Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duri yang Mulai Tumbuh
Suasana ruang tengah rumah utama Pesantren Al-Fatih terasa begitu hangat bagi siapa saja yang melihatnya. Setelah ketegangan mengenai amplop cokelat pagi tadi yang untungnya berhasil diredam oleh Gus Malik sebelum mencuat ke permukaan aktivitas rumah kembali berjalan seperti biasa. Namun, di sudut ruangan, di balik pilar kayu jati yang kokoh, ada sekeping hati yang mendadak merasa terasing.
Lea berdiri mematung sambil memeluk sebuah buku komparasi hukum syariah yang baru saja ia ambil dari perpustakaan pribadi Malik. Matanya tertuju pada sofa panjang di dekat jendela besar yang menghadap ke taman dalam.
Di sana, Najwa sedang duduk di kursi rodanya, sementara Gus Malik duduk di lantai, bersandar pada lengan kursi roda sang istri pertama. Malik memegang sebuah sisir kayu, dengan sangat perlahan dan penuh kelembutan, ia menyisir rambut hitam panjang Najwa yang tergerai. Sesekali, Malik mencium puncak kepala Najwa, membisikkan untaian doa dan kalimat penyemangat yang membuat kakaknya itu tertawa kecil dengan wajah merona.
"Terima kasih ya, Mas. Rambutku rontok banyak semenjak sakit, tapi kamu selalu telaten menyisirnya," ucap Najwa lembut, jemarinya mengusap pipi Malik.
Malik menangkap tangan itu, mengecup telapak tangannya dengan takzim. "Setiap helai rambutmu yang gugur adalah saksi perjuanganmu, Humaira. Bagi saya, kamu tetap bidadari yang paling cantik."
Pemandangan itu begitu indah, begitu suci. Namun bagi Lea, itu adalah sebuah hantaman beralas beton yang telak menghujam dadanya.
Ada rasa sesak yang mendadak mencekik tenggorokannya. Rasa panas yang asing membakar ulu hatinya. Gue cemburu, batin Lea berteriak perih.
Kesadaran itu menghantamnya tanpa ampun. Semalam, di kamar hotel nomor 704, Malik memperlakukannya seolah-olah dialah satu-satunya wanita di dunia ini. Malik memeluknya, menciumnya dengan penuh gairah, dan membisikkan kata-kata cinta yang membuatnya melayang. Namun sekarang, melihat Malik kembali ke perannya sebagai suami yang memuja Najwa, Lea menyadari posisi aslinya dengan sangat menyakitkan.
Ia tetaplah istri kedua. Ia tetaplah "bayang-bayang" yang dihadirkan hanya untuk menggantikan posisi kakaknya kelak. Kehangatan yang ia rasakan semalam seolah menguap, digantikan oleh kenyataan pahit bahwa hati Malik yang seutuhnya mungkin masih terkunci rapat untuk Najwa.
Rasa cemburu itu tidak kunjung padam hingga waktu makan malam tiba. Lea duduk di kursinya dengan kepala tertunduk, memutar-mutar sendok di atas piringnya yang baru terisi sedikit nasi. Ia kehilangan nafsu makan sepenuhnya.
"Lea, kenapa nasinya cuma diaduk-aduk? Kamu sakit lagi?" tanya Ibu mertua, memecah keheningan di meja makan.
Lea tersentak, mencoba memaksakan sebuah senyuman. "Enggak kok, Bu. Lea cuma... masih agak kenyang aja karena tadi sore sempat ngemil brownies."
Malik yang duduk di kepala meja melirik ke arah Lea. Ia menyadari ada yang berbeda dari sikap istri keduanya itu sejak sore. Tatapan mata Lea yang biasanya mulai berani menatapnya, kini terus menghindar. Setiap kali mata mereka hampir beradu, Lea sengaja membuang muka ke arah lain.
"Mas Malik, tolong ambilkan sayur beningnya untuk Lea. Dia harus banyak makan sayur supaya tidak gampang lemas," pinta Najwa tanpa tahu gejolak apa yang sedang terjadi di antara kedua orang di dekatnya itu.
Malik mengambil mangkuk sayur, lalu menyendokkannya ke piring Lea. "Makanlah yang banyak, Kalea. Kuliahmu sedang padat, jangan sampai fisikmu drop."
Perhatian itu terasa hambar bagi Lea. Ia melihat bagaimana tangan Malik yang tadi menyendokkan sayur untuknya, beberapa detik kemudian dengan telaten memotongkan daging ayam untuk Najwa, bahkan menyuapi kakaknya itu dengan penuh kasih sayang.
"Buka mulutnya, Humaira. Khusus malam ini, saya yang suapi," ucap Malik dengan nada suara yang teramat lembut—nada suara yang semalam juga ia gunakan saat memeluk Lea di dalam kegelapan kamar hotel.
Lea meremas serbet di pangkuannya. Rasa panas di matanya semakin tidak terbendung. Ia merasa seperti seorang penyusup yang menonton kebahagiaan sebuah keluarga harmonis. Ia tidak tahan lagi.
"Kak, Bu, Gus... Lea permisi ke kamar duluan ya. Tiba-tiba kepala Lea agak pusing, mau langsung tidur aja," pamit Lea terburu-buru. Tanpa menunggu jawaban dari yang lain, ia langsung bangkit berdiri dan berjalan cepat menuju kamarnya di lantai atas.
Najwa menatap punggung adiknya dengan gurat cemas. "Mas, coba nanti tengok Lea di atas, ya. Aku takut dia beneran sakit."
Malik hanya mengangguk pelan dengan rahang yang mengencang. Ia tahu betul, pusing yang dimaksud Lea bukanlah pusing fisik, melainkan ada badai emosi yang sedang berkecamuk di dalam dada gadis itu.
