NovelToon NovelToon
Biarkan Aku Pergi

Biarkan Aku Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Novi Setyowati

Menjadi istri kontrak Sagara bukanlah hal mudah bagi Amara. Pria itu masih mencintai kekasihnya yang menghilang seminggu sebelum pernikahan mereka, sementara pernikahan ini hanyalah kesepakatan demi kepentingan masing-masing.

Mereka berjanji untuk tidak saling jatuh cinta. Namun kebersamaan perlahan mengaburkan batas itu.

Di tengah hubungan yang semakin rumit, Denisa kembali sebagai bom waktu yang siap menghancurkan pernikahan mereka kapan saja. Belum lagi Dirga, kakak Sagara, yang misterius dan terus berusaha menjauhkan Amara dari adiknya seolah menyimpan rahasia besar tentang dirinya.

Saat cinta, pengkhianatan, dan rahasia keluarga mulai terungkap, mampukah Amara dan Sagara bertahan pada perjanjian mereka? Atau perpisahan memang sudah menunggu sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Setyowati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang Baru

Entah mengapa, selepas kepulangan Sagara, hari terasa berjalan terlalu cepat seolah waktu sengaja bersekongkol melawannya. Malam yang sejak sore berusaha ia hindari, justru datang lebih awal dari yang diharapkan.

Selepas makan malam, Amara terus mondar-mandir di dapur. Semua peralatan makan sudah bersih, meja sudah rapi, bahkan lantai sudah ia lap dua kali. Namun, kedua kakinya masih enggan berhenti bergerak. Ia terus mondar-mandir di dapur sangat gelisah.

Amara mulai membayangkan harus kembali tidur satu kamar dengan Sagara. Itu sudah pasti membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Mereka memang pernah berkali-kali berada dalam satu ruangan, entah di rumah sakit, di hotel, atau di kediaman Hendratama. Pernah berbagi malam yang panjang. Namun, kamar utama terasa berbeda—lebih sakral sekaligus intim. Dan rasanya, jauh lebih berbahaya bagi pertahanan hatinya.

Drrttt drrrttt

Ponsel Amara yang tergeletak di meja makan pun bergetar. Ia melirik dan melihat nama Sagara terpampang di layar. Dengan segera, ia pun mengangkat panggilan dari suaminya itu.

"Mau berapa lama lagi jadi komedi putar di dapur?" tanya Sagara tanpa basa-basi.

"Heh?!" sahut Amara sambil celingukan seperti maling ketangkap basah.

"Nggak usah cari aku! Aku nggak ke mana-mana. Yang penting sekarang bawa botol minum ke kamar dan segera tidur," perintah Sagara lirih namun penuh penekanan.

"Ha?" timpal Amara terperangah.

"Cepat naik. Aku berdiri di samping tangga. Nunggu kamu dari tadi. Ayo bantu aku balik ke kamar. Kakiku pegal sekali," pinta Sagara dengan nada memaksa.

Amara sontak mendongak. Dan benar saja, Sagara berdiri di ujung tangga sambil menatap ke arahnya. Jantungnya langsung melonjak. Ia buru-buru mematikan telepon, mengambil botol air dari kulkas, lalu hampir berlari menaiki tangga.

Sesampainya di atas, ia segera menghampiri Sagara dengan canggung bercampur cemas.

"Ngapain berdiri di sini sih, Mas? Kan bisa nunggu di kamar," protes Amara sambil menopang lengan Sagara.

Sagara tersenyum tipis, "Habisnya kamu lama banget. Aku ke sini buat memastikan kalau kamu nggak pingsan kekenyangan."

"Aih... Kurang kerjaan," ujar Amara sambil terus membimbing Sagara menuju kamar.

"Emang... Bosen aku nggak ada kerjaan," keluh Sagara, "Boleh manjain kamu nggak? Biar aku ada kerjaan gitu."

Sontak saja, langkah Amara terhenti. Di waktu yang sama, tangannya tergerak refleks mendorong tubuh Sagara.

Brrukk!

Sagara bahkan tak sempat menyadari apa yang terjadi ketika tubuhnya mendadak terdorong. Ia jatuh terduduk dengan posisi setengah terjengkang hingga lututnya aman dari benturan. Namun, pinggangnya terpaksa menjadi korban.

