Di tahun kedua sekolahnya, Suki mencoba untuk mencari kisah cintanya seperti orang-orang kebanyakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Salim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. The Light
"Konon perkataan memang lebih tajam, lebih kuat dan lebih ampuh meretakkan sebuah hati."
*
Cerita itu diungkit kembali. Seolah tak bosan muncul, tak bosan menghantui. Memanggil runtuian memori pahit yang tak bisa dihindari. Dan duduknya Zora kini hanya untuk mendengar ulang deritanya dulu, yang semoga tak mengecewakan.
"Ra, makasih..." lirih Tao pilu, hendak menyentuh rambut Zora, namun tangan Zidan segera menepisnya penuh peringatan.
"Seujung kukupun, jangan lo berani sentuh Zora! Lo ini nggak sadar ya juga ya? Dulu, setelah menghancurkan hidup, mimpi dan senyum Zora, sekarang lo mau ngapain?! Ngeracuni dia sampai mati konyol?!" tanya Zidan berapi-api, amat marah ketika Zora malah ngeyel ingin mendengar cerita Tao.
"Dan, bisa dengerin gue dulu?" pinta Tao dengan amat pedih, lelah dan putus asa. Sisinya yang dulu kembali. Sisi yang lembut. Membuat daerah dalam diri Zidan seperti terenggut merasa miris.
"Denger apa? Denger bahwa dulu lo emang niat nyelakain Zora gara-gara nggak terima nyokap asli kesayangan lo menikah sama bokapnya Zora?" tanya Zidan pelan seraya tertawa sumbang. "Lo nggak mau ditinggal sama nyokap yang rupanya jadi kaya setelah lo pilih tinggal sama bokap lo yang nikah sama cewek lain pas nyokap bokap lo cerai, kan?"
Jantung Zora seperti ditusuk-tusuk tanpa henti. Matanya seperti meleleh dan kini pandangannya memburam sebab air mata yang menumpuk, berlomba-lomba untuk keluar.
"Dan," pinta Tao lemah. "Bisa lo diem dulu?"
"Lucu. Lo matre. Lo pendengki." Zidan lagi-lagi tertawa sumbang, menekan emosinya supaya tak keluar. "Lo nyelakain Zora supaya pernikahan itu batal, kan? KONYOL TAU NGGAK, PIK?! LO KONYOL! TOLOL!"
Kini bendungan air mata itu tak terbendung lagi, Zora benar-benar terisak, dadanya sesak. Tao melihatnya sama terluka. Perih mengaliri dadanya, namun itu rupanya membuat suaranya tercekat, tak mampu berkata.
Zora menarik napas dalam, tanpa kata, tanpa menoleh lagi pada Tao, gadis rapuh itu bangkit dari duduknya dan menarik Zidan setelah mengajaknya pergi.
Meninggalkan Tao yang kini sibuk memaki diri. Menyesal meratapi keadaan.
Sebab mulut yang tak berani berkata. Tak berani jujur.
*
"Tao, kamu baik-baik aja ya sekolahnya. Ayah sama Bunda mau ada yang diomongin, kamu berangkatnya sendiri ya. Belajar yang bener!"
Senyum polos itu terukir kala dirinya mulai mengejar cita-cita di sekolah menengah pertama. Tao hormat dan memberanikan diri berangkat sekolah sendirian.
Cukup sulit untuk sendiri, sebab Tao selali terbiasa akan bantuan. Sulit untuk mandiri hanya untuk menaikki kendaraan umum, membayarnya, kemudian berjalan di antara kerumunan asing yang menatapnya kagum. Tapi setidaknya Tao berhasil, melakukan hal sendirian, tanpa bantuan orang tuanya.
Di kelas, Tao tak dapat teman di hari pertama. Karena dirinya yang tak pandai berkata-kata dan kurang ramah, dan dengan bodoh dia memilih duduk paling pojok yang tak pernah jadi pusat, Tao menyendiri. Tak membaur. Tao tak bisa cepat nyaman dengan orang asing, dia hanya terbuka pada keluarganya.
