NovelToon NovelToon
Bumi 6026

Bumi 6026

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Dunia Masa Depan / Sistem / Sci-Fi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Bab 33

Malam itu, balapan akan dimulai. Bukan di lapangan, tapi di jalanan yang sesungguhnya. Jalanan kota diblokir untuk balapan paling dinanti setiap tahunnya. Dinanti siapa? Dinanti para bangsawan – dalam hal ini adalah pemerintah.

“Sama seperti oligarki dong?” bisik Nuri pada Sally yang berada di dalam ruangan persiapan para pembalap. Pembalap lain termasuk Michael juga ada di sana, matanya seperti tidak suka pada Bumi dan Nuri.

“Oligarki?” tanya Sally bingung.

“Di tahun 2026, oligarki, kelompok elit memimpin dunia. Dengan mengambil keuntungan untuk mereka sendiri. Mengadu domba masyarakat, melakukan peperangan sesuka mereka,” jelas Nuri.

“Kak!” Bumi mengingatkan.

“Kenapa?” Nuri tampak heran. “Memang itu yang terjadi kan?”

Bumi memutar kedua bola matanya, kesal karena di mana pun, kapan pun, bahkan sekarang sudah ada di tahun 6026 pun, kakaknya itu masih selalu saja membahas politik.

“Ya kira-kira seperti itu. Bangsawan, orang kaya, yang punya kuasa yang memimpin. Tapi kalau tidak ada mereka, semua teknologi ini tidak akan ada,” jelas Sally.

“Oh, berarti kaya Hunger Games?” tanya Bumi yang sedang duduk di kursi motor yang kedua pintunya terbuka.

“Bumi!” Nuri teriak mengingatkan.

“Kenapa? Memang mirip, kan?”

Nuri memutar kedua bola matanya, kesal karena Bumi selalu saja kalau tidak membahas soal game, pasti membahas soal film fantasi.

“Apa itu Hunger Games?” tanya Sally.

Nuri terkekeh.

Bumi menunduk, merasa salah bicara. Ia baru ingat kalau mungkin saja film tidak ada di jaman sekarang, “Bukan apa-apa.”

“Para peserta harap bersiap di jalur balapan!” suara pria dari speaker yang terdengar berat dan patah-patah menggelegar ke seluruh ruangan.

Bumi bisa melihat apa yang dibicarakan Michael ke teman-temannya.

“Siapa sih dia sebenarnya?”

“Tidak tahu.”

“Kenapa Sally seperti sangat kagum padanya?”

“Entah, mungkin dia mata-mata?”

“Bisa jadi. Seingatku tidak ada remaja yang ditangkap dari daerah Asia.”

Sally menutupi pandangan Bumi yang menatap ke arah Michael, “Jangan pikirkan mereka.”

“Kenapa Michael mau membantu aku latihan kemarin?” tanya Bumi.

“Karena dia penasaran kamu itu siapa?”

“Terus dia tahu?”

“Kalau dia tahu, pasti dia udah bantuin kita sekarang,” jawab Sally sambil menutup pintu motor. “Ke sana!” teriak Sally menunjuk ke arah awal start.

Para pembalap menjalankan motornya ke titik awal start. Bumi mengedalikan motornya dengan pelan dan tersendat.

Terdengar suara komentator dari speaker membahas motor yang dipakai Bumi sepertinya bukan orang biasa, alias anak TK!

Sontak para penonton yang berdiri di setiap gedung, tertawa. Gelak tawa mereka membahana, menggema ke langit.

Balapan akan menggunakan jalur tol, melintasi pemukiman dan perkantoran. Melewati papan reklame hologram – Penari wanita seksi, iklan obat manjur, dan lowongan kerja – saling tumpuk satu sama lain.

Dua puluh motor sudah bebaris di garis awal start. Lima motor per baris. Bumi ada di barisan ke empat, karena waktu tempuh saat percobaan menunjukkan Bumi ada di urutan ke 18. Sementara Michael dan teman-temannya berada di baris pertama.

“Kamu bisa mendengar ku?” tanya Sally di kuping Bumi.

“Ya,” jawab Bumi dibalik maskernya.

“Fokus, juara lima besar. Maka kamu akan aman.”

“Oke.”

Lampu garis start menyala.

