NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Aroma anyir darah dan karat besi menusuk indra penciuman Diandra saat kesadarannya perlahan kembali.

Kelopak matanya terasa seberat timah, namun rasa sakit yang berdenyut di kepalanya memaksa Diandra untuk membuka mata.

Diandra terbangun dengan tangan terikat di sebuah kursi di dalam gudang tua yang ada di pinggir laut.

Suara deburan ombak yang menghantam dinding papan kayu di luar terdengar begitu dekat, mengisyaratkan bahwa tempat ini sangat terisolasi.

Kakinya yang baru membaik terasa lemas akibat efek sisa obat bius, membuatnya sama sekali tidak bisa digerakkan untuk meloloskan diri.

Diandra mengedarkan pandangan dengan panik, dan jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat ke sudut ruangan.

Pratama diikat terpisah dalam kondisi babak belur di sudut ruangan yang sama.

Baju putih yang dikenakannya sore tadi kini robek dan berlumuran darah, menunjukkan bahwa dia sempat melakukan perlawanan sebelum pingsan sepenuhnya di pantai tadi.

"Mas Pratama..." bisik Diandra dengan suara parau, air matanya langsung menetes melihat kondisi suaminya yang tak berdaya.

"Hahaha! Akhirnya sang putri tidur sudah bangun," sebuah suara berat bergaung dari kegelapan.

Lelaki misterius yang menjambak Diandra di pantai tadi melangkah maju ke bawah sorotan lampu gantung yang temaram.

Wajahnya yang penuh kerutan amarah dan tatapan mata yang haus darah seketika terungkap.

Lelaki misterius itu terungkap sebagai Vincent, ayah Ferdian yang tidak terima anaknya ditumbalkan dan membusuk di penjara akibat laporan keluarga Bayu dan Pratama.

"Kalian menjebloskan anakku ke neraka! Kalian menghancurkan masa depannya!" raung Vincent, mencengkeram rahang Diandra dengan kasar.

Ia ingin membalas dendam dengan menyiksa Pratama di depan mata Diandra, membalas rasa sakit hati seorang ayah yang putranya kini mendekam di balik jeruji besi.

Vincent tidak menginginkan uang; dia menginginkan kehancuran total.

Baginya, kekayaan Pratama Group tidak ada artinya dibandingkan dengan penderitaan keluarganya.

Untuk memastikan tidak ada jalan keluar, ia memasang alat pelacak bom biner asli—kali ini nyata, bukan mainan lilin seperti yang dibawa Mita—di dada Pratama.

Lampu indikator merah pada bom biner itu berkedip konstan, menghitung mundur waktu dengan suara detik yang mengerikan.

"Lihat ini, Diandra! Lihat bagaimana suamimu yang agung ini merangkak seperti anjing!" Vincent memberi isyarat pada anak buahnya.

BUGH!

BUGH!

Tanpa ampun, anak buah Vincent menghantamkan balok kayu ke perut dan punggung Pratama.

Diandra dipaksa menyaksikan Pratama disiksa secara fisik di depan matanya sendiri.

Setiap hantaman yang mengenai tubuh Pratama terasa seperti pisau yang mengiris jantung Diandra.

"Hentikan! Aku mohon hentikan! Siksa aku saja, jangan dia!" jerit Diandra histeris, meronta-meronta hingga pergelangan tangannya yang terikat berdarah.

Pratama yang menahan rasa sakit luar biasa di sekujur tubuhnya, perlahan mendongak.

Matanya yang membengkak menatap Diandra dengan sisa-sisa kekuatan dan cinta yang mendalam.

"S-Sayang... jangan menangis. Aku tidak apa-apa..."

Vincent tersenyum puas melihat penderitaan pasangan itu.

Kemudian ia berjalan menuju sebuah area lapang di tengah gudang yang telah dipagari tali tambang, membentuk sebuah ring pertarungan amatir yang kumuh.

Vincent menoleh ke arah Diandra dengan seringai gila.

"Kudengar kau wanita jenius yang juga pandai bela diri sebelum koma, Diandra. Mari kita buktikan," tantang Vincent sambil menepuk-nepuk detonator di tangannya.

"Kalau aku kalah, bom ini akan meledak dan suamimu. Wushh, menghilang menjadi abu bersama tempat ini! Tapi jika kau mati di tanganku, aku akan membiarkannya hidup beberapa menit lebih lama untuk meratapi mayatmu."

"Lawan aku brengsek, jangan istriku!! Teriak Pratama sekuat tenaga, mencoba memutus tali yang mengikat tubuhnya hingga urat-urat di lehernya menegang kemerahan.

"Hadapi aku, Vincent! Bajingan kau!"

"Tutup mulutnya agar tidak berisik," perintah Vincent dingin.

