NovelToon NovelToon
Pembalasan Dendam Sangkara

Pembalasan Dendam Sangkara

Status: tamat
Genre:Mafia / Lari Saat Hamil / Anak Yatim Piatu / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:21.7k
Nilai: 5
Nama Author: apriana inut

Sangkara, seorang pemuda yang menjadi TKI di sebuah negara. Harus menelan pil pahit ketika pulang kembali ke tanah air. Semua anggota keluarganya telah tiada. Di mulai dari abah, emak dan adek perempuannya, semuanya meninggal dengan sebab yang sampai saat ini belum Sangkara ketahu.

Sakit, sedih, sudah jelas itu yang dirasakan oleh Sangkara. Dia selalu menyalahkan dirinya yang tidak pulang tepat waktu. Malah pergi ke negara lain, hanya untuk mengupgrade diri.

"Kara, jangan salahkan dirimu terus? Hmm, sebenarnya ada yang tahu penyebab kematian keluarga kamu. Cuma, selalu di tutupin dan di bungkam oleh seseroang!"

"Siapa? Kasih tahu aku! Aku akan menuntut balas atas semuanya!" seru Sangkara dengan mata mengkilat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apriana inut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Berdasarkan alamat yang pernah Sangkara beri padanya, Adit mendatangi rumah Ello. Dahinya mengernyit heran melihat kakek Saputra.

“Ini sebenarnya rumah siapa? Rumah laki-laki itu atau rumah om Saputra?” gumam Adit. Masa bodoh dengan hal itu, dia pun memilih masuk dan mengucapkan salam.

“Adit? Kenapa kamu di sini? Ada perlu apa?” tanya Saputra menatap anak dari besannya atau adek dari menantunya.

“Aku mau ketemu Kara, om! Kara ada?”

“Dia belum pulang. Tunggu aja di dalam, saya juga duduk di sini karena menunggu Kara!” sahut Saputra.

“Baik, om. Terimakasih.”

Dari arah dapur, Ello mengintip siapa yang bicara dengan kakek Saputra. Bibirnya tersenyum tipis melihat Adit yang datang ke rumahnya. Setelah itu dia tampak bicara kepada seseorang melalui ponselnya. Ello meminta agar orang yang dia hubungi memperketat keamanan  rumahnya. Jangan biarkan orang asing atau orang yang mencurigakan mendekati rumahnya dalam radius 100 meter.

“Siapa nak Ello?”

“Eh, nenek! Itu nek, oom nya Kara. Yang dokter itu loh!”

“Oooh, Adit. Ya udah, ayoo kita lanjuti lagi masaknya!” ajak nenek Herni.

“Ayo, nek!”

Sekitar pukul 7 malam, Sangkara baru tiba di rumah. Dia pulang dengan wajah kusut dan kesal. Bukan karena bermasalah dengan Johan dan Sarah. Tapi dia bermasalah dengan ibu-ibu yang mengendarai motor, dengan sen kiri tapi belok kanan.

“Pulang lo, Kara? Bagus kagak pake salam!” tegur Ello menatap tajam adek angkatnya itu.

Sangkara menghela napas sejenak, lalu membalikkan badan kembali ke pintu luar. Dia mengucapkan salam dengan cukup keras, setelah mendapatkan sahutan dari Ello dan yang lainnya, baru dia melangkah masuk.

“Anak yang baik!” puji Ello.

“Sialan lo, bang?” sungut Sangkara.

Ketika matanya menatap sepasang suami istri yang tengah menatapnya, bibir Sangkara mengulas sebuah senyum manis. Dia bangkit dan menyalami suami istri itu.

“Kakek dan nenek aman kan? Gak ada yang terluka atau apapun?”

“Gak ada, Kara! Kakek dan nenek sehat-sehat saja!”

“Syukurlah… Kakek dan nenek tinggal di sini aja dulu ya untuk sementara. Sampai situasinya aman.”

Sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi itu menganggukkan kepalanya. Penjelasan dari Ello, sudah membuatnya sedikit paham dengan situasi yang terjadi saat ini.

“Kara!”

“Om Adit? Loh sejak kapan om Adit di sini? Kok aku gak lihat?” seru Sangkara cukup kaget dengan keberadaan oom nya.

“Ada yang mau aku bicarakan sama kamu, Kara. Ini penting dan mungkin saja jadi petunjuk dari kematian kak Naya, bang Adi dan Rara.”

“Eheeeem…! Nanti aja kalau kalian mau bahas soal itu. Sekarang lebih baik kita makan malam dulu. Nenek dan nak Ello sudah masak banyak tadi.”

“Waaaaah, lo beneran ngajak nenek gue masak bang?”

“Iya dong! Ternyata nenek sangat hebat masaknya! Kagak kayak lo!” sahut Ello.

“Udah-udah! Ayoo, kita makan dulu!” seru nenek Herni.

Mereka semua berjalan ke meja makan. Di sana sudah tersaji berbagai macam masakan hasil tangan dari nenek Herni dan Ello. Semua makanan tersebut terlihat sangat menggugah selera. Apalagi aromanya, beuh membuat cacing dalam perut berdemo.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Di  sebuah ruangan yang terdapat di dalam rumah Ello. Empat laki-laki beda usia duduk berkumpul. Mereka tengah membahas masalah pelaku yang sudah menghabisi nyawa tiga orang keluarga mereka.

“Kara, aku mau jujur. Memang benar aku orang yang menghubungi Intan dan juga mentransfer uang padanya. Dan aku juga yang menyebarkan atau memposting foto keluarga kamu di media sosia. Tujuan aku bukan untuk melakukan hal yang negative. Tapi untuk mencari keberadaan dan memancing kak Naya untuk berkomentar di postingan aku.”

