NovelToon NovelToon
Posesif

Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...

"Kita akan menikah hari ini."

"Aku tidak mau!"

"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."

NB: Season 2 dari Obsession

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29

POV: Nara

Aku menoleh lagi ke arah Dev. “Kamu ngapain di sini?” tanyaku curiga.

Bukannya langsung menjawab, tangannya justru bergerak pelan mengelus lenganku. Refleks bulu kudukku langsung berdiri.

“Kita udah lama libur,” katanya tiba-tiba.

Aku mengernyit bingung. “Libur? Kita kan udah lulus sekolah dari bertahun-tahun lalu,” lanjutku heran.

Dev malah tertawa kecil, ekspresinya terlihat terlalu santai untuk seseorang yang barusan ngomong aneh.

“Sayangnya... kamu belum lulus sekolah seks.”

Sontak aku langsung menepis tangannya. “Yaudah sana nonton film dewasa aja! Biasanya juga gitu, kan?”

Wajah Dev langsung berubah bingung. “Hah?”

“Riwayat tontonan kamu tuh,” gumamku kesal sambil membuang muka.

Beberapa detik hening lalu tiba-tiba kasur bergerak. Dev langsung bangkit duduk, tangannya menahan daguku pelan agar aku kembali menatap ke arahnya.

“Hei...” katanya sambil menahan tawa kecil. “Itu cuma kalau aku lagi bosan.”

Aku menyipitkan mata. Dan kenapa dia malah tertawa? Apa ini sesuatu yang lucu?

"Terserah! Aku juga nggak peduli." kataku sinis.

"Nggak peduli? Apa itu karna tiap tengah malam kamu nontonin drama CEO dingin yang punya perut sixpack?" Suaranya berbisik di telingaku.

"Hah?! Apaan sih? Aku nggak begitu." Protesku.

Tapi, tunggu!

Dari mana dia bisa tahu kalau aku suka nonton drama CEO versus cewek polos?

"Nara... Nara, kamu ini ternyata cuma pura-pura lugu ya." Sudut bibirnya terangkat.

Aku langsung diam, tidak tahu harus membela diri bagaimana. Karena sialnya, hampir semua tuduhan itu benar. Ah, sial. Harga diriku rasanya baru saja jatuh dari lantai tiga.

"Emangnya tubuhku masih kurang? Sampai kamu nontonin begituan?" tanyanya.

"Atau kamu masih kurang puas?" lanjutnya lagi.

Mendengar itu aku langsung mengerjap, "ihh... ngomongin apa sih? Udah sana pergi! Aku mau mandi."

Aku bangkit dari ranjang, hendak menuju ke kamar mandi. Namun tanganku di tarik hingga aku kembali terbaring. Bibirnya langsung menghantam bibirku, mengecup berkali-kali.

“Dev, stop!”

Seketika dia benar-benar berhenti. Aku menghela napas pelan sebelum berkata dengan nada sengaja diperlambat, seolah sedang mengeja sesuatu untuk anak kecil.

“Aku sedang... tidak bisa melayani suami.”

Dev mengernyit. “Kenapa?”

Aku berdeham kecil, lalu menjawab singkat. “Red moon.”

Hening beberapa detik. Lalu bola matanya langsung berputar malas ke atas.

“Argh... sial,” gerutunya pelan sambil mengusap wajah.

Entah kenapa, melihat reaksinya membuatku sedikit puas. Sudut bibirku tanpa sadar terangkat tipis.

“Bisa nggak sih kasih aba-aba kalau udah mau waktunya?” katanya kesal.

Aku terkekeh kecil. “Maaf, Tuan. Tapi itu nggak bisa diprediksi.”

“Menyebalkan,” gumamnya.

Ia mengembuskan napas panjang, seolah baru saja kalah perang besar. “Oke, oke...” katanya akhirnya menyerah.

“Kalau gitu, kamu bebas selama tujuh hari ke depan.”

Dev melangkah keluar kamar, meninggalkanku yang masih menahan senyum kecil. Namun saat sampai di ambang pintu, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.

“Habis mandi, aku tunggu kamu di atas.”

Lah? Tunggu di atas buat apa lagi?

Pria ini benar-benar nggak pernah kasih penjelasan lengkap. Seolah semua orang wajib bisa baca pikirannya. Menyebalkan sekali.

Klik. Pintu kembali tertutup.

Beberapa detik aku membeku, memastikan pria itu benar-benar sudah pergi. Lalu seketika kedua tanganku terangkat ke udara.

“Yeeey!” seruku pelan penuh kemenangan.

“Bebas selama tujuh hari!”

Rasanya seperti baru mendapat remisi dari penjara pribadi. Dramatis? Tapi jujur saja, aku memang merasa sebahagia itu.

Aku segera meraih ponsel di samping ranjang, lalu menyambungkannya ke bluetooth speaker kecil di kamar. Playlist favoritku langsung menyala. Lagu “Bahagia Lagi” versi cover Leon mulai terdengar pelan memenuhi ruangan.

Katanya dulu, lagu itu dia nyanyikan untukku. Dan anehnya setiap kali mendengarnya, perasaanku justru terasa campur aduk, sedih, senang. Tapi juga sakit di waktu yang bersamaan. Karena setiap liriknya terasa terlalu mirip dengan cerita kami. Tentang sesuatu yang tidak selesai, tentang rasa yang datang di waktu yang salah, tentang hubungan rumit yang bahkan tidak tahu harus disebut apa.

Aku memejamkan mata sejenak. Bahagia lagi...

Mungkin, suatu hari nanti, kami memang bisa bahagia lagi. Dalam bentuk apa pun itu.

