Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."
Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.
Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.
Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?
"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibalik Nafas Terakhir Isvara
Pagi di kediaman utama Prayudha selalu dimulai dengan kemewahan yang kaku. Aroma kopi arabika mahal dan roti panggang mentega memenuhi ruang makan yang didominasi oleh furnitur kayu ek gelap. Namun, bagi Isvara, aroma itu terasa mencekik. Setelah semalam hampir tidak bisa memejamkan mata karena nyeri dada yang terus menghujam, ia harus memaksakan diri turun ke lantai bawah.
Isvara mengenakan blouse sutra berwarna gading yang sangat kontras dengan rona wajahnya yang kusam. Ia memoleskan blush on lebih tebal dari biasanya untuk menutupi pucat yang menyerupai mayat, namun binar matanya tidak bisa berbohong ia sedang di ambang kehancuran.
Di meja makan panjang itu, sudah duduk Nyonya Sofia, Tuan Prayudha, serta dua adik Andra yaitu Maya dan Arini. Maya adalah satu-satunya yang memberikan senyum tulus saat Isvara mendekat, sementara Arini, yang selalu merasa Isvara hanyalah "benalu beruntung", sudah menatapnya dengan pandangan meremehkan.
"Selamat pagi," suara Isvara terdengar serak saat ia menarik kursi di samping Andra. Sebenarnya Isvara tidak ingin melakukan sapaan itu karena dia tahu apapun yang dilakukan di kediaman mertuanya ini pasti serba salah.
Andra hanya meliriknya sekilas tanpa ekspresi, namun tangannya sempat tertahan sejenak saat melihat jemari Isvara yang masih sedikit gemetar saat meraih sendok untuk makan.
Menu yang di berikan di piring Isvara juga request dari Andra ke Bibik, entah ada angin apa Andra memang bilang sama Bibik tentang menu makanan Istrinya.
"Wah, lihatlah arsitek kebanggaan kita," Arini memulai serangan pertamanya sebelum sempat menyentuh sarapannya. Ia meletakkan ponselnya dan menopang dagu, menatap Isvara dengan senyum sinis. "Baru bangun, Kak? Atau baru selesai dandan? Wajahmu pucat sekali, seperti orang yang habis melihat hantu. Atau mungkin... pucat karena takut rahasia di panti asuhan kemarin ketahuan?"
Isvara membeku. Ia tidak menyangka Arini sudah tahu tentang kejadian kemarin. Ruangan itu mendadak sunyi, hanya suara denting sendok Nyonya Sofia yang terdengar tenang seolah sedang menikmati pertunjukan.
"Arini, jaga bicaramu. Kita sedang di meja makan," tegur Maya pelan, mencoba meredam suasana. Maya selalu berharap hubungan kakaknya dan Isvara bisa kembali hangat seperti dulu, namun ia tahu itu sulit di tengah gempuran keluarganya sendiri.
"Kenapa? Aku kan cuma bertanya, Kak," Arini tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat tajam di telinga Isvara. "Lagipula, Kak Isvara ini selalu punya alasan untuk terlihat sakit di saat-saat penting. Besok rapat besar untuk membahas proyek di Bali, dan hari ini dia tampil seperti orang sekarat. Jangan-jangan ini taktik baru supaya tidak perlu kerja tapi tetap dapat komisi?"
Isvara mencengkeram serbet di bawah meja. Dadanya mulai terasa panas, bukan karena kemarahan, tapi karena detak jantungnya yang mulai tidak beraturan akibat stres yang meningkat secara tiba-tiba.
"Arini, tutup mulutmu."
Suara itu rendah, namun berat dan penuh otoritas. Semua mata tertuju pada Andra. Pria itu meletakkan garpunya dengan suara denting yang cukup keras di atas piring porselen.
"Isvara sedang benar-benar tidak sehat. Berhenti melemparkan tuduhan konyol yang tidak punya dasar," lanjut Andra. Matanya menatap tajam ke arah adiknya, membuat Arini sedikit tersentak. Ini adalah kali pertama setelah sekian lama Andra secara terang-terangan membela Isvara di meja makan utama.
Maya menghela napas lega, ada secercah harapan di matanya melihat kakaknya pasang badan untuk Isvara. Namun, pembelaan itu justru menjadi bensin bagi ego Arini yang meledak-ledak.
"Loh, Kak Andra kok sekarang malah membela dia?" Arini berdiri, suaranya naik satu oktav, mengabaikan etika di depan orang tua mereka. "Apa Kakak lupa kalau wanita ini yang selalu membuat Kakak pusing? Dia itu pintar akting! Kak jangan mau ditipu terus. Dia sengaja pasang wajah pucat begini supaya semua orang merasa kasihan, padahal dia itu hanya... wanita egois yang tidak tahu diri! Dia hanya beban bagi keluarga Prayudha!"
