NovelToon NovelToon
Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Pernikahan Kilat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: RaeathaZ

Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.

Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.

Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33

Malam datang tanpa membawa banyak suara.

Rumah besar itu tetap berdiri sama seperti biasanya—megah, rapi, dan terlalu tenang untuk benar-benar terasa hangat. Lampu-lampu di lorong lantai bawah menyala lembut, memantulkan warna keemasan di lantai marmer yang dingin. Dari dapur, sesekali terdengar suara pelan peralatan makan yang sedang dibereskan. Di luar, angin malam bergerak ringan di sela pepohonan halaman depan.

Semuanya tampak biasa.

Namun bagi Yusallia, malam itu terasa lebih berat dari malam-malam sebelumnya.

Ia baru saja selesai mandi ketika berdiri cukup lama di depan jendela kamarnya. Rambutnya masih sedikit lembap, jatuh di punggung dan bahu dengan berantakan yang tidak sempat ia rapikan lagi. Pakaian rumah yang ia kenakan longgar dan nyaman, tapi tetap tidak cukup untuk membuat tubuhnya merasa benar-benar tenang.

Tangannya memegang cangkir teh hangat yang sejak tadi tidak benar-benar ia minum.

Uap tipis masih naik dari permukaannya.

Namun teh itu hanya terus ia pegang, seolah kehangatan kecil dari cangkir itu bisa membantu menahan pikirannya yang mulai bergerak terlalu jauh.

Di bawah, suara rumah semakin pelan.

Mungkin Damian belum pulang.

Mungkin Yasvera sudah masuk kamar.

Mungkin staf rumah tinggal menyelesaikan pekerjaan terakhir mereka sebelum seluruh rumah benar-benar diam.

Yusallia menghembuskan napas perlahan.

Pandangan matanya jatuh ke pantulan samar dirinya sendiri di kaca jendela.

Ia terlihat sama.

Tapi ia tahu dirinya tidak lagi sama.

Sejak sore tadi, satu kalimat terus berputar di kepalanya tanpa henti.

Ia hamil.

Dan sejak siang tadi, satu hal lain ikut tumbuh di dalam dirinya.

Takut.

Bukan takut pada bayi itu.

Bukan juga sepenuhnya pada kenyataan bahwa hidupnya akan berubah.

Melainkan takut karena ia menanggung semuanya sendirian.

Yusallia menutup mata pelan.

Siang tadi di rumah sakit, ia masih bisa menahan semuanya dengan ritme kerja. Dengan pasien. Dengan catatan medis. Dengan segala sesuatu yang memaksanya tetap bergerak.

Tapi malam punya cara yang kejam untuk membuat seseorang berhadapan dengan dirinya sendiri.

Dan malam ini, Yusallia tidak lagi bisa menyembunyikan kenyataan bahwa ia mulai kewalahan.

Ia berjalan pelan meninggalkan jendela, lalu duduk di tepi tempat tidur.

Cangkir teh hangat diletakkan di meja kecil samping ranjang.

Kedua tangannya jatuh di pangkuan.

Diam.

Kamar itu terlalu sunyi.

Dan di tengah kesunyian itu, akhirnya ia mengakui sesuatu yang sejak tadi berusaha ia hindari.

“Aku enggak bisa simpan ini sendiri…”

Kalimat itu keluar sangat pelan.

Nyaris seperti bisikan.

Tapi cukup jelas untuk membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Karena begitu diucapkan, semuanya terasa lebih nyata.

Ia memang tidak bisa menghadapi ini sendirian.

Ia bisa mencoba terlihat tenang.

Bisa mencoba berpikir rasional.

Bisa mencoba menyusun langkah-langkah logis yang harus dilakukan setelah ini.

Tapi ia tetap manusia.

Dan manusia tidak selalu kuat hanya karena ia tahu apa yang harus dilakukan.

Ia menunduk.

Jari-jarinya saling menggenggam, lalu melepaskan, lalu menggenggam lagi.

Kalau bukan sendirian… lalu dengan siapa?

Pikiran itu datang cepat.

Dan hampir seketika, satu nama muncul begitu saja di kepalanya.

Yusallia terdiam.

Orang yang selama ini selalu ada.

Orang yang ia kenal bahkan sebelum hidup terasa serumit sekarang.

Orang yang mungkin akan mendengarkan dulu sebelum bereaksi.

Orang yang, entah kenapa, selalu menjadi tempat paling aman untuk menjatuhkan kalimat-kalimat yang tidak bisa ia bawa ke mana-mana.

Ia memejamkan mata lagi.

Bryan.

Nama itu terasa seperti pintu.

Satu-satunya pintu yang saat ini bisa ia lihat.

Namun bersamaan dengan itu, muncul juga rasa ragu yang membuat dadanya menegang.

Kalau ia bercerita pada Bryan, semuanya akan menjadi lebih nyata.

Bukan hanya di kepalanya.

Bukan hanya di dalam kamar mandi.

Bukan hanya dalam bentuk empat test pack yang ia sembunyikan rapat-rapat.

Tapi nyata dalam bentuk kata-kata.

Dalam bentuk pengakuan.

Dalam bentuk kalimat yang harus ia susun dari nol.

Yusallia menelan pelan.

Dadanya terasa sesak lagi.

Ia menunduk lebih dalam, lalu meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal.

Layar menyala di tangannya.

Terang kecil yang memantul di matanya.

Jari-jarinya bergerak otomatis membuka daftar chat.

Nama Bryan ada di sana.

Tidak terlalu jauh di atas.

Percakapan terakhir mereka masih ringan. Masih penuh nada santai dan hangat. Sangat biasa. Sangat aman.

Dan justru karena itu, Yusallia merasa takut menyentuhnya.

Karena sekali ia mulai mengetik, percakapan biasa itu akan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berat.

1
@RearthaZ
pokoknya akan ada kejadian yang buat mereka akhirnya harus menikah
@RearthaZ
oke, kak
@RearthaZ
siapp, terima kasih yaa kak senior
@RearthaZ
terima kasih yaa udah mau baca cerita ku
@RearthaZ
okee, terima kasih yaa udah mau baca
@RearthaZ
iya, kayak red string Theory gitu
Reilient
ditunggu lanjutannya
Rei_983
lanjutin
Ocean Blue
lanjutin ceritanya
Rose Ocean
lanjutin ceritanya kak
Reha Hambali
lanjutin ceritanya thorr
Riha Zaria
lanjutin ceritanya thor
Reezahra
lanjutin thorr
Zariava
lanjutin thor
Reatha
lanjut thorr
Reazara
lanjutin kak
Zahira
lanjutin thor
Zahra
lanjutin kak
Ria08
lanjut kak
Reza03
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!