Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.
Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.
Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.
Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDM|33|Berhenti Peduli
Jam 1.30 pagi. Ruang tunggu ICU.
Lampu putih menyilaukan. Bau alkohol dan desinfektan. Bunyi mesin dari dalam ICU masih terdengar, pelan tapi stabil.
Wijaya belum sadar. Dokter bilang masih kritis. 48 jam ke depan menentukan.
Aruna duduk di kursi besi ruang tunggu, wajahnya bengkak karena nangis. Bayu di sebelahnya, diam. Marisa sudah pulang karena ada urusan mendesak.
Pintu ruang tunggu terbuka.
Devara masuk. Jasnya udah lepas. Kemeja putihnya kusut. Wajahnya lelah. Ada luka kecil di dahi, mungkin kena pintu mobil waktu buru-buru.
Ia berhenti beberapa langkah dari Aruna.
“Run,” panggilnya pelan.
Aruna mendongak. Matanya merah. “Mau apa?”
“Bisa kita ngobrol?”
Bayu langsung berdiri. “aku nggak—”
“Bayu,” potong Aruna. Suaranya datar. “Nggak apa-apa.”
Bayu ragu, tapi akhirnya duduk lagi. Matanya nggak lepas dari Devara.
Devara duduk di kursi seberang Aruna. Jarak mereka cuma satu meja. Tapi rasanya kayak jurang.
Ia buka mulut. Tutup lagi. Tangannya mengepal di paha.
“kamu mau ngomong apa?” tanya Aruna akhirnya.
Devara menatapnya. Lama.
“Aku… aku minta maaf.”
“Untuk yang mana?” Aruna miringkan kepala. “Untuk ngurung aku dulu? Untuk nyekik aku di kamar? Untuk bikin Papa masuk ICU malam ini?”
Setiap kalimat Aruna meluncur seperti pisau.
Devara nggak jawab.
Ia cuma natap Aruna. Tatapan yang kosong, tapi penuh. Ada penyesalan di sana. Ada rasa bersalah yang terlalu besar buat diucapin.
“Jawab aku, Dev,” desis Aruna. Suaranya bergetar. “kamu nyesel karena Papa masuk ICU? Atau kamu nyesel karena kamu nggak bisa kontrol aku lagi?”
Devara tetap diam.
Rahangnya mengeras. Matanya berkaca, tapi ia tahan. Ia mau bicara. Ia mau bilang 'aku takut kehilangan kamu. aku bodoh'
Tapi nggak ada kata yang keluar.
Karena semua kata itu udah terlambat.
Aruna ketawa kecil. Pahit. “aku kira kamu bakal marah. aku kira kamu bakal ngebentak aku. Tapi kamu cuma diem.”
Ia berdiri. Kursi bergeser berisik.
“kamu tahu, Dev? Waktu aku di New York, aku mikir aku udah bebas. Tapi ternyata aku bawa kamu juga. Di kepala aku. Di mimpi aku. aku benci itu.”
Devara masih diam.
Aruna mundur selangkah. “aku nggak butuh maaf kamu. aku butuh Papa aku hidup.”
Ia balik badan, mau pergi.
“Run,” suara Devara akhirnya keluar. Serak.
Aruna berhenti. Nggak nengok.
“Kalau Pak Wijaya… kalau dia nggak—” Devara nggak bisa lanjutin. Tenggorokannya tercekat.
Aruna tutup mata. “Jangan ngomong gitu.”
Ia pergi. Bayu nyusul.
Tinggal Devara sendirian di ruang tunggu.
Ia menunduk. Tangannya menutup wajah. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Devara Mahendra nggak bisa ngomong. Nggak bisa ngontrol. Nggak bisa nahan.
Karena semua yang ia hancurin… duduk di depannya, dan ia nggak sanggup jawab satu pertanyaan pun.
Di dalam ICU, mesin masih bunyi. BIP. BIP. BIP.
Dan Devara hanya bisa duduk di sana, natap pintu, dengan penyesalan yang menggantung di lehernya kayak tali gantungan.
Jam 3 pagi. Penthouse lantai 98.
Devara mendorong pintu masuk. Gelap. Sunyi. Baunya masih sama—woody, dingin, kosong.
Ia lepas jas, lempar ke sofa. Kemejanya basah keringat. Udah seminggu ia nggak tidur bener. Nggak makan bener. Nggak minum obat.
Dokternya udah bilang kalau stres, penyakit lamanya bisa kambuh. Tekanan darah, jantung, insomnia. Tapi Devara cuek.
Sekarang kepalanya berdenyut. Dunia miring.
