🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)
•••
Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.
Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.
Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Satu kamar, satu kekhawatiran
Tengah malam, suasana kamar terasa sunyi dengan lampu tidur yang menyala redup di sudut ruangan.
Anindia yang sebelumnya terlelap perlahan membuka mata saat mendengar suara rengekan kecil dari sampingnya. Suara itu terdengar lirih, tapi cukup untuk membuat rasa kantuk Anindia hilang seketika.
Anindia buru-buru bangkit sedikit, lalu menoleh ke arah Shaka yang mulai bergerak gelisah di atas kasur. Anindia langsung menyentuh kening Shaka perlahan, hangatnya masih terasa.
"Shh... Sayang..." Bisik Anindia lembut sambil mengusap pelan kepala putranya.
Di sisi lain ranjang, Keanu masih tertidur lelap. Ia memang baru tidur belum lama setelah menyelesaikan tugas kuliahnya tadi. Laptopnya bahkan masih tergeletak di meja belajar dengan beberapa buku yang belum sempat dirapikan.
Shaka kembali merengek kecil sambil mengusap matanya. Refleks, Anindia langsung menggendong putranya hati-hati agar tidak membuat Keanu ikut terjaga.
Anindia beranjak dari tempat tidur. Tepukan lembut terus ia berikan di punggung kecil putranya itu, berusaha menenangkan rengekan yang terdengar semakin tidak nyaman.
"Sebentar ya, sayang..." Bisik Anindia lembut.
Dengan satu tangan menopang Shaka, Anindia berjalan menuju meja kecil di sudut kamar, tempat perlengkapan susu biasanya disimpan. Gerakannya pelan dan terbiasa, seolah tubuhnya sudah hafal apa yang harus dilakukan meski pikirannya masih dipenuhi rasa kantuk.
Anindia mulai menyiapkan susu dengan hati-hati sambil sesekali mengayun tubuh kecil itu perlahan. "Mungkin lapar ya," gumamnya pada dirinya sendiri.
Namun begitu susu itu selesai dibuat dan didekatkan ke bibir Shaka, anak itu justru memalingkan wajahnya sambil menangis lebih keras.
"Eh?" Anindia langsung panik kecil. "Kenapa sayang?"
Tangisan Shaka malah semakin menjadi-jadi. Tubuh kecilnya bergerak gelisah di pelukan Anindia seolah tidak nyaman dengan apapun saat itu.
Suara tangisan itu akhirnya membuat Keanu terbangun. Lelaki itu mengerjakan matanya beberapa kali sebelum akhirnya buru-buru bangkit dari posisi tidurnya.
"Sayang?" Suaranya serak karena baru saja bangun.
Begitu melihat Shaka menangis cukup keras di pelukan Anindia, ekspresi Keanu langsung berubah lebih sadar. "Shaka kenapa?" Tanyanya sambil turun dari tempat tidur.
Anindia terus mengusap dan menepuk pelan punggung Shaka yang masih menangis di bahunya. Wajahnya mulai terlihat cemas karena biasanya Shaka tidak pernah menolak susu seperti itu.
"Shaka gak mau minum, Mas," ujar Anindia lirih sambil mencoba kembali mendekatkan botol susu itu perlahan. "Kayaknya dia masih gak nyaman karena panas badannya."
Tangisan Shaka kembali pecah sambil terus memalingkan wajahnya. Tangannya bahkan sedikit mendorong botol susu itu menjauh.
Keanu langsung mengusap wajahnya sebentar agar lebih sadar. Ingatannya langsung tertuju pada obat penurun panas yang mereka beli di rumah sakit tadi.
"Obatnya belum diminum," gumam Keanu pelan.
Tanpa banyak kata, Keanu segera berjalan ke meja dekat tempat tidur dan mengambil plastik obat dari rumah sakit. Ia membuka salah satu botol kecil obat penurun panas sambil membaca aturan pakainya untuk memastikan dosisnya.
"Coba aku bantu," ujar Keanu setelah menuangkan secukupnya obat ke sendok kecil.
