"Apa-apaan sih loe, pincang! Jangan sok kecantikan deh. Lebih baik pakai baju loe sana! Loe pikir gue bakalan tertarik apa sama loe!" ujar Zayn berkata kasar pada istrinya saat malam pertama mereka.
Varisha Salsabilla Jannah.
Gadis pincang yang baru saja kehilangan suami sekaligus calon anaknya.
Ia bahkan terpaksa harus menikah dengan adik iparnya sendiri, yaitu Zayn Alkautsar.
Adik ipar yang membenci dirinya.
Apakah pernikahan terpaksa ini akan berakhir mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regazz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Peduli padaku!
Bab 33 Jangan peduli padaku!
•••
“Mas Zayn belum balik juga,” Varisha melirik jam dinding. Ini sudah pukul 11 malam.
Hoam…
Wanita berambut panjang lurus itu sudah beberapa kali menguap sedari tadi.
“Pasti dia masih bersama Adinda. Entah apa saja yang sudah mereka lakukan?”mata Varisha kembali berkaca-kaca.
“Sejenak aku jadi tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mas Zayn.” ujarnya lagi dan memilih membaringkan diri atas ranjang.
Namun, seketika ia kembali bangun.
“Lebih baik aku tidur di matras saja. Nanti mas Zayn marah jika aku tidur dengannya. Apalagi yang kemarin itu, ia hanya tumben saja akrab denganku.” Varisha segera menidurkan dirinya diatas matras yang tidak seberapa empuk seperti di spring bed.
“Ya Allah, gantilah rasa kecewaku dengan hal indah lainnya. Aamiin.” doa Varisha dalam hati sembari menatap langit.
Tak butuh lama, Varisha akhirnya tertidur pulas.
Disisi lain, yakni kamar hotel milik Adinda.
“Ayolah, Zayn! Apa kau tak ingin melakukannya denganku?” goda Adinda yang Zayn malah kabur saat melihat dirinya mengenakan lingerie hitam.
“Lain kali jangan memperlakukannya lagi seperti kemarin.” Nasehat Zayn.
Adinda mengerutkan dahinya, “maksud kamu, Varisha?”
Zayn mengangguk.
“Kamu ini kenapa sih? Kenapa jadi belain dia sih? Kan,dari kemarin-kemarin kita ini yang hobby julitin dia” adinda tak percaya jika Zayn malah membela Varisha.
Pria itu jadi salah tingkah. Ia nampak bingung sejenak.
“Pokoknya jangan memperburuk keadaan. Aku mau ke kembali ke kamarku.” Zayn ingin beranjak pergi.
Tapi, ditahan oleh Adinda.
“Kamu ini kenapa sih, Zayn?”
Zayn hanya diam. Dan langsung pergi. Meninggalkan wanita itu dengan perasaan yang kesal.
“ARGH! BRENGSEK!” kesal Adinda menarik selimut diatas ranjang hingga jatuh ke lantai.
“Awas aja loe cewek pincang! Berani-beraninya loe ngerebut Zayn dari gue. aargh!”
•••
Zayn masuk kedalam kamar. Dan ia kaget melihat Varisha yang tertidur di lantai. Ada rasa kasihan melihat Varisha yang sepertinya kedinginan.
“Ahh, bodoh amat! Peduli apa gue sama dia.” Zayn langsung naik keatas ranjang setelah berperang dengan pikirannya.
Ia langsung memejamkan matanya.
Namun, pikirannya tak tenang.
“Arrghh, sial!” Ia kembali bangun terduduk dengan menarik rambutnya kesal.
Ia kembali menatap Varisha.
Wanita itu tidur begitu lelap sekali.
“Huft, menyusahkan saja. Baiklah, gue ngelakuin semua ini biar gak ada masalah besok.”
Zayn langsung mengangkat tubuh Varisha secara perlahan. Bahkan, Varisha tak merasakan apapun. Ia masih asyik dengan mimpinya.
Diatas ranjang, bisa terlihat jelas pantulan wajah Varisha yang terkena sinar rembulan.
“Cantik,”ujar Zayn tanpa sadar sambil tersenyum tipis.
“Eh, gue mikirin apaan sih?!” Zayn langsung naik keatas ranjang.
Ia bahkan menghadap langit-langit kamar. Tak ingin menatap Varisha lagi yang berada tepat di sampingnya.
Hingga…
“Mas Zayn…” Varisha memeluk dirinya dari samping.
Sontak tubuh Zayn membeku.
Varisha memanggil dirinya sambil memeluknya.
Dia bangun? Pikir Zayn.
Wajahnya merona.
Ia melirik ke samping.
Wanita itu masih memejamkan matanya.
