NovelToon NovelToon
“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anita Banto

Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33

Kata-kata Fiona benar-benar melukai hati Amara, hingga rasa sakit itu berubah menjadi amarah yang meledak.

"Kau mengancamku?" Amara mendorong bahu Fiona, melangkah maju dengan tatapan tajam yang mengintimidasi. "Kamu pikir kamu siapa, berani bicara begitu padaku?"

Amara mendorong Fiona sekali lagi. Ia mengatupkan rahang kuat-kuat dan mengepalkan tinju, berusaha sekuat tenaga menahan emosi yang hampir meluap. Namun, karena Fiona terus-menerus memancing keributan, Amara merasa kesabarannya sudah habis.

"Fiona, kurasa sudah cukup—" Bethany mencoba menenangkan situasi, tetapi Fiona langsung memotong pembicaraannya dengan tatapan tajam.

"Diam kamu!" bentak Fiona. Ia menatap Bethany dengan kebencian yang hampir setara dengan kebenciannya pada Amara. Sebenarnya, Amara tetaplah yang paling ia benci; ia hanya kesal karena tidak terbiasa melihat ada orang yang membela wanita itu.

Lagipula, Fiona benar-benar muak dengan perubahan sikap Amara yang tiba-tiba selama tiga bulan terakhir. Amara seolah menjadi orang yang sepenuhnya berbeda—lebih berani dan tak terduga. Bagi Fiona, perubahan itu sangat mengganggu, seperti melihat seseorang merusak pagi indahnya dengan sengaja.

Ia kembali berbalik menatap Amara, lalu mencibir, "Asal kamu tahu ya, kamu itu sombong sekali. Padahal, kamu tidak lebih dari sekadar pemuas nafsu bagi para pria tua itu."

"Fiona, cukup!" Tobias memperingatkan. Namun, Fiona mengabaikannya. Ia tidak peduli pada amarah yang mulai berkecamuk di balik wajah Amara yang tampak tenang namun sedingin es.

"Sebelum kamu jadi terlalu sombong, biar kuingatkan satu hal," Fiona melangkah maju, memperpendek jarak hingga melewati batas kesabaran Amara. Ia menatap mata Amara dengan penuh tantangan, bahkan dengan angkuh menyentil dahi Amara.

"Dulu, kamu itu di bawah telapak kakiku. Kamu makan sisa makanan, minum susu basi, dan terus-menerus memohon supaya aku tidak menyuruh kakakku menceraikanmu. Kamu bahkan rela berdiri berjam-jam di bawah guyuran hujan hanya untuk memelas padaku," Fiona menyeringai tajam. "Di hadapanku, kamu tak lebih dari seekor anjing—seorang budak. Jadi, jangan berani-berani—"

PLAK!

Belum sempat Fiona menyelesaikan kalimatnya, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kirinya. Suaranya begitu nyaring hingga membuat telinga berdenging.

Bethany dan Tobias terpaku di tempat, namun keterkejutan mereka tak sebanding dengan syok yang dirasakan Fiona. Sebelum Fiona sempat menyadari apa yang terjadi atau meredakan denging di telinganya, Amara kembali melayangkan tamparan keras di pipi kanannya.

Kekuatan tamparan itu begitu hebat hingga Fiona tersandung ke belakang. Namun, Amara belum selesai. Ia menyambar tangan Fiona, menariknya maju dengan paksa, dan kembali mendaratkan tamparan telak di pipi Fiona yang sudah memerah perih.

"Seekor anjing, katamu? Nah, pernahkah kamu melihat anjing gila? Dengan senang hati akan kutunjukkan padamu," bisik Amara dingin. Suaranya merayap ke telinga Fiona tepat sebelum sebuah tamparan keras kembali mendarat, membuat telinga wanita itu berdenging tuli.

Beberapa tamparan brutal menyusul hingga Fiona tersungkur. Sebelum Amara bisa melangkah lebih jauh, Tobias tiba-tiba menarik adiknya menjauh dan mencengkeram kedua pergelangan tangan Amara untuk menahannya.