Anindia mengangguk pelan, lalu mencoba menenangkan Shaka lebih dulu agar tidak terlalu meronta. "Sayang... Minum obat dulu, ya," bujuk Anindia.
Namun begitu sendok obat itu mendekat, Shaka langsung menggeleng kecil sambil terus menangis. Kepalanya bergerak menjauh, jelas menolak. Keanu dan Anindia saling melirik sejenak.
"Pinter banget nolaknya," gumam Keanu pelan, sedikit pasrah melihat putranya yang ternyata cukup susah diberi obat.
Keanu memperhatikan Shaka beberapa detik sebelum akhirnya menghela nafas kecil. Lalu, tanpa diduga, lelaki itu justru mengubah posisi sendok di tangannya dan menggerakkannya pelan di udara.
"Wuush..." Gumam Keanu pelan dengan wajah serius setengah mengantuk. "Pesawat mau mendarat."
Anindia yang tadinya panik langsung menoleh ke arah suaminya dengan ekspresi tidak percaya. "Mas," ujarnya pelan, antara bingung dan ingin tertawa.
Sementara Keanu tetap melanjutkan aksinya. Sendok kecil itu dimainkan pelan mendekati Shaka seperti pesawat mainan.
"Buka mulut dulu, jagoan kecil," ujar Keanu tenang. "Kalau enggak, pesawatnya muter lagi."
Anehnya, Shaka yang tadi menangis cukup keras perlahan mulai berhenti. Mata kecilnya mulai memperhatikan gerakan sendok di tangan ayahnya dengan sisa cegukan pelan.
Keanu langsung memanfaatkan kesempatan itu, "Nah, pesawatnya mendarat." Ujarnya cepat.
Begitu Shaka sedikit membuka mulutnya karena terdistraksi, Keanu langsung menyuapkan obat itu perlahan.
Shaka sempat mengerutkan sedikit wajahnya karena rasa obatnya. Tapi, setidaknya ia tidak langsung menolak seperti sebelumnya.
Anindia langsung menghela nafas lega sambil menahan senyum tipis melihat tingkah suaminya. "Dapat ide dari mana?" Bisiknya pelan.
Keanu hanya santai sambil menaikkan sebelah alis, "Insting bapak-bapak."
Anindia langsung menggaruk kecil keningnya sendiri sambil menunduk sedikit. Sudut bibirnya terus bergerak naik, jelas sedang mati-matian menahan tawa mendengar respon suaminya di tengah situasi seperti itu.
Sementara itu, Shaka memang sudah tidak menangis sekencang tadi. Tapi, ia sesekali masih merengek kecil karena tubuhnya masih belum benar-benar nyaman.
Melihat itu, Keanu langsung mengulurkan kedua tangannya. "Sini, gantian sama ayah."
Anindia langsung menyerahkan Shaka dengan hati-hati ke pelukan Keanu. Begitu berpindah ke gendongan ayahnya, Shaka kembali meronta sambil menyandarkan kepalanya lemas di pundak Keanu.
Keanu mulai mengusap punggung putranya perlahan sambil berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Sesekali ia menepuk punggung kecil itu pelan, berusaha membuat Shaka kembali mengantuk.
"Udah ya," ujar Keanu pelan. "Jagoan kecil ayah harus tidur lagi."
Anindia duduk di tepi kasur, memperhatikan keduanya diam-diam. Tanpa sadar, senyum kecil kembali muncul di wajahnya ketika melihat bagaimana Keanu perlahan berubah menjadi ayah yang begitu telaten untuk Shaka.
Baru beberapa menit suasana terasa lebih tenang, Shaka tiba-tiba kembali menangis.
"Eh," Keanu langsung berhenti melangkah sejenak.
Tangisan itu tidak sekencang sebelumnya. Shaka bergerak gelisah sambil menggenggam kaos ayahnya.
Anindia yang melihat itu langsung refleks ingin bangkit dari kasur. "Mas, sini aku aja-"
"Gapapa," potong Keanu pelan. Nada suaranya tetap tenang meski matanya terlihat sedikit lelah karena mengantuk.
