Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Pagi yang runtuh (TAMAT)
Pagi tiba tanpa membawa kehangatan. Langit di atas gedung parlemen tertutup oleh kabut tebal berwarna kelabu, seolah-olah alam sedang ikut berduka atas apa yang menimpa kota ini. Di dalam ruang komando taktis yang bising oleh suara statis radio, tim ahli patologi militer bentukan pemerintah pusat yang baru saja tiba beberapa jam lalu akhirnya selesai memeriksa berkas Dokter Ferdi.
Namun, tidak ada rona lega di wajah sang kepala ahli patologi. Pria berjas lab putih itu melangkah mendekati Kolonel Mirza, Detektif Rasyid, dengan tangan yang bergetar hebat memegang kertas di papan kerja nya.
"Kolonel, situasi kita jauh lebih mengerikan dari apa yang kita duga," buka sang ahli patologi, suaranya parau menahan ngeri. "Berdasarkan catatan hasil lab Dokter Ferdi dan sisa berkas yang kalian bawa, kami sudah berhasil mencatat dan merumuskan formula awal untuk cara penanganan serta penawar mutasi ini. Teori penawarannya sudah matang di atas kertas, tetapi..."
Ia menjeda kalimatnya, menatap ke arah tabung inkubator kosong di atas meja. "...kami membutuhkan sampel murni cairan mutasi awal. Tanpa sampel itu, catatan ini hanya menjadi teori saja."
Belum sempat Mirza merespons, ahli patologi itu menunjuk sebuah peta cetak biru tata kota di dinding. "Dan ada satu hal lagi. Zat ini tidak hanya menular lewat gigitan atau kontak fisik langsung. Fasilitas bunker yang di klaim di tempati Dr. Stela yang 'hidup lagi' ternyata dibangun tepat di atas hulu utama jaringan pipa air bawah tanah yang memasok air ke seluruh penjuru kota ini."
"Artinya..." Rasyid menyela, matanya melebar.
"Ya. Saluran air di dalam gedung parlemen ini kemungkinan sudah terkontaminasi sejak malam tadi akibat rembesan zat dari tangki basement bunker mereka, saya sudah memeriksa sampel air disini dan ada zat aneh yang terkadung di dalam air tersebut." vonis sang ahli patologi. "dan beruntung, air kemasan botol yang kalian konsumsi sekarang masih aman. Hanya air tersalur lewat pipa seperti wc atau kamar mandi saja yang terkontaminasi, mungkin sekarang kita harus memberitahu para pengungsi untuk tidak menggunakan air disini untuk keperluan apapun."
Tepat setelah kalimat itu terucap, sebuah jeritan histeris yang memekakkan telinga bergema dari arah aula pengungsian bawah. Suara itu segera disusul oleh tangisan anak-anak, dan erangan-erangan serak yang sangat dikenali. Tak lama Aris dan Liora membuka pintu ruangan taktis dengan wajah yang panik, mereka memberitahu kekacauan yang terjadi di aula pengungsian.
Shelter parlemen yang semula menjadi benteng pertahanan terakhir kini berubah menjadi pembantaian dalam sekejap. Sebagian warga yang sempat memakai air dari fasilitas gedung mulai mengalami kejang-kejang parah, kulit mereka menggelap, dan urat-urat hitam menjalar cepat di wajah mereka saat mereka bermutasi menjadi makhluk cacat yang ganas. Sementara itu, sebagian warga yang selamat dan belum sempat menyentuh air terkontaminasi berlarian panik, berdesakan menyelamatkan diri ke segala arah di tengah kekacauan total.
Di saat yang sama, dinding pertahanan luar gedung parlemen digempur habis-habisan oleh mahkluk diluar yang berlarian dari tiap sudut jalanan. Ribuan makhluk cacat yang dilepaskan secara massal oleh Stela seperti yang ia katakan malam itu dari kedalaman bawah tanah merangsek maju seperti air bah, meruntuhkan barikade kawat berduri dan melompati beton pembatas. Rentetan tembakan senapan mesin milik pasukan militer terdengar membabi buta, namun jumlah monster yang tak habis-habis membuat garis pertahanan Kolonel Mirza runtuh total dalam hitungan menit.
"Berlindung! Mundur..mundur...segera ke lantai dua, sektor selatan dan aula dalam sudah jebol!" teriak seorang prajurit melalui pengeras suara, disusul suara tembakan lagi.
Kolonel Mirza langsung menarik pin granat asap di tangannya untuk memberi tanda, lalu berbalik menatap Rasyid dan yang lainnya. "Evakuasi udara darurat! Helikopter sudah mendarat di atap gedung! Tidak ada waktu lagi, bergerak sekarang juga!"
"Pak, bagaimana dengan pengungsi disini?" tanya Aris.
"Mereka akan di kawal oleh pasukan penjaga disini! Rasyid lakukan panggilan darurat evakuasi udara dan darat ke pusat untuk para pengungsi yang selamat." perintah Mirza.
Dengan sigap Rasyid meraih radio panggilan, ia mengajak Aris dan liora ke ruangan taktis untuk mengamankan sampel dokter Ferdi.
