NovelToon NovelToon
Menaklukkan Om Duda Tampan

Menaklukkan Om Duda Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ell.ellsan

Andreas Bramawijaya, seorang CEO ternama yang tampan dan selalu bersikap dingin. Sikap dingin nya itu, tidak lain karena dia kecewa dengan keluarga nya, dan kehilangan istri dan anak tercinta nya karena kecelakaan.
Akibat kehilangan istri dan anak nya, Andreas menjadi seseorang yang sangat dingin, ketus dan jarang tersenyum sehingga ditakuti banyak orang.
Bu Stella, kepala pembantu di rumah Andreas, yang sudah menemani Andreas sejak kecil, sangat kasihan melihat tuan yang sudah dianggap seperti anak nya itu berubah menjadi pendiam setelah ditinggal anak istri nya.
Akhir nya Bu Stella inisiatif untuk mendatangkan anak semata wayang nya ke rumah Andreas untuk menemani dan merawat Andreas supaya mau berubah menjadi Andreas yang seperti biasa lagi.
Savanna Zelindra anak yang baru lulus SMA, terpaksa harus menuruti kemauan ibu nya untuk ikut pindah kerumah bos nya. Apakah Savanna akan bisa berhasil menaklukkan sang bos duda tampan yang dingin?
Ikuti terus ya cerita nya🫶

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ell.ellsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memikirkan tingkah aneh dia

    Setelah Savanna dari kamar mandi tadi. Dia langsung fokus lagi untuk belajar.

   "Tuan maaf, bisa kita cepat cepat untuk pembelajaran hari ini?"

   "Memang nya kenapa? Kenapa wajah kamu merah? Are you ok?" Andreas bingung melihat tingkah Savanna yang seperti tidak karuan, Andreas takut Savanna sakit.

    "Oh ngga kok, aku cuma mmmm." Mendadak Savanna jadi sangat gugup.

   "Ya sudah kita akhiri saja. Besok kita lanjut lagi."

  Karena Andreas kasihan melihat Savanna. Akhir nya pembelajaran di sudahi.

    "Oh iya tuan, boleh aku bawa buku buku nya ke kamar? Supaya aku bisa mempelajari yang lain juga?"

    "Silahkan."

    "Tapi nanti kalau ada yang aku gak ngerti, boleh kan aku tanya tuan Andreas?"

   Andreas hanya mengangguk.

   Lalu Savanna membereskan semua buku buku nya.

    Ketika Savanna akan membawa buku nya, karena muka nya terhalangi buku, hampir saja Savanna menabrak meja, untung nya Andreas langsung sigap memeluk Savanna dari belakang.

   "Hati hati. Kenapa tidak membawa nya sedikit dulu."

   Savanna malah diam, mematung di tempat.

     Andreas mengambil buku buku dari tangan Savanna.

    "Biar saya bantu."

    Savanna masih diam membeku, dia sangat syok dengan sikap Andreas.

     "Hey, kenapa masih diam saja? Ini buku nya mau disimpan dimana?"

     "Astaga, maaf maaf tuan." Savanna berlari mengejar Andreas yang sudah jalan duluan.

      "Maaf tuan simpan disini saja." Savanna menunjuk ke bawah dekat pintu kamar ibu nya.

     "Kenapa di sini?"

      "Gak papa tuan, biar nanti aku aja yang bawa sedikit sedikit ke kamar."

      "Kenapa kamu gak tidur di kamar tamu saja? Itu juga kan kosong."

      "Mmm sebenar nya aku juga di suruh tidur disana sih sama ibu, tapi kaya malu aja tuan, kalau aku malah tidur di kamar tamu."

      "Gak papa, lagian kamar di sini banyak, dan kamar itu, dekat dengan kamar bu Stella. Anggap saja, itu kamar kamu sendiri."

      "Hah, tuan serius, memang nya gak papa?"

      "Ya, disana juga sudah ada meja belajar kan, lagi pula supaya kamu punya ruangan privasi sendiri, dan lebih fokus untuk belajar."

