Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.
Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.
Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.
Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Hari-hari berlalu dengan sangat lambat dan penuh ujian. Setelah insiden di rumah sakit, keputusan Aluna untuk tidak pulang ke rumah keluarga Mahendra tetap teguh.
Dengan bantuan Kenzi, Aluna dan Arfan tinggal sementara di sebuah rumah susun yang bersih dan aman, tidak jauh dari lokasi kantor Arka.
Rumah itu sederhana, jauh dari kemewahan, namun suasananya tenang. Tidak ada teriakan, tidak ada tuduhan, dan tidak ada tatapan sinis yang menyakitkan.
Sementara itu, perubahan besar terjadi pada diri Arka. Pria yang dulu sombong, dingin, dan gengsinya setinggi langit itu kini berubah 180 derajat.
Rasa bersalah dan cinta yang besar membuatnya menyingkirkan segala ego dan harga dirinya demi mendapatkan kembali kepercayaan istrinya.
Setiap pagi, sebelum berangkat kerja, Arka akan mampir membawa sarapan. Ia tidak memaksa masuk atau menuntut diperlakukan seperti suami. Ia hanya menyerahkan makanan, memastikan Aluna dan anaknya makan, lalu pamit dengan sopan.
Sore harinya sepulang kerja, ia akan datang lagi. Membawa kebutuhan sehari-hari, mencuci baju jika menumpuk, menyapu lantai, bahkan memasak makan malam sendiri untuk Aluna. Semuanya dikerjakan dengan ikhlas.
Suatu sore, Arka sedang sibuk mengurus baju-baju kotor di kamar mandi kecil. Tangannya yang halus dan terbiasa memegang dasi kini terbiasa menggosok pakaian dengan sabun.
Aluna duduk di tepi ranjang sambil memangku Arfan yang sudah mulai sehat, menatap punggung suaminya itu dengan perasaan campur aduk. Ia tidak menyangka Arka mau melakukan hal-hal yang dianggap rendah itu.
"Biarkan saja nanti Aluna yang cuci Tuan..." ucap Aluna pelan memecah keheningan.
"Tuan kan capek kerja," lanjutnya
Arka berhenti sejenak, lalu menoleh dengan senyum tipis yang tulus.
"Tidak apa-apa sayang. Tangan ini masih kuat kok buat bekerja keras demi keluarga. Lagipula, ini cara aku menebus kesalahanku."
"Aku tidak mau hanya datang dan pergi seperti tamu. Aku ingin menjadi suami dan ayah yang sebenarnya, yang membantu meringankan bebanmu, bukan menambah beban di pundakmu."
Aluna menunduk, hatinya terasa hangat namun juga masih perih. Luka di hatinya belum sembuh total, tapi perlahan ia mulai merasakan ketulusan dari tindakan Arka, bukan hanya dari kata-kata manis.
Namun, perubahan sikap Arka ini tentu saja tidak diterima baik oleh Nyonya Soraya. Ketegangan kembali memuncak saat akhir pekan tiba dan Arka pulang ke rumah utama untuk mengambil beberapa barang.
"Lihat dirimu Arka..." cecar Nyonya Soraya dengan nada kecewa dan marah saat melihat putranya berpakaian sederhana, tangannya bahkan tampak agak kering dan kasar karena sering mencuci dan bekerja fisik.
"Dulu kau adalah Tuan Muda yang dihormati, yang tangannya tidak pernah kotor. Sekarang kau mau-mau saja jadi babu di rumah wanita itu?! Kau pikir ini lucu?! Kau mempermalukan nama baik keluarga sendiri!"
Arka berdiri tegak menatap ibunya, kali ini suaranya tenang namun sangat tegas dan matanya tidak berkedip sedikitpun.
"Bu, bagi dunia mungkin aku terlihat konyol dan hina. Tapi bagi aku, melakukan ini jauh lebih bermartabat daripada duduk manis tapi membiarkan istri dan anakku menderita. Aku mencintai Aluna, Bu. Aku sudah memilih dia, dan aku tidak akan pernah menyesal. Kalau Ibu sayang sama aku, terimalah dia apa adanya. Tapi kalau Ibu terus saja membenci dan menyakiti dia, maka..."
Arka menarik napas panjang lalu melanjutkan kalimatnya dengan berat.
