NovelToon NovelToon
Ramadan'S Promise

Ramadan'S Promise

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:22k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

Dilarang memplagiat karya!


"Dia memilih kakakku..." --Hawa--

"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--

Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.

Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 33 Kabar Duka

Happy reading

Seusai sarapan, Hawa bersiap mengantarkan kue pesanan bundanya untuk Almira. Begitu membuka pintu, ia terperanjat mendapati Rama sudah berdiri di teras, tangannya menggantung di udara--bersiap menekan bel.

Sesaat, tatapan mereka bertaut, disusul rekahan senyum yang terukir di bibir masing-masing.

"Rama? Tumben pagi-pagi udah ke sini. Mau ngapelin aku, ya?" ujar Hawa, menyelipkan canda.

Rama mengedikkan bahu lalu menggeleng pelan. "Ayahmu yang memintaku datang pagi ini. Katanya, beliau ingin belajar tentang sirah nabi. Jadi, kedatanganku bukan untuk menemuimu, Hawa, melainkan memenuhi undangan calon ayah mertua," sahutnya dengan nada jenaka.

"Kamu sendiri mau ke mana? Sepagi ini sudah dandan cantik dan sepertinya bersiap pergi."

"Mau mengantar kue untuk calon ibu mertua," bisik Hawa pelan, mengantisipasi jika bundanya tiba-tiba muncul dan menangkap obrolan mereka.

"Mau menyogok, ceritanya?" seloroh Rama.

"Bukan aku yang menyogok, tapi Bunda. Beliau bertekad menjodohkanku dengan Dzaki, putra Tante Almira."

Rama mengulum senyum, begitu juga Hawa. Keduanya berusaha sekuat tenaga menahan tawa yang nyaris pecah.

Lucu rasanya menyaksikan betapa kerasnya Gistara berusaha, padahal sosok yang ingin dijadikan menantu sedang berdiri tepat di hadapan putri bungsunya.

"Masuklah, Ram. Ayah udah menunggu di ruang utama."

Rama mengangguk pelan dan mengulas senyum tulus. "Kamu hati-hati di jalan, ya."

Belum sempat Hawa membalas ucapan Rama, lengkingan suara khas Gistara memecah udara.

"Hawa!"

Rama dan Hawa terperanjat bersamaan. Keduanya segera melempar tatap, berusaha keras menekan tawa yang nyaris meledak.

"Cepat berangkat! Dan jangan lupa, sampaikan salam Bunda pada Dzaki." Gistara kembali memperdengarkan suara, namun kali ini sengaja ia keraskan agar terdengar oleh lelaki yang telah lancang mendekati Hawa.

Sungguh ironi yang menggelitik; Gistara memanggil Hawa untuk urusan Dzaki, tanpa tahu sosok itu sedang berdiri tepat di ambang pintu rumahnya dalam wujud Rama.

Hawa segera berdeham, menata ekspresi wajah agar kembali tenang sebelum sang bunda tiba di hadapannya. Rama pun melakukan hal yang sama; merapikan sikap tubuhnya seolah tak terjadi apa-apa.

"Bun, Hawa berangkat dulu." Hawa meraih jemari bundanya, lalu mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkannya itu dengan takzim. "Assalamu'alaikum," pamitnya lantas bergegas berlalu.

"Wa'alaikumsalam," balas Rama dan Gistara hampir bersamaan. Suara mereka yang beradu di udara sempat menciptakan keheningan canggung selama beberapa detik.

Selepas Hawa melajukan motornya, Gistara langsung melayangkan tatapan tajam ke arah Rama. Ia berdiri dengan posisi tangan menyilang di dada, seolah tengah bersiap menghakimi seorang pelaku kejahatan.

Rama tetap menunjukkan sikap tenang dan teduh. Tak ada alasan baginya untuk gentar menghadapi Gistara--calon ibu mertua yang begitu memuja filosofi bibit, bobot, bebet dalam artian kolot, bukan makna luhur yang seharusnya dijunjung tinggi.

