Revisi...
Demi salah satu proyek besar yang sedang ia rencanakan....Devan..pria tampan dari keluarga kaya raya terpaksa menikahi seorang gadis yang sama sekali tidak ia kenal, bahkan ia belum pernah melihat seperti apa wajah wanita yang akan ia nikahi tersebut.
" Tuan muda saya menginginkan lahan anda tuan,dan pihak kami bersedia memberikan harga tinggi" Ferdy
" Saya tidak akan pernah menjual lahan saya dengan harga berapapun dan pada siapapun,kalian bisa mengambil lahan saya tanpa harus membelinya,namun dengan satu syarat" Al- Habib... Abdullah.
" Katakan?" Ferdy.
" Salah satu dari kalian, yang benar-benar memiliki tanggung jawab dalam proyek tersebut...saya ingin salah satu dari kalian, menikahi cucu perempuan saya" Al- Habib.. Abdullah.
" Akan saya sampaikan pada tuan muda saya" Ferdy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arisha Langsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Mobil yang membawa Annisa mulai terlihat memasuki gerbang megah sebuah tempat wisata alam, terlihat villa-villa minimalis dengan model yang sama berbaris rapi,di sepanjang jalan yang mobilnya lewati berjajar aneka ragam bunga yang terlihat begitu indah dan terawat, sungguh memanjakan mata.
Hingga akhirnya mobil berhenti di depan sebuah villa yang terpisah dan berukuran lebih besar dan berlantai dua, terlihat di bagian atas villa tampak ada balkon yang terdapat di bagian samping.
" Kita sudah sampai nona" ucap pak Sofyan sopan,seraya membukakan pintu mobil untuk Annisa.
" Eh.. sudah sampai ya pak,maaf saya sibuk melihat bunga-bunga itu, sampai tidak sadar bahwa mobil sudah berhenti" ucap Annisa merasa malu.
Fokusnya seakan terhipnotis oleh keindahan tempat tersebut, sungguh ia merasa sangat takjub, bahkan ia tak pernah menyangka bahwa di tempat itu terdapat tempat wisata seindah itu, mungkin karena pesantren sang kakek yang memang berada di tempat yang sedikit masuk ke dalam,jadi ia tidak pernah melihat lalu lalang jalanan desa tersebut.
Kedatangan Annisa di sambut oleh seorang wanita paruh baya,tanpa bertanya apapun, wanita tersebut membimbing Annisa menuju lantai atas yang Annisa yakini adalah menuju kamar.
" Mari non saya antar ke kamar" ucap nya sopan.langkah nya begitu lincah menaiki tangga.
" Maaf buk, mengapa tidak di kamar yang di lantai bawah itu saja?" tanya Annisa karena ia merasa penasaran.
" Jangan panggil buk, panggil bibik,nama bibik Nidar,panggil bik Dar aja,di bawah itu kamar untuk tamu non,kamar utama nya ada di lantai dua" jawab wanita yang mengaku bernama Nidar tersebut.
Annisa tak sedikitpun membantah, pikiran nya terlalu lelah ,ia harus tinggal di tempat yang terasa sangat asing tersebut, untung tempatnya sangat indah.
" Silahkan non..ini kamar nya, apakah perlu bibik bantu menata bajunya?" tanya bik Dar, setelah membuka pintu kamar yang kesan pertama terlihat mewah di mata Annisa.
" Terimakasih bik,tidak perlu bik,saya bisa menata nya sendiri,cuma sedikit kok" jawab Annisa sopan,di depannya berdiri dua buah koper,masing-masing diantaranya berisi baju dan perlengkapan kuliah nya,termasuk beberapa tas dan juga alas kaki.
" Baiklah..jika nona butuh sesuatu katakan saja, tempat tinggal bibik ada di samping kanan villa ini,tapi bibik juga sering menginap di dalam villa ini,kamar yang berada di samping dapur itu kamar bibik" ucap bik Dar.
" Iya bik,akan saya panggil jika saya membutuhkan sesuatu "
" Silahkan masuk non,sudah bibik bersihkan, seprai nya juga sudah bibik ganti,tapi maaf non, seprai di kamar ini tidak ada warna lain selain putih dan cream, karena kata nya pemilik villa ini hanya meminta warna itu"
" Tidak apa-apa bik,tidak ada masalah bagi saya, yang penting nyaman dan aman bik,itu sudah cukup "
" Alhamdulillah... kalau begitu bibik tinggal ke bawah ya"
" Oh iya bik, silahkan.. assalamualaikum "
" WaalaikumSalam " jawab bik Dar.
