Setelah lima tahun menikah, Adipati Elang Ganendra dan Dewi Astjarjana dikaruniai seorang putri.
Elang Ganendra memberinya nama Dewi Anandhita.
Sejak dilahirkan, Anandhita sudah menunjukkan kekuatannya.
Namun sayang, kelebihan fisiknya membuat Elang Ganendra salah paham dan mencurigai istrinya.
Anandhita kecil harus hidup tanpa belaian kasih sayang seorang ayah.
Untungnya, Dewandaru, Ayah dari Elang Ganendra yang keturunan langsung dari Bathara Guru, sangat menyayanginya.
Dewandaru juga yang mengajari Anandhita dasar-dasar ilmu beladiri.
Anandhita pun bertekat memanfaatkan ilmunya untuk menegakkan keadilan dan menolong sesama.
Cerita dalam novel ini adalah fiksi yang bersifat untuk menghibur, sama sekali tidak ada maksud untuk mengubah sejarah.
Dibingkis dengan cara sederhana, dilengkapi dengan aneka budaya nusantara, dibumbui dengan romansa dan sedikit action, sangat sesuai dijadikan dongeng sebelum tidur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Ekawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar Setan
Anandhita membuka matanya setelah merasakan tubuhnya sudah pulih kembali, segala rasa sakit tlah hilang tak tersisa, tenaga dan kekuatannya pun tlah kembali.
Bahkan Anandhita bisa merasakan lebih banyak energi alam yang tersimpan dalam tubuhnya.
Dilihatnya bulu-bulu halus di sayap kirinya juga mulai tumbuh sebagai ganti sayapnya yang hilang.
Hanya di seujung kuku luka parut bekas panah saja dimana bulu-bulunya tidak bisa tumbuh. Tapi akan tertutup oleh bulu-bulu disekitarnya seiring berjalannya waktu menjadi seperti sedia kala.
Anandhita keluar dari sendang dan mengeringkan tubuh, pakaian, dan sayapnya, menggunakan inti apinya.
Anandhita tersenyum dan menganggukkan kepala kepada Ki Jalak Lawu yang masih dengan setia menunggunya. Ki Jalak Lawu membungkukkan badannya kepada Anandhita.
Anandhita menghampiri Dimas Arya dan berjongkok memegang telapak tangan Dimas Arya. Disalurkannya sedikit tenaga dalam untuk membangunkan Dimas Arya.
Dimas Arya membuka mata dan terkesiap melihat Anandhita kecil sudah berjongkok di depannya. Ia pun berdiri seraya membantu Anandhita untuk juga berdiri.
“Makanlah… Sudah dua hari dua malam kalian belum makan apa-apa. Nanti di Hargo Dalem, kalian bisa makan pecel Magetan di Warung Mbok Yem, warung tertinggi se-Djawa Dwipa”
Ki Jalak Lawu menyodorkan buah juwet dan rasberry masak yang ada diparuhnya kepada Anandhita.
“Terima kasih Ki…” Anandhita menerima buah juwet dan rasberry dari paruh Jalak Sakti dan membaginya dengan Dimas Arya.
‘Ternyata Warung Mbok Yem, sudah ada di jaman sekarang’ Batin Anandhita.
(Author bertanya-tanya, apakah mereka punya uang kalau mau makan disana? Bukanlah dari kemarin tidak disebutkan mereka membawa uang?? 😰)
Mereka menikmati buah hitam dengan rasa manis asam yang meninggalkan warna hitam ke-ungu-unguan di mulut dan gigi mereka.
“Hiiiii….” Anandhita nyengir menunjukkan giginya dan gusinya yang sudah berwarna ungu kepada Dimas Arya,
"Hiiiiiiii...." Dimas Arya pun membalas perlakuan Anandhita, kemudian tertawa bersama-sama, seolah sudah melupakan apa yang baru saja mereka alami.
Sedangkan Jalak Lawu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku mereka berdua.
Setelah menghabiskan semua buah-buahan yang diberikan oleh Ki Jalak Lawu, mereka melanjutkan perjalanan kembali.
Kali ini Jalak Lawu sudah tidak berani memulai perdebatan dan membuat masalah dengan Dimas Arya, setelah mengetahui bahwa Dimas Arya adalah murid sekaligus anak angkat dari Dewandaru.
Jalak Lawu hanya diam, hinggap di bahu Anandhita. Anandhita dan Dimas Arya pun lebih diam daripada sebelumnya.