"Amara, berhenti! Sudah cukup! Kubilang berhenti, Amara!" teriak Tobias untuk memecah kemarahan Amara. Namun, begitu mata mereka bertemu, Tobias seketika merasa menyesal telah ikut campur.

"Apa?" Amara menatapnya tajam, napasnya memburu. "Kamu mau membela adikmu? Mau jadi pahlawan untuknya?" Sarkasme dalam suara Amara begitu menyengat, membuat perasaan Tobias mendadak layu dan merasa lebih buruk dari sebelumnya.

Mendengar penderitaan yang dialami Amara di tangan adiknya saja sudah cukup menyakitkan, namun cara Amara menatapnya saat ini membuat hati Tobias mencelos—sebuah perasaan asing yang menyesakkan dada.

Amara menyentakkan pergelangan tangannya hingga terlepas dari cengkeraman Tobias. "Suami yang hebat, ya? Berjuang demi kehormatan istrinya," ucapnya dengan nada mengejek. "Oh, tunggu, aku hampir lupa—kita kan sudah cerai. Kamu bahkan tidak peduli sedikit pun padaku saat kita masih bersama, jadi tidak mungkin kamu peduli sekarang."

Tobias terdiam, menatap dalam ke mata Amara. Di bawah cahaya yang redup, ia bisa melihat kebencian yang berkilat tajam di sana.

"Apakah kamu... benar-benar membiarkan dirimu direndahkan seperti itu selama ini? Semua itu demi apa?" tanya Tobias lirih.

"Bukan karena cinta, apalagi demi kamu," potong Amara cepat. "Aku hanya ingin menepati janji pada Kakek. Tapi sekarang sudah tidak perlu lagi, kan?"

"Sudah tidak perlu?" Tobias mengulanginya dengan bingung.

"Ya. Lagipula, semuanya sudah berakhir. Kamu, keluargamu, dan pernikahan kita yang gagal itu—semuanya sudah jadi masa lalu. Jadi, sebaiknya kamu menjauh dari hidupku," Amara mengalihkan pandangannya ke arah Fiona yang masih berdiri mematung sambil memegangi pipinya yang bengkak. "Dan selagi kamu di sana, pasang tali leher pada anjingmu itu."

Tanpa menoleh lagi, Amara berbalik dan melangkah pergi dengan anggun, meninggalkan keheningan yang mencekam.

"Amara, tunggu!" Bethany segera berlari mengejar, meninggalkan Tobias yang masih terpaku menatap punggung mantan istrinya yang kian menjauh.

Meski bukan Tobias yang menerima tamparan-tamparan itu, ia merasa hancur. Rasa bersalah menghujam dadanya, dan yang paling menyesakkan adalah kenyataan pahit yang baru saja terbuka di depan matanya—sebuah kebenaran yang selama ini ia abaikan.

"Tobias..." Suara Fiona memecah keheningan, memaksa kakaknya menoleh. Fiona berdiri di sana, memegangi pipinya yang bengkak dengan air mata yang mengalir deras.

"Apa kamu diam saja? Kamu membiarkannya pergi setelah dia memukulku? Ini tidak adil! Dia tidak boleh lolos begitu saja! Lakukan sesuatu, Kak!"

"Adil? Kamu serius menanyakan soal keadilan?" Nada suara Tobias begitu dingin, dibarengi tatapan mata yang sangat gelap hingga sanggup membuat nyali Fiona menciut seketika.

Tobias melangkah maju, mencengkeram lengan adiknya dengan kuat, dan menariknya hingga wajah mereka sejajar. "Aku tidak pernah menyangka kamu bisa sejahat ini, Fiona. Aku memberimu segala yang terbaik dalam hidup—hal-hal yang bahkan tidak bisa diberikan Ayah—karena kupikir itu akan menjagamu agar tidak tersesat. Tapi ternyata, kamu malah menyalahgunakan semua hak istimewa itu."