Ayah dan Bunda.
Hanya mereka.
Sejak kecil, Tao selalu disayang sebab dia adalah anak sematawayang anak penerus perusahaan mainan besar yang bergengsi. Tao yang waktu itu tak mengerti kerasnya dunia, memilih nyaman dengan segala kemegahan dan kasih sayang yang dilimpahkan kedua orang tuanya. Memanjakan dirinya, membuatnya tertawa dalam lingkup yang sebenarnya menyimpan tangis.
Tepat hari pertama pulangnya dia dari kemandirian yang membuatnya sesak, Tao diberi lagi kesesakkan saat Ayah dan Bunda menyambutnya bukan dengan pelukan senang atau bangga atas kemandiriannya pergi sekolah sendiri, tapi dengan wajah datar yang menyimpan marah sekaligus duka.
"Tao, sekarang kamu pilih, mau tinggal sama Ayah, atau Bunda."
"Kalo tinggal sama Bunda, Bunda yakin bisa jamin Tao bahagia."
"Terserah sih, Ayah punya banyak harta buat Tao. Juga kita bakal tinggal di rumah ini."
"Bunda emang mau pindah, tapi rumahnya nggak kalah bagus kok dari rumah ini. Tao ikut Bunda ya, nanti Bunda kesepian."
Tao kecil tak mengerti perceraian. Tak mengerti perpisahan. Yang ia pahami adalah berada di rumah ini ia merasa nyaman, aman, maka dari itu, Tao memilih Ayahnya.
Yang rupanya, rumah nyaman dan aman ini tak menyenangkan, begitu sepi ketika kehadiran Bunda absen.
"
Yah, Bunda kok nggak pulang-pulang? Katanya cuma nginep, udah sebulan lho ini. Tao kesepian."
"Ayah sama Bunda udah cerai, Tao."
"Cerai?"
"Iya, pisah. Memilih jalan masing-masing sebab sudah tak cocok. Kamu jangan ketemu lagi sama Bunda aja ya."
"Kenapa jadi begitu, Yah?"
"Ini semua udah jalan Tuhan buat kita, Tao. Yang harus kita lakukan sekarang adalah menerima, menjalani dengan tabah. Oke?"
Tao benar-benar kehilangan dunianya waktu itu. Satu minggu ia tak keluar kamar, tak sekolah, tak tersenyum. Banyak yang harus Ayah lakukan. Mulai dari mengetok pintu kamarnya dengan hati-hati, berbicara dengannya tiap malam meski terpisah pintu yang terkunci rapat, kemudian sampai mendobrak pintu itu kala sadar Tao tak menyahuti perkataannya dengan berkata ingin sendiri dulu dan Ayah hanya perlu menurutinya.
Ayah begitu terkejut mendapati Tao yang tak sadarkan diri di kasurnya sendiri. Meski tangannya kini berdarah akibat merusak pintu, meski kini ia lelah akibat pekerjaan, meski dirinya muak dengan kehidupan yang hampa ini, Ayah membopong Tao dengan kasih sayang. Membawanya ke rumah sakit, memeriksa keadaannya, merawatnya.
"Anak Bapak kurang kasih dari seorang Ibu?"
"Iya, Dok. Semenjak saya cerai dengan wanita itu, anak saya jadi murung dan mengunci diri. Jarang tertawa dan berekspresi. Apa itu buruk, Dok?"
"Coba pertemukan anak Bapak dengan Ibunya. Fisik anak Bapak baik-baik saja, tapi mentalnya..."
Tao mendengarnya. Kemudian berharap.
"Yah, Tao pengen ketemu Bunda."
"Apa?"
"Tao kangen Bunda."
"Udah ya, Tao! Bundamu itu sudah selingkuh di belakang Bapak, udah menghancurkan martabat Bapak, dia ninggalin kamu, Tao!"