Setelah kepergian bik Dar, Annisa mulai melangkah kaki nya memasuki kamar yang terlihat begitu mewah, layaknya kamar hotel berbintang.
Semakin dalam kaki Annisa melangkah,ia seakan semakin mencium aroma parfum maskulin khas laki-laki, parfum yang Annisa yakini tidak sembarangan parfum, atau mungkin itu pengharum ruangan,ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar.
Mewah, elegan dan indah, itulah yang muncul dalam benak Annisa, sehingga memunculkan sebuah pertanyaan, siapakah pria yang menikahi nya? sekaya apa pria itu? Sehingga mampu memberikan nya mahar semewah ini, bahkan pernikahan mereka hanya pernikahan siri.
Rasa kagum Annisa tak sampai di situ,ia semakin takjub saat membuka sebuah pintu yang ia yakini adalah menuju kamar mandi, yang ternyata benar,ia melihat sebuah kamar mandi yang terlihat sangat mewah, dilengkapi dengan buth up, rasanya ia seakan tinggal di hotel berbintang dengan fasilitas VVIP.
Annisa kembali menuju sebuah pintu geser dari kaca, matanya terperangah melihat ternyata tempat itu adalah ruang ganti,dan yang membuat nya tak bisa berkata,di tempat itu terlihat tersusun rapi pakaian pria, lengkap dengan segala keperluan pribadi nya,berjajar jas tergantung rapi,dan di bagian yang lain terlihat kosong,itu artinya untuk menata pakaian nya.
Annisa melangkah masuk,seraya menarik dua koper miliknya, matanya masih menatap jajaran baju pria, terlihat jelas semua yang terdapat di ruangan tersebut bukan barang sembarangan, barang dengan merk ternama dan branded pastinya.
" Huft..." Annisa menghela nafas panjang sebelum menata perlengkapan pribadi miliknya, bahkan ia tak menghabiskan setengah dari tempat yang kosong itu,mata lentik nya menelisik beberapa model baju pria yang ia lihat,dan ia yakin semua koleksi di tempat itu milik pria yang masih muda.
Matanya juga melihat beberapa koleksi jam mewah,juga dasi,dan beberapa pasang sepatu dan sendal jepit.
' mungkin kah itu semua milik pria yang menikahi nya?' yang artinya milik suaminya, pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul di benak nya.
Setelah selesai, Annisa bergegas keluar dari ruangan ganti dan menuju pintu yang ia yakini adalah balkon, lagi-lagi Annisa di buat takjub dengan indahnya pemandangan di tempat itu saat di lihat dari tempat yang lebih tinggi.
Annisa bisa melihat ada beberapa kolam yang sepertinya kolam air hangat, terlihat ada kepulauan asap,dan juga terlihat sungai buatan yang di per indah dengan bebatuan dan juga kursi-kursi santai dan gazebo di sekeliling nya,juga terdapat danau buatan yang terlihat begitu banyak bebek berenang,juga terlihat beberapa orang tengah memancing.
" Ya Allah.. indah nya" puji Annisa seorang diri,ia sampai tersenyum sendiri saat menikmati suasana sejuk sore itu.
Lamunan Annisa buyar saat terdengar nada dari ponselnya yang berada di dalam saku dress panjang miliknya.
[ Assalamualaikum kek]
[ ......]
[Alhamdulillah sudah kek, tempatnya sangat indah kek]
[.....]
[Insyaallah Ica akan betah kek di sini]
[.....]
" [Iya kek,kakek tenang aja ya,Ica pasti akan baik-baik saja].
[.....]
[ Iya kek.. assalamualaikum] ucap Annisa pelan.
Sebelum menyimpan kembali ponselnya, Annisa menatap layar ponselnya,ia menyungging senyum tipis, bahkan sangat tipis, mungkin senyuman nya itu lebih pantas di sebut dengan senyuman sakit, senyuman pilu,atau mungkin ia melakukan nya hanya karena ingin mengganti dengan tangis yang rasanya sudah tak sanggup lagi ia lakukan.
