NovelToon NovelToon
Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.

Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.

Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 - Tekanan Yang Dialami

Panggilan itu datang saat matahari belum sepenuhnya tinggi, membawa suasana yang belum sepenuhnya ramai namun sudah cukup hidup untuk terasa menekan. Seorang petugas guild mengetuk pintu kamar sederhana yang ditempati Alverion, wajahnya kaku dan suaranya datar saat menyampaikan pesan yang jelas tidak membuka ruang untuk penolakan. Ia berdiri tanpa masuk, hanya menyampaikan kewajiban, seolah tidak ingin terlibat lebih jauh dari yang diperlukan.

“Kamu diminta hadir di aula utama. Sekarang.”

Tidak ada penjelasan tambahan, dan memang tidak diperlukan karena situasinya sudah cukup jelas bagi siapa pun yang memperhatikan. Alverion menatap pintu yang kembali tertutup setelah petugas itu pergi, lalu menarik napas perlahan sebelum bangkit dari duduknya. Ia mengambil mantel tipis yang tergantung di dekat tempat tidur dan mengenakannya dengan gerakan hati-hati, memastikan perban di tubuhnya tidak bergeser terlalu banyak.

Luka-lukanya memang mulai pulih, namun rasa nyeri masih menetap di beberapa bagian, mengingatkan bahwa tubuhnya belum benar-benar siap untuk bergerak bebas. Setiap langkah tetap menyisakan sensasi tidak nyaman, tetapi kali ini ia tidak membiarkan hal itu mempengaruhi ritmenya. Ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar rasa sakit, sesuatu yang menuntutnya untuk tetap berdiri tegak meskipun keadaan tidak mendukung.

Saat ia keluar dari kamar dan berjalan menyusuri lorong menuju aula utama guild, suasana terasa berbeda dari biasanya yang cenderung riuh oleh percakapan ringan dan suara langkah yang tidak teratur. Orang-orang yang ia lewati memilih diam, beberapa hanya melirik sekilas sebelum memalingkan wajah seolah tidak ingin terlihat terlalu lama memperhatikannya. Tidak ada yang menyapa, dan tidak ada yang mencoba mendekat, menciptakan jarak yang terasa jelas meskipun tidak diucapkan.

Langkah Alverion tetap tenang, stabil, dan tidak terburu-buru, meskipun ia bisa merasakan tekanan halus yang mengikuti dari setiap sudut lorong. Udara terasa sedikit lebih berat, bukan karena perubahan nyata, melainkan karena sikap orang-orang di sekitarnya yang secara tidak langsung membentuk suasana. Ia tidak mengalihkan pandangan, tidak pula mempercepat langkah, seolah memilih untuk menerima semua itu tanpa perlu bereaksi.

Pintu aula utama terbuka dengan dorongan ringan, dan ruang luas itu langsung menyambut dengan keheningan yang tidak biasa. Langit-langit tinggi dan jendela besar di sisi kanan tetap sama seperti sebelumnya, membiarkan cahaya masuk dengan cukup terang, namun suasana di dalamnya terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Tempat ini sering digunakan untuk pengumuman penting, tetapi kali ini ketegangan yang ada membuatnya terasa seperti ruang pengadilan.

Di bagian depan ruangan, beberapa orang sudah duduk di kursi tinggi dengan posisi yang menunjukkan otoritas mereka tanpa perlu penjelasan tambahan. Pria berambut perak dengan sorot mata tajam duduk di tengah, posturnya tegak dan sikapnya menunjukkan bahwa ia terbiasa berada dalam posisi mengendalikan situasi. Ia adalah Valerian Crowe, salah satu pengawas utama guild yang jarang turun tangan kecuali untuk hal yang dianggap serius.

Di sebelahnya, seorang wanita dengan aura yang lebih tenang namun tidak kalah menekan duduk dengan sikap santai yang terkontrol. Seraphine Elora, kepala divisi pengawasan, dikenal dengan kemampuannya membaca situasi tanpa perlu banyak bicara, dan tatapannya yang lembut justru membuat orang sulit menebak apa yang sebenarnya ia pikirkan. Beberapa kursi lain diisi oleh petinggi guild yang memilih diam, mengamati tanpa interupsi.

Di sisi kanan ruangan, Riven, Kael, dan Lyra berdiri dengan posisi yang tidak terlalu dekat namun cukup untuk menunjukkan bahwa mereka berada di pihak yang sama. Sikap mereka terlihat tenang, bahkan terlalu tenang untuk situasi seperti ini, seolah mereka sudah siap dengan apa pun yang akan terjadi. Kehadiran mereka bukan sekadar sebagai saksi, melainkan sebagai bagian dari cerita yang sedang dipertimbangkan.

Alverion melangkah masuk tanpa ragu, membiarkan suara langkahnya terdengar jelas di tengah ruangan yang sunyi itu. Ia berhenti di tengah, menghadap langsung ke arah para petinggi tanpa menunduk atau menunjukkan tanda-tanda ketegangan yang berlebihan. Tidak ada sambutan yang diberikan, dan tidak ada basa-basi yang diperlukan dalam situasi seperti ini.

“Alverion Dastan.”