"Udah, mulai sekarang jangan tanyain Bunda lagi dan ikuti apa perintah Ayah ke depannya!"
Tao tersentak. Ia terdiam lama, semakin terpuruk. Meski ia tetap menjalankan kehidupannya seperti semula semenjak Ayah mengatakan bahwa Bunda salah, Tao masih menutup diri. Semakin mengasingkan diri.
Dirinya dikenal sebagai anak sombong, tak pedulian, manja, sok dingin, ketus, pendiam, licik, dan banyak hal lain yang menggambarkan bukan dirinya yang dulu, bukan dirinya yang lembut, sering tertawa, ramah, dan semangat.
Sampai anak itu hadir di kehidupan Tao.
"Lo nggak sekolah seminggu tapi masih seratus aja pas ulangan Matematika? Makan racun dukun lo ya?"
"Apasih jangan ganggu gue."
"Idih sombong. Emang ya, orang pinter tuh suka sombong. Dibanggain dikit aja sinisnya selangit. Hih!"
"Lo cocornya kok mirip cewek ya?"
"Oh ya? Makasih lho pujiannya, berkat itu gue pengen jadi temen lo."
"Hah? Apa?"
"Kenapa? Salah lo punya temen? Yakin mau hidup sendiri mulu duduk dipojokkan?"
Tao amat naif, menerima seseorang sebagai teman dekatnya, tanpa tau bagaimana sifatnya yang sebenarnya. Yang perlahan membangun tali erat, merobohkan penghalang yang Tao bangun semenjak Ayah dan Bunda bercerai. Membuat Tao merubah sikap. Lebih terbuka. Menceritakan semuanya. Tentang dirinya yang broken home. Tentang dirinya yang tak bisa bergaul. Tentang dirinya yang kini selalu digencat Ayah untuk sempurna.
Beruntung Tao bertemu Zidan, yang meski dia jahil dan bodoh, temannya yang satu itu tak pernah membuatnya kecewa. Tak pernah membuatnya terjerumus dalam lubang hitam.
Bersama Zidan, Tao berubah. Cowok itu tak lagi murung, diam dan beku. Justru kini menjadi seseorang yang lembut, tabah, ramah, teduh dan menyenangkan.
Kemudian gadis itu datang. Seperti takdir, mereka terikat sebuah tali. Zora memandangnya berbeda, bukan sebagai anak manja yang dingin dan kurang kasih sayang. Gadis itu membuka pandangan Tao. Menyeretnya dalam lautan penuh bunga-bunga.
Membuatnya jatuh dalam pesona yang seharusnya tak ia kasih sayangi.
Sampai kecelakaan Zora terjadi.
Tao yang syok dan tertekan tak bisa menyanggah tuduhan Zidan yang makin lama semakin terdengar benar. Seperti yang dirasakan Zidan, Taopun terpuruk, sedih akan keadaan Zora yang lebih parah dari mereka berdua.
Yang tak bersalah.
Namun seharusnya Zidan tak menyalahkan semuanya pada Tao hingga Zora memikirkan hal buruk tentangnya.
Sebab bukan Tao yang pertama kali mencetuskan Zora jalan-jalan di atas motor. Bukan Tao yang berpikir bahwa memakai helm dapat membuat rambut Zora lepek. Bukan Tao juga yang jadi gagal fokus jika bukan karena Zidan bertanya. Bukan juga Tao yang membuat Zora koma.
Semua itu salah keduanya. Salah Tao dan Zidan yang mengapa tak berpikir dua kali. Yang menuruti ego sebab hati yang juga memaksa. Tak melibatkan logika.
Hingga luka-luka itu tercipta.
Namun, berkat mulut bodohnya yang tak bisa bicara, ketika Zidan berspekulasi bahwa dirinya yang menyelakai Zora sebab Bundanya akan menikah dengan Papa Zora, Tao mendapat banyak kebencian.
