Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30: [Volume 2] — Tepi Kepunahan
Duniaku hanya berisi suara mesin kapal yang menderu dan deburan ombak yang menghantam lambung besi. Kesadaranku timbul tenggelam. Setiap kali aku mencoba membuka mata, yang kulihat hanyalah wajah panik Kurumi dan hamparan bintang yang berputar di langit malam.
Tubuhku terasa seperti reaktor nuklir yang bocor. Panasnya tidak kunjung turun, dan aku bisa merasakan sisa-sisa "cairan biru" dari lab tadi sedang bertarung dengan sel darah putihku.
"Zidan! Bertahanlah! Kita sudah hampir sampai!" suara Kurumi terdengar jauh, seolah dia berteriak dari dasar sumur.
BRAKK!
Guncangan hebat menghantam kapal. Lambung kapal berderit keras saat menghantam pasir pantai. Mesin kapal mati seketika, meninggalkan keheningan yang mencekam, hanya diselingi suara desis uap panas dari mesin yang dipaksa bekerja keras.
Aku merasakan tangan Kurumi menarik lenganku, mencoba memapah ku keluar dari kapal. Aku mencoba berdiri, tapi kakiku terasa seperti jeli. Kami terjatuh di atas pasir pantai yang dingin.
"Sial... kenapa berat banget sih?!" Kurumi mengumpal sambil mengatur napas. Dia menyeret ku menjauh dari bibir pantai, menuju barisan pepohonan yang gelap.
Aku terbaring telentang di atas pasir. Perlahan, penglihatan ku mulai stabil. Urat hitam di lenganku sudah tidak lagi menyala, tapi meninggalkan bekas seperti tato permanen yang menjalar hingga ke balik seragamku.
"Kurumi..." suaraku nyaris tak terdengar.
"Jangan banyak bicara dulu! Kamu gila, ya? Tubuhmu tadi hampir meledak!" Kurumi duduk di sampingku, menyeka keringat di dahinya. Matanya sembap, tapi dia mencoba terlihat galak seperti biasa. "Logika macam apa yang bikin kamu nekat nyerap listrik kayak tadi, hah?"
"Logika... bertahan hidup," jawabku pendek. Aku mencoba duduk, bersandar pada sebatang pohon tumbang. "Di mana kita?"
Kurumi menoleh ke arah kegelapan di depan kami. "Aku nggak tahu pasti. Tapi dari GPS kapal tadi sebelum mati, kita ada di pesisir barat daratan utama. Jauh dari zona evakuasi awal."
Aku mengaktifkan instingku. Meskipun tubuhku lemah, indra pendengaranku masih tajam. Dari arah hutan, aku mendengar suara dahan yang patah. Bukan satu, tapi banyak.
Krosak... krosak...
"Kurumi, ambil senjatanya," bisikku tajam.
"Hah?"
"Cepat!"
Kurumi segera menyambar senapan P90 yang tadi aku bawa dari lab. Dia mengarahkan moncong senjata ke arah kegelapan hutan. Tak lama kemudian, sepasang mata merah muncul dari balik semak-semak. Disusul pasang mata lainnya.
Itu bukan zombi biasa. Mereka lebih kecil, bergerak dengan empat kaki, dan kulitnya tampak licin tanpa bulu. Mutasi hewan lokal akibat virus yang bocor ke daratan.
"Logika sistem: Predator daratan," bisikku. "Mereka sedang mengincar kita yang baru mendarat."
"Zidan, kamu masih lemas. Aku yang akan urus ini!" Kurumi berdiri, kakinya gemetar tapi dia tidak mundur. Dia memasang posisi menembak yang pernah aku ajarkan. "Jangan remehkan aku cuma karena aku nggak punya kekuatan aneh kayak kamu!"
Aku melihat Kurumi melepaskan tembakan beruntun. Tatatatatap!
Satu makhluk itu tumbang, tapi yang lain mulai mengepung. Aku mencoba mengepalkan tangan. Rasa panas itu kembali muncul, tapi kali ini aku bisa merasakannya lebih terkendali. Aku tidak akan membiarkan Kurumi mati hanya karena aku sedang "istirahat".
"Kurumi, merunduk!"
Aku memaksakan tubuhku melesat maju. Gerakanku masih kasar, tapi kecepatannya cukup untuk menebas leher makhluk terdekat dengan pisau komando yang ku pungut di kapal. Darah hitam muncrat ke wajahku.
Kami bertarung berdampingan di bawah sinar bulan. Kurumi dengan tembakannya yang semakin akurat, dan aku dengan sisa tenaga mutasiku.
Setelah beberapa menit yang menegangkan, makhluk-makhluk itu akhirnya mundur, menyadari bahwa mangsa mereka kali ini terlalu berbahaya.
Aku jatuh berlutut, napas ku tersengal. Kurumi segera menghampiriku, memegang bahuku agar aku tidak tersungkur ke pasir.
"Kamu benar-benar keras kepala, Zidan," bisik Kurumi. Kali ini suaranya lembut, tanpa nada galak. "Tapi... makasih."
Aku menatapnya. Di bawah cahaya bulan, wajahnya terlihat sangat tulus. "Jangan terbiasa. Logikanya, kita masih punya perjalanan panjang sebelum benar-benar aman."
"Tch, dasar robot dingin!" Kurumi membuang muka, tapi dia tidak melepaskan pegangannya di bahuku.
Di kejauhan, di atas bukit yang menghadap pantai, aku melihat siluet sebuah kota yang gelap total. Tidak ada lampu, tidak ada tanda kehidupan. Hanya kegelapan yang menunggu untuk dijelajahi.
Selamat datang di Daratan Utama. Tempat di mana permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Catatan Penulis:
Chapter 30 memulai babak baru di daratan utama. Zidan dan Kurumi harus menghadapi mutasi alam yang lebih liar. Kekuatan Zidan mulai stabil, tapi meninggalkan jejak fisik yang permanen. Akankah mereka menemukan koloni manusia di kota mati itu?