Suara Valerian terdengar berat dan terukur, membawa otoritas yang tidak perlu ditegaskan lebih jauh.

“Kamu dipanggil ke sini untuk memberikan penjelasan atas insiden yang terjadi di dungeon tingkat bawah.”

Alverion mengangguk pelan, menjaga ekspresinya tetap netral. “Saya mengerti.”

Seraphine menatapnya dengan tenang, matanya tidak menunjukkan penilaian yang jelas namun juga tidak sepenuhnya kosong. “Kami sudah mendengar laporan dari timmu. Sekarang kami ingin mendengar versimu.”

Ruangan kembali tenggelam dalam keheningan, dan semua mata tertuju padanya tanpa kecuali. Alverion menarik napas pendek, bukan untuk menenangkan diri secara berlebihan, melainkan untuk memastikan kata-katanya tersusun dengan jelas. Ia mulai berbicara tanpa terburu-buru, menyampaikan setiap kejadian sesuai dengan yang ia ingat tanpa tambahan yang tidak perlu.

Ia menjelaskan bagaimana situasi di dalam dungeon memburuk lebih cepat dari yang diperkirakan, bagaimana serangan datang tanpa pola yang jelas, dan bagaimana timnya mulai kehilangan koordinasi di tengah tekanan yang meningkat. Ia tidak mengubah nada suaranya, tidak pula mencoba menambahkan emosi yang bisa mempengaruhi cara orang lain memandang ceritanya.

Saat ia sampai pada bagian pengkhianatan, suaranya tetap stabil, seolah itu hanya bagian lain dari rangkaian kejadian yang harus disampaikan. Ia tidak menuduh dengan nada tinggi, tidak pula mencoba meyakinkan secara berlebihan, hanya menyebutkan apa yang ia lihat dan rasakan saat itu. Tidak ada dramatisasi, tidak ada upaya untuk terlihat lebih benar dari yang lain.

Ketika ia selesai, ruangan tetap hening untuk beberapa saat, memberikan kesan bahwa setiap kata yang ia ucapkan sedang dipertimbangkan dengan hati-hati. Valerian menyilangkan tangan di depan dada, tatapannya tajam seolah mencoba mencari celah dalam cerita yang baru saja disampaikan. Tidak ada perubahan ekspresi yang jelas, namun sikapnya menunjukkan bahwa ia belum sepenuhnya yakin.

“Jadi menurutmu, mereka yang mengkhianatimu.”

Alverion menjawab tanpa ragu, suaranya tetap datar. “Iya.”

Kael mengeluarkan tawa kecil dari samping, tidak cukup keras untuk dianggap tidak sopan, namun cukup jelas untuk menunjukkan sikapnya. “Menarik. Cerita yang rapi.”

Riven melangkah sedikit maju, wajahnya terlihat serius dengan ekspresi yang terkontrol dengan baik. “Kami yang hampir mati di sana. Dan sekarang dia malah menuduh kami.”

Nada suaranya terdengar terluka, disampaikan dengan cara yang mudah dipercaya oleh siapa pun yang tidak berada di tempat kejadian. Lyra tetap diam, tetapi anggukan kecil yang ia berikan cukup untuk memperkuat pernyataan itu tanpa perlu menambahkan kata.

Seraphine mengalihkan pandangannya ke arah mereka, menjaga keseimbangan situasi. “Kalian sudah menyampaikan laporan kalian sebelumnya. Sekarang giliran dia.”

Riven menunduk sedikit sebagai tanda menerima, namun sikapnya tetap tenang seperti seseorang yang tidak merasa terancam. Valerian kembali menatap Alverion, kali ini dengan fokus yang lebih tajam.

“Apa bukti yang kamu punya?”

Pertanyaan itu sederhana dalam bentuknya, tetapi berat dalam maknanya karena menentukan arah dari seluruh pembicaraan ini. Alverion terdiam sejenak, bukan karena bingung, melainkan karena ia sudah mengetahui jawabannya sejak awal. Bukti bukan sesuatu yang ia miliki, dan ia tidak mencoba mencari alasan untuk menutupinya.

Ia menggeleng pelan. “Tidak ada bukti fisik.”

Kael menyeringai tipis, seolah mendapatkan konfirmasi yang ia harapkan sejak awal. Salah satu petinggi lain yang duduk di samping akhirnya berbicara, suaranya datar tanpa emosi berlebih. “Tanpa bukti, ini hanya tuduhan sepihak.”

Alverion tidak membantah, karena ia tahu kalimat itu benar dalam konteks yang mereka gunakan. Seraphine menyandarkan punggungnya dengan tenang, matanya tetap mengamati tanpa menunjukkan keberpihakan yang jelas.

“Sementara itu, mereka bertiga memberikan laporan yang konsisten, ditambah dengan kondisi yang kalian alami saat keluar dari dungeon.”

Valerian menambahkan tanpa jeda yang berarti. “Dan fakta bahwa kamu keluar sendirian.”

Kalimat itu tidak perlu dijelaskan lebih lanjut, karena semua orang di ruangan itu memahami implikasinya. Alverion menutup matanya sejenak, bukan karena putus asa, melainkan untuk menjaga pikirannya tetap teratur di tengah situasi yang tidak menguntungkan.