Tobias menatap adiknya dengan tatapan kecewa yang mendalam. "Dan yang paling menyedihkan, kamu melakukan semua kekejian ini di belakangku. Sekarang katakan, bagaimana perasaanmu? Apa ini membuatmu bangga? Apa kamu merasa bahagia? Apa kamu merasa telah mencapai sesuatu yang hebat dalam hidupmu? Jawab aku, Fiona!"

Fiona hanya bisa membisu. Matanya bergerak gelisah ke segala arah, tak sanggup menatap kemurkaan di wajah kakaknya.

"Tatap aku!" tuntut Tobias. "Aku bilang tatap aku, Fiona!" Ia mencengkeram dagu adiknya dan memaksa wajah itu menghadapnya. Jari-jarinya menekan kuat tepat di pipi Fiona yang masih terasa panas dan perih.

"Jawab aku! Apa begini caraku membesarkanmu dengan susah payah? Inikah yang kamu lakukan dengan semua hak istimewa yang kuusahakan siang dan malam untukmu?"

Keheningan Fiona sudah cukup menjadi jawaban bagi Tobias. Untuk sesaat, kilat rasa kasihan sempat melintas di mata pria itu, namun perasaan itu padam bahkan sebelum Fiona sempat menyadarinya.

Tobias mendorong adiknya menjauh dengan kasar. "Kamu benar-benar telah mengecewakanku, Fiona."

Kata-kata Tobias barusan terasa seperti jarum yang menusuk kulit Fiona. Selain ibunya dan mendiang ayah mereka, Tobias adalah satu-satunya orang yang paling ingin Fiona buat bangga. Baginya, Tobias bukan sekadar kakak laki-laki; dia adalah pelindung dari perundung di sekolah, penghibur di saat sulit, dan sosok yang mencintainya tanpa syarat. Tobias adalah idolanya. Mengetahui bahwa ia telah mengecewakan kakaknya rasanya seperti kehilangan satu-satunya sumber kekuatannya.

"Kak..." isaknya dengan mata sembap. Ia menjulurkan tangan, mencoba meraih tangan kakaknya dengan harapan Tobias akan menyambutnya seperti biasa. Namun, tangan Tobias tetap kaku di samping tubuhnya, dan tatapan matanya telah kehilangan kehangatan yang selama ini selalu ada di sana.

"Begitu sampai di rumah, kemas barang-barangmu," ucap Tobias dingin. "Aku lebih baik mengirimmu ke luar negeri untuk menyelesaikan studimu daripada harus berdiri di sini melihatmu melakukan kesalahan yang akan menghancurkan hidupmu selamanya."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Tobias berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Fiona yang terisak sendirian di tengah kehampaan.

######

Amara merasa sangat muak, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih besar. Mengingat kembali masa-masa sulit yang ia derita dalam diam rasanya seperti Fiona sengaja menaburkan garam di atas luka lama yang belum sembuh.

Bethany, yang menyadari suasana malam mereka makin suram, segera mengusulkan agar mereka mencari hiburan di tempat lain. "Ayo ke Giovanni’s," ajaknya.

Awalnya, Amara tidak terlalu tertarik. Namun, ia menyadari bahwa melakukan apa pun jauh lebih baik daripada terus dihantui kenangan pahit itu. Ia pun setuju.

Baru tiga puluh menit di Giovanni’s, Amara sudah mabuk berat. Melihat kondisi sahabatnya, Bethany mulai menyesali sarannya tadi.

"Aku baik-baik saja... Aku nggak mabuk," racau Amara saat Bethany membimbingnya menuju mobil.

"Ya, aku bisa lihat seberapa 'baik-baik saja' dirimu," balas Bethany dengan nada sangsi.

