Kehidupan punya kenyataan, karena hidup terus mengikuti takdir. Seperti kehidupan yang dijalani oleh gadis bernama Jingga. Di saat usianya masih remaja, dia harus kehilangan ibunya.
Namun Jingga tak pernah menyerah untuk menjalani kehidupannya. Walaupun dia harus menerima kenyataan bahwa ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita yang tidak dia sukai.
Beruntung saat dia berusia dewasa, dia dipertemukan dengan seorang laki-laki yang sangat mencintainya. Hingga tak butuh waktu lama untuk Jingga menyandang status sebagai istri dari seorang manager restoran bernama Ken. Namun lagi-lagi dia harus menelan pil pahit, saat suaminya harus menikahi seorang gadis yang sedang mengandung anak dari suaminya.
Jingga berusaha mempertahankan rumah tangga yang baru dibangun, dia juga rela harus berbagi suami dengan wanita lain. Tetapi, kehidupan Jingga yang sebenarnya baru dimulai saat itu, saat dia harus rela melihat rumah tangganya yang hancur. Sampai dia berada dititik keputusasaan, hadirlah seorang laki-laki tampan bernama Ray Alfendra. Seorang pengusaha muda yang tampan, dengan ketulusannya dia bisa membawa Jingga pada kebahagiaan yang diimpikan Jingga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuriyyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Jingga terus menangis tanpa suara, hanya isak tangisnya saja yang terdengar. Dia mencoba tetap tenang dengan kemarahan suaminya, namun tetap tidak bisa, karena Ken sudah memberi luka pada hatinya.
Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dan Ken masuk dengan langkah yang begitu cepat.
Perlahan Jingga mengalihkan pandangannya pada sosok yang berjalan kearahnya, namun dalam hati dia sedikit takut, takut suaminya akan kembali membentak dia dengan suara besarnya itu.
"Mas, aku mohon dengarkan dulu penjelasan aku. Aku... Aku tak seperti yang Mas pikirkan. Aku mohon percayalah," ucap Jingga dengan suara seraknya karena dia habis menangis.
Kemudian Jingga melihat Ken yang duduk tepat disampingnya.
"Mas... " ucap Jingga lagi dengan suara paraunya, setelah melihat suaminya itu hanya diam menatap dia dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Mas minta maaf sayang. Karena Mas tidak percaya padamu, dan lebih percaya pada orang yang mengirim foto itu," ucap Ken sambil mengusap lembut air mata yang membasahi pipi mulus istrinya.
"Pikiran Mas benar-benar kalut saat itu, jadi Mas tidak bisa berpikir dengan jernih. Maafkan Mas yang sudah membentak kamu sayang," ucap Ken penuh penyesalan, dan langsung mengelus lembut tangan istrinya lalu setelah itu menciumnya lembut.
"Gak papa Mas, aku tahu perasaan kamu saat itu," ucap Jingga lagi.
"Sayang, kamu baik-baik aja kan?" tanya Ken langsung khawatir, saat dia ingat penjelasan dari Dafa yang mengatakan kalau istrinya itu hampir diperkosa.
"Memangnya kenapa Mas?" tanya Jingga yang tidak mengerti pertanyaan dari suaminya.
Dia juga sedikit bingung dengan perubahan sikap suaminya saat dia pergi dan sekarang saat suaminya itu pulang. Tiba-tiba saja suaminya kembali lembut, tak seperti saat dia pergi dengan segala kemarahannya.
"Maafkan Mas yang tidak bisa menjaga kamu dengan baik sayang. Harusnya kamu telepon Mas, saat kemarin kamu hampir... diperkosa," ucap Ken menatap Jingga dengan sendu. Sungguh dia sudah menjadi suami bodoh, karena telah menyakiti Jingga dengan kata-kata kasarnya tadi.
"Mas tahu dari mana?" tanya Jingga kaget, karena seingat dia, dia belum menceritakan apapun perihal yang menimpanya saat di Malang.
"Tadi Dafa sudah menjelaskan semuanya, saat kami tak sengaja bertemu di kafe favorit Mas," jawab Ken lagi.
"Maaf Mas, karena aku tidak menceritakan semuanya terlebih dahulu. Tapi aku bersyukur karena Dafa menolong aku saat itu, karena kalau tidak, entah apa yang akan terjadi padaku Mas," ucap Jingga sedikit sedih, karena bagaimanapun dia masih trauma dengan kejadian kemarin yang menimpanya.
"Sudah sayang, kamu gak usah mengingat kejadian buruk kemarin. Mas tidak mau melihatmu sedih, maafkan Mas karena tidak bisa menjaga kamu dengan baik, sehingga ada orang yang berniat jahat padamu sayang," ucap Ken lembut, lalu dia membawa tubuh Jingga ke dalam pelukannya, dan mengelus lembut kepala Jingga.
"Bukan salah kamu Mas, semua kejadian kemarin hanyalah musibah. Mas gak usah khawatir lagi, karena mereka sudah dibawa oleh pihak berwajib," ucap Jingga lagi.
