NovelToon NovelToon
Surat Cinta Untuk Dinara

Surat Cinta Untuk Dinara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Cinta setelah menikah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.

Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.

Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Pulang

SUV hitam itu melaju membelah jalanan provinsi yang mulai dihiasi jajaran pohon jati dan persawahan hijau. Surabaya sudah jauh di belakang, digantikan oleh aroma tanah basah dan udara yang perlahan mendingin. Dinara duduk di kursi penumpang, sesekali merapikan jilbabnya sambil menatap layar ponsel, memastikan titik lokasi rumah orang tuanya sudah dekat.

"Mas, nanti kalau Bapak tanya soal rencana kerja Dinara, Mas yang bantu jawab ya?" bisik Dinara, suaranya sedikit cemas.

Dimas melirik istrinya sekilas, lalu kembali fokus pada aspal di depan. "Lho, kok malah Mas? Kan kamu yang sarjana hukumnya, Dek. Mas ini cuma bagian seksi dokumentasi sama konsumsi kalau di rumah mertua."

"Mas! Dinara serius. Bapak itu kalau sudah tanya soal masa depan suka detail banget, Dinara takut salah jawab," protes Dinara sambil mencubit pelan lengan Dimas.

Dimas tertawa, jemarinya mengetuk-ngetuk kemudi mengikuti irama murottal yang mengalun rendah. "Nggih, nggih. Tenang saja. Mas bakal pasang badan. Bilang saja kalau kamu mau istirahat dhisik sebulan dua bulan sambil nemani suamimu yang ganteng ini nulis. Wes ta, Bapak pasti paham."

Mobil akhirnya berbelok memasuki sebuah halaman rumah yang asri dengan pagar besi tempa berwarna hitam. Sebuah pohon mangga besar menaungi teras depan, memberikan kesan sejuk yang kontras dengan teriknya matahari siang. Begitu mesin SUV itu mati, pintu utama rumah terbuka. Sosok pria paruh baya dengan sarung dan baju koko putih melangkah keluar, disusul oleh seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Dinara.

"Assalamualaikum, Pak, Bu!" seru Dinara saat turun dari mobil. Ia langsung menghambur ke pelukan ibunya, sementara Dimas menyusul di belakang, membawa beberapa tas oleh-oleh dari Surabaya.

"Waalaikumsalam. Akhirnya sampai juga. Gimana perjalanannya? Macet gak?" tanya Bapak sambil menyalami Dimas.

"Alhamdulillah lancar, Pak. Cuma tadi agak tersendat pas keluar tol," jawab Dimas sopan, ia mencium tangan mertuanya dengan takzim.

Mereka pun masuk ke dalam rumah. Suasana rumah orang tua Dinara selalu membawa ketenangan tersendiri bagi Dimas. Harum kayu jati dari furnitur lama dan aroma masakan dapur yang khas membuat penat perjalanan seolah menguap.

Setelah shalat Dzuhur berjamaah di mushola kecil rumah itu, mereka berkumpul di ruang tengah. Meja kayu pendek sudah penuh dengan hidangan rumahan: lodeh tewel, ayam goreng bumbu kuning, dan sambal bajak yang aromanya menusuk hidung.

"Ayo dimakan, Dim. Ini Ibu masak spesial buat ngerayain kelulusan Dinara. Maaf ya Ibu gak bisa datang pas sidang kemarin," ujar Ibu sambil menyendokkan nasi ke piring Dimas.

"Mboten napa-napa, Bu. Yang penting doanya sampai ke Surabaya," sahut Dimas. Ia melirik Dinara yang tampak sangat lahap menyantap masakan ibunya. "Dinara ini di apartemen ceritanya masakan Ibu terus, Bu. Katanya masakan Dimas nggak ada apa-apanya dibanding lodeh Ibu."

"Lho, Mas kan memang cuma jago masak mi instan!" sahut Dinara spontan, membuat semua orang di ruangan itu tertawa.

Setelah makan siang yang penuh tawa, Bapak mengajak Dimas duduk di teras samping yang menghadap ke kebun belakang. Dinara sedang membantu ibunya mencuci piring di dapur. Suasana menjadi sedikit lebih serius, tipikal obrolan antar pria di keluarga mereka.

"Gimana, Dim? Pekerjaan nulisnya lancar?" tanya Bapak sambil menyulut rokoknya.

"Alhamdulillah, Pak. Ini baru saja kontrak buku kedua tembus. Rencananya mau mulai riset lagi bulan depan," jawab Dimas.

Bapak mengangguk-angguk, mengembuskan asap rokoknya ke udara bebas. "Baguslah. Yang penting istiqomah. Terus soal Dinara, kamu ada rencana apa buat dia? Bapak dengar dia mau lanjut ambil profesi?"