Ia melangkah ke dapur, mau ambil air. Baru dua langkah—
Lutnya lemas.
Duar. Tubuhnya menghantam lantai marmer.
Gelap.
Jam 4 pagi. Apartemen Andre, satu lantai di bawah.
Andre mendobrak pintu penthouse dengan kartu akses darurat. Ia nemu Devara tergeletak di koridor, wajah pucat, napas ngos-ngosan.
“Pak Devara! Pak!”
Nggak ada respon.
Andre langsung angkat telepon. “Ambulans! Sekarang! Ke Penthouse Mahesa!”
Jam 5 pagi. RS Mahesa, ruang VIP.
Infus nancep di tangan Devara. Selang oksigen di hidung. Demamnya 39.8. Nggak turun-turun.
Andre duduk di kursi samping ranjang. Wajahnya pucat. Di seberang, dokter ngelap keringat di dahi Devara.
“Pak Devara udah nolak obat seminggu,” gumam dokter pelan ke Andre. “Stres berat. Kurang tidur. Tubuhnya nyerah.”
Devara bergerak. Bibirnya pecah-pecah.
“Aruna…” gumamnya. Suaranya nyaris nggak kedengeran. “Aruna… maaf…”
Andre menutup mata. Lagi-lagi namanya.
-RS. Skyline
BIP. BIP. BIP.
Bunyi mesin berubah. Lebih pelan. Lebih stabil.
Suster keluar dengan senyum tipis. “Pak Wijaya sadar.”
Aruna yang udah ketiduran di kursi langsung bangun. “Papa?!”
Ia lari masuk ICU.
Wijaya terbaring, selang di hidung, wajah masih pucat. Tapi matanya terbuka. Menatap Aruna.
“Run…” bisiknya.
Aruna pecah. Ia pegang tangan Wijaya, cium punggung tangannya. “Papa bangun… Papa bangun…”
Wijaya kedip pelan. “Devara… gimana?”
Aruna terdiam.
Ia nggak mau jawab. Nggak mau inget. Tapi nama itu udah terlanjur masuk ke telinganya.
Jam 6 pagi. Koridor RS Skyline.
Aruna masih berdiri di depan pintu ICU. Wijaya udah sadar. Napasnya stabil. Tapi wajahnya masih pucat, dan Aruna nggak berani ninggalin sedetik pun.
HP di sakunya bergetar.
Nomor nggak dikenal. Tapi Aruna angkat.
“Bu Aruna?” Suara Andre, panik. “Ini Andre, asisten Pak Devara.”
Aruna terdiam. “Ada apa?”
“Pak Devara… dia pingsan di penthouse tadi pagi. Demam tinggi, nggak turun-turun. Sekarang lagi dirawat di Mahesa Hospital, ruang VIP.”
Jantung Aruna berhenti sedetik.
Andre lanjut, suaranya pecah: “Sejak diinfus, dia terus manggil nama Ibu. Terus. ‘Aruna… Aruna… maaf…’ Dokter bilang kalau demamnya nggak turun, bisa bahaya.”
Aruna nggak jawab.
Di belakangnya, lewat kaca ICU, ia bisa lihat Wijaya berusaha ngangkat tangan. Manggil dia. Baru bangun dari ambang kematian.
Di ujung telepon, Devara demam, nyebut namanya kayak orang tenggelam manggil tali.
“Bu Aruna? Ibu dengerin saya?”
Aruna nutup mata. Dadanya sesak.
Ia mau bilang, “aku nggak peduli.”
Ia mau bilang, “Biarin dia mati.”
Tapi suaranya nggak keluar.
Karena di kepalanya ada dua suara yang bentrok.
Dua orang yang sama-sama nyiksa kepalanya. Satu karena cinta yang keliru. Satu karena luka yang nggak sembuh.
“Bu?” desak Andre.
Aruna nggak jawab. Ia tekan tombol merah.
Tut.
HP jatuh ke tangan. Ia sandar ke dinding, napasnya pendek.
Bayu datang dari belakang. “Siapa?”
Aruna nggeleng. Nggak bisa jawab.
Karena kalau ia bilang “Devara sakit,” berarti ia masih khawatir.
Kalau ia bilang “aku nggak peduli,” berarti ia bohong.
Jadi ia diam. Dan diam itu lebih nyiksa daripada jawaban apa pun.
Di Mahesa Hospital, tiga lantai di atas, Devara masih demam. Masih manggil namanya.
Di ICU lantai bawah, Wijaya masih nunggu dia masuk.
Dan Aruna terjebak di tengah, nggak bisa maju, nggak bisa mundur, digeprek dua nama yang sama-sama ngerobek dadanya.