_
When npc fallin love?
Gadis remaja cantik kini terduduk menggaruk keningnya yang tak gatal, pikirannya selalu berkhayal jika npc seperti dia jatuh cinta pada pemain utama di dunia nyata?
Ah, pasti seru!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sapiluv Mprits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Blokir Galih & Kania.
Louis mengajak ayya menuju kedai jajanan, namun ia menjadi khawatir pada ayya yang menjadi diam usai diberi wejangan oleh Galih tadi.
" Ayy, sorry.. gue jadi ngerasa bersalah udah ngejar lo sampe ketangkep bang leo.."
" Never mind lui, iam fine.. Kita emang masih sewajarnya lari-lari becanda kayak bocil, kan? Bukan salah kita kok, emang kak galihnya aja yang kebelet dewasa."
Pfft... Hahahah! Louis tergelak tawa menanggapi ayya, ayya pun terkekeh, lalu kembali termenung sehingga Louis berinisiatif mengajaknya pergi dari kantin.
" Lo ga mau beli apa-apa nih ayy? mumpung masih di kantin." Tanya Louis.
Ayya menggeleng. " Kita cari Kania aja yuk!"
Oke, Louis dengan semangat berjalan berdampingan dengan ayya sekarang, keluar kantin tanpa menoleh pada Galih sama sekali, padahal jelas-jelas sejak tadi Galih mengawasinya.
" Kemana tuh anak ya.."
Pandangan mereka berdua sibuk menyapu sekitar lapangan, koridor, aula, dan area yang mungkin jadi persembunyian Kania.
Merasa sedikit kecapaian, Louis pun mengajak ayya untuk berjalan santai saja.
Sembari jalan santai menuju kelas, Louis pun mengucapkan satu hal yang sudah ia ketahui sejak awal.
" Ayy.. " Panggil Louis.
Ayya pun berdehem, " hmm.. kenapa lui..?"
Dengan sedikit ragu Louis pun berucap.
" Sebenernya gue udah tau dari bang willy kalo dia kasih nomor bang leo, terus bang leo ngomel-ngomel di grup band kita gara-gara ada yang kasih nomernya sembarangan."
So? Ayya menoleh penasaran, memperhatikan louis dengan lekat.
" Bang leo ga bilang siapa yang ngechat, dia cuma bilang temen gue katanya.. gue ngiranya elo, gue khawatir dong.."
What? Ayya sontak mengernyit. " Khawatir kenapa jir? Khawatir aku patah hati?"
Louis mendelik tajam, lalu melirik ayya dan mengangguk kecil.
Ayya pun reflek tertawa geli setelahnya, sangat lucu bagi ayya atas kekhawatiran si Louis itu.
" Ya lo tau sendiri kan segimana lo ambisius nya pengen ngerasain jadi MC." Cuitan Louis membuat ayya seketika meliriknya sinis.
" Jadi MC tapi ga memaksa keadaan ya!" Sungutnya sebal.
" Hmm, ya.. gue cukup kaget pas tau si Kania yang ternyata besoknya patah hati, makanya kenapa pas dateng gue diem dulu terus langsung keinget omelan bang leo semalem..
Reflek nyanyi lagu yang related, lucu aja sih liat Kania tertolak mentah-mentah, hahahah..!"
Plak! Ayya menampar lengan Louis dengan sebal.
" Jangan diketawain ih, jahat bener.." Ucapnya iba.
Louis pun mendadak diam, lalu menggeleng dan tersenyum geli mengingat betapa pede nya Kania bilang pada Louis jika ia sudah berteman dekat dengan Galih, maka lebih besar pula kesempatan nya untuk mengenalnya jauh, bahkan bisa berakhir dengan pacaran.
Namun nyatanya sangat meleset bukan? Hahaha.. Louis sangat puas menertawakan betapa tingginya tingkat kepedean Kania.
Mendengar cerita itu, ayya pun hanya senyum tipis dan menggedik acuh.
Sebelum sampai ke kelas mereka, Louis menoleh pada ayya.
" Kalo Kania diblokir bang leo, kebalikannya lo yang blokir nomor bang leo.."
" Huh??" Ayya terkejut lois mengetahuinya.
" Lu kaget? Apalagi gue! Plot twist banget sumpah, Kania yang udah jelas deket aja digituin sama bang leo, apalagi lo yang dari awal udah di cuekin dia.
Tapi nyatanya? Dia malah ngomel ke gue gara-gara lo cuma blokir nomor dia."
Ayya mengernyit tak paham, Louis pun tertawa geli dan berucap.
" Maksud gue, bang leo ga terima dirinya di blokir sama lo, sedangkan gue masih bisa chattan sama lo."
Mendengar jelas pernyataan Louis, ayya pun ber oh ria.
" Jujur, lo kenapa blokir bang leo? dia bikin salah ke lo apa gimana?" Tanya Louis penasaran.
Ayya tertawa lirih, kemudian berucap.
" Ya chill aja, i mean.. aku ga mau kayak Kania."
JrengJreng..
Louis langsung paham, namun dia kembali berkesimpulan tentang ayya.
" Kayaknya ga bakal deh, Kania udah jelas tertolak.. Tapi lo? nomor lo dia save aja udah pertanda bagus ayy.."
" Cih, ada-ada aja sih pikiranmu, louis. Kania aja awalnya mikir gitu kan? Tapi siapa yang bisa jamin kak Galih gak bakal lakuin hal yang sama ke aku?"
