Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.
Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.
Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.
୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shooping
...୨ৎ──── C A V E L L ────જ⁀➴...
Walaupun aku ingin menghabiskan seharian di tempat tidur sama Cherry, aku gak bisa.
Para perempuan sudah dikurung di mansion lebih dari sebulan, dan bakal egois kalau aku gak mengajak mereka keluar. Apalagi sekarang Maliki sudah dibereskan.
Saat aku masuk ke ruang makan dengan Cherry di sampingku, bibi Keii langsung tersenyum ke arah kami.
Vloo duduk di kursi yang dulu biasa dipakai Cherry, jadi sekarang dia bisa duduk di kursi di sebelah kiriku.
Aku menarik kursinya dan menunggu sampai dia duduk, lalu mencium kepalanya. Setelah itu aku berjalan mengitari meja, menaruh tangan di bahu Mamma dan mencium bekas luka di pelipisnya.
"Selamat pagi semuanya," gumamku sambil duduk.
Setelah saling menyapa, aku mengumumkan, "Habis sarapan kita keluar."
Vloo mengerang. "Ke mana?"
"Ke mana pun para perempuan mau," gumamku.
"Belanja?" tanya Mamma dengan nada antusias. "Tinggal dua minggu lagi Natal."
Sial. Aku lupa soal musim liburan.
"Belanja, ya," jawabku.
"Lupakan sarapan," gumam bibi Keii sambil berdiri. "Ayo, Dalia, kita bersiap."
Cherry tersenyum melihat para perempuan bergegas keluar dari ruang makan, lalu dia kembali menatapku.
"Kartu kredit Kamu masih ada di aku."
"Itu buat kamu," jawabku.
Livinia datang membawa sarapan dan menaruh omelet serta bacon di depanku.
"Terima kasih," kata Cherry saat menerima makanannya. "Kelihatannya enak."
"Apa yang bisa aku bawakan untuk diminum, Tuan Rose?" tanya Livinia.
"Kopi."
"Aku juga kopi," kata Cherry. Dia menepuk pahaku di bawah meja lalu menambahkan, "Tolong."
Aku menatapnya sebentar sebelum sadar dia menungguku mengucapkan terima kasih ke Livinia.
Aku menoleh ke arah pengurus rumah itu. "Makasih, Livinia."
Dia terlihat kaget. Matanya membesar.
"Oh... ah... tentu, Tuan Rose. Sama-sama."
Aku melihatnya buru-buru keluar dari ruang makan sebelum aku mengambil alat makan dan mulai memotong omelet. Keheningan jatuh di sekitar kami saat kami menikmati makanan.
Saat aku selesai, aku meneguk kopi pahit aku sambil melihat Cherry memasukkan dua gula ke dalam kopinya. Gak heran dia rasanya semanis itu.
Vloo berdiri. "aku siapkan pengawal."
aku mengangguk.
Saat Vloo dan Riffe keluar dari ruang makan, aku mengambil tangan Cherry yang bebas.
"Ada sesuatu yang perlu Kamu beli?"
Dia menggeleng. Setelah menelan kopi, dia menjawab, "Cuma produk kebersihan."
Supaya gak ada salah paham, aku berkata, "Gunakan kartu kredit itu untuk semuanya."
Dia mengangguk lagi.
"Rekening bank Kamu ada di Malaysia?" tanyaku.
Dia menggeleng. "Rekening dolar di Payoneer."
"Kita harus buka rekening buat Kamu di Jakarta supaya aku bisa transfer rupiah."
Alisnya terangkat.
"Buat apa?"
"Buat apa pun yang Kamu butuhkan."
"Oh... tapi aku sudah punya kartu kredit," bantahnya.
Aku menghela napas. "Kamu milik aku, Cherry. Artinya aku yang menanggung hidup kamu. Kamu perlu dana cadangan."
"Apa..." Dia gak menyelesaikan kalimatnya. Wajahnya menegang saat dia berbisik, "Kalau Kamu mati?"
Jarinya mencengkeram tanganku dan dia mengalihkan pandangan.
"Itu gak akan terjadi," kataku untuk menenangkannya.
Dia menaruh cangkir kopinya di meja lalu menundukkan kepala. "Aku benar-benar berharap begitu."
"Ke sini," perintah aku sambil mendorong kursi ke belakang.
Dia berdiri dan aku menariknya duduk di pangkuanku. aku memegang dagunya dan mengangkat wajahnya supaya dia menatapku.
"Aku gak akan pergi ke mana-mana dalam waktu dekat."
"Oke," bisiknya sambil melingkarkan tangan di leherku.
Aku memeluknya erat. aku sadar dia sangat terguncang hanya dengan membayangkan aku mati. Lebih banyak rasa sayang memenuhi dadaku. aku mencium bahunya lalu sisi lehernya.
"Lihat aku."
Dia menjauh sedikit. Saat matanya bertemu dengan mataku, aku berkata, "Aku punya seluruh Marunda di belakangku. Butuh pasukan besar untuk menjatuhkanku."
Dia menyentuh daguku lalu mencium bibirku dengan lembut.
"Aku cuma gak mau kehilangan kamu."
Sial. Jantungku.
Aku mendekatkan wajah kami dan mencium dia dengan lembut, tapi kami terhenti saat Mamma dan bibi Keii berlari masuk ke ruang makan.
"Kami sudah siap... oh sayang... kami bisa nunggu," kata bibi Keii sambil mendorong Mamma kembali ke pintu.
Wajah Mama terlihat bingung. "Kenapa?"
"Mereka sedang berciuman," bisik bibi Keii.
Aku tertawa lalu mengangkat Cherry dari pangkuanku. Kami berdiri.