Dari Ayahnya yang makin marah ketika Tao malah main ketika seharusnya menjalani hukuman. Dari Bundanya yang menyayangi Zora. Dari Ayah Zora yang kini amat membencinya. Dari Zidan yang memarahinya, memakinya.
Tao menerima semua itu dalam deru napas tertahan. Setiap kali mereka marah, mendatanginya, memakinya ketika kondisinya masih perlu perawatan intensif, Tao selalu memasang topeng. Wajahnya datar, kehilangan rasa percaya. Mengapa dari banyak alasan, orang-orang yang ia sayang justru tak ada yang membantunya?
Membantu Tao bangun, dengan tegar menghadapi kenyataan bahwa kakinya cidera. Bahwa keahliannya untuk berenang kini hilang. Tak berguna.
Mengapa mereka malah menyalahkannya? Menumpuk semua rasa pahit padanya?
Orang yang Tao kira akan menyemangatinya justru menambah sesak. Sesak yang selalu Tao tumpahkan saat malam tiba. Saat ingin, sunyi dan sepi melingkupnya, merengkuhnya supaya menumpahkan segala bebannya.
Yang membuat Tao hancur adalah kenyataan bahwa selama dua tahun ini Zora menganggapnya buruk. Dan saat ada kesempatan untuk menjelaskannya, Tao bodohnya tak mampu.
*
Tao yang sekarang tak berubah banyak. Masih menganggap semuanya tak berarti. Semua orang hanya mempercayainya di awal, kemudian membuangnya setelah Tao mencapai titik terlemahnya.
Namun tentu, di tengah jalannya yang sepi dan monokrom, sesuatu berwarna dan bercahaya menarik dirinya keluar dari kubung gelap. Kemudian jatuh terpana di sana.
Dan kini ia telah menemukan cahaya yang menariknya keluar dari kelam. Menariknya untuk kembali menjadi dirinya sendiri. Secara alami, berangsur-angsur dan kini, setelah yakin, Tao bergerak cepat untuk meraih cahayanya itu.
"Lo tau nggak kenapa gue aja lo ke sini?" tanya Tao lembut.
"Kenapa?" Suki balik tanya saat bingung tahu-tahu aja Tao menyeretnya ke pinggir kelas saat dirinya hendak ke toilet.
"Sini buka tangan lo," suruh Tao sambil meminta tangan Suki.
Menautkan alis, Suki bertanya lagi. "Buat apa?"
"Sini dulu," balas Tao tau menjawab, malah kini meraih tangan Suki tak sabaran dan menaruh sesuatu buat Suki kepal. Ketika Suki mendak membukanya, Tao segera melarangnya.
"Ntar dibukanya, kalo udah nggak ada gue."
"Dih, sok misterius," kata Suki berakting mencibir. "Udah sana lo balik ke kelas."
"Lo penasaran ya itu isinya apaan?" Tao menggerling jenaka.
"Awas lo kalo macem-macem." Suki menunjuk Tao dengan wajah mengancam. "Sampe isinya hal yang nggak gue inginkan, gue musuhin lo seumur hidup."
"Dua minggu dong?" alis Tao naik dua-duanya.
Kening Suki mengerut tak paham. "Lah?"
"Kan kita baru kenal dua minggu. Otomatis seumur hidup itu ya dua minggu." Tao menyentuh kening Suki dengan telunjuknya. "Gitu aja nggak ngerti."
"Gue makin punya firasat ini benda yang gue benci." Suki berspekulasi buruk.
"Kalo gitu, buka aja," kata Tao enteng, memasukkan tangannya ke saku dan mengangkat tangan yang lainnya untuk melihat jam sementara Suki hendak membuka kepalan tangannya yang ia duga ada sesuatu yang buruk di sana. "Oke, deh, dua menit—"
"AAAA TAO TAO TAO GUE TAKUT KECOA ANJIR IH! GELI, GELI GELI! HIIIIHHHH!"