“Jika kamu pikir kenapa aku tidak datang mencari kak Naya dengan alamat yang di beri oleh Intan? Jawabannya sudah, aku sudah melakukan itu. Namun, kak Naya dan bang Adi tidak berhasil aku temukan. Karena mereka sudah berganti identitas. Dan salahnya aku, aku tidak menanyakan nama atau panggilan mereka pada Intan. Aku terlalu ceroboh dan tergesa-gesa, aku hanya menanyakan alamatnya saja. Dan ketika  aku ingin menghubungi Intan lagi, medsosnya menghilang. Akunnya yang di gunakannya untuk komunikasi sama aku, sudah tidak ada lagi.”

“Terus? Hanya itu yang lo lakukan?” celetuk Ello.

Kepala Adit menggeleng kuat. Matanya melirik kearah kakek Saputra. Dia seperti ragu untuk mengatakan semuanya. Karena itu berhubungan dengan anak-anak kakek Saputra alias adeknya Adi.

“Ceritakan lah semuanya, Dit! Tidak usah takut atau ragu, saya akan bersikap netral. Siapa yang salah akan mendapatkan hukuman, siapa yang benar akan mendapatkan pujian!” ujar kakek Saputra paham dengan apa yang dirasakan oleh Adit.

“Ketika aku posting foto kak Naya dan keluarganya, Johan berkomentar. Dia menanggapi postingan aku. Dia menanyakan alamat kak Naya dan bang Adi juga. Aku pikir, Johan pasti khawatir dengan keadaan bang Adi juga. Tanpa rasa curiga, aku kasih alamatnya pada Johan. Namun…”

“Namun, apa?” potong Ello tidak sabar.

“Kagak usah lo potong kenapa sih, bang?”

“Namun, dia mengucapkan kata-kata aneh. Dia bilang, terimakasih sudah memberikan alamat abang gue. Setelah ini abang gue, kakak lo dan keponakan kita bakal bahagia selamanya di sisi Tuhan. Lo gak usah cari-cari kakak lo lagi. Cukup mendoakan agar dia tenang di alam sana saja! Itu yang dia ucapkan melalui DM.”

“Maaf, om! Apa saat itu oom gak curiga dengan kata-kata itu?”

“Aku curiga, Kara. Tapi aku telat  baca DM-nya. Dia kirim DM hari senin, dan aku baru baca hari kamis. Karena pada saat itu aku tengah sibuk ujian dan praktek! Tapi jum’at sore, aku datang kembali ke desa itu. Aku tidak menemukan apa-apa dan tidak ada yang meninggal. Desa itu tenang, desa itu nyaman dan desa itu aman.”

Sangkara dan Ello terkekeh pelan. Wajah mereka terlihat santai, tapi hati mereka sudah menggebu-gebu dan membara. Sedikit ada percikan lagi, maka mereka siap untuk membakar siapa yang mencari masalah dengan mereka.

“Johan, Sarah!  Saya telah gagal mendidik anak. Mengapa mereka tidak puas dengan apa yang saya beri? Padahal apa yang saya beri pada mereka, lebih dari yang saya beri pada Adi. Memang Adi terlihat paling wah, tapi resikonya terlalu besar. Mereka tidak akan sanggup jika berada di posisi Adi!” ujar kakek Saputra. Laki-laki tua itu tampak sangat terpukul dengan kenyataan yang ada.

“Manusia yang tidak bersyukur mana puas dengan apa yang diberikan padanya, kek!” timpal Ello. “Bagaimana tanggapan kakek untuk masalah Johan dan Sarah ini? Mereka adalah anak kakek, mereka adalah darah daging kakek!”

Kakek Saputra menarik napas panjang. Dia menatap Sangkara lekat, “semua keputusan saya ada di tangan Sangkara. Jika dia maafkan  Johan dan Sarah, maka saya akan memaafkan mereka. Jika tidak, lakukan apa yang Sangkara ingin. Bukannya yang salah harus dapat hukuman?” sahut kakek Saputra.

Dia berdiri dan menepuk pundak Sangkara pelan, “kakek percayakan semuanya sama kamu!” ujar kakek Saputra. Dia berjalan gontai keluar dari ruangan itu. Walau dia sudah menduga jika kedua anaknya yang lain  terlibat, namun tetap saja hatinya hancur ketika mendengar fakta yang di ucapkan oleh Adit tadi.

Ternyata harta bisa mengancurkan sebuah hubungan. Ternyata harta bisa membuat saudara saling bunuh atau tikam. Ternyata harta bisa paling di butuhkan dan bisa paling menyesatkan.

Ada rasa sedikit penyesalan dalam hati kakek Saputra, namun semuanya hanya   sekedar penyesalan. Tanpa bisa di ubah atau di kembalikan ulang.

1
Bagaskara Manjer Kawuryan
mantabzzz
terima kasih ceritanya thor
Hary
TERNYATA yg DUNGU itu PENULIS nya
Mahpud Toxs
top
Darmawansah
nyicil baca terlalu panjang babnya
Wifasha
msih tekateki
Aa Mobui
lanjuuut. 💪💪💪💪👍
Apriana inut: Siaaap... ☺️
total 1 replies
Nurhartiningsih
waduh...jangan2 dokter Adit bagian dari mrk..
Apriana inut: Hmm, mungkin kali ya kak...? Tunggu aja bab berikutnya...

Hmm... Mungkin kali ya kak? Jawabannya tunggu di bab selanjutnya...😁
total 1 replies
Taufik Ukiseno
Karya yang keren.
Semangat untuk authornya... 💪💪
Taufik Ukiseno
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!