Di tengah kaku dan dinginnya protokol Keraton Amarta, Arya Wijaya, sang Raja muda, merasa hidupnya hanyalah pengabdian tanpa warna. Segalanya berubah saat ia bertemu dengan Sekar, seorang guru taman kanak-kanak yang juga seorang pelukis berbakat. Sekar adalah perwujudan dari keanggunan yang bersahaja—lembut dalam tutur kata, ceria dalam bersikap, dan memiliki jiwa bebas yang dituangkannya ke atas kanvas. Bagi Arya, Sekar adalah jendela menuju dunia yang lebih manusiawi. Namun, bagi tembok keraton, Sekar hanyalah rakyat jelata yang dianggap tak layak bersanding dengan takhta. Saat Arya dihadapkan pada tuntutan perjodohan politik demi stabilitas kerajaan, ia harus memilih: mempertahankan mahkota yang hampa, atau memperjuangkan cintanya pada sang pelukis yang telah mewarnai kembali hatinya. Sebuah kisah tentang benturan antara tradisi yang kaku dan cinta yang tulus, di mana keanggunan seorang wanita biasa diuji di hadapan kemegahan istana yang penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retaknya Pualam Kehormatan
Suasana di Bangsal Utama yang semula penuh kemewahan seketika berubah menjadi pengap dan mencekam. Aroma masakan lezat tertutup oleh hawa dingin kemurkaan sang Raja. Ibu Suri bangkit dari kursinya, meski tangannya gemetar, ia tetap berusaha mempertahankan topeng kebangsawanannya.
“Cukup, Arya!” Suara Ibu Suri meninggi, mencoba mendominasi ruangan. “Kau sudah gila karena duka! Kau membawa seorang abdi dalem rendahan yang ketakutan untuk menunjuk hidung ibumu sendiri? Ningsih hanyalah bidak yang mungkin disuap oleh musuh-musuh politik kita untuk menghancurkan trah kerajaan!”
Nastiti ikut menimpali dengan wajah yang dibuat seolah-olah dizalimi. “Mas Arya, tega sekali kau menuduh kami? Kami kembali ke sini dengan niat tulus untuk menghiburmu. Ningsih pasti berbohong karena ia ingin lari dari hukumannya sendiri. Ia memfitnah kami agar ia selamat!”
Ibu Suri melangkah mendekati Arya, mencoba menyentuh lengan putranya. “Jangan biarkan cinta butamu pada gadis desa itu membuatmu menjadi anak durhaka, Arya. Singkirkan wanita tua itu dan bersihkan nama kami!”
Arya tidak bergeming. Ia tidak membiarkan tangan ibunya menyentuhnya. Matanya tetap dingin, menatap lurus ke arah Ki Ageng Suro yang berdiri di samping Ningsih. Atas isyarat Ki Ageng, Ningsih merogoh balik kembennya yang lusuh dengan tangan gemetar, mengeluarkan gulungan kertas kecil yang terikat benang sutra hitam.
“Hamba mungkin bodoh dan rendahan, Gusti Prabu,” isak Ningsih sambil bersujud di lantai marmer. “Tapi hamba tidak berani memfitnah tanpa bukti. Ini adalah instruksi tertulis yang diberikan Raden Ajeng Nastiti kepada hamba melalui telik sandi Kalingga. Di dalamnya ada segel kecil milik Kanjeng Ibu Suri untuk memastikan hamba tidak bisa menolak.”
Seno mengambil kertas itu dan memberikannya kepada Arya. Begitu Arya membukanya, jantungnya seakan diremas. Ia mengenali tulisan tangan Nastiti—tulisan yang halus namun berisi instruksi keji tentang dosis racun. Dan di sudut bawah, terdapat stempel lilin dengan simbol bunga teratai layu—simbol pribadi Ibu Suri yang hanya digunakan untuk urusan rahasia.
Arya menatap kertas itu cukup lama, lalu perlahan beralih menatap ibunya. Tatapan itu bukan lagi tatapan amarah, melainkan tatapan kekecewaan yang sangat dalam, yang jauh lebih menyakitkan daripada kemurkaan.
“Kenapa, Ibu?” suara Arya terdengar lirih, hampir seperti bisikan yang menyayat hati. “Aku bisa memaafkan jika Ibu menghinaku, aku bisa memaafkan jika Ibu menentang keputusanku. Tapi kenapa Ibu harus sampai setega ini merencanakan pembunuhan terhadap gadis yang tidak pernah sekalipun menyakiti Ibu?”
Arya melangkah maju, membiarkan kertas bukti itu terjatuh ke lantai. “Sekar hanya ingin mencintaiku dan mengabdi pada rakyatnya. Dia bahkan sering mendoakan kesehatan Ibu di setiap sujudnya. Katakan padaku, apa alasan sesungguhnya? Apakah takhta ini begitu suci hingga harus dibasuh dengan darah orang tak berdosa?”
Melihat bukti itu ada di tangan Arya, pertahanan Ibu Suri mulai runtuh. Ia tidak lagi bisa mengelak. Ia tertawa kecil, tawa yang terdengar hambar dan penuh kepahitan.
“Kau ingin tahu alasannya?” Ibu Suri mendongak, matanya berkilat penuh obsesi. “Karena Amarta butuh kemurnian! Kerajaan ini dibangun di atas tulang-belulang para ksatria, bukan di atas keringat rakyat jelata yang berbau debu pasar! Jika kau menikahinya, kau akan mencemari garis keturunan kita selamanya. Aku lebih baik melihatmu berduka sepanjang hidupmu sebagai raja yang agung, daripada melihatmu bahagia bersama wanita yang akan menurunkan derajat martabat keraton ini!”
Ibu Suri menunjuk ke arah Nastiti. “Nastiti adalah cermin dari siapa dirimu, Arya. Dia sepadan! Sementara gadis itu… dia hanyalah parasit yang mencuri perhatianmu dari tugas-tugas kerajaanmu. Aku melakukan ini demi kau, demi leluhurmu!”
Arya memejamkan mata sesaat, merasakan perih yang luar biasa di dadanya. “Ibu tidak melakukannya demi aku. Ibu melakukannya demi ego dan kesombongan Ibu sendiri. Ibu lebih mencintai kursi singgasana ini daripada mencintai kebahagiaan putra Ibu sendiri.”
Ia berpaling ke arah pasukan Jagabaya. “Seno… Ki Ageng… bawa mereka. Jangan ke pengasingan Lawu lagi. Bawa mereka ke penjara bawah tanah terdalam. Aku tidak akan mengeksekusi mereka hari ini, karena aku ingin mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri saat Sekar Arum terbangun dan duduk di singgasana yang sangat mereka agungkan itu.”
Nastiti menjerit histeris saat para pengawal menyeretnya, sementara Ibu Suri hanya diam terpaku, menatap Arya dengan kebencian yang masih menyala. Arya berdiri mematung di tengah bangsal yang megah itu, dikelilingi hidangan mewah yang kini terasa seperti sampah, menyadari bahwa ia baru saja mematahkan rantai terakhir yang menghubungkannya dengan masa lalu yang kejam.