"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."
Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.
Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Primadona Terjebak
“Dasar wanita jalang! Tunggu pembalasanku!”
Kamalia meremas gaun mahalnya, matanya memerah menahan amarah yang meledak-ledak. Reputasinya hancur dalam sekejap. Kehilangan posisi sebagai calon istri keluarga Gavriel bukan sekadar kerugian materi, tapi penghinaan mutlak.
Di tengah gejolak emosinya, Angel mendekat. Senyum licik terukir di bibirnya.
“Kalau aku jadi Nona Kamalia, pasti udah kuhabisi gadis itu dari tadi,” bisik Angel, racun dalam ucapannya begitu terasa.
Kamalia menoleh tajam. “Apa maksudmu?”
“Aku bisa bantu Nona untuk menyingkirkannya. Kita punya musuh yang sama, bukan?” Angel mengulurkan tangan. “Anggap aja ini kerja sama untuk kebersihan jalan kita.”
Tanpa ragu, Kamalia menyambut tangan itu. “Lakukan. Buat dia lenyap dari hadapanku. Kalau berhasil, aku akan memberimu segalanya.”
Sementara di podium, suasana makin mencekam. Arlan masih berdiri tegak, sementara Hustan—sang kakek—terus membombardir Mika dengan kata-kata keji.
“Apa yang kamu lihat dari anak ini, Arlan?! Dia nggak punya martabat! Sama persis dengan ibumu, wanita murahan yang gila harta!”
Mika, yang bersembunyi di balik punggung Arlan, hanya bisa menunduk gemetar. “Kenapa hidupku selalu berakhir seperti ini?” batinnya miris.
Arlan tidak menanggapi umpatan itu dengan teriakan. Dia hanya menarik tangan Mika, meminta asistennya memutar video.
Klik!
Layar raksasa di aula tiba-tiba menyala. Rekaman CCTV jalanan terpampang nyata. Di sana, Kamalia terlihat sengaja menabrak seseorang dengan mobilnya, lalu pergi begitu saja tanpa rasa bersalah.
Aula yang tadinya bising mendadak sunyi senyap. Tamu undangan terkesiap, bisik-bisik ketidakpercayaan memenuhi ruangan.
Arlan menunduk, berbisik pelan di telinga Mika, “Kamu ingat kejadian ini? Kamu lupa karena di jangka waktu sebelumnya, kamu terlalu terluka untuk mengingatnya.”
Mata Mika membelalak. “Jangka sebelumnya?” Kalimat itu menghujam jantungnya lebih dalam daripada kata-kata kakek Hustan.
Kamalia, yang panik, berteriak histeris, “Itu fitnah! Itu video AI rekayasa! Arlan, kamu sengaja menjebakku agar bisa menikahi gadis miskin itu!”
Arlan tidak menjawab. Dia hanya memberi kode pada asistennya. Detik berikutnya, dua orang polisi berseragam masuk ke dalam aula.
Kamalia memucat. “Papi! Tolong aku!”
Hustan menatap cucunya dengan tatapan menuntut penjelasan, tapi Arlan hanya menunjuk layar. “CCTV jalanan nggak bisa berbohong. Silakan cek keasliannya di kantor polisi.”
Polisi langsung menggiring Kamalia yang meronta-ronta. Wartawan sudah mengepung, lampu kilat kamera menyambar-nyambar seperti petir di tengah badai.
“Nona Kamalia, apa Anda nggak punya nurani?”
“Apa ini alasan Arlan membatalkan pertunangan?”
Suara riuh itu menyertai langkah Kamalia hingga ia masuk ke mobil polisi. “Mika, brengsek! Aku pasti kembali untuk membalasmu!” batin Kamalia penuh dendam.
Sementara itu, di sudut ruangan, Tristan menyaksikan semua ini dengan rahang mengeras. Rasa cemburu membakar dadanya melihat Arlan melindungi Mika.
“Anda Tristan, ‘kan?”
Tristan menoleh. Angel berdiri di sana, menyodorkan kertas catatan. “Boleh minta tanda tangan?”
Tristan menatap Angel dengan sinis. “Ada apa?”
“Aduh, kasihan sekali. Kalau bersaing sama Arlan, Anda pasti kalah telak,” ledek Angel.
Darah Tristan mendidih. Tanpa aba-aba, tangannya melesat, mencengkeram leher Angel dengan kuat.
“Ghk—!” Napas Angel terputus. Wajahnya membiru.
“Kamu pikir aku nggak tau siapa kamu?” geram Tristan.
“T-tuan Tristan ... mau viral?” Angel berjuang bicara di sela sesak napasnya. “Membunuh anak seperti saya?”