Sekitar pukul sembilan malam, setelah memastikan Najwa sudah tertidur pulas di kamar utama dan ibunya berada di kamarnya sendiri, Malik melangkah dengan perlahan menuju kamar Lea. Pikirannya terbagi antara ancaman Tom yang harus ia hadapi dua jam lagi di pelabuhan, dan kondisi psikologis Lea yang mendadak tidak stabil.
*Cklek.*
Malik membuka pintu kamar Lea yang untungnya tidak dikunci dari dalam. Kamar itu nampak gelap, hanya diterangi oleh cahaya rembulan yang menembus gorden tipis. Ia melihat Lea sedang duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya dengan bahu yang naik turun—gadis itu sedang menangis dalam diam.
Malik menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya. Ia melangkah mendekat, lalu berlutut di lantai tepat di hadapan Lea, menyamakan tinggi posisi mereka.
"Kalea... ada apa? Kenapa sejak sore kamu mendiamkan saya?" tanya Malik lembut, tangannya terulur untuk menyentuh lutut Lea.
Namun secara mengejutkan, Lea menghempaskan tangan Malik dengan kasar. Ia menatap Malik dengan mata yang merah dan sembab, air mata mengalir deras di pipinya.
"Jangan sentuh gue, Gus!" desis Lea dengan suara bergetar menahan tangis yang pecah.
Malik tertegun, menatap Lea dengan bingung. "Kalea, bicaralah yang jelas. Apa salah saya?"
"Salah lo?! Salah lo adalah karena lo bikin gue merasa terbang semalam, tapi hari ini lo jatuhin gue ke dasar jurang yang paling dalam, Gus!" tangis Lea akhirnya tumpah, ia memukul dada bidang Malik berkali-kali meluapkan rasa sesak yang menyiksanya. "Gue lihat tadi sore... gue lihat gimana lo sisirin rambut Kak Najwa, gimana lo cium dia, gimana lo suapin dia di meja makan dengan suara lembut lo itu!"
Malik terdiam, membiarkan pukulan-pukulan lemah Lea mendarat di dadanya, menyadari kemana arah kemarahan istrinya ini.
"Gue tahu gue cuma istri kedua! Gue tahu pernikahan ini karena wasiat Kak Najwa! Tapi bisa nggak sih lo nggak usah nunjukin keromantisan lo di depan mata gue setelah apa yang kita lakuin semalam?!" jerit Lea tertahan, takut suaranya terdengar keluar kamar. "Gue punya hati, Gus! Gue manusia biasa! Gue... gue cemburu setengah mati tahu nggak!"
Mendengar pengakuan jujur yang keluar bersama air mata itu, Malik langsung menangkap kedua pergelangan tangan Lea, menghentikan pukulannya, lalu menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapan dadanya yang kokoh. Lea sempat memberontak, namun kekuatan Malik jauh lebih besar hingga akhirnya Lea hanya bisa menangis sesenggukan di dalam pelukan suaminya.
Malik mengusap punggung Lea dengan lembut, membiarkan kaos baju kokonya basah oleh air mata istrinya.
"Dengar saya, Kalea... tatap mata saya," ucap Malik setelah tangis Lea sedikit mereda. Ia mengurai pelukan dan memegang kedua sisi wajah Lea, memaksa mata coklat itu menatap langsung ke dalam manik mata hitamnya.
"Saya minta maaf jika apa yang saya lakukan bersama Najwa melukaimu. Tapi tolong mengertilah... Najwa adalah wanita yang sudah mendampingi saya dalam suka dan duka selama bertahun-tahun. Kondisinya sekarang kian merapuh, ajalnya sudah dekat, Kalea," suara Malik terdengar bergetar, ada kesedihan mendalam saat menyebut kata 'ajal' untuk istri pertamanya.
"Semua perhatian yang saya berikan kepada Najwa saat ini adalah bentuk pengabdian terakhir saya sebagai suami untuk membahagiakan sisa umurnya. Itu adalah kewajiban saya," lanjut Malik, ibu jarinya bergerak lembut menghapus air mata di pipi Lea.
"Tapi soal apa yang terjadi di antara kita semalam... demi Allah, itu bukan kepura-puraan. Saya melakukannya dengan penuh kesadaran dan rasa cinta yang tulus untukmu, Kalea. Kamu bukan lagi sekadar bayang-bayang Najwa di hati saya. Kamu adalah Kalea, istri saya, wanita yang malam ini siap saya pertaruhkan nyawa saya demi melindunginya dari bajingan bernama Tom."
Lea terpaku mendengarnya. Kata-kata Malik yang begitu tegas namun sarat akan ketulusan langsung menyiram noda cemburu di hatinya seperti air es yang menyejukkan. Rasa bersalahnya pada Najwa kembali muncul, menyadari betapa egoisnya dirinya yang mencemburui seorang kakak yang sedang berjuang melawan maut.
"Gus... maafin gue," bisik Lea lirih, kembali menyandarkan kepalanya di bahu Malik. "Gue egois banget... Kak Najwa lagi sakit, tapi gue malah mikirin perasaan gue sendiri."
Malik tersenyum tipis, mengecup rambut pirang Lea dengan penuh kasih sayang. "Tidak apa-apa. Wajar jika kamu merasa cemburu, itu tandanya hatimu sudah sepenuhnya milik saya. Sekarang, hapus air matamu. Saya harus bersiap pergi ke pelabuhan."
Ketegangan emosional di antara mereka memang telah mereda, namun ingatan tentang ancaman Tom kembali menyeruak, membawa atmosfer mencekam yang siap menguji kekuatan cinta yang baru saja mekar di antara sang Gus dan istri keduanya itu.