Seorang anak buahnya langsung memukul wajah Pratama dan menyumpal mulut sang CEO dengan kain kasar, membungkam amarahnya.

Vincent melangkah mendekati Diandra, lalu dengan satu tebasan pisau, ia memotong tali yang mengikat tangan wanita itu.

Vincent melepaskan ikatan Diandra dan mereka bersiap untuk duel di atas ring.

Diandra berdiri dengan tubuh yang masih sedikit gemetar akibat sisa obat bius. Namun, melihat bom yang berkedip di dada suaminya dan darah yang mengalir di wajah Pratama, rasa takut di dalam diri Diandra lenyap seketika.

Digantikan oleh insting bertahan hidup yang membara.

Dengan tatapan mata yang tajam laksana elang, Diandra melangkah tertatih namun pasti menuju atas ring, siap mempertaruhkan nyawanya demi pria yang teramat dicintainya.

Pertarungan di atas ring dimulai dalam kondisi yang sama sekali tidak seimbang.

Efek sisa obat bius dan kondisi fisik Diandra yang belum pulih total membuatnya menjadi sasaran empuk bagi Vincent yang dipenuhi amarah buta.

Diandra mencoba memasang kuda-kuda bertahan, namun kakinya yang lemas tidak mampu menopang bobot tubuhnya dengan sempurna saat meleset menghindari serangan pertama.

BUGH!

BUGH!

Tanpa menunggu lama, Vincent menghajar Diandra bertubi-tubi dengan pukulan dan tendangan tanpa belas kasihan.

Hantaman kepalan tangan mentah itu mendarat telak di rahang dan perut Diandra.

Tubuh Diandra terhempas ke lantai ring berkali-kali hingga wajah cantiknya terluka parah dan bersimbah darah.

Sudut bibirnya pecah, dan napasnya mulai tersengal-sengal menahan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya.

Setiap kali ia mencoba bangkit dengan bertumpu pada lengannya yang bergetar, Vincent kembali melayangkan tendangan ke arah rusuknya.

Vincent terus memprovokasi dan meremehkan kemampuan Diandra yang kini terkapar di atas matras kumuh.

"Ayo Diandra, bukankah kamu hebat? Mana Diandra yang mereka katakan?! Mana kejeniusan keluarga Bayu yang diagung-agungkan itu?! Kamu tidak lebih dari sekadar wanita lumpuh yang lemah!" seru Vincent dengan tawa mengejek yang menggema di dalam gudang tua tersebut.

Di sudut ruangan, Pratama dipaksa menonton belahan jiwanya dihancurkan secara brutal tanpa bisa berbuat apa-apa.

Pemandangan di depannya jauh lebih menyiksa daripada balok kayu yang menghantam fisiknya sendiri tadi.

Dengan mulut tersumpal rapat oleh kain kasar, Pratama hanya bisa mengerang histeris:

"MMMMPPHH!! MMMMPPHH!!"

Sorot matanya memerah penuh amarah, urat-urat di leher dan dahinya menegang hingga nyaris putus.

Pratama meronta sekuat tenaga hingga pergelangan tangannya berdarah karena gesekan tali yang mengikatnya dengan sangat kencang pada tiang besi.

Ia tidak memedulikan rasa perih di kulitnya yang terkoyak, ia hanya ingin lepas dan membunuh Vincent dengan tangannya sendiri.

Untuk pertama kalinya, sang CEO yang terkenal dingin, tangguh, dan tidak pernah tunduk pada siapa pun, kini meneteskan air matanya.

Air mata penyesalan dan keputusasaan itu mengalir deras melewati pipinya yang kotor.

Hati Pratama hancur lebur melihat wanita yang teramat dicintainya harus sekarat dan bersimbah darah demi menyelamatkan nyawanya.

Di tengah remang-remang lampu gudang, suara detik dari bom biner di dadanya seolah berpacu dengan sisa-sisa kesadaran Diandra yang kian menipis di atas ring.

Diandra yang sudah terkulai lemas di sudut ring mencoba bangkit demi melihat suaminya.

Menggunakan sisa-sisa tenaga yang tersisa di ujung jarinya, ia mencengkeram tali ring yang kasar, memaksa tubuhnya yang remuk untuk kembali tegak. Namun, Vincent yang berhati iblis belum puas melihat penderitaan fisik dan batin pasangan itu.

Ia memberikan isyarat kejam pada anak buahnya yang berjaga di bawah ring.

"Ambilkan air!" perintah Vincent dengan seringai penuh kepuasan.

Bukan air biasa, Vincent menyiram Diandra dengan air garam pekat tepat di atas luka-luka terbuka di wajah dan tubuhnya.

Cairan payau yang korosif itu menyengat langsung ke dalam jaringan kulit Diandra yang terkoyak akibat hantaman bertubi-tubi.

