Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."
Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.
Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.
Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?
"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden kamar Isvara, memaksanya untuk membuka mata. Namun, alih-alih merasa segar, Isvara justru merasa tubuhnya seberat timah. Setiap sendi terasa kaku, dan paru-parunya seperti dihimpit beton. Kejadian semalam pesta Wiratmadja, pertemuan dengan Dewa, dan konfrontasi dengan mertuanya telah menguras habis cadangan energi yang sebenarnya sudah tidak ada.
Isvara melirik jam di atas nakas. Pukul 06.30 pagi. Biasanya, pada jam seperti ini dia sudah rapi dengan setelan kerja yang tajam, siap menaklukkan dunia arsitektur. Namun hari ini, bangkit dari tempat tidur saja terasa seperti mendaki gunung.
Dengan sisa tenaga, ia mandi perlahan dan mengenakan baju tidur satin berlapis robe panjang berwarna krem yang elegan namun santai. Ia tidak sanggup memakai kemeja kaku atau high heels hari ini. Ia memutuskan untuk bekerja dari rumah, memantau revisi terakhir proyek Bali melalui laptopnya.
Saat ia turun ke ruang makan, Andra sudah di sana. Pria itu tampak sangat rapi dalam balutan kemeja biru muda dengan dasi yang sudah terpasang sempurna. Ia sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca laporan di tablet.
Begitu mendengar suara langkah kaki Isvara, Andra mendongak. Dahinya langsung berkerut dalam. Matanya memindai penampilan Isvara yang masih mengenakan baju tidur.
"Kenapa kamu belum siap? Kita ada rapat koordinasi dengan tim audit jam sepuluh nanti," tanya Andra, suaranya terdengar kaget sekaligus menuntut.
Isvara tidak langsung menjawab. Ia duduk di kursinya dengan gerakan pelan, mencoba menyembunyikan getaran di tangannya. "Saya kerja dari rumah hari ini. Semua data sudah saya kirim ke sekretaris Anda semalam. Tidak ada alasan bagi saya untuk hadir secara fisik jika hanya untuk mendengarkan angka-angka yang sudah saya hafal," jawab Isvara tanpa emosi.
Andra meletakkan tabletnya di atas meja dengan suara dentuman kecil. "Kerja dari rumah? Isvara, kita baru saja mendapatkan lampu kuning dari bank. Kehadiranmu sebagai kepala arsitek itu penting untuk meyakinkan mereka. Jangan bilang kamu sedang mencoba melakukan aksi mogok kerja karena kejadian semalam?"
Isvara hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. Tepat saat itu, Bibi datang membawakan sarapan khusus untuk Isvara. Di atas piring itu hanya ada bubur gandum hambar, segelas jus hijau yang pekat, dan beberapa butir suplemen yang diletakkan di piring kecil.
Andra melirik menu sarapan itu. Ia ingat pernah mencicipi sedikit jus hijau Isvara tempo hari dan rasanya sangat mengerikan pahit dan hambar. "Sejak kapan seleramu jadi seburuk itu? Makanan sehat macam apa yang kamu makan setiap pagi sampai wajahmu tidak pernah kembali segar?" cibir Andra.
Isvara menyesap jus hijaunya perlahan, merasakan rasa pahit yang menjalar di tenggorokannya. "Sejak kapan Tuan Adrian yang terhormat tertarik dengan kehidupan pribadi saya? Bukankah bagi Anda, saya hanyalah properti pelengkap dan penipu ulung? Mengapa Anda peduli dengan apa yang masuk ke perut saya?"
Andra terdiam sejenak, harga dirinya merasa tersentil. "Saya tidak peduli dengan perutmu. Saya peduli dengan performa kerjamu. Kalau kamu makan makanan sampah yang tidak enak itu dan berakhir lemas di kantor, itu akan merugikan saya."
"Kalau begitu, Anda tidak perlu khawatir," sahut Isvara cuek sembari mulai mengaduk bubur gandumnya. "Selama napas saya masih ada, proyek Anda masih aman dan tidak akan terganggu. Saya tetap bekerja, hanya saja tidak di depan mata Anda yang penuh penghinaan itu."
Andra merasa tensinya naik. Sikap Isvara yang semakin acuh tak acuh ini benar-benar memancing amarahnya. "Isvara! Jaga bicaramu. Biar bagaimanapun, saya ini suamimu. Di rumah ini, ada aturan dan martabat yang harus dihormati. Seorang istri tidak seharusnya berbicara seperti itu pada suaminya, apalagi menolak berangkat kerja bersama tanpa alasan yang jelas!"
Isvara meletakkan sendoknya. Ia menatap Andra lurus-lurus, sebuah tatapan yang membuat Andra sedikit tertegun karena matanya terlihat sangat sayu namun penuh dengan kelelahan yang nyata.
"Suami?" Isvara mengulang kata itu dengan nada mengejek. "Suami yang mana, Adrian? Suami yang membiarkan istrinya dicaci maki ibunya semalam? Atau suami yang menganggap istrinya penipu dan menghinanya setiap kamu mau? Sayangnya, saya tidak minat menghormati status yang Anda bangun di atas ancaman dan ego."
Andra berdiri dari kursinya, tangannya mencengkeram pinggiran meja. "Jangan sombong, Isvara. Kamu pikir siapa yang melindungimu dari mulut tajam Mama semalam? Siapa yang memakaikan jasnya saat kamu terlihat seperti gelandangan di balkon itu? Kamu benar-benar tidak tahu terima kasih."
Isvara tertawa pelan, tawa yang berakhir dengan batuk kecil yang segera ia tutupi dengan tisu. "Terima kasih untuk jas yang Anda gunakan untuk menutupi rasa malu Anda sendiri karena punya istri yang tampak sakit? Tidak perlu, Tuan. Saya tahu jas itu bukan untuk melindungi saya, tapi untuk melindungi citra Anda di depan Dewa."
"Isvara!" bentak Andra.
"Sudahlah," Isvara berdiri, mengabaikan pusing yang mendadak menyerang kepalanya. "Perdebatan pagi ini tidak akan menghasilkan uang. Anda pergilah ke kantor. Saya akan menyelesaikan detail teknis untuk Bali dari sini. Jangan khawatir, saya tidak akan mati sebelum proyek itu selesai dan vendor saya dibayar." Isvara langsung meniggalkan meja makan dan memilih akan kembali ke kamarnya.
Andra mengepalkan tinjunya. Kalimat "tidak akan mati" yang diucapkan Isvara terdengar seperti kutukan di telinganya. Ada rasa sesak yang aneh di dada Andra saat melihat Isvara berjalan menjauh meninggalkannya di meja makan yang luas itu.
"Tunggu, Isvara! Saya belum selesai bicara!" teriak Andra.
Isvara terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun. "Tapi saya sudah selesai, Adrian. Simpan sisa amarah Anda untuk rapat nanti. Saya ingin istirahat... sebelum saya benar-benar kehilangan tenaga untuk sekadar bernapas."
Andra mematung di ruang makan yang kini terasa sangat sunyi. Ia menatap piring sarapan Isvara yang hanya dimakan sesuap. Untuk pertama kalinya, ada keraguan yang menyelinap di hatinya. Apakah dia benar-benar sedang menghadapi seorang penipu ulung, ataukah dia sedang menyaksikan kehancuran seorang wanita yang selama ini dia paksa untuk tetap tegak?
Aku sesak Isvara...