Louis mengangguk kecil, ia cukup terkesima dengan pemikiran ayya yang selangkah lebih maju dari Kania.
" Jadi, gimana akhrinya? masih blokir nomor bang leo? Buka aja ayy, dia mungkin ngerasa pengen temanan karena lo juga temen asli gue.. Gue sering ceritain lo pas kita SD dulu, loh.."
" The hell? kenapa diceritain bego'!? Malu banget aku." Ayya menutup wajahnya.
Louis pun tertawa terpingkal.
" Ngapain malu anjir, lo bukan pembully gue waktu SD, bang leo pun kayak ngerasa terimakasih banget ke lo.."
Hmm.. terimakasih untuk apa? ah tapi tak mau diperpanjang, ayya pun kembali berucap sebelum mereka berpisah ke kelas masing-masing.
" Semalem udah aku buka blokirannya, kak leo udah minta maaf juga, dan.."
Ucapannya terhenti dan membuat Louis penasaran.
" Dan apa??"
Ayya tersenyum lebar melihat betapa antusias nya Louis padanya, tak lama ia pun menjawab.
" Dan semalem kak Galih udah confess..."
" Hahh??!!! Demi apa?!!" Louis syok berat, namun ayya langsung klarif saat itu juga.
" Bukan confess perasaan ya! tapi confess buat pertemanan kita.. Dan Yup! sesuai dengan keinginanku sejak awal buat berteman sama kak Galih..
Yeay! kita bisa temenan nih, tapi anehnya kak Galih susah ditebak, kayak tadi aja dia malah ngomelin aku gara-gara Lari-larian sama kania."
Ayya merengut, Louis pun tersenyum dan mengusap pundaknya.
" Ya kalo itu sih emang kita yang salah ayy, Lari-larian di tengah banyaknya orang lalu lalang."
Hmmm, mengsedih sekali, ayya masih tak terima dengan sikap galih di kantin tadi.
_
Skip malam hari.
Kania menelfon ayya untuk menumpahkan segala kekesalannya pada Galih.
Hmm, ayya hanya mendengar sembari fokus membaca novel terbarunya.
" Ayya, masih jam 7 malem gue boleh ke rumah lo ga?" Tanya Kania di telfonnya.
Ayya sontak terkejut dan menggeleng.
" Udah malem jir, mau ngapain kesini?" Tanyanya.
" Gue galau lah, disini ga ada orang satupun.. ntar gue mikir yang enggak enggak sumpah gue frustasi, boleh ya ayya??"
Ayya menjauhkan ponselnya, mengernyit heran dengan permintaan temannya itu.
" Ayya plis, i need a friend now.." Pinta Kania memohon, suaranya pun berubah parau.
Sepertinya Kania benar-benar mulai menangis sehingga ayya panik dan akhirnya mengiyakan permintaannya.
Namun, saking paniknya ayya sampai ia melarang Kania berangkat sendiri karena dirinya yang akan menjemputnya.
Ayah bundanya sama-sama sibuk dengan pekerjaannya sehingga tanpa izin pun ia bisa bebas pergi saat itu juga.
Begitu ayya keluar rumahnya, dari rumah sebelah terlihat ketiga pemuda yang menoleh padanya.
" Ayya!"
Sapa mereka semua, willy, Louis, dan roy yang baru saja sampai di pelataran rumah eyang anna.
Ayya pun hanya melempar senyum membalasnya.
Melihat ayya menunggu pak Darman, supir ayahnya, mereka bertiga berlarian menuju pelataran rumah ayya.
Bayangkan malam-malam yang sepi tiba-tiba tiga cowok plenger berlarian ke rumah ayya, ayya pun berdecak keheranan.
" Ayy, mau kemana?" Tanya Willy sesampainya.
" Mau keluar lah.. Udah jelas pake masker sana tas begini, dikira mau maling?" Cibir ayya.
Roy pun menahan tawa, willy kembali berucap.
" Maksud kita, udah malem ga baik cewe keluar sendiri.."
" Ga sendiri kok, ada pak Darman.."
Ayya menunjuk ke dalam garasi dimana pak Darman hendak mengeluarkan mobilnya.
Namun tiba-tiba pak Darman keluar dengan raut wajah kesakitan, sontak ayya dan tiga cowok itupun terkejut.
" Pak Darman kenapa?" Tanya willy.
Ayya cukup khawatir melihatnya, dan ia semakin khawatir saat pak Darman mengatakan gerd nya kambuh.
" Bisa-bisanya malem gerd nya kumat." Ucap roy setelah kepergian pak darman ke kamarnya.
Louis dan willy kompak membekap mulut roy agar tak membuat ayya yang murung itu semakin murung.
" Ayy, lu mau kemana sih? Ngomong aja deh, siapa tau kita bisa bantu.." Usul Louis.
" Bener ayy, pak damkar juga lagi sakit, ga mungkin anter lo malam ini, kan?"
" Ck! apasih will, asbun banget mulut lo!" Sukur roy kesal.
haduh, mereka berdua tak bisa diandalkan hingga Louis langsung berlalu mendekati ayya.
" Masih mau pergi? nunggu ojol kan?" Tanya Louis.
Ayya pun mengernyit. " Dih, kok tau?"
Hahaha, Louis tertawa sombong.
" Mau kemana sih? gue anter deh." Tawar Louis.