"Benarkah?" tanya Ken penasaran.
"Iya Mas. Kata Dafa, mereka akan diproses secara hukum. Kalo menurut Dafa, mereka itu orang bayaran Mas," ucap Jingga yang teringat dengan ucapan Dafa waktu itu.
"Kalo memang mereka adalah orang bayaran, berarti ada orang yang sengaja ingin melukaimu sayang. Mas akan mencari tahu siapa dalang dari semua ini, Mas janji sayang," ucap Ken lagi dan Jingga hanya mengangguk.
"Mas, aku lihat kok kamu kurusan?" tanya Jingga dengan terkekeh, dia berusaha mengalihkan pembicaraan, karena tak mau terus-terusan membahas kejadian menakutkan itu.
"Benarkah?" tanya Ken penasaran.
Setahu dia, badan dia terlihat seperti biasanya, tidak kurus seperti yang diucapkan oleh istrinya.
"Iya. Masa aku tinggal dua hari, kamu udah kurusan aja," jawab Jingga dengan pura-pura memasang wajah cemasnya.
"Masa sih sayang, perasaan tubuh Mas biasa aja, sama seperti saat kamu pergi ke rumah ayah, atau kamu sengaja godain Mas ya," ucap Ken sambil menjahili istrinya, dia langsung menggelitik pinggang Jingga, yang membuatnya langsung tertawa karena geli.
"Ampun Mas, aku gak bakal godain kamu lagi," ucap Jingga disela tawanya itu.
Tiba-tiba saja Ken sudah berada diatas tubuh Jingga, yang membuat Jingga sedikit sesak karena wajah suaminya itu sangat dekat dengan wajahnya.
"Mas merindukanmu sayang. Percayalah, dua hari itu terasa bertahun-tahun," ucap Ken dengan mata yang begitu sendu.
Jingga yang melihat tatapan sendu itu, langsung mengerti dengan maksud ucapan suaminya.
"Aku juga merindukanmu Mas," balas Jingga sambil tersenyum manis.
Seolah menadapat lampu hijau, Ken yang sangat merindukan istrinya itu, akhirnya sekarang dia bisa juga menumpahkan gejolak rindu yang dia tahan selama dua hari sejak kepergian Jingga ke rumah ayahnya.
...----------------...
Setelah Ray dan Dafa sampai dirumahnya, Ray langsung mencerca Dafa dengan banyak pertanyaan.
"Berarti yang kamu ceritain tadi itu, pas kamu minta tolong sama Kakak? Kenapa kemarin kamu gak cerita apapun saat kamu nyampe dirumah ini? Terus bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Ray yang tak bisa menutupi rasa penasarannya.
"Ck! Kakak lagi interogasi aku ya? Kalo ngasih pertanyaan itu satu-satu kan bisa," ucap Dafa berdecak tak suka.
"Namanya juga orang lagi penasaran," ucap Ray yang merasa adiknya itu terlalu sensitif. Apakah karena kejadian tadi saat di kafe? Jadi moodnya itu terlihat buruk.
"Iya, tapi bisa kan, Kakak ngasih pertanyaannya itu satu-satu. Kalo langsung sebanyak itu, aku bingung jawabnya yang mana dulu," ucap Dafa lagi.
"Baiklah, baiklah. Jadi sekarang jawablah pertanyaan Kakak yang tadi!" ucap Ray berusaha sabar.
"Yang mana?" tanya Dafa yang benar-benar belum sepenuhnya fokus, untuk mencerna ucapan kakaknya itu.
"Ck! Kenapa kamu jadi selemot ini sih?" tanya Ray sedikit heran.
"Ya udahlah. Karena sekarang aku lagi gak fokus, dan moodnya masih buruk, jadi lain kali aja aku jawabnya. Aku mau istirahat Kak, mau nenangin pikiran dulu," ucap Dafa yang langsung pergi kekamarnya, membuat Ray hanya bisa menahan kesalnya. Lagi-lagi dia harus menyimpan rasa penasarannya.
Sekarang Ray benar-benar diliputi rasa khawatir pada Jingga. Dia hanya bisa berdoa untuk kebahagiaannya, karena untuk menggapainya adalah hal yang tak mungkin dia lakukan.
Ray bukanlah lelaki yang bisa melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya. Dia masih punya akal sehat, walaupun dalam hati, dia begitu menginginkan Jingga untuk menjadi miliknya.
Biarlah dia mengikuti alur takdirnya sendiri, karena dia yakin, takdir tak akan membawa dia pada kebahagiaan yang salah. Dia selalu percaya, kalau memang Jingga adalah jodohnya dunia akhirat, suatu saat nanti mereka bisa dipersatukan, walau bagaimanapun jalannya.
mampir ya
lanjutan ceritanya harus dobel lho tho, kalian lama nggak up nya
semoga urusan real nya cpt kelar
dan bisa update lagi 💞