"Lancang sekali kamu mendekati putriku! Harusnya kamu berkaca dulu sebelum menginjakkan kaki di rumah ini, bukan malah datang dan pergi sesuka hati," desis Gistara. Nada suaranya merendah, namun tajam menghujam.

Rama mengulas senyum tipis. Ia berdiri tenang menghadapi sikap jemawa dan rentetan kalimat sarkas yang meluncur deras dari bibir calon ibu mertuanya.

"Maaf jika saya terkesan lancang, Nyonya. Namun, saya tidak memiliki kuasa atas rasa yang telah Allah titipkan," timpalnya dengan tutur kata yang tertata dan penuh kesantunan. "Dan kedatangan saya pagi ini bukan semata keinginan pribadi, melainkan memenuhi undangan tuan rumah--Ayah Hawa, suami Anda."

"Kamu...!" Kalimat yang nyaris dimuntahkan Gistara menggantung di udara. Lidahnya seketika tercekat saat menyadari kehadiran Janu di belakangnya, diikuti suara dehaman berat yang sangat ia hafal.

"Rama, Om sudah menunggumu dari tadi. Mari, silakan masuk!" titah Janu, memecah ketegangan yang sempat menaungi teras itu.

Gistara tak kuasa mencegah. Ia mendadak enggan melanjutkan perdebatan dengan Janu--terlebih setelah suaminya itu menunjukkan sikap dingin saat ritual sarapan pagi tadi. Dengan sisa kekesalan yang masih memuncak, ia memilih membuang muka, membiarkan Rama melangkah melewati ambang pintu dengan tenang.

.

.

Hawa melajukan motor maticnya dengan kecepatan sedang. Ia menikmati perjalanan pagi itu, membiarkan udara segar menguar memanjakan indra penciumannya sembari fokus menatap jalan yang terbentang di depan.

Namun, ketenangan itu seketika pecah saat matanya menangkap sosok wanita tuna netra yang tiba-tiba melangkah menyeberang jalan dengan bantuan tongkatnya.

Jarak mereka sudah terlalu dekat.

Panik, Hawa berusaha menarik tuas rem kuat-kuat, namun nihil. Rem motornya blong, tak berfungsi sama sekali. Demi menghindari wanita itu, ia terpaksa membanting setir ke arah lain.

Malang, keberuntungan sedang tak berpihak padanya. Dari arah belakang, sebuah mobil melaju kencang dan langsung menghantam motor Hawa dengan telak.

Suara benturan keras menggelegar, disusul pekik ngeri warga yang menyaksikan kejadian itu. Tubuh Hawa terpelanting, lalu tergeletak tak berdaya di aspal.

Suasana yang semula riuh, kini mendadak mencekam saat semua mata menyaksikan darah mengalir dari pelipis Hawa.

"Hawa..." bisik Rama lirih. Ia refleks menekan dadanya yang tiba-tiba terasa ngilu, seolah ada firasat buruk yang meremas kuat ulu hatinya.

"Ada apa, Ram? Wajahmu mendadak pucat," telisik Janu, menyadari perubahan drastis pada raut wajah pemuda di hadapannya.

Rama menggeleng pelan, mencoba menetralkan degup jantungnya yang kian tak keruan. "Tidak ada apa-apa, Om. Hanya saja... tiba-tiba saya sangat mengkhawatirkan Hawa."

"Coba hubungi dia. Tanyakan, apa sudah sampai di rumah Almira atau belum," titah Janu tenang, meski guratan cemas mulai terlukis di keningnya.

Rama mengangguk, segera merogoh ponsel untuk mengindahkan perintah Janu. Namun, belum sempat ia mencari kontak Hawa, lengkingan histeris Gistara menyambar dari arah luar.

"Ayah! Hawa, Yah... Hawa kecelakaan!"

Dunia Rama seakan runtuh seketika saat mendengar teriakan histeris Gistara. Secara refleks, ia beranjak dari duduknya. Ia berdiri dengan kaki yang sedikit gemetar, berusaha menopang tubuhnya yang mendadak terasa lemas tak bertulang.

"Hawa..." bisiknya lagi. Bibirnya bergetar merapalkan doa-doa pendek di dalam hati untuk sang belahan jiwa.

