Iveline yang menderita setelah ayahnya menikahi selingkuhannya, ternyata mendapatkan keajaiban dari kalung yang diwariskan oleh ibunya yang telah meninggal.
”Apakah aku sudah mati?“
”Anda belum mati, anda saat ini telah berada di ruang ajaib yang berada di dalam kalung anda!“
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dee hwang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Adik yang berharga
“Kak!“
Zayne berlari menghampiri Iveline yang baru saja berdiri, hendak kembali.
”Darimana aja kamu? Aku pikir kamu udah pulang, itu paku gede buat apa?“ Tanya Iveline berturut-turut. Namun adiknya itu hanya membalasnya dengan cengengesan saja.
Iveline curiga, tapi dia tidak mengatakan apapun lagi setelahnya, hanya berjalan agar cepat sampai rumah.
”Aku beli ini kak, nanti kita makan bareng di rumah, oke?“
Iveline mengangguk, ”oke… kamu nggak pengen dibuatin bekal?“ tanya Iveline.
”Aku lebih bisa masak daripada kak Ivy, jadi nggak perlu, tapi kalau dibuatin Keira lagi oke lah.“ jawab Zayne.
Iveline pun berdecak, kesal dengan ucapan Zayne. Memang selama ini, jika para peri yang ada ruang imajinasi yang membuatkan makanan, Iveline selalu mengatakan itu buatan Keira.
Tentu saja masakan peri jauh lebih baik, karena mereka setara dengan profesional, dan juga para ibu yang memasak dengan cinta.
”Kalau gitu aku nyuruh Keira aja yang masak, puas? Padahal aku udah berusaha buat belajar masak…“ keluh Iveline.
”Gimana kalau aku aja yang masak buat bekal kak Ivy hari ini? Boleh ya? Aku lihat bahan masakan di kulkas besar masih banyak.“
Iveline segera menoleh pada Zayne, adiknya itu telah tumbuh menjadi remaja tampan dan pengertian. Iveline pun tersenyum lebar lalu merangkul bahu adiknya, dan saat itu dia baru sadar jika Zayne telah tumbuh lebih tinggi darinya.
”Eh, kamu udah tinggian!“
”Masa sih? Nanti aku ukur deh tinggi badanku, aku juga ngrasa lebih tinggi.“
”Adekku udah gede… padahal dulu kamu sekecil ini.“
”Nggak sekecil itu juga!“
”Nggak percaya kamu!“
Setelah itu Zayne melepaskan diri dari Iveline, berlari dengan cepat. Sontak, Iveline berlari juga untuk mengejarnya.
Zayne baru bisa terkejar setelah bocah itu memelankan kakinya.
Keduanya hanya tertawa setelahnya. Tapi segera berhenti saat mereka memasuki lift, karena ada beberapa orang yang juga ikut naik lift.
Zayne buru-buru menarik lengan Iveline setelah lift sampai di lantai dimana apartemen mereka berada.
Ada seorang lelaki yang wajahnya ditutup masker dan kepalanya memakai topi, yang juga keluar lift bersama mereka.
Zayne merasa tidak nyaman dengan lelaki itu, makanya dia buru-buru menarik lengan Iveline.
”Zayne, pelan-pelan ih, kita udah nyampe kok.“
Zayne tidak mau mendengar, dia baru bicara setelah mereka sampai di dalam apartemen.
”Maaf kak, tadi ada cowok mencurigakan.“
Iveline pun tertawa mendengarnya, ”orang yang tadi? Kamu terlalu parno. Apartemen ini tidak membiarkan sembarangan orang masuk, kamu nggak inget dulu kamu harus buktiin dulu kalo kamu saudaraku, baru boleh tinggal disini denganku?“
Zayne memutar bola matanya jengah, ”itu karena kak Ivy kan masih dibawah umur, kalo ada teman dari pemilik apartemen berkunjung, nggak bakalan di periksa lah… kayak temen-temen ku dulu.“
Iveline menggeleng, ”ada cctv di setiap sudut, Zayne… gedung apartemen ini sangat ketat. Karena tidak ingin ada kriminalitas disini.“
”Nggak, nggak mungkin mereka nggak pernah kecolongan kan.“
Iveline menghela nafas panjang dan berat, adiknya memang selalu curiga.
”Kamu curigaan Zayne… udahlah, ayo makan dulu yuk, tadi kamu beli apaan? Bubur sumsum?“
”Ada banyak!“
Zayne pun meletakkan semua yang dia beli di atas meja makan, dia membeli bubur sumsum, nasi pecel, dan juga gorengan seperti bakwan, tahu isi, lumpia.
Meski keduanya bertubuh kecil, namun semua makanan itu habis dimakan mereka berdua.
Saat Keira datang, Keira pun protes, kenapa tidak ada sisa untuk dia.
”Lagian kenapa kak Keira baru dateng sih? Habis darimana?“ tanya Zayne semangat. Terutama karena Keira membawakan banyak oleh-oleh barang branded.
Zayne agak terkejut, karena hanya sedikit dari barang-barang itu yang ditujukan untuk Keira sendiri. Rata-rata barang-barang branded yang Keira beli adalah untuk Iveline dan Zayne.
Tapi, Zayne sangat suka apa yang Keira pilihkan, sesuai dengan selera Zayne.
”Aku baru selesai berkencan dengan ayah kalian, jangan banyak tanya, aku sudah muak untuk pura-pura menyukai dia.“ ucap Keira, dia pun duduk diantara Iveline dan Zayne.
Mendengar itu, Zayne pun segera berdiri, membuatkan minuman untuk Keira. Sementara Iveline berdiri dan memijit bahu Keira.
”Oh ya? Semuanya berjalan sesuai rencana kan? Aku juga punya sesuatu untuk dibahas dengan mu, aku bertemu Alya hari ini.“ ucap Iveline.
Keira pun menjadi antusias mendengar ucapan Iveline.
”Oh ya?“
Iveline mengangguk semangat, kembali duduk dan menceritakan apa yang terjadi.
”Jadi, apalagi rencana anda kali ini?“ Tanya Keira.
”Aku tahu! Kak Ivy pasti mendekati Alya karena ingin melihat Alea merasa jika ibunya direbut, kan?“ sahut Zayne.
Mendengar itu, Keira pun kembali menatap Iveline, dengan tatapan kasihan.
”Kau yakin bisa melakukan itu? Tidak perlu memaksakan diri… lagipula, setelah ini kita bisa membuat keduanya menangis darah karena kehilangan posisi di rumah itu.“ ucap Keira.
Iveline tersenyum dengan santai, ”kalian terlalu khawatir, aku bisa melakukan apapun, demi melihat mereka semakin menderita. Jika hanya diusir saja, bagiku tidak cukup. Lagipula, aku tahu apa yang aku lakukan.“
Zayne terdiam melihat kakaknya telah berubah, namun perubahan yang jauh lebih baik. Dia mungkin terlalu meremehkan kakaknya, karena nyatanya, kakaknya adalah seseorang yang sangat kuat. Jauh lebih kuat dari apa yang dia bayangkan.
”Jika itu rencananya, aku akan membantu sebisaku. Kebahagiaan kalian adalah prioritas ku saat ini.“ ucap Keira.
”Aku juga akan membantu kak Ivy!“
Iveline pun memeluk Keira dengan erat, ”kamu yang terbaik Keira!“
”Kalau aku?“
Iveline pun segera berdiri lalu memeluk Zayne juga, tidak lupa dia mengecup dahi adiknya.
”Kamu yang paling berharga di dunia ini bagiku, Zayne… satu-satunya keluargaku.“
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