Dimas berdeham sebentar, ia teringat kecemasan Dinara di mobil tadi. "Nggih, Pak. Rencananya memang begitu. Tapi Dimas mau kasih Dinara waktu buat istirahat dhisik. Kasihan, kemarin pas skripsi dia sampai kurang tidur. Dimas pengen dia bener-bener siap mental sebelum masuk ke jenjang yang lebih berat lagi. Biar dia nikmati masa-masa jadi pengantin baru dhisik, Pak."

Bapak terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Bapak setuju. Kamu suaminya, kamu yang lebih tahu kondisi dia sehari-hari. Bapak cuma titip, jangan sampai ilmunya gak kepakai. Sayang kalau cuma jadi pajangan."

"Pasti, Pak. Dimas bakal dukung apapun pilihan Dinara nanti," janji Dimas mantap.

Tak lama, Dinara muncul membawa nampan berisi teh hangat dan pisang goreng. Ia melihat suasana antara suami dan ayahnya yang tampak akrab, rasa cemasnya tadi pagi seketika hilang. Ia duduk di samping Dimas, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu suaminya. Di lingkungan rumah ini, tanpa ada mata orang asing, Dinara merasa bebas menjadi dirinya sendiri tanpa harus selalu terlihat formal sebagai sarjana hukum.

"Lho, ini kok malah manja-manjaan di depan Bapak?" goda Bapak sambil tertawa.

"Biarin toh, Pak. Di Surabaya dia ini galak banget kalau Mas Dimas salah naruh handuk," sahut Dinara sambil menjulurkan lidah ke arah Dimas.

"Oalah, ternyata kamu galak juga ya, Dek. Mas pikir cuma di novel Mas saja ada karakter kayak gitu," balas Dimas jahil, tangannya mengacak-acak ujung jilbab Dinara yang langsung diprotes dengan cubitan di pinggang.

Malam harinya, setelah menunaikan shalat Maghrib dan Isya berjamaah, mereka kembali berkumpul. Kedekatan yang terjalin antara Dimas dan keluarga Dinara terasa begitu alami. Meski berasal dari latar belakang yang sedikit berbeda—Dimas dari Blitar yang kental dengan budaya agamis yang agak kaku, dan Dinara yang lebih moderat—namun pernikahan ini berhasil menjembatani semuanya.

Saat mereka akhirnya masuk ke kamar untuk beristirahat, Dinara melepas jilbabnya dan menghela napas lega. Ia merebahkan diri di tempat tidur lamanya yang masih terasa sangat nyaman.

"Mas, makasih ya sudah bicara sama Bapak tadi," bisik Dinara saat Dimas baru saja menutup pintu kamar.

"Lho, kok kamu tahu Mas bicara apa?"

"Tadi Dinara dengar sedikit pas mau antar teh. Makasih sudah ngertiin kalau Dinara butuh istirahat dhisik," lanjut Dinara, ia menatap Dimas dengan tatapan yang dalam.

Dimas menghampiri Dinara, duduk di tepi ranjang lalu mengusap rambut istrinya yang terurai. "Mas ini suamimu, Dek. Mas yang nemani kamu begadang, Mas yang lihat kamu nangis. Mas nggak mau kamu dipaksa buru-buru cuma karena tuntutan orang lain. Nikmati saja dulu masa-masa kita di Surabaya. Urusan kerja atau profesi, nanti kita bahas pelan-pelan."

Dinara bangkit, memeluk Dimas dari samping. "Mas kok bisa baik banget sih?"

"Soalnya kalau Mas jahat, nanti kamu nggak mau masakin lodeh tewel kayak punya Ibu," jawab Dimas asal, merusak suasana haru seperti biasanya.

"Ih, Mas Dimas!" Dinara tertawa, membenamkan wajahnya di bahu Dimas.

Malam itu, di rumah masa kecil Dinara, mereka tidur dengan perasaan yang penuh. Kepulangan kali ini bukan hanya sekadar kunjungan keluarga, melainkan sebuah konfirmasi bahwa mereka adalah pasangan yang saling melindungi. Di tengah sunyinya desa dan suara jangkrik dari kebun belakang, Dimas dan Dinara menyadari bahwa sejauh apapun mereka pergi mencari kesuksesan di Surabaya, akar mereka akan selalu ada di sini—di tempat yang penuh doa, nasi lodeh, dan cinta yang tulus dari orang tua.

1
Wardah Saiful
bagus ceritanya,semangat thor
kaka_21: siap kakak! (kaka)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!