tuhan membawa Dara pada seorang Raffaza Alfarezo. Presdir Perusahaan Gerdion, pria dingin dan arogan. Kesalahan satu malam yang mereka perbuat menghasilkan sosok makhluk kecil yang tak bersalah. Akan tetapi, Raffa sudah memiliki kekasih bernama Khanza Abir yang sangat dicintainya.
Siapa sangka justru sang kekasihlah yang meminta Raffa menikahi Dara, lantas bagaimana sikap Dara setelah mengetahui pria yang telah menghamilinya memiliki kekasih yang baik hati. Apa Dara tega menyakiti hati wanita lain demi anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nidati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dara Mau Berubah
Fera terus menarik Dara menjauh dari restoran. Terus berjalan tak tentu arah. Dara hanya mengikuti kemana Fera akan membawanya. Tak sedikitpun Dara mengeluarkan suara untuk menghentikan Fera. Ia tahu Fera berada dalam suasana yang buruk. Mereka berhenti pada sebuah bangku kosong, Fera menarik Dara untuk duduk di sana. Suasana yang tenang membuat atmosfer di antara mereka menjadi dingin.
"Maaf, Fe," ucap Dara menatap Fera yang hanya diacuhkan.
"Kalau lo udah gak mau sahabatan lagi sama gue bilang Dar. Gue tahu gue gak bisa jadi sahabat yang lo harapkan, tapi jangan ngecewain gue kayak gini." Fera menjambak rambutnya frustasi, ia berurai air mata. Dara mendekat berusaha merengkuh Fera dalam pelukannya, tapi Fera menjauh.
"Gak, Fe, bukan gitu. Dara masih mau sahabatan sama Fera. Jangan ngomong gitu Dara minta maaf."
"Apa, Dar. Lo bahkan gak cerita ke gue. Itu yang namanya sahabat, iya?"
Dara bingung, ia tidak bermaksud membuat Fera kecewa, tapi keadaan yang mengharuskan Dara bertindak seperti ini.
"Sahabat macam apa lo Dar. Sekali lo pernah ngecewain gue, Dar. Gue kurang sabar apa ngadepin lo yang gak mau terbuka lagi. Semua masalah lo pendem sendiri gue gak ada artinya lagi di mata lo," ucap Fera memandang Dara yang sudah bercucuran air mata.
Ia tahu kehidupan Dara seperti apa setidaknya jika Dara bercerita akan sedikit mengurangi beban Dara dan Fera juga bisa membantunya, tapi apa Dara seperti tidak lagi menganggap Fera sebagai sabahat. Apa susahnya memberitahu setidaknya jangan membohongi Fera dengan kebenaran yang sangat mengejutkan.
"Fe maafin Dara please Dara minta maaf karena gak jujur dari awal tapi Dara punya alasan tersendiri," Sesegukan Dara berucap menyatukan tangan meminta maaf.
"Ya lo gak pernah lagi jujur semenjak kejadian buruk itu, tapi kita masih sahabat Dar lo harusnya tahu kalau masih ada Fera yang mau menjadi sandaran saat lo terpuruk, tapi apa? Lo lebih milih mendem sendiri."
Persahabatan seperti apa yang mereka jalani. Jika salah satu dari mereka saja mengecewakan salah satunnya. Fera ingin menjadi tempat bagi Dara berkeluh kesah. Menjadi tempat bagi Dara mengeluarkan segala sakit di hati. Ia ingin menjadi sahabat yang berguna dikala susah dan senang. Selama ini mereka sudah seperti saudara yang saling mengasihi, tapi mengapa semua lenyap dalam sekejap dan menjadikan Dara tidak lagi bersikap seperti dulu. Dara menjadi wanita pemendam perasaan. Tidak membiarkan siapapun menggali masalahnya. Fera merasa sudah gagal menjadi sahabat.
"Dara minta maaf. Dara tahu, Dara salah tapi Dara memiliki alasan, Fe. Tolong mengerti." Bibirnya bergetar menahan tangis yang semakin sesegukan.
"Berapa lama lo kenal gue. Lo pasti tahu bagaimana sikap gue setelah dikecewakan. Apa lo tahu kalau gue dikhianati sama Tomi. Lo tahu? Engga Dar engga. Lo sibuk sama masalah lo sendiri, tanpa tahu gue patah hati. Lo menghilang bagai ditelan bumi. Saat gue butuh lo di sisi gue untuk memberi dukungan."
"Di situ gue berusaha berpikir positif, tapi setelah tahu kalau ternyata lo sudah menikah saat itu juga seperti ada batu besar yang menimpa gue. Sebuah fakta yang berusaha lo sembunyikan."
"Jangan gini, Fe. Dara mohon Dara minta maaf semua diluar kendali Dara."
"Maka ceritakan. Bagaimana bisa lo nikah dan dengan siapa," tuntut Fera. Ia menghapus kasar air matanya, menangkup wajah dara agar melihatnya. Ia meminta penjelasan melalui sorot matanya.
Dara menghembuskan nafas. Menarik tangan fera dari wajahnya kemudian ia genggam. Mengalirlah cerita dari mulut Dara bagaimana ia dipaksa menikah olek ayah dengan ancaman hingga berakhir menjadi istri seorang Raffa. Dara berkata apa adanya termasuk bagaimana mereka memperlakukan Dara. Ia tidak ingin mengecewakan Fera lagi.