       "Aaaaa tuan, ini aku gak lagi mimpi kan?? Tuan Andreas makasih banyak ya."

      Tanpa sadar Savanna malah memeluk Andreas.

      Sekarang Andreas lah yang malah diam mematung. Andreas sangat kaget, karena tiba tiba Savanna memeluk nya.

      "Eh, maaf tuan. Maaf aku refleks. Makasih ya, tuan sangat sangat baik sekali. Nanti kalau aku sudah sukses, aku pasti balas kebaikan tuan."

      Andreas tak menjawab, dia langsung pergi meninggalkan Savanna.

      "Ya ampun, ternyata tuan Andreas perhatian dan baik juga ya. Pokok nya aku juga harus bisa buat tuan Andreas bahagia, aku janji."

       Savanna memindah mindahkan buku nya ke kamar tamu.

      Bu Stella yang melihat Savanna membawa buku yang banyak, akhir nya Bu Stella membantu Savanna.

     "Nak, kenapa buku nya di bawa ke kamar tamu?"

     "Eh ibu, iya bu nanti aku ceritain ya bu."

     Setelah beres merapikan buku, Savanna dan bu Stella duduk di kasur.

      "Jadi gini bu, tadi aku dibantu tuan Andreas bawa buku ke sini. Terus aku suruh aja buku nya di simpen di bawah dulu, biar aku yang bawa sedikit sedikit ke dalam."

      "Iya, terus."

      "Ternyata kata tuan Andreas, kenapa gak dikamar tamu saja, kamar yang dekat kamar ibu juga kan kosong, anggap aja kata nya itu kamar ku."

        "Oh ya?"

       "Iya bu, terus aku bilang, gak enak ah malu, biar aku sama ibu aja gak papa. Eh tuan Andreas bilang lagi, kata nya kamar dirumah ini banyak kok, gak papa aku tempatin aja, kata nya biar aku punya privasi, dan biar aku fokus belajar."

        "Serius nak? Tuan Andreas bilang seperti itu?"

        "Iya bu serius. Aku juga kaget kok dia baik dan perhatian juga ya."

        "Syukurlah nak, ibu sangat senang mendengar nya. Ternyata perlahan, sikap tuan Andreas berubah lagi. Terimakasih ya nak kamu sudah mau menemani tuan Andreas."

         "Bu jangan berterima kasih sama aku. Mungkin sebenar nya tuan Andreas memang baik, tapi ya memang dia baru mau sadar lagi sekarang."

         "Tapi bisa jadi ini berkat kamu juga nak, mungkin berkat kedekatan kalian."

"Ah gak mungkin kaya nya bu. Lagian kita belum dekat banget kok."

"Menurut ibu, kalian sudah lumayan dekat kok. Sampai tuan Andreas saja, mau mengajarkan kamu."

"Iya juga ya bu. Aku berharap semoga tuan Andreas segera menemukan kebahagiaan lagi."

"Aamiin. Ya sudah, kalau begitu kamu lanjut saja beres beres nya ya. Ibu mau ke dapur lagi."

"Oke bu."

Andreas sedang melihat pemandangan di luar balkon kamar nya. Langit nya begitu indah banyak bintang.

"Bocah itu, kenapa sikap nya selalu aneh." Andreas masih kepikiran tentang Savanna.

Savanna yang tiba tiba muka nya memerah, yang tiba tiba memeluk Andreas, yang kadang suka cemberut juga.

Andreas jadi memikirkan hal itu.

"Astaga kenapa aku jadi kefikiran dia."

Andreas menutup balkon kamar nya, tapi Andreas salah fokus ketika melihat Savanna yang tiba tiba lari ke taman. Jadi Andreas tak jadi, dia malah melihat Savanna akan melakukan apa di taman.

Ternyata Savanna duduk di kursi taman. Dia melihat ke arah langit langit yang begitu banyak bintang.

Savanna tersenyum memandangi bintang bintang yang begitu banyak di langit.