Keanu kembali melanjutkan langkahnya pelan mengelilingi kamar. "Shh, ayah di sini."
Tangisan Shaka masih terdengar sesekali. Namun Keanu tetap menepuk punggungnya pelan dengan ritme stabil. Sesekali ia mencium pelan pucuk kepala Shaka sebelum kembali menggendongnya lebih nyaman.
Anindia memperhatikan semua itu dalam diam. Di tengah rasa khawatir malam itu, ada rasa hangat yang perlahan memenuhi hatinya melihat Keanu setenang itu saat menjaga anak mereka.
Perlahan, tangisan Shaka mulai mereda. Suara rengekannya berubah menjadi nafas kecil yang terputus-putus khas anak kecil yang kembali mengangguk setelah lama rewel.
Keanu yang menyadari itu langsung memperlambat gerakannya di punggung Shaka. Langkahnya akhirnya terhenti di depan jendela kamar yang sedikit terbuka.
Dari lantai dua rumah itu, cahaya lampu jalan terlihat samar dari balik balkon kamar mereka. Angin malam masuk perlahan, membuat suasana terasa lebih tenang dibanding beberapa menit sebelumnya.
Shaka kini benar-benar menyandarkan kepalanya lemas di bahu Keanu. Anak itu tertidur lagi dengan tangan yang masih memegangi pakaian ayahnya.
Keanu menunduk sebentar memperhatikan wajah putranya, lalu tanpa sadar menghembuskan sedikit nafas lega.
Tak lama, langkah pelan terdengar mendekat. Anindia berdiri di samping Keanu sambil memeluk lengannya sendiri. Tatapannya langsung tertuju pada Shaka yang akhirnya kembali tertidur.
"Udah tidur lagi," bisik Anindia lirih.
Keanu mengangguk kecil tanpa mengalihkan pandangannya dari Shaka. Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam berdiri di sana.
Tanpa aba-aba, Keanu tiba-tiba menggeser sedikit tubuhnya lalu menarik Anindia mendekat ke sampingnya dengan satu tangan.
"Mas," Anindia sedikit tersentak.
Kini, tubuh Anindia otomatis bersandar di sisi Keanu. Sementara suaminya itu tetap menggendong Shaka dengan hati-hati di pelukan satunya.
"Kedinginan?" Tanya Keanu sambil melirik Anindia.
Anindia menggeleng kecil, meski sudut bibirnya terangkat sedikit karena malu. "Enggak."
Keanu hanya mengangguk kecil. Tangannya tetap berada di bahu Anindia, membiarkan istrinya tetap dekat dengannya.
Anindia akhirnya ikut menyandarkan kepalanya di dada Keanu. Untuk sesaat, rasa lelah karena begadang malam itu terasa jauh lebih ringan.
Beberapa menit berlalu dalam diam, hingga akhirnya Keanu menundukkan kepalanya sedikit, mengecup sekilas pucuk kepala Anindia dengan lembut.
"Tidur lagi aja," gumam Keanu pelan. "Biar aku yang jagain Shaka."
Anindia langsung menggeleng kecil tanpa beranjak dari sisinya. "Ngantuk nya udah hilang, Mas."
Keanu melirik istrinya sekilas sebelum kembali menatap Shaka yang tertidur di pelukannya. "Tetap aja gak boleh begadang."
"Aku gapapa kok, Mas."
Keanu terdiam sesaat. Anindia mengira pembicaraan itu selesai begitu saja, sampai tiba-tiba lelaki itu berbicara dengan nada santai khasnya.
"Nanti istri aku jadi panda."
Anindia langsung mengangkat wajahnya, "Hah?"
Keanu akhirnya menoleh dengan sudut bibir yang terangkat tipis, jelas mode tengilnya muncul di saat yang tidak tepat.
"Lingkar matanya," lanjut Keanu santai. "Nanti hitam gara-gara begadang."