“Pembalap bersiap!” suara dari speaker menggema.

Diiringi suara bel keras dan lampu merah, kuning, dan

..

Hijau!

Teeeet!

Balapan di mulai. Bumi langsung ngegas dari awal. Satu persatu, belokan demi belokan, motor disalipnya. Jalurnya sudah dihafalkannya setelah latihan motor kemarin pagi. Malamnya ia dan Nuri menonton semua pertandingan sebelumnya. Ayah dan Ibunya berharap bisa menang, dapat akses menjadi tentara, lalu bisa bertemu dengan Prof Keiko.

Tiba-tiba terdengar suara Sally di telinga Bumi, “Bumi! Di belokan kedelapan, keluar dari jalur tol!”

“Kenapa?”

“Kamu dikejar!”

“Apa?”

“Kita ditangkap!” Sally teriak panik.

Bumi menekan layar dashboardnya, berharap terhubung ke ruang tunggu pembalap. Dicarinya kamera ruang tunggu sampai dapat. Ternyata Nuri dan Sally sudah ditangkap tentara.

Bumi melihat ke depan. Sebentar lagi belokan kedelapan.

Dia sudah hampir bisa menyalip pembalap di depannya sehingga bisa satu kelompok dengan Michael dan teman temannya. Tapi belokan kedelapan sudah terlihat. Ada pembatas hologram di sana.

Tidak bisa berpikir lama-lama.

Bumi harus mengambil keputusan.

Belokan kedelapan di depan mata.

Bumi mengarahkan motornya belok menembus pembatas hologram. Badannya merasa sedikit setruman di sekujur tubuhnya. Di gelengkan kepalanya. Ternyata di belakangnya sudah ada 10 orang tentara mengejar.

“Sial!” teriak Bumi.

Bumi menaikkan kecepatan sambil berusaha mengontak Sally, “Sally?”

Tidak ada jawaban.

Kamera ruang tunggu juga sudah mati.

Bumi menekan kamera-kamera yang lainnya, tidak ada yang berfungsi.

Harus ke mana? Bumi berpikir keras.

Di hadapannya hanya ada jalan tol yang melayang dan saling bertumpuk. Ia lalu membesarkan GPS di dashboardnya dan menuliskan Jericho di kolom pencarian. Setelah itu, tanpa pikir panjang, dengan percaya diri, Bumi mengarahkan motornya ke kafe Jericho.

Sepuluh tentara dengan motornya masing-masing, masih terus mengejar Bumi.

Dengan jantung yang berdebar keras dan keringat dingin yang mencuat. Bumi keluar dari jalan tol, menuju kafe Jericho. Tangannya sudah terasa pegal sekali memegang kendali. Ia teringat pada Emma. Kalau saja motor ini ada program auto pilot, mungkin tidak akan sesulit ini.

Dalam sekejap, ia tiba di kafe Jericho. Atau setidaknya itu tempat yang dia kira adalah kafe Jericho.

Ia bergegas turun dari motornya, lalu lari ke dalam lorong yang gelap dan lembab.

Para tentara yang mengejarnya berhenti di depan kafe Jericho.

Bumi berhenti dan memegang kedua lututnya, menarik napas, mengatur jantungnya yang masih berdebar keras sampai keluar telinganya.

Tiba-tiba terdengar derap kaki para tentara semakin mendekat.

“Astaga!” Bumi berusaha mencari pintu masuk ke dalam gedung, tapi gagal. Ia lalu lari melewati tembok besi, lalu jatuh di tempat sampah.

Tiba-tiba tangan Pam menjulur dan menarik baju Bumi, “Ayo cepat!”

“Pam?” Bumi yang masih pakai masker, menatap Pam girang. “Kamu masih hidup?”

“Tentu saja, ayo cepat!” Pam menyuruh Bumi keluar dari tempat sampah.

Pam lari ke sebuah motor. Kali ini motor biasa yang dikenalnya pada tahun 2026. Pam naik ke motor dan memakai helm.

“Kok ada motor kaya gini?” tanya Bumi bingung tapi tetap menerima helm dari Pam.

“Cepat naik!” Bumi naik ke boncengan motor. “Nggak ada waktu buat cerita!” Pam menjalankan motornya.

1
Q. Adisti
seruu, lanjut kaaak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!