Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Makan malam yang sudah berakhir dengan suasana tegang.
Adisti memberikan isyarat jika makan malam selesai dengan berdiri dan mengelap bibirnya menggunakan serbet.
Melina yang tak mau membuang waktu langsung buru-buru meninggalkan ruang makan, saat para pelayan melarangnya merapikan piring-piring makanan di atas meja makan.
Ishan masih duduk sambil memainkan ponselnya di kursi meja makan, menunggu istrinya ke kamar.
Melina dengan langkah terburu-buru meninggalkan ruang makan, dan segera pergi ke kamarnya.
Suaminya sudah menatapnya dengan liar, wajah Melina pucat sepanjang perjalanan menuju kamarnya.
Namun, di ujung lorong dengan lampu yang temaram berwarna kekuningan.
Dekat dengan taman, sebelum Melina sempat meraih gagang pintu kamarnya, sebuah tangan besar menarik pergelangan tangannya dengan gerakan cepat.
"Ah!" ucap Melina terpekik pelan.
Tubuhnya tersentak ke belakang, lalu bagian depannya bertubrukan langsung dengan dada bidang Ishan.
"Mas...," bisik Melina dengan napas tertahan.
Melina di wajahnya bisa merasakan hangatnya napas Ishan di puncak kepalanya.
Ishan melingkarkan kedua tangannya di tubuh kecil milik istrinya, matanya menatap wajah Melina yang nampak lugu.
Wajahnya terlihat ketakutan dan pucat di bawah cahaya lampu dinding yang temaram, jemari Ishan yang kasar perlahan bergerak membelai bibir Melina dengan sensual.
"Sayang, kamu sangat seksi sekali malam ini," ujar Ishan dengan suara serak yang berat.
Tatapan Ihsan tidak lagi mengandung amarah dan kebencian, melainkan di gantikan gairah dan cinta yang membakar.
Tanpa memberikan kesempatan bicara kepada Melina----Ishan tiba-tiba merengkuh pinggang istrinya dan membopong tubuh mungil itu selayaknya karung beras di atas bahunya.
"Mas! Turunkan aku! Aku akan jalan sendiri ke kamar!" ucap protes Melina sambil memukul-mukul punggung Ishan.
Sialnya, tenaganya tidak sebanding dengan kekuatan pria itu yang lebih besar darinya.
Ishan melangkah lebar menuju kamar yang di tempat istrinya dekat taman belakang, tempat dimana angin malam berhembus melalui jendela yang terbuka.
Di dalam kamar yang di terangi lampu tidur yang redup, Ishan menurunkan Melina ke atas ranjang.
Melina sudah terbaring di atas ranjang dengan Ishan di atasnya, tangan Ishan membelai wajah Melina.
"Kamu sangat cantik malam ini sayang," ujar Ishan, jari tangannya membelai lembut pipinya.
Mendengar itu Melina menelan salivanya, tubuh Ihsan sudah menindihnya.
Pertama kalinya Melina bisa merasakan begitu dekat dengan Ihsan, bahkan mata hijau Ihsan terlihat begitu dekat dengannya.
"Mas, aku masih sakit..." keluh Melina dengan nada lirih kepada suaminya.
Ihsan mendekati wajahnya ke wajah sang istri, lalu mengatakan sesuatu dengan nada berbisik.
"Aku akan melakukannya dengan lembut," bisik Ihsan.
Wajah keduanya berdekatan hanya sekitar lima centimeter.
Perlahan tapi pasti bibir keduanya menyatu, dan merengkuh rasa manis, ciuman yang mendamba bagi keduanya.
Ihsan melepas kaosnya, lalu jempolnya memegang bibir istrinya.
"Kamu manis sekali sayang," ujar Ihsan melihat Melina yang terbaring di bawahnya.
Melina hanya tersenyum, lalu Ihsan mengangkat tubuh kecil Melina menidurkannya ke atas bantal.
Gadis ini menganggukkan kepalanya, seolah memberikan izin pada suaminya----kepasrahan saat Ihsan melakukan sesuatu pada tubuhnya.
Ihsan perlahan melepas busana pada tubuh istrinya, hanya menyisakan tirai tipis yang membungkus atas gunung dan lembah tersembunyi miliknya.
