semua yang kulakukan selama ini ternyata tidak berarti apapun bagi mereka,orang yang kuhormati,kusayangi dan kucintai mengkhianati ku begitu saja.
menyaksikan kematian ku seperti pertunjukkan yang menghibur mereka,aku sungguh bodoh...
memilih mereka yang tidak memilih ku..yang hanya memanfaatkan ku..aku menyesal...
aku tidak menerima takdir ini....aku menolak...
aku meminta pembalasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HartaKarun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 32
Suasana di ruang tamu riuh dengan pertengkaran,Gelen berpikir pulang kerumah akan memberinya solusi untuk menangani keadaan namun yang ada malah ia yang terus menerus disalahkan oleh keluarganya.
“Gelen,sungguh kamu sangat bodoh.bukankah ayah sudah meminta mu untuk menghilangkan semua bukti”Deren menatap marah,ia sangat terkejut menerima skandal perusahaan bocor,ia panik namun tidak bisa berbuat apa-apa karena ia tau skandal itu bukanlah kebohongan namun kenyataan yang coba ia hapus dan tutupi.
Sekarang semua kerja kerasnya selama bertahun-tahun hancur begitu saja,dalam hatinya ia tidak bisa untuk tidak menyalahkan anaknya atas semua hal yang terjadi.seandainya sedari awal ia tidak memilih Gelen yang tidak kompeten menjadi penerusnya semua hal ini tidak akan terjadi.ia hanya bisa menyesali hal ini terus menerus.
“aku sudah melakukannya ayah-+,aku sudah.namun aku tidak tau bagaimana informasi itu masih ada”
Gelen yakin bahwa ia sudah menghancurkan segalanya bahkan membakar nya dengan tangan nya sendiri.
“Lalu apa yang terjadi sekarang?jika saja kamu becus menangani hal ini,perusahaan kita tidak akan hancur seperti sekarang”
“Lalu ayah menyalahkan aku?”Gelen menatap ayahnya dengan tidak percaya
“BUKAN KAH INI JUGA SALAH AYAH,AYAH MENYERAHKAN PERUSAHAAN ITU KEPADA KU SAAT KEADAANNYA HAMPIR BANGKRUT,JIKA BUKAN KARENA AKU BAGAIMANA MUNGKIN PERUSAHAAN ITU MASIH BERTAHAN SAMPAI HARI INI”
“Hah kamu membuat ku tertawa,kamu?kamu yang menyelamatkan perusahaan?jangan menghayal Gelen KITA SEMUA TAU SIAPA YANG MENYELAMATKAN PERUSAHAAN SAAT ITU”
Daren benar-benar kecewa dengan putranya,seandainya saja ia tidak memilih penerusnya menurut keturunan laki-laki dan memilih yang benar-benar mempunyai kebenaran maka ia tidak akan pernah ragu untuk memilih putri sulungnya,namun sekarang menyesal pun tidak berguna,karena orang yang bisa memberinya harapan sudah tidak ada lagi.
“AYAH MENYESAL SEKARANG?HAHAHA BUKAN KAH AYAH MEMANG SEPERTI ITU SEJAK KEMATIAN NYA?”
Gelen menatap nyalang pada ayahnya,”APA AYAH PIKIR AKU BODOH?AYAH SELALU MENATAP KU DENGAN KECEWA, SEOLAH AKU ADALAH ORANG YANG MENGHANCURKAN IMPIANMU..BUKANKAH KAMU YANG MENGINGINKAN AKU MENJADI PENERUS MU…NAMUN MENGAPA KAMU SELALU MELIHAT KU DENGAN TATAPAN TIDAK PUAS”
“Gelen sudah”Sari sudah tidak tahan melihat pertengkaran anak dan ayah itu,ia tau ia tidak akan bisa membantu apapun namun melihat ayah dan anak itu saling menyalahkan membuat hatinya merasa sakit.
“Ini bukan saatnya untuk ibu berbicara,bisakah ibu tetap diam seperti biasanya..seperti saat ibu melihat putri ibu mati didepan ibu”
“GELEN!” Sari menatap Gelen dengan kecewa dan air mata yang mengalir dipipinya
“GELEN KAMU SUDAH KETERLALUAN”Daren memeluk istrinya
“BUKANKAH LEBIH KETERLALUAN KALIAN YANG BISA MEMBUNUH PUTRI KANDUNGNYA SENDIRI”
Semua orang terdiam,bahkan Gelen yang baru saja mengamuk langsung diam setelah menyedari apa yang baru saja ia katakan.
Gelen menatap ibunya dengan rasa bersalah,ia sangat tau bagaimana sampai saat ini ibunya masih merasa bersalah dan tertekan karena masalah ini,”ibu..aku tidak bermaksud..”
“cukup,selesaikan masalah kalian berdua.aku akan kembali ke kamarku”
Setelah melihat Sari masuk ke kamar Daren menatap Gelen dengan datar,”selesaikan masalah perusahaan walaupun aku sudah yakin tidak akan ada yang bisa dilakukan lagi,selamatkan saja apa yang bisa diselamatkan sekarang.kamu sudah melukai ibumu dengan sikapmu itu,aku akan menemuinya”
Gelen mengusap wajahnya,ia tidak menyangka semua nya akan berakhir seperti ini,karena amarahnya ia melukai hati ibunya.ia mengambil jasnya kembali dan pergi menuju kantor mencoba melihat apakah masih ada yang bisa ia selamatkan karena ia yakin perusahaan itu akan hancur untuk selamanya.