Anindia langsung menatap Keanu tidak percaya, sebelum akhirnya refleks memukul pelan lengan suaminya. "Mas Kean!"
Keanu justru terkekeh, suaranya rendah agar tidak membangunkan Shaka. "Nanti kamu jadi panda beneran."
Anindia langsung menatap Keanu dengan wajah tidak terima meski sudut bibirnya sudah hampir lepas membentuk senyum.
"Emang ya," gumam Anindia pelan. "Masa aku disamain sama panda."
Keanu menatap Anindia tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Panda kan imut."
Anindia langsung terdiam sesaat, jawaban itu justru membuatnya semakin salah tingkah. "Ya, kan beda Mas," protesnya pelan sambil menahan malu.
"Iya, istri aku bukan hanya imut," jawab Keanu. "Tapi juga cantik."
Lagi-lagi Keanu mengucapkannya dengan nada santai, tapi langsung membuat jantung Anindia berdetak lebih cepat.
Anindia langsung refleks menutup wajahnya dengan kedua tangan. Keanu yang melihat itu hanya tersenyum tipis. Tanpa sadar, ia menyandarkan dagunya di kepala Anindia.
Anindia semakin diam tidak karuan. Jantungnya berisik sendiri hanya karena hal kecil seperti itu.
Beberapa detik kemudian, Keanu kembali menegakkan tubuhnya agar posisi Shaka di pelukannya tetap nyaman dan tidak terbangun lagi.
Perlahan, Anindia menurunkan kedua tangan dari wajahnya. Rasa malu itu masih ada, meski kini tatapannya beralih pada Shaka yang tertidur tenang di pelukan suaminya.
Shaka terlihat jauh lebih tenang dari sebelumnya. Nafasnya sudah teratur, wajahnya terlihat damai meski masih menyisakan lelah karena demam.
Hati Anindia langsung luluh. Ia melangkah sedikit lebih dekat. Lalu, ia mengecup kening putranya penuh kasih sayang.
"Cepat sembuh ya, sayang," bisik Anindia lirih.
Keanu yang berdiri di sampingnya hanya memperhatikan dalam diam. Tatapannya begitu tenang melihat Anindia yang selalu berubah selembut itu setiap bersama Shaka.
Keanu mengusap sekali kali punggung Shaka pelan, sebelum akhirnya menoleh ke arah Anindia. "Sayang, istirahat lagu, yuk."
Anindia mengangkat wajahnya sedikit. Tangannya sempat kembali memastikan suhu tubuh Shaka lewat sentuhan kecil, sebelum akhirnya mengangguk perlahan.
"Udah agak mendingan, ya," gumamnya pelan.
Keanu ikut mengangguk kecil. "Hmm, obatnya mulai bekerja kayaknya."
Dengan langkah hati-hati, Keanu kembali melangkah menuju tempat tidur. Anindia mengikuti di belakangnya, lalu membantu menyingkap selimut sedikit ketika Keanu mulai membaringkan Shaka perlahan di tengah kasur.
Gerakan keduanya begitu pelan dan hati-hati, seolah takut suara sekecil apapun bisa membuat buah hati mereka kembali terbangun.
Setelah Shaka sudah kembali nyaman, keduanya saling melirik sebentar sebelum akhirnya ikut berbaring di sisi kanan dan kiri putra kecil mereka.
Di tengah kamar yang kembali sunyi, hanya suara nafas pelan Shaka yang terdengar samar.
Keanu masih terjaga beberapa saat, sesekali melirik putranya. Sementara Anindia perlahan kembali memejamkan mata dengan satu tangannya tetap berada di dekat Shaka, seolah memastikan anak itu baik-baik saja.
Malam itu mungkin melelahkan bagi mereka. Namun di balik rasa kantuk, kekhawatiran, dan begadang yang tidak direncanakan, ada kehangatan sederhana yang justru membuat rumah itu terasa semakin hidup.
Karena terkadang, cinta memang hadir dalam bentuk paling sederhana. Berjaga bersama di tengah malam demi seseorang yang paling mereka sayangi.
^^^Bersambung...^^^
Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