Mereka lebih menikmati pemandangan alam sambil menyerap kekuatan alam di setiap langkahnya. Nampak keelokan Telaga Sarangan, Sripanggung Gunung Lawu di sisi kiri mereka. Tapi mereka hanya memandang dari atas saja, tidak turun kesana.
Jalan berbatu pun bertambah terjal, penuh dengan batu-batu sebesar rumah.
Mereka sudah tidak dapat berjalan kaki seperti sebelumnya, tapi mulai memanjat dan mendaki, mencari sela-sela di antara bebatuan hanya untuk mencari pegangan atau pun pijakan kaki.
Setelah beberapa saat mendaki, mereka sampai di puncak bukit yang berselimut kabut. Mata Ajna Anandhita sudah menyadari akan ilusi di tempat tersebut.
Begitu pula dengan Jalak Lawu. Sebagai penunggu Gunung Lawu, tentunya ia sudah sangat hapal sengan seluk beluk beserta kejadian-kejadian di Gunung Lawu ini begitu juga dengan adanya pasar lelembut yang lebih terkenal dengan Pasar Dieng tersebut.
Anandhita hanya melihat tanah berbatu dengan diselingi rumput dan ilalang tinggi.
Anandhita menundukkan pandangannya, tidak berniat mencari tahu daerah di sekitarnya yang merupakan tempat berkumpulnya berbagai macam lelembut.
Ki Jalak Lawu pun mempunyai melakukan hal yang sama. Tapi tidak dengan Dimas Arya.
“Tumbas nopo Mas… rene lhooo… ki cah wadone ayu-ayu nang kene..(Beli apa Mas, kesinilah, disini banyak gadis cantik) Seorang gadis cantik berbaju hijau melambaikan tangan ke arah Anandhita dan Dimas Arya.
Dimas Arya melangkah mendekatii gadis tersebut.
“Kak Arya, jangan ikut. Dia itu setan!” Anandhita memegang lengan Dimas Arya dan berusaha mencegahnya mengikuti sosok lelembut yang menurut Dimas Arya adalah gadis cantik berbaju hijau.
“Sebentar Anandhita, nanti aku kembali kesini.” Ujar Dimas Arya berusaha melepaskan pegangan tangan Anandhita.
Tapi Anandhita tidak mau melepaskan pegangannya dan berusaha menarik Dimas Arya untuk tetap di jalan semula dan melanjutkan perjalanan.
“Aargh…. sakit Anandhita!! Lepaskan tanganmu!” Dimas Arya mulai merasa kesal kepada Anandhita.
Ditambah lagi dengan pegangan Anandhita yang serasa akan meremukkan tulang lengannya.
Tapi Anandhita sama sekali tidak berniat melepaskan genggamannya, bahkan semakin berusaha menarik Dimas Arya.
“Anandhita!! Hentikan kelakuan kekanak-kanakkanmu!!” Emosi Dimas Arya semakin memuncak.
Tangan Anandhita dihempas kasar sambil berteriak membentak Anandhita.
Anandhita yang terkejut karena baru saja dibentak dan dihempaskan dengan kasar oleh Dimas Arya untuk yang pertama kalinya, serentak melepaskan pegangannya dari lengan Dimas Arya.
Mata Anandhita kecil mengembang menahan tangis.
Dimas Arya yang merasa kesakitan pada lengannya segera memeriksa lengan kanannya. Ada bekas merah tangan Anandhita disana.
Dimas Arya memandang Anandhita dengan wajah kesal, kemudian berbalik dan melangkah meninggalkan Anandhita.
“Gunakan Cakra Vishudda mu!” Jalak Lawu memberi saran kepada Anandhita.
Anandhita kembali menarik lengan Dimas Arya yang tinggal beberapa langkah saja memasuki ruangan mengikuti gadis berbaju hijau tersebut.
“Kak Arya, ingat Kak, kita sedang laku. Kita sedang berada di Pasar Setan, tempat berkumpulnya para lelembut.” Ucap Anandhita menggunakan tenaga dalam yang berasal dari Cakra Vishuddanya.
Dimas Arya tertegun, seakan menyadari sesuatu.
“Kang Mas… kenapa ragu… mereka (gadis-gadis cantik) sudah menunggumu di dalam… “ Lelembut itu pun tak mau melepaskan mangsanya (Dimas Arya).
Haha, salam dari Clarissa ❣️