"ARA!" seru Sagara spontan tangannya memegangi pinggang.

Amara langsung pucat. Ia langsung duduk berlutut di depan Sagara. Ia pun mulai memeriksa keadaan suaminya.

"Astaga!" teriak Amara panik, "Mas Aga, aku nggak sengaja."

Sagara meringis menahan nyeri di pinggangnya yang mulai mereda.

"Apa menyiksaku jadi hobi barumu?" tanya Sagara sambil mencoba berdiri.

"Abisnya Mas Aga ngagetin aja loh. Makanya mulutnya dijaga. Untung aja nggak kutampar bibirmu itu," jawab Amara membela diri untuk menutupi rasa bersalahnya.

Sagara sampai terdiam. Logika istrinya benar-benar sulit dipahami. Melihat ia kesulitan berdiri, Amara buru-buru meraih lengannya dan membantu menopang tubuhnya.

"Nggak nampar, tapi bikin pinggang patah. Masih bilang untung aja? Ada dendam apa kamu sama aku loh?" omel Sagara sambil menyorot tajam ke Amara.

Amara langsung salah tingkah ditatap Sagara sedemikian dalam. Tatapan yang belakangan semakin sering membuatnya gugup. Tanpa sadar, telapak tangannya naik menutupi mata Sagara.

"Jangan lihat aku begitu," larang Amara mati kutu.

Sagara mengernyit, "Loh?"

"Liat lurus depan aja," suruh Amara sambil menahan wajah Sagara agar tak menoleh ke arahnya.

"Ara," protes Sagara bingung, "Kamu sadar nggak sih?"

"Apa?" sentak Amara pura-pura badung.

"Kamu yang dorong aku," seru Sagara.

Amara langsung pura-pura tidak dengar.

"Ya udah. Maaf, ya, Mas... kalau aku ada salah," ucap Amara masih berkelit.

"Kalau ada salah? Kamu nggak merasa bersalah gitu?" tutur Sagara tak menyangka istrinya seberani itu padanya.

"Iya makanya jangan ngomong sembarangan. Aku udah bilang, yang sewajarnya aja," protes Amara tak mau mengakui kesalahannya.

Sagara menghela napas panjang. Lalu, tiba-tiba, ia menggeser tubuh dan berdiri tepat di depan Amara.

Amara pun terpaku seketika. Tatapan mereka bertemu. Dan mendapati Sagara sedang menatapnya sangat serius, sekujur tubuhnya pun menegang. Terlebih saat senyum di wajah lelaki itu lenyap, keberaniannya kabur entah ke mana.

"Iya aku cuma mau manjain kamu. Apa itu nggak wajar?" tanya Sagara dengan nada rendah.

Amara menggigit bibir. Ia pun menunduk tak berani menatap Sagara lagi. Kebaikan lelaki itulah yang sering membuatnya makin takut.

"Mas Aga, aku ini cuma istri kontrak. Tolong jangan kasih beban moral lebih dari yang kusanggup," jawab Amara lolos begitu saja.

Ekspresi Sagara berubah masam, "Ara, lihat aku!"

Amara pun mengangkat wajah perlahan.

Sagara pun sudah siap menangkap tatapan Amara. Ia makin menajamkan tatapan kepada sang istri. Lalu, ia mengangkat kedua tangan dan memegang wajah Amara pelan.

"Ulangi!" mandat Sagara dengan suara berat dan bergetar seolah menahan sesuatu.

"Mas Aga, kita jangan terlalu dekat. Nanti kalau kontrak kita selesai, biar mudah perginya," tutur Amara dengan nada merendah dan tatapan melunak.

Sagara memejamkan mata selama beberapa detik untuk menata pikirannya. Kemudian, matanya membuka dan langsung menatap Amara dengan sendu. Ibu jarinya pun bergerak mengusap pipi Amara dengan sangat lembut.

"Ara, ini terakhir kali kuperingatkan," ucap Sagara penuh penekanan.

Amara terdiam makin tegang.

Lalu, Sagara melanjutkan dengan nada lebih tegas, "Lupakan soal kontrak! Mari belajar sembuh bersama. Aku tahu, kita sama terlukanya."

"Mas..." sela Amara dengan mata berkaca-kaca.