"Ya Allah, Hawa...!" Janu pun seketika bangkit. Wajahnya yang semula tenang kini memucat pasi.

Keduanya bergegas menghampiri Gistara yang sudah luruh bersimbah air mata. Wanita itu terus menyebut nama Hawa dengan suara parau, seolah seluruh kekuatannya telah tercabut paksa oleh kabar duka tersebut.

Sebagai kepala keluarga, Janu berjuang keras menguasai diri. Meski dadanya bergemuruh, ia sadar harus menjadi tumpuan bagi Gistara yang nyaris tumbang.

Janu segera memandu istrinya dan Rama untuk lekas beranjak menuju rumah sakit, demi memastikan kondisi Hawa dengan mata kepala sendiri.

"Ayo, kita berangkat sekarang. Rama, tolong bantu Om papah Tante Gistara," titah Janu dengan suara yang diusahakan tetap stabil, meski gurat kecemasan tak lagi bisa ia sembunyikan.

Tanpa banyak kata, Rama mengangguk. Ia mengesampingkan kegundahan pribadinya demi memberikan kekuatan pada wanita yang selama ini begitu membencinya, namun kini tengah hancur karena putri yang mereka cintai sedang bertaruh nyawa.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
Haura Az Zahra
ditambah komedi tambah seru ceritanya thor
Ayuwidia: Terima kasih banyak, Kak. Biar nggak tegang Mulu 😄🙏🏻
total 1 replies
Najwa Aini
Aku bacanya telat banget..maaf ya..
aku vote deh..
Najwa Aini
Baarokallaahuu
Najwa Aini
eh pecah banget candaanmu Rama
Najwa Aini
Aku kok turut bahagia ya
Najwa Aini
Nahhh begitu non Hawa...Ambil sisi positifnya ya
Najwa Aini
Rama. aku udah lama pingin alphard..eh kamu udah punya duluan tanpa pamit
muthia
mertua idaman
Ayuwidia: Bener banget, Kak 😊
total 1 replies
muthia
ulat bulu mulai beraksi
Najwa Aini
Nah kann..Rama kalau udah mode kayak gini aku langsung terbayang dia pakai jubah dan surban...ala² ustadz milenial gitu...atau pakai kupluk juga boleh..ala² ustadz tenar
Ayuwidia: Wkkk, dia sukanya pake kemeja atau pake atasan Koko putih, Kak. Kaya' Ustadz Denis Liem 😄
total 1 replies
Najwa Aini
Ini akal²an si autor si Dzaki atau si Rama gak diikutkan. padahal itu momen yg ditunggu
Ayuwidia: Tau aja
total 1 replies
Mila Mulitasari
lah udah termasuk obsesi ga si tu thor maksa banget heran, namanya ulat dimana aja bisa merayap, moga aja rama cepat membasmi ulat2 gatal, maaf thor esmosi saya kalau masalah ulat🤭
Ayuwidia: hiyaaa, Kak 😆
total 3 replies
Mila Mulitasari
pliss jgn ada orang ke 3 baru aja mereka melangkah bersama masa udah ada ulat nangka
Ayuwidia: Justru untuk menguji kesungguhan cinta dan kesetiaan seorang Dzaki Ramadan Bagaskara, Kak 😉
total 1 replies
muthia
Alhamdulillah🙏
Mila Mulitasari
alhamdulillah otw menuju qobiltu ini😍
Ayuwidia: Insyaallah, semoga ya, Kak 🥰
total 1 replies
Ririn Rira
Nungguin reaksi Damar lagi nih 🤭
Ayuwidia: Hiyaaa 😄
total 1 replies
Ririn Rira
Akhirnya restu sudah di kantongi, Rama dan Hawa kebalikan dari Jehan dan Sebria🥰
Ririn Rira: Iya kak mohon maaf lahir batin juga ya
total 2 replies
Ririn Rira
Ada aja cobaan nya semoga Hawa nggak parah
Ririn Rira
Sedalam itu makna dari nama seorang Rama
Ririn Rira
Nggak sabar pengen tau gimana reaksi mama nya Hawa kalau tau Rama itu siapa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!