"Dara cuma tidak ingin menyusahkan Fera. Dara gak bisa selamanya bergantung pada Fera. Kamu memiliki kehidupan sendiri dan Dara gak mau jadi beban buat Fera," ucap Dara mengakhiri sesi berceritanya.
"Siapa bilang lo beban bagi gue. Gak ada yang namanya beban di hubungan persahabatan kita, Dar. Lo harus tahu kalau lo gak sendiri di dunia ini masih ada gue dan Oma yang sayang sama lo." Meremas tangan Dara menyalurkan dukungan. Cukup sudah semua penderitaan yang Dara terima sebagai sahabat sudah tugasnya membawa Dara pada jalan yang benar.
"Ceraikan Raffa dan pergi sama gue," ucap Fera tegas.
"Dara engga bisa, Fe. Oma akan memisahkan Dara dengan anak Dara jika hal itu sampai terjadi."
"Maka adukan semua perlakuan mereka ke Oma."
"Mas Raffa akan semakin membenci Dara."
"Maka bangkit Dar berubah menjadi Dara yang tidak pernah ada Dara yang tidak mereka kenal. Lawan mereka lawan semua perlakuan mereka. Lo berhak bahagia dan hidup dengan aman."
"Lo ingat bagaimana kemarin lo melawan Andin, gue suka Dara yang waktu itu bukan dara yang sekarang yang hanya bisa nangis dan menerima tanpa melawan."
"Gue tanya gimana perasaan lo bisa membungkam mulut Andin."
"Gak tahu, tapi ada perasaan lega berhasil melawan Andin."
"Nah itu Dar. Lo gak bisa terus menerus hidup dengan kesedihan kebahagian tidak akan datang sendiri tanpa mau lo berusaha."
Setelah dipikir-pikir semua perkataan Fera benar. Dara harus berubah demi bisa hidup dengan damai tanpa tangis air mata lagi, waktunya ia berjuang mempertahankan haknya. Tidak boleh ada lagi penindasan untuknya Dara yang sekarang tidak sama dengan Dara yang dulu.
"Ya, Dara harus bisa melawan semua perlakuan mereka tidak akan ada lagi Dara yang lemah sekarang hanya akan ada Dara yang pemberani," ucap Dara.
"Itu baru sahabat yang gue."
"Kita kan emang sahabat."
"Tapi sekarang beda. Dara yang saat ini jauh berbeda." Mereka tertawa bersama saling memeluk menyalurkan rasa yang tak terbendung. Fera mengucap syukur bisa merubah Dara menjadi jauh lebih baik. Ia berharap tidak akan ada lagi kesedihan yang menghampiri Dara.
"Apa lo akan bertahan sama Raffa?"
"Gak tahu, tapi ancaman oma tidak akan main-main."
"Denger, Dar. Status lo sudah menjadi istri Raffa. Lo berhak atas diri Raffa semua tanpa kecuali. Mungkin sulit diawal, tapi yakin Raffa bisa membahagiakan lo." Dara menatap tidak percaya. Dari mana Fera bisa melihat masa depan. Dia bukan cenayang yang tahu takdir seseorang.
"Jangan ngaco. Mas Raffa masih mencintai Khanza."
"Untuk saat ini cintanya memang untuk Khanza, tapi lambat laun karena kebersamaan kalian pasti akan memunculkan benih-benih cinta."
"Gue tahu sahabat gue gak sepolos yang gue kira buktinya aja lo udah bunting," canda Fera.
Mereka terdiam untuk sesaat karena lelah menyalurkan segala emosi. Fera memainkan jarinya dengan menatap lurus ke depan tersenyum senang karena sikap Dara yang mau menjelaskan semua tanpa ragu. Sedangkan Dara berkelana memikirkan tindakan Raffa padanya, jika tahu ia berusaha memasuki hati pria itu, tapi tidak ada salahnya bukan.
Fera menoleh menatap Dara. Ia terkejut bukan main melihat Dara yang mimisan, ia merogoh saku celananya. Mengeluarkan sapu tangan bersih dari sana. Sapu tangan milik pria yang ia temui di danau. Dara menatap bingung ke arah sapu tangan yang Fera sodorkan.
"Lo mimisan, Dar. Apa lo gak merasa." Dara menyentuh hidungnya dan merasakan jarinya yang terkena darah. Ia pun mengambil sapu tangan itu dan berusaha menghentikan laju darahnya. Fera memandang cemas yang ditanggapi Dara dengan kedipan mata menandakan jika Dara baik-baik saja.
"Lo ko bisa mimisan sih."
"Mungkin karena Dara terlalu keras dalam berpikir," balas Dara. Mereka memutuskan menghabiskan hari bersama, membolos kerja untuk satu hari. Dara ingin mencari suasana baru sekaligus menyenangkan hatinya. Tidak ingin memikirkan bagaimana sikap Reza nanti padanya setelah tahu semua.
***
Happy reading
Yuhu Dara mau berusaha untuk melawan tuh. Maaf ya kalau telat up. Maaf juga kalau ada typo. Aku kasih kejutan kalian nanti malam oke.
Salam sayang dari aku.
heheh
beneran ayah dihukum 20 tahun ..
heran ..
emang melakukan pembunuhan berencana?😀
kalau sakit Karena alergi itu pengobatannya juga pakai dibius