"Pokoknya, kita jalani saja sebagai diri sendiri, bukan sebagai istri kontrak atau suami kontrak. Kita jalani sebagai Sagara Hendratama dan Amara Prameswari," sambung Sagara memancarkan keyakinan utuh di matanya.

"Mas Aga..." rintih Amara sambil memegang pinggang Sagara.

"Ara, bagaimanapun takdir membawa kita nanti, cukup jalani hari sebaik-baiknya. Kita cukup saling support agar bisa berdamai dengan segala luka yang kita terima," pungkas Sagara sambil tersenyum tipis.

Batin Amara tersentak hebat. Tangisnya pecah seketika. Semua rasa sakit tentang Raka yang selama ini ia tekan, akhirnya menemukan jalan keluar. Ia dihantam berbagai fakta yang akhirnya tak dapat dinafikan lagi. Fakta bahwa Raka telah menikah. Bahwa lelaki itu telah menghamili perempuan lain. Dan semua kenangan yang dulu ia jaga, ternyata tak berarti apa-apa.

Kesadaran Amara benar-benar terpukul dan perasannya tercabik-cabik tanpa ampun. Meski ia tak mungkin menerima Raka lagi namun tetap saja tak bisa melawan sakit hati.

"Mas Aga..." rintih Amara dengan air mata yang menyungai deras di pipinya.

Sagara pun maju satu langkah. Ia langsung menarik tubuh Amara ke dalam pelukannya—tanpa ragu, tanpa jarak.

"Nggak apa. Nangis aja," titah Sagara lembut, "Aku di sini buat kamu."

Ucapan Sagara pun membuat Amara makin terisak.

"Aku nggak mau nangisin cowok brengsek itu," rengek Amara dengan air mata yang mengkhianati mulutnya sendiri.

"Iya," sahut Sagara formalitas.

"Nggak mau pokoknya," tegas Amara.

Sagara menahan senyum.

"Terus, ini kalau nggak nangis namanya apa?" goda Sagara sambil nepuk-nepuk punggung Amara.

Amara langsung memukul pelan dada Sagara.

"Ini namanya mengeluh aja. Mengeluarkan penat biar nggak gila," dalih Amara.

"Iya. Aku paham," sahut Sagara mengalah, "Nggak apa. Nangis juga nggak apa. Nangis karena kamu terluka, bukan karena melepas dia."

Amara mendongak dengan tatapan manja yang masih berurai air mata.

"Huwaaa... Huwaa..." tangis Amara pecah makin histeris, "Mas Aga, lindungi aku dari cowok buaya itu!"

Sagara pun mengusap punggung Amara lembut, "Iya. Kalau dia mengganggumu lagi, aku pukul dia."

"Jangan!" potong Amara.

Sagara langsung melepas pelukan dan menatap Amara tak percaya, "Kamu masih membela cowok itu?"

"Bukan begi..." kilah Amara.

Sagara mengerutkan kening, "Sebucin itu kamu?"

"Mak...sud...ku," sahut Amara terbata-bata oleh isaknya sendiri, "Jangan cuma pukul. Bunuh aja sekalian biar jera."

Mendadak, lantai dua rumah Sagara diselimuti keheningan.

Tok!

Satu jitakan Sagara pun mendarat di kening Amara pelan. Sementara, yang dijitak hanya cemberut dan mengusap keningnya.

"Astaga, otakmu bisa sekriminal ini. Siapa yang mengajari?" tanya Sagara menahan senyum.

"Udah jangan banyak tanya lagi. Aku lagi meregulasi emosi ini," jawab Amara sambil berusaha mengatur napas.

"Gayamu, Ra, Ra," ledek Sagara gagal menahan tawa.

"Udah. Kalau kamu ngomel terus, aku nggak kelar-kelar ini," kilah Amara sambil menyeka air mata.

Tak lama kemudian, mereka pun tertawa bersama—di antara luka yang belum sepenuhnya pulih, di antara perasaan yang belum sepenuhnya terucap. Namun perlahan, keduanya mulai belajar bahwa sembuh tidak selalu berarti melupakan. Kadang, sembuh berarti menemukan seseorang yang bersedia tinggal sampai rasa sakit itu tidak lagi terasa menakutkan.

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!