"Maka aku akan resmi pindah keluar dari rumah ini selamanya. Aku akan menyewa rumah kecil atau tinggal di situ saja bersama Aluna dan Arfan. Aku tidak mau lagi hidup dalam suasana yang saling menjatuhkan seperti ini."
Nyonya Soraya ternganga kaget. Ia tidak pernah menyangka putra kesayangannya akan berani berkata sejauh itu demi menantu yang ia benci.
"Kau... kau benar-benar sudah terbuai oleh wanita itu sepenuhnya ya..." gumam Nyonya Soraya lemas, matanya mulai berkaca-kaca.
"Baiklah... Ibu tidak bisa melarangmu. Lakukan apa yang kau mau. Tapi ingat, pintu rumah ini akan selalu terbuka kalau kau sadar dan mau kembali meninggalkan dia."
"Tidak Bu. Aku tidak akan pernah meninggalkan dia," jawab Arka tegas.
"Aku hanya minta doa restu Ibu supaya kami bisa bangkit lagi bersama-sama," tambahnya.
Arka mencium tangan ibunya dengan hormat lalu pergi meninggalkan rumah besar itu dengan hati yang lebih ringan. Ia sudah mengambil sikap, dan ia tidak akan mundur lagi.
Malam harinya, hujan kembali turun lagi. Kali ini tidak terlalu deras, cukup untuk membuat suasana menjadi lebih romantis dan hening.
Arka baru saja selesai membereskan dapur. Ia masuk ke kamar dan melihat Aluna sudah membaringkan tubuhnya, tampak sangat lelah. Arfan sudah tertidur pulas di buaian kecilnya.
Arka duduk di tepi ranjang, tidak berani berbaring di samping istrinya karena takut ditolak. Ia hanya duduk diam sambil mengusap pelan rambut panjang Aluna.
"Sayang..." panggil Arka pelan.
Aluna membuka matanya perlahan menatap suaminya. "Hmm... Tuan belum tidur?"
"Belum. Aku mau ngomong sebentar..." Arka menatap dalam manik mata istrinya.
"Aku tahu luka di hati kamu masih sangat dalam. Aku tahu kepercayaan kamu ke aku sudah hampir hancur karena sikapku yang buruk, karena cemburuku yang buta, dan karena egoku yang tinggi." Arka mengambil napas sejenak.
"Aku juga tahu kata maaf tidak bisa menghapus air mata yang sudah kamu tumpahkan selama ini."
Arka menggenggam tangan kecil Aluna, menempelkan ke dadanya agar Aluna bisa merasakan detak jantungnya yang berdebar kencang penuh rasa cinta.
"Tapi tolong beri aku kesempatan sayang... Beri aku waktu untuk membuktikan kalau aku benar-benar berubah. Aku tidak butuh harta, tidak butuh jabatan, asalkan aku bisa bangun pagi dan melihat wajah kamu dan Arfan, itu sudah cukup buat aku. Jangan tutup hati kamu buat aku selamanya ya... Aku janji aku akan jadi kepala keluarga yang melindungi, bukan yang menyakiti. Aku akan jadi suami yang setia, yang memihak kamu di situasi apa pun," ungkap Arka tulus.
Air mata Aluna mulai menetes lagi, kali ini bukan air mata kesedihan atau kemarahan, tapi air mata haru dan lega. Ia melihat kesungguhan di mata suaminya, ia merasakan getaran cinta yang sama seperti dulu, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
"Aluna juga sayang sama Tuan..." jawab Aluna pelan dengan suara bergetar.
"Aluna cuma takut... takut kalau suatu saat Tuan berubah lagi, takut kalau Tuan menyesal lagi..."
"Tidak akan ada lagi penyesalan sayang..." potong Arka lembut lalu menarik istrinya ke dalam pelukan hangat dan erat. Pelukan yang penuh rasa rindu dan rasa memiliki.
"Kita mulai dari nol lagi ya. Kita bangun semuanya dari awal lagi. Bersama-sama."
Malam itu, di kamar kecil yang sederhana itu, tembok besar pemisah di antara mereka akhirnya runtuh juga. Cinta kembali bersemi lebih indah setelah diuji oleh badai masalah yang begitu dahsyat.
Meskipun masalah ekonomi dan masa depan perusahaan masih menjadi tanda tanya besar, namun setidaknya untuk saat ini, hati mereka sudah utuh kembali.
Dan dengan cinta dan kebersamaan, mereka yakin bisa melewati apa pun yang akan terjadi di masa depan.