Kali ini pria itu akan memberikan kelembutan pada istrinya, namun tiba-tiba ponselnya berdering.
Mata pria itu melihat siapa yang meneleponnya.
Livia---My Baby Girl.
Namun, pria itu mematikannya malah menonaktifkan lalu melemparkannya kembali ke nakas.
"Siapa, Mas?" tanya Melina.
Namun, Ihsan kembali memainkan aktifitasnya.
Dirinya mencumbu setiap inci tubuh istrinya sebelum pada akhirnya dirinya berkuda.
Ishan melepas penutup tipis pada kain yang menutupi dua gunung kembar itu, lalu menghisap putik bunga di ujung gunung.
Dari leher Ihsan menciumnya, sungguh Melina merasakan sensasi geli dan rasa aneh.
Ihsan sudah melepas boxernya, dan menyiapkan juniornya untuk berkuda.
Sebelum menuju dua pilar di ujung sana, Ihsan membuka dua pilar yang menghalangi lalu di lembah tipis itu---dirinya mau memberikan kenangan yang tak terduga pada istrinya.
Ihsan meminum air dari lembah tersembunyi milik Melina, sebelum melakukan aktivitas berkuda.
Melina yang merasakan lidah dan bibir suaminya bermain di lembah tersembunyi miliknya, hanya meremas ujung sprei putih di sampingnya.
Mengigit bibirnya, tangannya berusaha tak di letakan di kepala Ihsan.
Namun, di bawah sana Ihsan semakin menggila.
Hal yang membuat Melina terasa seperti di sengat listrik saat jari-jari Ihsan ikut bermain di bawah sana.
Tiga jari.
Melina yang sudah tak tahan lagi, langsung meletakkan tangannya di puncak kepala suaminya.
Tak lama hujan keluar dari lembah tersembunyi milik Melina, namun Ihsan masih bermain di bawah sana.
"Arghhh...Mas!" teriak Melina.
Tangannya mendorong kepala Ihsan dengan refleks, lalu mengesampingkan tubuhnya.
Jari-jari Ihsan masih bermain disana, lalu Ihsan melakukan aktivitas berkuda dengan menancapkan patok di ujung antara dua pilar di ujung lembah tersembunyi.
Dirinya di atas istrinya terus memacu kudanya, sambil memeluk istrinya.
Istrinya di peluk terus memacu sampai, dirinya keluar di dalamnya.
Setelah aktivitas itu, Melina kelelahan karena tenaga Ihsan seperti kuda----gadis itu langsung tertidur.
Di dalam kamar yang di terangi cahaya lampu tidur temaram, Ihsan melepaskan patok di antara dua pilar itu dan segera membaringkan istrinya.
Melina akhirnya tertidur dengan nyaman di dada bidang suaminya tanpa busana.
Ihsan yang sudah tak memakai kaosnya, hanya menyisakan celana boxer yang tertutup selimut putih yang memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang atletis.
Ishan memeluk Melina, dan membiarkan kepala istrinya bersandar di dadanya.
Tangan Melina menyentuh perut Ishan dengan ragu karena masih takut, sementara Ishan menatap ke depan dengan posesif.
Ihsan menarik selimut putih di bawah sana, untuk menutupi tubuh istrinya dan mengecup kepala Melina.
"Tidurlah, maaf aku belum pernah bisa menjadi suami yang baik untukmu."
Ihsan memeluk istrinya seolah ingin memastikan bahwa wanita di pelukannya ini, tak akan melepaskan diri darinya lagi.
Sayang sekali kalimat itu tak pernah di dengar oleh Melina, karena Melina yang sudah tidur karena rasa lelah yang menghantam tubuhnya.
*
*
*
*
*
*
*
*
buat ishan di tunggu penyesalanmu.
pada saat penyesalan itu tiba jng beri maaf.apalagi nanti berdahlil anak.ishan aja raguin anaknya.
mohon maaf ya thor jng Samapi Melina balik sama ishan ya.tubuhnya saja sdh kotor bgt tidur sama si Livia.
heran Artis tp bodohnya minta ampun hadehhhh