Dengan hati-hati, Bethany membaringkan Amara di kursi penumpang, lalu bergegas ke kursi pengemudi. Untungnya, drama di Disco Cove tadi membuatnya sadar sepenuhnya. Karena tahu ia harus menyetir, Bethany hanya meminum air putih dan minuman ringan selama di Giovanni’s.

Ia pun menyalakan mesin dan berkendara menuju apartemen Amara. Setibanya di area parkir, Amara sudah meracau tidak jelas karena pengaruh alkohol.

Bethany memapah Amara keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu depan. Namun, langkahnya terhenti karena terkejut. Seseorang sudah menunggu di depan pintu, dan orang itu tidak lain adalah Tobias.

1
Yuli Yulianti
amara kamu perempuan yg bersifat pinplan apa apa minun yg membuk kan sekali ud mabuk bikin hal yg memalukan seolah kamu masih istri dihadapan mantan suami
nia febriyani
mantap
Virgo Non
kurang keren harusnya amarah lebih dinginlebih waspada dan lebih menghancurkan apalagi nama besar keluarganya cukup di hormati
Mundri Astuti
bethany menyesatkan nih...
tuk Amara mending kamu rehat menjauh dari hal" yg berhubungan dgn tobias dan keluarganya, klo mabuk"an malah jadi masalah baru lagi nanti klo ketemu tobias
Yuli Yulianti
lama lama muak juga liat tobias selalu ad di sekitar Amara
azzura faradiva
bosen banget dimana² si para benalu slalu nongol
Yuli Yulianti
knp sih ad tobias disekitar Amara coba dong cowok lain yg lebih berkuasa yg mendekati Amara kan nie judul kehilangan setelah bercerai masa ad mantan trus disekitar Amara
azzura faradiva
semoga saja kakaknya Bethany seorang pria dan bisa mengambil hati seorang Amara❤️💞
azzura faradiva
keren sich ceritanya,tapi masa iya Amara harus kembali lagi sama tobias nantinya🤔klo bisa untuk season skrg hadirkan pemain pria Baru yg mengisi hari² Amara biar si tobias tambah membara🔥🔥🔥
Yuli Yulianti
jgn mau kembali dgn lelaki yg telah mbuang mu Amara orang meanggap mu murahan yg slalu bisa disentuh ...
S
Lama lama Mara balikan deh itu emosi krn cemburu kan.
S
bagus
merry
herann mntn setiap gundik y dpt mslhh knp Mara yg dislhk,, hrs cari tau gundikmu itu Tobi jgn ssrhh mntn istri Menghntiknn perbuatan y,,, dan kmu Mara ud cerai jgn Mau di tdrinn lhh klo kmrin gpp krn Kena obat kyk gk pyn hrg dri ajj
lovina: gara2 baca komen ini g jd baca, otak othornya gablek
total 1 replies
S
murah dan bodoh miris srkali pewaris terkaya tp terkihat tak berharga.kemana si kakakbya
Lee Mbaa Young
nikmati saja Amara burung Tobias 🤣🤣👎. km kn bucin smp goblok.
Lee Mbaa Young
wanita selalu murah ya bgitu sprti Amara 🤣. Kl Berkelas tinggal banting saja la ini malah mapan 🤣.
S
mara bukan siapa siapa dan apa apa ternyata hanya krn proyek dia haris menyuyak harga dirinya tak sebanding dg sumpahnya yg terkesan hebat.
S
sukurin kau akan menysali tawaran Mela, mara
S
rasain berlagak sempurna.nyatanya di luar expectasi makanya bertindak preventif itu perlu kau.bukan orang super Mara.Sekali berbuat salah fatal akbatnya sdh pernah salah langkah masih sj remeh,ceroboh.
Yuli Yulianti
amara jgn mau kamu jadi tempat napsu nya melawan lah ...
Lee Mbaa Young: 🤣🤣 melawan yo eman to burung Tobias kn enak Amara menikmati kn murah dia. laki dah bgitu masih gk melawan mlh menikmati pdhl dah cerai.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!