NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI PERTAMA

DENDAM ISTRI PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Motjaaa

⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"

10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.

Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Sampai jadi debu

Pagi-pagi sekali Hanum sudah terbangun. Diliriknya jam di ponselnya, masih pukul tiga dini hari. Kini, tubuhnya terasa segar dan tak lagi pusing seperti sebelumnya. Dia pun bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Meskipun Hanum masih belum hafal tempatnya, dia mencoba menelusuri ruangan di rumah panggung yang cukup luas itu.

Ketika dia memasuki ruang tengah, dia mencoba menghidupkan lampu dan tercekat saat melihat sesosok tubuh yang sedang bersujud di atas sajadahnya. Rupanya Devan sedang tahajud seorang diri.

Hanum menunggu Devan hingga akhirnya dia selesai.

"Hanum? Kamu mau kemana?" tanya Devan sambil menatap Hanum yang masih bersandar di pintu.

"Aku nyari kamar mandi, Mas. Di-dimana ya?"

Devan pun berdiri. "Biar Mas anterin," katanya.

Hanum tersenyum singkat, lalu dia mengikuti Devan. Setelah selesai mengambil wudu, Devan masih menungguinya.

"Mas kok gak salat di kamar aja?" tanya Hanum.

"Ntar takut keganggu, ada keponakan lagi tidur," katanya.

Hanum pun izin untuk kembali ke kamarnya. Dia melaksanakan tahajud dan tak bisa tertidur setelahnya. Udara begitu dingin sehingga dia memilih untuk menyelimuti tubuhnya dengan selimut sampai waktu subuh tiba.

Pagi nya, sekitar pukul enam Hanum sudah berada di luar rumah panggung itu. Mengagumi pemandangan kota Bukittinggi yang terhampar luas sepanjang mata memandang. Rumah Gadang keluarga Bunda berada di daerah perbukitan. Tampak kabut tebal yang menyelimuti dua gunung, yakni Singgalang dan Marapi.

"Masyaallah..," ucap Hanum.

Tak lama kemudian, dia melihat Devan dan Bunda sudah berada di luar. "Bunda?"

"Kamu udah lama di luar, Nak?"

"Iya, Bun.., Hanum pengen keluar aja.., sejuk udaranya," kata Hanum.

Bunda tersenyum. "Ayo ikut Bunda," katanya mengajak Hanum. Sementara Devan berada di sebelahnya.

"Mau kemana, Bun?" tanya Hanum.

"Kita ke Ngarai Sianok," ucap Bunda lagi. "Nanti sehabis dari sana, pukul sembilan kita ke makam," sambungnya.

Hanum pun mengangguk. Mereka bertiga menaiki mobil yang kemarin dibawa oleh pak supir jemputan mereka.

Bunda dan Hanum duduk di belakang, sementara Devan mengemudikan mobil.

"Di rumah ada siapa aja, Bun?" tanya Hanum sebab dia tidak memperhatikan orang-orang yang ada karena semalam dia langsung ke kamar untuk beristirahat.

"Ada adik sama paman Bunda. Berlima mereka tinggal di sana. Gimana kondisi kamu? Udah mendingan?" tanya Bunda.

"Alhamdulillah sudah, Bun."

Setibanya di Ngarai Sianok, Bunda tersenyum saat menatap Ngarai itu sedang dinaungi oleh kabut tebal. Tertulis di sana "Negeri di atas awan."

"Bunda udah lamaa banget gak kesini," ucap Bunda pelan. "Mungkin dengan kepergian nenek, Bunda jadi kembali lagi kesini..," kata Bunda lagi. Devan merangkul bunda nya.

"Yang sabar ya, Bun.., semuanya pasti ada hikmahnya. Setiap orang pasti ada waktunya untuk pergi memenuhi panggilan Tuhan," kata Devan menenangkan hati Bundanya.

Hanum terdiam saja mendengar ucapan ibu dan anak itu. Sebab dia sendiri tidak punya siapa-siapa lagi.

"Tapi Bunda belajar banyak, Nak. Apalagi dari Hanum, dia sudah kehilangan orang tuanya sejak lama. Berjuang untuk hidup mandiri, sebab itulah Bunda sadar. Karena itu.., kalau kamu menikah nanti sama Hanum, jaga dia ya. Seperti kamu menyayangi Bunda. Sampai kalian menua nanti, sampai jadi debu," kata Bunda memelankan suaranya.

Devan dan Hanum saling terdiam mendengar ucapan Bunda barusan.

"Baik, Bun.., Devan akan ingat selalu pesan Bunda," kata Devan sambil tersenyum.

"Ayo kita foto di sana!" Bunda kini turun menuju spot foto yang menarik. Untungnya, pengunjung kala itu tidak terlalu ramai sebab hari ini hari Senin. Biasanya di waktu libur atau akhir pekan Ngarai akan selalu ramai.

Hanum masih berdiri di tempatnya.

Sampai jadi debu...

Kalimat yang begitu puitis namun menyiratkan makna yang mendalam. Dia jadi teringat akan kedua orang tuanya dahulu.

"Hanum! Ayo kesini!"

Bunda dan Devan tampak menungguinya di bawah. Seulas senyuman terbesit di bibirnya, Hanum melangkah turun. Begabung berfoto bersama mereka.

*Author sedang sakit mental untuk membuka pengumuman SNBT pada tanggal 25 Mei jam 15.00 nanti, jadi up 1/2 dulu. Doain lolos ya kakak-kakak 🥹 Aamiinn..

Janji deh kalo dah sembuh up double! Apalagi kalo lolos 🤲

1
partini
good
partini
sehat selalu Thor, semoga dapat yg terbaik 👍👍
silainge01
Kasih komen ya beb 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!