Aku mengembuskan napas panjang sebelum melangkah menuju kamar mandi, melepaskan seluruh pakaianku, membiarkan kehangatan air menjadi satu-satunya hal yang menenangkan pikiranku malam ini.

...***...

Setelah selesai mandi, aku langsung datang ke kamar Dev karena tadi dia memintanya. Kali ini aku merasa sangat percaya diri karena tidak mungkin kan dia akan melakukan itu.

Aku menekan sandi pintunya, saat suara klik berbunyi aku langsung masuk. Di sana, aku melihatnya sedang duduk di sofa, ada bekas botol anggur merah dan sebuah gelas yang berada di meja.

“Sini.” Suara Dev terdengar singkat saat melihatku masuk. Aku menghampirinya, berdiri di samping kursi tempatnya duduk. Namun alih-alih menyuruhku duduk di dekatnya, Dev justru mengangkat telunjuk, menunjuk ke arah sofa yang berada tepat di depan.

“Duduk.”

Aku mengernyit kecil. Hah? Kenapa di sana Biasanya dia malah menyuruhku duduk dekat, atau setidaknya di sampingnya. Jarak sofa itu bahkan terasa terlalu jauh jika dibandingkan kebiasaannya yang selalu ingin berada terlalu dekat denganku.

Aneh. Apa dia sedang kesal? Atau jangan-jangan masih ngambek gara-gara red moon tadi? Tapi tetap saja, aku menurut. Pelan, aku berjalan ke arah sofa lalu duduk di sana, masih memperhatikannya dengan penuh curiga. Entah kenapa, firasatku tiba-tiba terasa tidak enak.

"Aku punya sesuatu buat kamu."

Aku mengerjap kaget, kenapa kalimat itu selalu membuatku merasa takut? Mungkin karena mengingatkanku pada Miko benda sialan itu. Tapi tidak mungkin kan dia akan memberiku Miko?

"Aku nggak suka kalimat itu, aku selalu teringat hal waktu itu," kataku sambil setengah gugup.

"Maksud kamu, Miko?"

Aku langsung menutup kedua telingaku. "Aku benci nama itu," kataku kesal.

Dev menggeleng, "nggak ada Miko, tenang aja."

Mendengarnya perasaanku langsung lega.

“Tapi mata kamu harus ditutup dulu.”

Sebelum sempat bertanya lebih jauh, Dev sudah berdiri dan mendekat. Sebuah sapu tangan merah miliknya perlahan menutupi mataku.

“Dev...” gumamku pelan.

“Udah, percaya aja.”

Aku menghela napas kecil, akhirnya menurut walaupun isi kepalaku mulai dipenuhi berbagai kemungkinan aneh. Apa lagi sekarang?

Setelah pandanganku benar-benar gelap, indra lain terasa jadi lebih peka. Aku bisa merasakan kehadirannya begitu dekat. Lalu tiba-tiba, jemarinya mengusap pelan bibirku. Sentuhan ringan itu membuatku refleks diam. Beberapa detik kemudian, sesuatu yang terasa hangat menyentuh bibirku. Refleks aku sedikit mundur.

“Eh...”

Namun tangannya pelan menopang pundakku, membuatku kembali ke posisi semula.

Kehangatan itu kembali menyentuh bibirku.

“Dev, itu apa?” tanyaku curiga.

Suaranya terdengar rendah, nyaris seperti sedang menahan tawa kecil. “Kalau mau tahu... buka mulutnya.”

Aku ragu beberapa detik. Tapi rasa penasaran akhirnya menang. Pelan, aku menurut. Sesuatu itu mendorong bibirku hingga terbuka perlahan, saat lidahku menyentuhnya. Barulah aku tahu itu apa.

Bedebah! Pria ini kenapa selalu saja punya akal aneh? Kukira aku benar-benar akan bebas selama tujuh hari penuh. Ternyata tetap saja ada celah yang berhasil dia temukan. Menyebalkan.

Setelah akhirnya sadar apa yang sedang ia rencanakan, refleks aku langsung menggeleng cepat. “Dev, aku nggak mau!” protesku spontan.

“Kenapa?” tanyanya seolah tidak ada masalah besar. “Nggak bakal bikin sakit juga.”

“Tapi aku jijik,” rengekku sambil mengerutkan hidung.

“Seorang istri, tetap harus bisa melayani suaminya, walaupun lagi berhalangan.” Kalimatnya seolah seperti ustaz lulusan Kairo.

Sial! Kalau begini caranya, tujuh hari bebas itu ternyata cuma propaganda.

Aku hanya bisa pasrah menerima miliknya yang terus keluar masuk dari mulutku. Demi Neptunus, siapa sebenarnya orang pertama yang menemukan aktivitas ini lalu berpikir, ya, ini ide bagus untuk dicoba?

Saat cairan itu menyentuh lidahku, tubuhku langsung bergidik. Rasanya sulit dijelaskan. Asin? Ya. Pahit? Sedikit. Aneh? Sangat. Seperti seseorang mencampur air laut dengan keputusan hidup yang buruk.

Serius, benarkah dunia orang dewasa seperti ini? Penuh hal-hal berbau seksual yang entah kenapa dianggap romantis? Apakah manusia dewasa memang menghabiskan waktunya mengejar dopamin dengan cara-cara yang membuat harga diri dan lambung bekerja sama memberontak?

Aku ingin semua ini segera selesai. Supaya setelahnya, aku bisa menghadiahi pria ini satu tamparan keras. Mengganti desahan nikmatnya sedari tadi menjadi bunyi plak yang memalukan di pipi. Mungkin itu satu-satunya terapi yang masuk akal saat ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!