Saat ia membuka mata kembali, tidak ada perubahan besar dalam ekspresinya. “Apa pun yang saya katakan sekarang tidak akan mengubah keputusan kalian.”

Valerian tidak langsung menjawab, tetapi keheningan yang ia berikan cukup untuk menunjukkan bahwa pernyataan itu tidak sepenuhnya salah. Riven kembali melangkah sedikit, menjaga nada suaranya tetap rendah namun jelas terdengar.

“Kami tidak ingin memperpanjang ini. Kami hanya ingin keadilan.”

Kata itu terdengar tepat, namun terasa berbeda ketika diucapkan dalam situasi seperti ini. Seraphine menatap satu per satu orang di ruangan itu sebelum akhirnya mengambil keputusan yang sudah dipertimbangkan.

“Kami sudah mempertimbangkan semua laporan.”

Semua orang kembali diam, menunggu hasil yang akan menentukan arah selanjutnya.

“Alverion Dastan, kamu dinyatakan bersalah atas kelalaian berat dalam misi, serta dugaan meninggalkan tim dalam kondisi kritis.”

Kalimat itu disampaikan tanpa tekanan berlebih, tetapi dampaknya tetap terasa jelas di seluruh ruangan. Alverion tidak menunjukkan reaksi yang mencolok, hanya menerima dengan sikap yang sama seperti sebelumnya.

“Karena tidak ada bukti yang cukup untuk tuduhan pengkhianatan dari pihakmu, maka pernyataan itu tidak dapat diterima.”

Keputusan itu mengunci arah cerita yang akan dipercaya oleh orang lain. Seraphine melanjutkan dengan nada yang tetap tenang.

“Sebagai konsekuensi, kamu akan dikenakan pembatasan. Kamu dilarang memasuki dungeon tingkat menengah ke atas untuk sementara waktu, dan aktivitasmu akan diawasi oleh guild.”

Beberapa bisikan mulai terdengar di antara orang-orang yang hadir, menunjukkan bahwa hukuman itu cukup berat bagi seorang pemburu. Valerian menambahkan dengan singkat bahwa pelanggaran terhadap keputusan ini akan berujung pada sanksi yang lebih serius.

Alverion mengangguk pelan, tidak mencoba berdebat atau menolak karena ia sudah memahami arah dari awal. Riven menatapnya dengan kilasan yang sulit dibaca sepenuhnya, sementara Kael terlihat santai dan Lyra tetap diam seperti sebelumnya.

“Sidang selesai.”

Keputusan itu menutup semua kemungkinan untuk perdebatan lebih lanjut, dan Alverion segera membalikkan badan tanpa menunggu apa pun lagi. Langkahnya tetap stabil saat ia berjalan keluar dari aula, tidak ada yang menahannya atau mencoba menghentikannya.

Pintu tertutup di belakangnya, meredam suara dari dalam dan menyisakan lorong yang terasa lebih panjang dari biasanya. Ia berjalan tanpa terburu-buru, membiarkan setiap langkahnya tetap terukur meskipun beban yang ia bawa tidak lagi hanya berasal dari tubuhnya.

Orang-orang di luar segera menyadari bahwa sidang telah selesai, dan perubahan sikap mereka datang lebih cepat dari sebelumnya. Tatapan yang diarahkan padanya kini lebih jelas, tidak lagi disembunyikan di balik rasa ragu.

“Sudah diputuskan ya...”

“Jadi benar dia yang salah...”

“Pantas saja...”

Bisikan itu tidak lagi pelan, dan tidak ada usaha untuk menyembunyikannya. Alverion tetap berjalan tanpa memberikan tanggapan, meskipun ia merasakan beban yang semakin berat di setiap langkahnya.

Saat ia keluar dari gedung guild, udara luar menyambut dengan suasana yang sama seperti sebelumnya, namun terasa berbeda karena posisi dirinya yang telah berubah. Ia berhenti sejenak di depan tangga, menatap jalan yang terbentang di depannya dengan pandangan yang tetap tenang.

Dunia tidak berubah, dan orang-orang tetap menjalani aktivitas mereka seperti biasa. Namun bagi Alverion, batasan yang diberikan telah mengubah cara ia bergerak di dalamnya, menciptakan jarak yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Ia menarik napas panjang, lalu melangkah turun dengan ritme yang tetap terjaga. Satu langkah diikuti langkah berikutnya, tanpa keraguan yang terlihat di permukaan, meskipun arah yang ia tempuh kini dipenuhi dengan pembatasan yang tidak bisa dihindari.

1
Manusia Ikan
bruh bro punya sistem, dan akan menjadi OP
Manusia Ikan
dadah pecundang😏👋
Manusia Ikan
😌👉itu tragis, tapi aku suka. aku akan menambahkan kejadian yang serupa di karya ku juga. karena aku memerlukan karakter baru
Manusia Ikan
bro anda sudah menjelaskan bagian ini :v
Manusia Ikan
baiklah aku mulai tertarik. aku akan mengikutinya perlahan lahan😌👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!