"ARINI!" bentak Andra, kini ia pun ikut berdiri. Kursinya berderit kasar di lantai marmer. "Keluar dari ruangan ini sekarang kalau kamu tidak bisa menghargai Isvara sebagai kakak iparmu!"
"Andra! Cukup!" Nyonya Sofia akhirnya bersuara, suaranya tenang namun mengandung racun. Beliau meletakkan cangkir tehnya perlahan dan menatap Isvara dengan pandangan jijik. "Jangan salahkan adikmu. Arini benar dalam satu hal yaitu Isvara selalu menjadi biang kerok keributan di rumah ini. Sejak dia masuk ke keluarga ini, suasana selalu tegang. Lihat dirimu, Isvara. Kamu diam saja melihat suami dan adik iparmu bertengkar karena kamu? Benar-benar tidak punya wibawa sebagai menantu."
Tuduhan Nyonya Sofia membuat Isvara merasa dunia berputar. Ia merasa seolah-olah semua oksigen di ruangan itu disedot keluar. Ia ingin bicara, ingin membela diri bahwa bukan dia yang memulai semua ini, namun lidahnya terasa kelu.
"Ini bukan salah Isvara, Ma. Ini salah Arini yang tidak bisa menjaga mulutnya!" Andra masih bersikeras, namun wajahnya kini merah padam karena emosi yang meluap.
"Tentu saja kamu bela dia! Kamu sudah dicuci otak oleh akting sakitnya!" teriak Arini lagi, kini air mata kemarahan menggenang di matanya. "Dia itu pembawa sial! Gara-gara dia, Mas Andra jadi sering marah-marah!"
"DIAM SEMUANYA!"
Suara berat dan menggelegar dari Tuan Prayudha akhirnya mengakhiri badai tersebut. Pria paruh baya yang sejak tadi diam itu meletakkan korannya dengan kasar. Wibawanya yang besar seketika membungkam mulut Arini dan membuat Nyonya Sofia memalingkan wajah.
Tuan Prayudha menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang sangat dingin, lalu terakhir matanya tertuju pada Isvara yang kini menunduk dalam dengan bahu yang bergetar hebat.
"Sarapan adalah waktu untuk ketenangan, bukan untuk pertengkaran seperti orang jalanan," ucap Tuan Prayudha dengan nada datar yang mengerikan. "Andra, bawa istrimu ke atas. Arini, masuk ke kamarmu sekarang. Dan Sofia... berhenti memprovokasi anak-anakmu sendiri. Saya tidak mau mendengar satu suara pun lagi di meja makan ini sampai semuanya selesai makan."
Keheningan yang mematikan langsung menyergap. Arini menyentak serbetnya dan berlari naik ke atas dengan tangisan kesal. Maya hanya bisa menunduk sedih, sementara Nyonya Sofia kembali menyesap tehnya dengan raut wajah tidak puas namun tak berani membantah suaminya.
Andra meraih pergelangan tangan Isvara genggamannya kali ini lebih kencang, seolah ia sedang menahan emosinya sendiri. Tanpa sepatah kata pun, ia menarik Isvara meninggalkan meja makan yang beracun itu.
Begitu sampai di lantai atas, tepat di depan kamar, Isvara melepaskan pegangan Andra. Ia bersandar di dinding, napasnya memburu, tangannya meremas dada kirinya dengan sangat kuat hingga kuku-kukunya memutih. Rasa sakit itu kembali, kali ini lebih tajam dan panas daripada semalam.
Andra menatap Isvara dengan pandangan yang sulit diartikan campuran antara amarah yang masih tersisa dan rasa khawatir yang mulai merayap naik.
"Sudah kubilang, jangan tunjukkan wajah sakitmu di depan mereka," desis Andra, meski nadanya tidak setajam tadi pagi. "Sekarang lihat apa yang terjadi. Kamu membuat seluruh rumah ini gempar."
Isvara mendongak, matanya yang berkaca-kaca menatap Andra dengan tatapan yang sangat lelah. "Lalu... apa yang harus aku lakukan, Andra? Aku harus mati dulu supaya kamu percaya bahwa aku tidak sedang akting?"
Andra terdiam. Pertanyaan itu menggantung di udara, diiringi suara detak jam dinding yang besar di lorong rumah. Untuk pertama kalinya, Andra tidak memiliki jawaban untuk menyudutkan istrinya. Ia hanya bisa berdiri di sana, menatap Isvara yang sedang berjuang keras hanya untuk tetap berdiri tegak di tengah kehancuran hidupnya.
Crazy up nya ditunggu thor, pengennya isvara bisa balik keadaan