“Ternyata, masih tidur.” bisiknya.
Zayn berusaha melepaskan pelukan Varisha. Namun, wanita itu enggan.
Jantung Zayn semakin memompa dengan kencangnya. Ia merasa suhu tubuhnya jadi semakin panas dengan kedua pipi yang merona jelas.
“Dia wangi sekali,”Zayn menghirup aroma tubuh Varisha yang begitu menenangkan. Tanpa sadar ia pun mulai tertidur dan bahkan spontan memeluk Varisha erat.
•••
“Allahu Akbar Allahu Akbar”
Terdengar suara Azan dari ponsel milik Varisha.
Sepasang mata langsung terbuka.
Varisha.
Ia bangun dan kaget melihat posisi tidurnya.
Ia tidur diatas dada Zayn sambil memeluk pria itu.
Varisha sontak langsung bangun.
Ia tak peduli jika Zayn akan terusik dengan dirinya. Ia berjalan perlahan menuju kamar mandi.
“Apa itu tadi? Kenapa aku bisa tidur disana?”
“Apa jangan-jangan dia yang mindahin aku?”
“Ahh, nggak nggak! Lebih baik aku ambil wudhu lalu sholat.”
Selepas sholat, Varisha melirik keatas ranjang. Zayn masih tertidur pulas.
“Aku bangunin atau nggak ya?” Itulah pertanyaan Varisha setiap paginya. Ia ingin membangunkan Zayn. Namun, pria itu tak peduli dan bahkan hampir menendang dirinya.
Varisha melamun sejenak.
Bahkan, tak menyadari jika sepasang mata sedang menatap dirinya dalam.
“AstagfirullahaLazim!”
Zayn sudah bangun dengan posisi duduk.
“Kenapa loe? Kayak baru lihat setan,” tanya Zayn.
“Iya, kamu setannya.” spontan Varisha langsung menutup mulutnya yang keceplosan.
“Hehehe…” Zayn tertawa pelan dan langsung pergi ke kamar mandi.
Varisha tak bisa berkata-kata.
“Tadi itu apa?” herannya karna melihat Zayn yang malah tertawa, bukannya memarahi dirinya.
Varisha segera merapikan mukena miliknya. Ia pun memilih duduk di atas matras sambil membaca Al-Qur'an dari ponselnya.
Ia begitu larut, hingga ia tak sadar jika Zayn sholat.
“Mas Zayn sholat?”
“Alhamdulillah.”
Hal itu bahkan terdengar langsung oleh Zayn yang sedang menjalankan sholat. Sudut bibirnya sedikit terangkat.
Drrrtt drrrtt
Ponsel milik Zayn bergetar.
Varisha mengintipnya.
Ada panggilan tak terjawab dari Adinda.
Wajah Varisha seketika langsung murung.
‘Aku iri dengannya. Ia bisa sesuka hati menghubungi Mas Zayn. Sedangkan aku? Nomornya saja aku tak punya.’ batin Varisha.
Ia kembali melamun.
“Ayo kita sarapan!” ajak Zayn yang sudah berdiri di hadapannya.
“Kamu aja, mas. Aku di hotel aja, Adinda udah nelpon dari tadi.” Varisha bahkan tak berani menatap Zayn.
Zayn tak suka.
“Ayo kita sarapan sekarang!” nada Zayn mulai tegas.
Varisha mendongak.
“Aku bilang gak mau. Mending kamu pergi aja sama Adinda, jangan peduli padaku.” Varisha bangkit dari duduknya.
Zayn semakin terpancing emosi.
“Loe itu kenapa sih? Yang gue ajak sarapan itu loe, bukannya adinda.” Zayn sampai menarik tangan Varisha.
Airmata itu sudah menetes pelan, “emangnya aku siaap, ha? Sudahlah jangan pura-pura baik atau semacamnya.”
Zayn tersenyum miring, “loe semakin dibaiki, semakin ngelunjak ya.”kesalnya.
Ia semakin menarik tangan Varisha kuat dan paksa,”pokoknya loe harus sarapan sama gue sekarang dan titik.”
Mereka keluar dari kamar hotel. Dengan Zayn yang terus menarik tangan Varisha dengan kasar. Tentu saja ia merasakan kesakitan.
“Sakit, mas!”
Zayn seolah tuli. Pandangannya tajam ke depan.
“Mas~” Varisha merasa kakinya semakin sakit. Hingga akhirnya ia terjatuh tersungkur hingga dagunya menyentuh lantai.
"Akh..."
"Varisha..."Zayn panik.
To be continue...
.. smangat untuk kak author .. sdah ngh sbar nungu bab berikutnya