"Aris, tolong nanti arahkan para pengungsi untuk sebagian ke atap. Untuk yang lainnya biar pasukan kami yang mengarahkan mereka ke arah bus penjemputan di bawah. Dan Liora, pegang dokumen dan sampel ini, masukan ke dalam tas."
Aris dan Liora hanya menuruti ucapan Rasyid tanpa banyak bicara.
Rasyid tampak cekatan memakai rompi lalu membawa senjata yang sudah di persiapkan, mereka bertiga pun segera keluar dari ruangan tersebut.
Keadaan semakin kacau, mereka bertiga berlari kencang menerobos koridor yang mulai dipenuhi asap dan ceceran darah. Aris menggandeng erat tangan Liora yang mendekap tas berisi hasil lab Ferdi dan sampel vial berharga ke dadanya. Di belakang mereka, Rasyid sesekali berbalik untuk menembakkan pistolnya ke arah bayangan makhluk yang mencoba mengejar dari tangga bawah.
Mereka menaiki anak tangga dengan napas memburu, bertaruh nyawa dengan waktu yang kian menipis. Begitu pintu akses atap terbuka, angin kencang dan deru bising baling-baling helikopter langsung menyergap indra mereka. Helikopter penyelamat itu sudah menyalakan mesin, siap untuk lepas landas dari atas landasan yang luas.
Kolonel Mirza, yang lengannya sudah terluka, berdiri di dekat pintu helikopter sambil melambaikan tangan dengan panik. "Cepat naik! Kita harus segera berangkat!"
Rasyid melompat naik lebih dulu ke dalam kabin helikopter, lalu berbalik memposisikan dirinya untuk membantu menarik yang lain. Aris dengan sigap mendorong tubuh Liora terlebih dahulu agar bisa menggapai uluran tangan Rasyid. Namun, tas yang di bawa Liora terjatuh. Ia spontan turun dari pijakan helikopter tersebut. Aris lalu naik menyusul Rasyid, tepat ketika jemari Aris dan Liora hampir bertautan erat untuk melompat naik, sebuah hantaman keras yang luar biasa meruntuhkan sisa dinding pintu akses atap bangunan.
Brak!
Puing-puing beton beterbangan. Dari balik kabut asap yang pekat, sesosok figur wanita berjalan keluar dengan sangat anggun namun mematikan, Dr. Stela Hindenburg telah tiba.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, kedua mata Stela berubah menjadi putih pekat yang mengerikan. Kulit tangan kanannya merobek kasar, dan dalam sekejap mata, seikat tentakel hitam panjang nan kokoh melesat maju dengan kecepatan seperti peluru, menerobos mendekati helikopter yang akan dinaiki oleh Rasyid, Aris, Liora dan yang lainnya.
Sret!
"Arrghh?!" Liora menjerit histeris ketika tentakel berlendir itu melilit pinggangnya dengan sangat kuat. Dengan sentakan instan, tubuh Liora langsung tertarik secara paksa ke belakang, menjauh dari jangkauan helikopter.
"Liora!" teriak Aris dengan mata membelalak liar. Aris mencoba melompat dari pintu helikopter untuk mengejar dan menangkap tubuh Liora, namun Rasyid dan seorang prajurit militer dengan cepat mencengkeram tubuh dan lengan Aris dari belakang, menahannya dengan sekuat tenaga agar tidak ikut jatuh karena helikopter akan lepas landas.
"Lepaskan aku! Lioraaaa.......!" teriak Aris memberontak, suaranya parau hingga urat lehernya menegang, air matanya menetes berbaur dengan angin kencang atap.
Dari atas helikopter yang terpaksa harus segera terangkat naik karena kepungan makhluk-makhluk lain yang mulai merayap naik ke tepian atap, Aris dan Rasyid hanya bisa menyaksikan sebuah pemandangan tragis yang meremukkan dada mereka.
Dalam keputusasaannya, Liora melemas. Tas berisi berisi lembaran analisis laboratorium beserta tabung sampel vial yang menjadi satu-satunya yang dipakai untuk pengujian terlepas dari genggamannya. Tepat setelah itu, tentakel Stela membanting tubuh Liora dengan keras ke lantai atap beton, membuat kepala wanita itu terbentur hingga ia seketika jatuh pingsan, tak sadarkan diri di bawah cengkeraman sang monster.
Stela berjalan perlahan, menginjak tas yang tergeletak di dekat kakinya, lalu membungkuk untuk mengambilnya dengan senyuman yang dingin. Ia mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke arah helikopter yang kian menjauh dan meninggi di angkasa. Tatapan mata putih pekatnya seolah mengunci pandangan Aris yang masih menangis histeris di pintu kabin.
Di bawah mereka, pagi yang baru saja terbit justru memperlihatkan pemandangan kota yang telah resmi runtuh sepenuhnya, diselimuti oleh kepulan asap hitam dan erangan jutaan makhluk tak bermatabat. Manusia telah kalah total di permukaan, dan lembar pertama dari neraka ini baru saja dimulai.