Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32: [Volume 2] — Kalkulasi Pembantaian
Pria dengan bekas luka itu menyeringai, jari telunjuknya sudah gatal ingin menarik pelatuk shotgun-nya. Baginya, aku dan Kurumi hanyalah mangsa mudah. Dia tidak tahu kalau dia baru saja melakukan kesalahan matematis terbesar dalam hidupnya.
"Kurumi, tutup matamu," bisikku datar.
"Zidan, apa yang—"
"Lakukan saja. Hitung sampai sepuluh."
Aku tidak menunggu jawabannya. Aku membiarkan rasa panas di jantungku meledak ke seluruh syaraf. Penglihatanku menjadi sangat lambat. Aku bisa melihat lalat yang terbang di antara kami seolah-olah dia diam di tempat.
[ LOGIKA SISTEM: ELIMINASI ANCAMAN DALAM 4,5 DETIK ]
Pria itu mulai menarik pelatuk. Sebelum palu senjatanya menghantam mesiu, aku sudah menghilang dari pandangannya. Dengan kecepatan yang didorong mutasi, aku muncul tepat di bawah moncong senjatanya.
KRAKK!
Aku mematahkan pergelangan tangannya dengan satu sentakan ringan. Senjatanya terjatuh sebelum sempat menyalak. Keempat temannya ternganga, mencoba mengarahkan senjata mereka ke arahku, tapi bagi mereka, gerakanku hanyalah bayangan hitam yang melesat.
Aku menghantam ulu hati pria kedua, membuatnya terpental menabrak mobil berkarat hingga besinya penyok. Pria ketiga mencoba menebas dengan pisau, tapi aku menangkap lengannya dan menggunakan momentumnya untuk membantingnya ke aspal hingga pingsan.
"Monster! Dia monster!" teriak salah satu dari mereka yang masih memegang pistol.
Dia menembak membabi buta. Pelurunya lewat hanya beberapa milimeter dari telingaku. Panas peluru itu memicu insting "Predator" dalam diriku untuk bertindak lebih jauh. Aku mencengkeram kerah bajunya, mengangkatnya ke udara, dan menatap matanya yang penuh ketakutan.
"Logikanya," kataku dengan suara yang serak dan berat, "jika kamu menembak tanpa perhitungan, kamu hanya membuang peluru... dan nyawamu."
Aku memukulnya hingga dia tidak lagi bisa berdiri. Dalam waktu kurang dari lima detik, kelima penjarah itu sudah terkapar di aspal. Aku tidak membunuh mereka—bukan karena aku kasihan, tapi karena suara tembakan tadi pasti sudah mengundang sesuatu yang lebih buruk dari kegelapan kota.
"Sepuluh..." Kurumi membuka matanya, suaranya gemetar.
Dia melihat sekeliling. Jalanan yang tadinya penuh ancaman kini hanya menyisakan rintihan kesakitan dari kelompok penjarah itu. Dia menatapku, matanya membesar saat melihat urat hitam di leherku berdenyut lebih kencang dari sebelumnya.
"Zidan... kamu... kamu cepat banget," bisiknya. Dia berjalan mendekat, ingin memegang tanganku tapi ragu-ragu.
"Ayo pergi. Darah mereka akan memicu gerombolan zombi di sekitar sini," kataku sambil menarik napas dalam, memaksa jantungku kembali normal. Urat-urat itu perlahan meredup.
Aku mengambil tas ransel milik pemimpin mereka yang berisi radio dan beberapa kaleng makanan. "Kita butuh informasi dari radio ini."
"Tapi mereka... apa mereka bakal selamat?" tanya Kurumi sambil melirik orang-orang yang tergeletak itu.
"Tergantung keberuntungan mereka. Di dunia ini, naif adalah penyakit yang mematikan, Kurumi," balasku dingin. "Kita harus sampai ke gedung apartemen itu sebelum matahari terbit."
Kami berlari menembus gang-gang sempit, meninggalkan persimpangan berdarah itu. Dari kejauhan, aku mendengar suara raungan yang nyaring—suara Screamer yang disebutkan penjarah tadi.
Daratan utama ini benar-benar medan perang yang berbeda. Dan aku baru saja menunjukkan taringku yang sebenarnya.
Catatan Penulis:
Chapter 32 menunjukkan betapa drastisnya peningkatan kekuatan Zidan. Dia bukan lagi sekadar penyintas cerdas, tapi sudah menjadi ancaman nyata bagi siapapun yang menghalangi jalannya. Konflik batin Kurumi mulai terlihat; dia bergantung pada Zidan, tapi di saat yang sama, dia mulai takut akan sosok monster yang bersembunyi di balik logika dingin Zidan. Daratan Utama bukan lagi tempat untuk bermain-main.