" Ayah... Bunda...Ica janji akan selalu bahagia, apapun yang akan terjadi kedepannya Ica janji Ica akan tetap tersenyum,Ica akan tetap menjadi Ica Ayah dan bunda yang tidak pernah menyerah, Doakan Ica agar bisa setegar karang ya yah,Bun,bisa sekuat baja dan bisa sesabar wanita-wanita hebat pecinta Allah...Ica rindu kalian..Rindu Ayah,rindu bunda,adik juga" ucap Ica lirih seraya terus menatap fotonya bersama kedua orang tuanya dan juga adik bayinya,itu adalah foto terakhir pertemuan mereka sebelum kejadian naas itu terjadi,foto kenangan terakhir saat kedua orang tuanya dan sang adik mengantarkan nya ke pesantren.
Annisa memutuskan untuk kembali ke dalam kamar dan menutup pintu kamar yang mengarah ke balkon saat melihat Matahari terlihat mulai memerah menunjukkan bahwa senja telah tiba.
Annisa memasuki kamar mandi,ia mengedarkan pandangannya melihat sekeliling kamar mandi yang masih membuatnya merasa seakan tak percaya,ia memang pernah melihat kamar mandi semewah itu,tapi itu hanya di film-film yang pernah ia tonton.
Ia memang pernah beberapa kali menginap di hotel berbintang saat kedua orang tuanya masih hidup,tapi tidak juga semewah yang di hadapannya saat ini.
Annisa bisa melihat beberapa handuk berwarna putih yang berbeda ukuran tersusun rapi di atas rak kaca,ia juga melihat beberapa jubah mandi tersedia dan juga perlengkapan mandi lainnya.
Annisa memang akan memakai jubah mandi atau handuk yang tersedia di tempat itu dan juga fasilitas lainnya,tapi ia tidak akan memakai perlengkapan mandi yang ia yakin milik laki-laki itu,selain karena ia alergi terhadap kosmetik ai juga takut akan di katakan lancang oleh sang pemilik jika sewaktu -waktu pemilik kamar tersebut datang.
Mengingat suatu saat pemilik kamar itu akan datang, membuat Annisa refleks bergidik geli, sekaligus takut, membayangkan akan tidur satu kamar dengan orang asing,dan ia juga bingung,jika pemilik kamar itu datang ia harus bagaimana? Apakah ia harus tetap di kamar itu atau pindah ke kamar lainnya?.
Ah itu akan ia pikirkan nanti,saat ini ia akan belajar lebih ikhlas menerima apapun yang akan ia hadapi kedepannya,baik itu tentang pernikahan nya, orang yang katanya mengincar nya, yang bahkan ia belum tau siapa orang itu, yang ia pikirkan saat ini adalah kesehatan kakek nya dan juga pendidikan nya.
Annisa memasuki bak mandi setelah mengisinya dengan air hangat dan beberapa tetes sabun aroma terapi miliknya, karena memang ia tidak bisa memakai sabun jenis apapun selain produk yang di khususkan untuk bayi.
Annisa memejamkan matanya seraya menyandarkan punggung dan kepala nya pada sandaran bak mandi,ia mencoba menikmati suasana yang terasa begitu tenang dan nyaman, menghirup dalam-dalam aroma terapi yang memang menjadi favorit nya,aroma vanilla.
Hingga tanpa Annisa sadari ia hampir saja tertidur, Annisa memutuskan menyudahi mandinya,ia keluar dari bak mandi dan membilas tubuhnya di bawah shower,baru setelah nya ia meraih jubah mandi dan memakainya,membungkus rambut panjang nya dengan handuk kecil dan ia melangkah keluar dari kamar mandi.
Annisa menghentikan langkahnya yang akan menuju ruang ganti saat mendengar suara pintu kamar yang ia tempati saat ini di ketuk disertai dengan suara seorang wanita yang memanggilnya.
Tok tok tok
" Nona " panggil orang tersebut yang Annisa yakini adalah art di villa itu.
Annisa memutar langkahnya berbalik menuju pintu, membuka nya sedikit, memastikan bahwa hanya ada wanita saja di depan pintu kamar nya, setelah memastikan hanya ada bik Dar saja, Annisa pun membuka sedikit lebih lebar pintu tersebut.
" Ia bik ada yang bisa saya bantu?" tanya Annisa sopan,ia sedikit merapatkan bagian atas jubah mandi nya dan juga sedikit menarik bagian bawah jubah tersebut, yang memang hanya sebatas lutut nya saja.