Andreas tetap memperhatikan Savanna.

Savanna menunjuk langit, dan seperti sedang menggambar sesuatu.

"S A V A N N A, wah, bintang nya seperti membuat nama ku saking banyak nya. Indah sekali." mata Savanna berbinar.

Andreas sedikit tersenyum melihat Savanna.

Ternyata Savanna sedang menuliskan nama nya di langit dengan gugusan bintang.

"Bintang, kalian tahu, sebentar lagi aku akan kuliah. Waktu tak terasa ya. Aku sangat bangga dengan diriku dan ibuku yang tak pernah berhenti menyayangi ku." Savanna tiba tiba merasa sendu ketika dia mengingat masa masa kecil nya tanpa ibu nya.

"Tapi aku juga sangat bangga dengan nenek ku. Dia lah yang paling paling hebat, dia selalu sabar dalam mengurusku. Kalian doakan nenek ku sehat ya di sana."

Savanna seperti berbincang dengan bintang, tak terasa air mata nya menetes.

Andreas yang melihat nya, seperti tak tega melihat Savanna yang tiba tiba seperti menangis.

"Benar benar aneh, tadi masih senyum senyum, sekarang menangis."

Andreas ingin turun ke bawah, tapi bu Stella datang, duduk dengan Savanna. Akhir nya Andreas mengurungkan lagi niat nya.

"Nak Savanna, kenapa belum tidur? Dan kenapa kamu seperti menangis?"

"Lihat bu, lihat bintang bintang itu, mereka sangat indah. Aku jadi teringat dulu waktu aku kecil, aku pernah meminta pada bintang."

"Meminta apa nak."

"Aku ingin, aku mempunyai keluarga yang lengkap. Dan bisa bersekolah tinggi. Supaya aku bisa menggantikan ibu bekerja."

"Nak, sayang, maaf kan ibu." Bu Stella memeluk Savanna.

"Tidak bu, ibu tak perlu meminta maaf. Karena setelah banyak kejadian, aku jadi mengerti, kenapa aku harus seperti ini."

"Dan pada akhir nya juga aku tetap bisa berkumpul bersama ibu sekarang, walau tidak bersama nenek."

"Nak, terima kasih ya sudah jadi anak yang menurut kepada ibu dan nenek. Ibu juga sebenar nya tidak ingin seperti ini, berpisah dengan nenek, ataupun berpisah dengan kamu. Tapi mungkin ini adalah yang terbaik untuk kita, maaf ya nak, semoga di lain waktu, kita akan bisa berkumpul bersama lagi."

"Tidak apa bu, mungkin sebenarnya, kehidupan orang lain ada yang jauh lebih dibawah dari kita, tapi mereka tidak berisik, mereka tetap menjalani hidup dengan bahagia."

Bu Stella terharu mendengar perkataan Savanna.

"Pokok nya, ibu dan nenek aku doakan selalu sehat. Supaya bisa melihat aku sukses nanti. Ibu jangan nangis ah, nanti cantik nya hilang."

Bu Stella jadi tersenyum.

"Sayang, terimakasih ya, sudah mau memilih ibu sebagai ibumu. Ibu gak tahu kalau bukan Savanna yang menjadi anak ibu, apakah ibu akan kuat atau tidak, kamu selalu jadi penyemangat ibu." Bu Stella mencubit gemas pucuk hidung Savanna.

"Harus nya aku yang sangat berterima kasih sama ibu, berkat ibu, aku bisa merasakan kebahagiaan yang tidak dapat dibeli dengan uang." Savanna tersenyum dan memeluk ibu nya erat.

Andreas yang melihat pemandangan itu, menjadi sedikit terharu dan sedikit berfikir.

"Benar kata Savanna, hidup yang masih dibawah dia saja, tidak berisik menjalani kehidupan nya, mengapa aku yang mempunyai lebih, selalu ingin mengakhiri hidupku."

1
Ell.ellsan
jangan lupa kasih masukan ya teman teman. terimakasih sudah membaca😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!