Menikah karena perjodohan, membuat Shera meminta perceraian setelah dua tahun menikah.
Begitu juga dengan Daren yang menuruti, lantaran keduanya tidak memiliki ketertarikan dan tidak adanya benih cinta yang tumbuh.
Namun semua terasa berbeda setelah tiga tahun perceraian itu.
apakah keduanya akan memiliki ketertarikan dan cinta setelah bertemu kembali???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Humaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PMI_BAB 33
Setelah semua sudah pulang ke jakarta, kini Daren yang hanya tinggal dengan Shera. Mereka menikmati bulan madu sebagai pasangan pengantin baru. Setelah empat hari tidak keluar kamar, akhirnya Shera mendapatkan kebebasan. Daren tidak mengijinkan Shera pergi sebelum wanita itu sembuh total dan berjalan dengan benar. Jika sembuhnya semakin lama, semakin lama juga Daren mendapatkan jatah, pikirnya.
"Wow... Indahnya." Shera menatap lurus dengan bibir tersenyum.
"Suka?" Kepala Shera mengangguk.
Sore ini Daren mengajak Shera pergi ke destinasi pesisir di selatan Bali. Tepatnya di Jimbaran. Yang terkenal dengan pasir putih dan deretan restoran seafood dan deretan makanan ditepi pantai. Bukan hanya menjajakan makanan yang banyak. Disana mereka bisa melihat sunset yang indah.
Shera tampak menikmati pemandangan yang indah, bibirnya terus melengkung senyum.
"Kalau harus kesini setiap hari, sepertinya aku tidak akan bosan kak." Ucapnya sambil menoleh pada Daren yang duduk disampingnya.
Keduanya memiliki duduk di atas pasir yang luas, menatap laut yang terbentang dengan berkilaukan cahaya jingga yang indah.
Daren merangkul bahu Shera, membuat Shera bersandar di bahunya.
"Em.. pasti akan sangat menyenangkan kalau liburan bersama keluarga." Balas Daren.
Keduanya sama-sama menikmati pemandangan yang ada, saling memikirkan perjalanan hidup kedepannya. Memiliki anak, keluarga yang utuh dan tentu saja menemani sampai akhir hayat.
Tak terasa waktu semakin berlalu, setelah menikmati pemandangan sore dan menjajakan beberapa kuliner, keduanya kembali ke penginapan.
Sudah hampir satu minggu keduanya menginap disini. rencananya lusa mereka akan kembali ke Jakarta.
Drt...Drt...
Ponsel Daren berdering. Shera yang baru saja mengambil minum melihat ada panggilan masuk.
"Mama..." Gumam Shera.
Shera pun menggeser tombol hijau, tak lama terdengar suara dari seberang sana.
"Halo Daren."
"Iya Ma, ini Shera. Kak Daren lagi mandi."
"Shera...apa kabar nak?" Tanya Mama Rena.
"Baik Ma.."
"Kapan rencana akan pulang, Mama sudah rindu sama mantu Mama."
Mendengar ucapan Mama mertuanya membuat Shera tersenyum, sejak menjadi menantu pertama dan sampai berpisah pun, Mama Rena tetap baik dan sayang padanya. membuat Shera juga menyayanginya seperti orang tua sendiri.
"Rencana lusa Ma, kak Daren banyak kerjaan."
"Kenapa buru-buru pulang, kalian bulan madu yang lama, bila perlu pulang-pulang mama udah gendong cucu." Suara Mama Rena terdengar terkekeh di sana.
Shera menunduk dan tersenyum, tiba-tiba wajahnya terasa hangat.
"Eh... tapi udah di unboxing kan?"
Pertanyaan Mama Rena semakin membuat wajah Shera memanas. Bayangan malam pertama melintas di pikirannya. Malam yang panjang dan membuatnya sampai harus bedrest.
"Mama..." Rengek Shera malu.
Di sana Mama Rena tertawa, mendengar nada manja Shera yang malu.
Tak lama obrolan mereka berakhir, dengan Mama Rena yang akan pergi menghadiri pesta bersama suaminya.
"Kenapa wajahku rasanya panas. Padahal cuma-" Shera menutup wajahnya. Jika mengingat bagaimana mereka melewati malam panjang itu, rasanya sekujur tubuhnya meremang sempurna.
Shera masih ingat saat pertama kali melihat suaminya tanpa busana, dan belalai gajahnya yang tersembunyi menyembul sempurna.
Shera mengingat sentuhan tangannya dibelai itu, yang awalnya lembut berubah menjadi seperti batang yang berurat. Membayangkan saja membuat tubuh Shera merinding. Patas saja sampai membuatnya tidak bisa berjalan berhari-hari.
"Kamu kenapa sayang."
Shera tersentak dan langsung berdiri melihat Daren yang sudah berdiri tak jauh darinya.
"Ng-ngak kenapa-kenapa kak." Jawab Shera gugup.
Tangan Daren mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Dadanya terekspos dengan handuk yang hanya melingkar di pinggang.
Shera menelan ludah, matanya menatap tubuh erotis didepanya dengan gugup.
Daren maju tangannya hendak menyentuh wajah Shera, namun wanita itu langsung menghindar. Membuat Daren mengerutkan keningnya.
"Ja-jangan!" Pekik Shera terbata.
"Emm.. maksudku, aku mau ambil baju untuk kak Daren." Shera buru-buru menghindar. Udara sekitar semakin panas dan sempit membuatnya kesulitan bernapas.
"Dia kenapa." Gumam Daren yang melihat pugung Shera menjauh.
Daren duduk ditepi tempat tidur, memeriksa ponselnya, dan melihat ada notif panggilan beberapa menit dengan ibunya.
Ting
"Shera sayang, jangan lupa pulang bawa cucu ya."
Pesan yang dikirim mama Rena membuat Daren berdecak.
"Pasti Mama bilang yang aneh-aneh." Gumam Daren sambil tersenyum. "Pantas saja mukanya merah begitu."
Tak lama Shera kembali dengan membawa satu stel pakaian untuk Daren.
"Pakai baju dulu kak." Shera mengulurkan pakaiannya pada Daren.
Daren menerimanya dan tersenyum, Saat megambil salah satunya, Daren kembali mengerutkan keningnya.
"Sayang, kamu melupakan sesuatu?" Tanyanya membuat Shera yang hendak pergi kembali berbalik.
"Hah...apa kak!" Shera kembali mendekat guna memastikan.
"Coba lihat, apa yang kurang."
Shera tak berpikir panjang, dia kembali mendekat hingga jarak mereka hanya berada beberapa senti saja.
"Apa kak,"
Grep
Shera terperanjat, napasnya tiba-tiba tercekat.
"Kamu sengaja hm."
Kepala Shera menggeleng, dia tidak tahu maksud suaminya.
"Sengaja apa."
Daren tersenyum menyeringai, kedua tangannya memeluk pinggang Shera erat.
"Dalaman... kamu lupa mengambilnya, atau sengaja agar aku tidak memakainya." Bisik Daren ditelinga Shera membuat wanita itu melebarkan kedua matanya menegang.
ku kirim 🌹&☕ biar semangat upnya..
tpi tetap sja harus mnjadi tumbal... dri hutang org tuanya....
ingin terus dan terus menunggu kelanjutannya lagiii 👍👍🤩
btw thankU sdh double up ini 😍😍🙏