Aku menggenggam tangannya. "Ayo."
Saat kami keluar rumah, lima SUV sudah menunggu di depan.
"Kita di SUV ketiga," kataku.
Bibi Keii naik ke SUV kedua. Saat Riffe membawa Mamma ke mobil lain, aku merasakan sedikit sakit di dada.
Sekarang aku sudah bertunangan dengan Cherry, dia harus menjadi prioritas dibanding Mama aku. Aku berharap bisa membawa mereka berdua bersama, tapi risikonya terlalu besar.
Kalau kami terpisah, setidaknya beberapa dari kami bisa selamat jika ada serangan.
Aku membiarkan Cherry masuk ke kursi belakang dulu sebelum duduk di sampingnya.
"Kenapa mama Kamu dan Nyonya Persiie di mobil berbeda?" tanyanya.
"Itu tindakan pencegahan," jelasku.
Vloo duduk di kursi pengemudi dan Nikki, salah satu pengawal aku, di kursi depan.
Dengan empat belas pengawal yang melindungi kami, konvoi SUV mulai bergerak menuju gerbang. Saat gerbang terbuka, kami melewati jalan sempit yang diapit pepohonan.
"Kita di mana?" tanya Cherry.
"Shelter. Kita harus naik feri dulu untuk sampai ke Kapok Beach."
Dia tertawa.
"Aku masih gak tahu aku ada di mana."
aku mengambil HP dan membuka peta lalu menunjukkannya ke dia.
"Kita di sini."
"Kelihatannya jauh dari SCBD," katanya.
"Itu sebabnya aku pakai helikopter."
Dia bersandar di sampingku dan melihat keluar jendela.
"Di sini tenang."
"Itu memang rencananya," gumamku.
Dia menoleh ke aku.
"Kamu sering bikin pesta di mansion?"
"Empat bos lain dari Marunda kadang datang buat main poker. Biasanya kami bertemu di SCBD. Aku juga punya rumah lain dan penthouse di sana."
"Itu tempat Kamu tinggal kalau gak bersama kami?" tanyanya.
Aku mengangguk, mataku tetap memperhatikan pepohonan saat kami menuju feri.
"Gak banyak orang tahu lokasi mansion ini," tambahku.
"Siapa saja?"
"Para kepala keluarga lain. Para pengawal. Bibi dari pihak Papaku. Dan Luke."
Kerutan muncul di dahinya.
"Luke akan datang ke pernikahan?"
Aku menggeleng. "Gak. Aku gak bakal undang mereka!"
"Aku juga," katanya setuju.
"Setelah pernikahan, aku mau semua tamu pulang secepat mungkin."
Supaya aku bisa sendirian dengan istri aku.
Aku melingkarkan lengan di bahunya dan menariknya lebih dekat.
"Kita akan menikah sebelum Natal," kata aku.
"Itu kurang dari dua minggu lagi," desahnya.
"Dua minggu lebih," gumamku.
Aku juga harus mengundang para kepala keluarga lain supaya bisa memperkenalkan mereka ke Cherry. Masih banyak yang harus dibereskan.
...***...
"Apa yang sebenarnya aku pikirin?" geramku ke Vloo.
"Kamu yang harus jawab itu," gumamnya sebelum menghela napas. "Kamu sendiri yang mutusin bawa mereka belanja. Sekarang kita cuma ngikutin para perempuan itu kayak dua anjing tersesat, sementara mereka berpindah dari satu toko ke toko lain."
Para pengawal terus bolak-balik membawa kantong belanja ke SUV. aku bahkan mulai khawatir apakah semua barang itu masih muat.
"Astaga!" Aku mendengar Cherry mendesah, dan mataku langsung mengikuti arah pandangannya.
Aku mendekat dan melihat pakaian yang sedang dia perhatikan.
Sebuah jumpsuit transparan dipakaikan pada manekin. Hanya ada beberapa potongan kain tipis yang menutupi dada dan bagian bawahnya.
Seksi sekali.
Mataku kembali ke wajah Cherry dan aku langsung menggeleng. "Langkahi dulu mayatku!"
Dia memegang tanganku dan menatapku memohon.
"Aku bakal pakai jaket di atasnya. Semua bagian intim tetap tertutup."
Tuhan.
Aku menghela napas panjang lalu akhirnya menyerah dan mengangguk.
"Yey makasih!"
Dia melingkarkan tangannya di tengkukku, berdiri berjinjit, menarik kepalaku turun untuk menciumku sebelum berlari masuk ke toko.
Vloo tertawa.
Aku langsung melemparkan tatapan tajam ke arahnya. Dia langsung berhenti tertawa dan pura-pura memeriksa sekitar seperti mencari ancaman.
Saat kami keluar dari pusat perbelanjaan, aku benar-benar kelelahan dan hari sudah gelap.
Tapi para perempuanku terlihat sangat bahagia.
Saat aku kembali ke SUV dengan Cherry di sampingku, aku bertanya, "Kamu menikmati shoping tadi?"
"Banget!"
Dia mengusap pahaku naik turun, dan aku benar-benar menikmati sentuhan itu.
"Terima kasih."
"Sama-sama, api kecilku," gumamku sebelum bersandar di kursi dan menutup mata.
Cherry menggenggam tanganku lalu melingkarkan lengannya yang lain di pinggangku saat dia bersandar ke arahku.
Dia gak mencoba mengajakku bicara selama perjalanan pulang. Dia hanya memelukku.
Seperti malam sebelumnya, aku kembali merasakan ketenangan hanya karena dia ada di sampingku.
Entah bagaimana, dia punya kemampuan untuk mengisi kembali energiku setelah hari yang melelahkan.