Ruangan gudang tua itu seketika dipenuhi oleh jeritan yang memilukan

"AARGHHHH!!"

Diandra berteriak kesakitan luar biasa, merasakan sensasi terbakar yang meremukkan seluruh saraf di tubuhnya.

Rasa perihnya begitu masif, seolah-olah ribuan jarum panas ditusukkan sekaligus ke atas luka-lukanya.

Diandra berada di ambang pingsan, napasnya tersedat-sedat di tenggorokan, sementara waktu pada bom biner di dada Pratama terus berjalan mundur dengan cepat, menyisakan angka digital merah yang kian menipis.

Vincent tertawa puas di atas ring, melangkah angkuh mendekati tubuh Diandra yang gemetaran hebat.

Ia mengepalkan tangan kanannya, bersiap memberikan pukulan terakhir yang mematikan, sementara Pratama terus menangis dan berjuang melepaskan ikatan dalam puncak keputusasaan.

Air mata dan darah berbaur di wajah sang CEO yang kini nyaris gila karena tidak bisa melindungi belahan jiwanya.

"Ucapkan selamat tinggal pada suamimu, Diandra!" seru Vincent menderu, menaikkan lengannya tinggi-tinggi.

Diandra melihat Vincent yang akan menekan tombol detonator di tangan kirinya bersamaan dengan pukulan maut itu.

Di detik-detik krusial antara hidup dan mati, insting murni Diandra mendadak mengambil alih tubuhnya yang sekarat.

JLEB!

Dengan satu gerakan memutar yang tak terduga, Diandra memanfaatkan momentum jatuhnya tubuh Vincent.

Menggunakan sisa kekuatan terakhir dari tumit kakinya yang baru membaik, ia langsung menusuk alat vital Vincent dengan tendangan lutut yang sangat keras dan presisi.

Vincent membelalak, suaranya tercekat. Pria berhati iblis itu langsung ambruk ke atas matras, mengerang kesakitan luar biasa sambil memegangi bagian vitalnya, membuat detonator di tangannya terlempar jauh.

"Aku menang, brengsek!!" desis Diandra dengan suara parau yang sarat akan kemenangan mutlak.

Dengan tubuh yang sempoyongan, Diandra berjalan ke arah suaminya.

Anak buah Vincent ketakutan melihat Vincent yang tergeletak tak berdaya dan mengerang seperti cacing kepanasan di atas ring.

Melihat ketangguhan Diandra yang mengerikan bagai singa betina yang terluka, anak buah Vincent perlahan mundur dan tidak berani mendekat.

Diandra berjalan menuju ke suaminya dan membuka sumpalan serta ikatan tali yang melilit tubuh Pratama dengan jemarinya yang gemetar dan berlumuran darah.

Begitu sumpalan kain itu terlepas, Pratama langsung meraung memanggil namanya.

"D-Diandra... Sayang..."

"A-aku..." kalimat Diandra menggantung di udara. Energi di dalam tubuhnya telah terkuras habis hingga ke tetes terakhir.

Tepat setelah ikatan di tangan Pratama terlepas sepenuhnya, pertahanan batin Diandra runtuh.

Diandra langsung jatuh pingsan di hadapan suaminya, tubuhnya ambruk melosot ke atas lantai gudang yang dingin.

"Diandra bangun!! BANGUN!!"

Teriakan Pratama menggema hebat, memecah kesunyian malam di pesisir pantai tersebut.

Pria itu langsung menyambar tubuh istrinya, memeluknya dengan erat seolah takut kehilangan wanita itu selamanya.

Bersamaan dengan itu, sistem bom biner di dada Pratama mendadak mati secara otomatis karena modul pelacak jaraknya mendeteksi bahwa detonator utama di tangan Vincent telah hancur.

BRAKK!

Pintu gudang tua itu kembali dihantam dari luar. Beruntung, teriakan tegang Pratama didengar oleh beberapa orang yang ada di sekitar sana—tim penyelamat lokal dan sisa pengawal Pratama Group yang akhirnya berhasil melacak koordinat darurat mereka setelah mengatasi sabotase siber Vincent.

"Cepat! Siapkan ambulans! Tolong istriku!" raung Pratama dengan mata memerah.

Mereka langsung menolongnya dan membawanya ke rumah sakit terdekat dengan pengawalan ketat.

Di dalam ambulans yang melaju membelah malam, Pratama terus menggenggam tangan Diandra yang sedingin es, merapalkan doa tanpa henti agar belahan jiwanya itu diberikan kekuatan untuk kembali melewati masa kritis ini.

1
Aretha Shanum
oh paling malas bca, ujung2 nya ga jelas
Dede Dedeh
kiraan mau happy ending........
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!