Suki kelabakkan melihat kecoa mainan di tangannya, ia menjerit histeris sampai tak sadar kini dia sudah menempel pada Tao, ***-remas lengan baju cowok itu dengan wajah pias. Jantungnya berdebar dan kakinya hentak-hentakkan ketakutan dan geli.
Meski itu mainan, Suki punya trauma tersendiri atas kecoa.
"Leb—"
"LO JAIL BANGET SI?! KENAPA HA KENAPA?!"tanya Suki berapi-api, menatap Tao marah. "Udah, kita musuhan!"
"He, he, he!" panggil Tao ketika ditinggal. Namun rupanya Suki marah beneran karena gadua itu tak menoleh saat Tao kejar dan masuk ke kelasnya dengan acuh.
Tao mengela napas kecil sambil berbalik lagi menuju kelasnya karena jam istirahat sudah habis. Ia tersenyum tipis sambil memungut kecoa mainan tadi, kemudian berdecak kecil.
"Kirain dia suka." Tao memasukkan kecoa mainan itu kembali ke kantung celanamya dan melanjutkan langkah sambil merapikan tatanan rambutnya. "Yaaah, baru aja mau pacaran, udah musuhan aja."
*
Dear, Suki
Awalnya gue tuh iseng liat lo dari jauh, cara berjalan lo, cara ketawa lo, cara bicara lo
Lo itu mirip Zora sumpah, gue jadi sayang
Ya, lo pasti tau ya Zidan tuh harusnya punya adik, namanya Ziran. Gue nggak tau ini kebetulan atau bukan, tapi karena Zidan sayang banget sama Zora dan bahkan menganggap Zora itu sebagai adiknya, ada kemungkinan lo juga mirip Ziran
Zidan saking sayangnya sama Zora, sampai cemburuin gue gara-gara Zora lebih sayang sama gue. Tu anak emang secemburuan itu
Gue sekarang akhirnya tau kenapa Zidan ngebet banget sama lo. Gue akhirnya tau, kenapa gue juga sampao tertarik sama lo
Dalam beberapa hal,
Lo mirip Zora, lo mirip Ziran
Dan mungkin, lo mirip mendiang Ibunya Zidan
Tapi bukan berarti lo disayangi karena mirip mereka. Tentu lo beda, dan di situlah titik yang menariknya
Lo dicintai dan disayangi sebagai Suki
Gue mungkin lebay atau apa ya. Lo boleh nganggap gue bebas. Tapi gue perlu ngasih tau kalau Zidan itu anaknya suka nyiksa diri sendiri. Lo tau kenapa mukanya selalu flat tapi nyeremin? Karena dia tuh menyembunyikan kesedihannya
Kenapa cara bicara dia tuh sewot mulu? Karena dia gengsi jadi orang baik
Zidan terpukul banget akibat kehilangan orang tuanya saat dia lagi berbuat buruk. Zidan merasa nggak berguna jadi anak, jadi kadang Zidan nyiksa diri
Dengan nggak tidurlah, nggak makanlah, nggak ngomonglah, keluyuran sembarangan, nggak ngurus diri
Intinya, Zidan seburuk itu sebab kehilangan orang yang dia sayangi
Ya mungkin cuma itu yang bisa gue sampain lewat surat ini. Agak alay memang, tapi karena kita musuhan, sebaiknya kita nggak tatap muka dulu
Semoga lo sadar ya atas hati lo yang sebenarnya
Tao menutup balpoinnya kemudian melipat kertas itu untuk diberikan pada Suki ketika saatnya telah tiba.
MY BOY ZIDAN 😭😭
bau" dendam nih
Curhatnya Zidan ke Felix tuh kocak.
absurd ala2 anak abegeh 🤣🤣
tulisan ny ringan rapi dan keren
semoga semakin bnyak yg baca
padahal ceritanya seruuuuu,tp sepi