Ckrek! Cengkeraman Tristan makin kuat. Dia benar-benar kehilangan kendali.
Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh menarik bahu Tristan dengan kasar. Ayah Tristan berdiri di sana, menatap putranya dengan tatapan yang jauh lebih dingin dan mematikan.
“Lepaskan dia,” Suara ayahnya rendah, tapi membuat suhu ruangan seolah membeku.
Tristan tersentak, melepaskan cengkeramannya.
“Gila kamu?” bisik ayahnya tajam, matanya menyapu sekitar memastikan tidak ada tamu penting yang melihat. “Reputasimu bisa hancur dalam hitungan detik. Kendalikan emosimu, atau jangan pernah panggil aku ayah lagi.”
Tristan hanya bisa terdiam, meski tangannya masih gemetar menahan amarah yang belum tuntas.
“Eh, pergi sekarang!” perintah ayah Tristan pada Angel.
Ekspresi Angel yang kesakitan sambil memegang bekas tangan Tristan pun pergi.
Sementara itu Arlan dan Mika yang masih dalam sesi tegang dengan Hustan. Semakin menjadi tontonan para tamu.
Arlan yang tidak terima nama baik ibunya di permainkan oleh kakeknya pun mulai berbicara.
“Kek, acara ini udah selesai. Aku nggak peduli dengan restu atau pendapat siapapun tentang wanita di sampingku. Dia adalah milikku, dan siapapun yang mencoba menyentuhnya, akan berakhir seperti dia!" Arlan menunjuk ke arah pintu keluar tempat Kamalia dibawa.
Arlan pun menarik Mika menjauh. Namun, saat bersamaan, terdengar suara yang membuat orang panik.
Krek!
“Kakek!” Mika lari sambil berteriak.
Bruaak!
“Arh—”
Lampu hotel yang sangat besar jatuh dan hampir menimpa Hustan. Mika yang saat itu belum begitu jauh, berlari sekencang mungkin menyelamatkan Hustan.
“Kakek nggak apa-apa?”
“Iya—” Napas Hustan tersentak. Ia memandang Mika cukup lama. “Padahal aku udah ngomong kasar sama dia!” batinnya.
Mika memegang Hustan dan membawanya berdiri. Namun, saat itu mata Mika mulai terlihat buram. Ia memegang bagian belakang kepalanya.
Tangan Mika penuh dengan darah.
“Astaga, kamu berdarah!” Hustan panik. Arlan pun ikut panik. Tubuh Mika pun lunglai. Ia langsung tak sadarkan diri.
“Cepat bawa ke rumah sakit!”
Suasana menjadi genting. Beberapa pengawal memastikan jalan keluar aman dari media sosial.
Namun, apalah daya, wartawan sudah mengepung hotel dengan begitu cepat.
Arlan menerobos masuk ke dalam mobil. Mika yang terbaring di pangkuannya masih dalam keadaan yang tidak baik.
“Bertahanlah!”
Mobil melaju begitu cepat. Di tangan Arlan sudah banyak berlumuran darah. Ketika Arlan melihat darah itu. Jelas di matanya seperti melihat kejadian tentang ibu dan ayahnya.
Tak lama kemudian, Arlan sampai di depan rumah sakit. Ia langsung menggendong Mika masuk ke dalam UGD.
"Tunggu di luar sebentar!" ucap Dokter Hendra.
Baru kali ini Asisten Arlan melihat Tuannya begitu panik. Mondar-mandir tidak tenang. Setiap kali suster keluar dari UGD, ia selalu menanyakan keadaan Mika.
Di tengah kepanikkan melanda pikirannya, Hustan datang.
"Gimana keadaannya?!"
Bukan menjawab pertanyaan itu Arlan langsung mencengkram baju kakeknya. "Sampai ada apa-apa sama dia ... sampai kapan pun aku nggak akan maafkan Kakek!"
Asisten Arlan langsung menarik tangan Arlan yang emosional. "Tuan, tenangkan dirimu!"
Sementara itu Hustan tidak bisa berbuat apa pun. Ia pasrah jika saat itu dibunuh oleh cucunya sendiri.
"Gadis itu memang berbeda dari wanita lain. Aku udah salah nilai dia. Bahkan, diakhir pertemuan, aku udah melukai hatinya, tapi dia tetap menolongku tanpa memikirkan keselamatannya sendiri. Aku benar-benar bodoh!" batin Hustan menyesal.
Tiba-tiba Dokter Hendra keluar. "Kita butuh darah AB+ sekarang juga!"