Sedang direvisi.
Perjalanan hidup tak selamanya lurus mulus ke depan. Juga tidak melulu berbelok dan terjal. Adakalanya kita akan merasakan manisnya hidup saat berada di puncak. Namun tak urung juga kita merasakan pahitnya hidup saat terlempar ke dasar jurang terdalam.
Begitu pun kehidupan seorang pemuda bernama Andika Razka Pratama, yang sebenarnya adalah seorang Tuan Muda pewaris tahta Perusahaan terbesar Pratama Grup. Harus merasakan pahitnya dibuang dari kehidupan sesungguhnya.
Berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan juga membiayai pendidikannya sendiri. Menjadi saksi betapa kerasnya kehidupan Nenek yang merawatnya di pengasingan. Hingga takdir merubahnya saat dipertemukan dengan seorang kepercayaan keluarganya.
Bagaimana kehidupan selanjutnya?
Temukan intrik menarik dari kisah hidup dan asmaranya. Dibubuhi konflik yang menambah rasa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Baru
Hari ini, Emil sudah diperbolehkan pulang setelah hampir 2 bulan di rawat di rumah sakit. Hanya ada Razka di sana yang membantu Emil bersiap-siap untuk pulang, sementara yang lainnya menunggu kedatangannya di rumah baru mereka. Razka menempati rumah yang dibelinya dari hasil kerja kerasnya membangun sebuah restauran di kota. Ia lebih bangga menggunakan uangnya sendiri dari pada mengambil dari hasil perusahaan Ayahnya yang kini di kelola oleh dirinya sendiri.
Razka tak ingin kembali ke rumah yang ditempati Emil dulu meskipun itu adalah miliknya juga. Ia enggan membawa Emil dan Nenek pulang ke rumah yang dipenuhi kenangan manis bersama orang tuanya dan juga kenangan buruk dari Paman dan keluarganya sendiri.
"Kau sudah siap untuk pulang?" Razka tersenyum pada Emil yang sedang memperhatikan dirinya. Emil mengangguk semangat akhirnya ia akan kembali merasakan suasana rumah meskipun berbeda dari yang dulu. Ia masih mengira-ngira akan seperti apa rumah yang akan ditempatinya nanti. Apakah akan sama seperti yang dulu dia tempati bersama Pamannya? Ataukah akan berbeda? Mengingat Razka adalah orang yang sangat sederhana.
"Tentu saja, Emil sudah ingin pulang. Emil bosan di rumah sakit. "
Razka terkikik melihat Emil yang cemberut ia lalu mengusap rambutnya dan mengecup dahinya lembut.
"Ayo... Nenek dan yang lainnya sudah menunggu."
Razka membawa tas berisi pakaian Emil, senyum mengembang dari bibirnya. Emil kemudian menggandeng tangan Razka. Mereka berjalan berdampingan dengan Emil yang bergelayut manja di lengan Razka. Membuat yang melihat mereka seperti sepasang kekasih bukan Adik dan Kakak.
Mereka berjalan menuju parkiran rumah sakit. Razka membukakan pintu mobil untuk Emil dan pergi ke bagasi meletakkan tas yang dibawanya tadi. Ia duduk di belakang kemudi, hari ini ia sendiri yang membawa mobilnya, karena biasanya Rendy yang selalu menjadi supirnya. Namun hari ini, ia ingin mengajak adiknya itu berkeliling kota berdua dengannya.
"Kita akan ke mana Kak?" Tanya Emil begitu mobil keluar dari area rumah sakit itu.
"Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?"
Razka bertanya balik pada Emil sambil mengusap pucuk kepala Emil. Emil menoleh pada Razka yang kini sudah kembali fokus pada jalanan di hadapannya. Ada, ada satu tempat yang sangat ingin dikunjungi Emil.
"Mmmmm..." Emil meremas ujung kemeja yang digunakannya, ia ragu hendak mengatakannya pada Razka.
"Katakan saja, akan Kakak antar ke sana." Razka mengerti kegelisahan Emil, mungkin Emil belum merasa enak hati untuk mengatakan tempat yang ingin dikunjunginya.
"Boleh tidak Emil pergi ke tempat Ayah dan Ibu?" Diujung kalimat terdengar seperti gumaman, namun Razka masih dapat menangkap apa yang Emil bicarakan. Razka tersenyum, ia yakin Emil sangat ingin mengunjungi kedua orang tua mereka sama seperti Razka waktu dulu. Bedanya dulu Razka belum tau jika kedua orang tuanya telah meninggal sedangkan Emil sudah mengetahuinya.
"Kakak antar kau ke sana. Kita akan mengunjungi mereka bersama. Tapi... Apa kau tidak merasa lelah, perjalanan ke sana begitu jauh. Kakak hanya khawatir."
Ucap Razka, ia ingin sekali mengunjungi mereka berdua namun melihat kondisi Emil yang baru saja pulih dari sakit ia merasa khawatir Emil akan sakit lagi
"Aku mengerti, klo begitu untuk hari ini kita pulang saja dulu. Aku rindu Nenek. Setelah keadaanku benar-benar pulih Kakak harus berjanji akan mengajakku ke tempat Ayah dan Ibu..." Jawab Emil mengerti kekhawatiran Razka. Ia tak ingin Kakaknya merasa khawatir akan keadaannya.
"Baiklah... Setelah kau pulih Kakak akan mengajakmu mengunjungi Ayah dan Ibu. Kita pergi bersama Nenek juga."
Razka tersenyum namun pandangannya tetap fokus ke jalanan. Emil mengangguk dan tersenyum senang. Ia begitu bersyukur dipertemukan dengan keluarga yang sesungguhnya.
Mobil Razka melaju di jalanan padat ibu kota, karena ini memang waktunya jalanan menjadi padat. Banyak kendaraan yang keluar dari perkantoran juga dari tempat yang lainnya. Menjelang sore seperti ini jalanan akan begitu macet, beberapa kali mobil Razka terjebak macet. Perjalanan yang seharusnya mereka tempuh hanya dalam setengah jam itu, kini mereka harus menempuh hampir dua jam.
Laju mobil Razka melambat di sebuah perumahan elit di jantung Ibu Kota tak jauh dari restauran yang Razka bangun. Belum lama ini Razka membeli rumah disekitar sana. Alasannya hanya dua, pertama tempat itu dekat dengan restauran membuat Razka yang selalu sederhana bisa berjalan kaki jika ingin ke restauran. Yang kedua, dia bisa melihat gadisnya dari sekitar rumahnya dan juga kantornya.
Mobil Razka berhenti di sebuah rumah besar dan megah, ia memang sengaja membeli rumah yang besar karena dia ingin semua keluarga berkumpul dalam satu tempat, begitu juga Paman Max dan keluarganya yang kini tinggal di rumah baru Razka membantu mengurusi kebutuhan Nenek.
Gerbang rumah tersebut terbuka saat mobil Razka berhenti tepat di depannya, perlahan Razka mulai menjalankan mobilnya memasuki halaman rumahnya yang luas. Ada taman di kanan dan kiri jalan yang dilalui olehnya, begitu rapi dan indah. Emil takjub dengan keadaan rumah Kakaknya, ia tak menyangka Kakak yang dia tau hanya berjualan sate itu kini sudah sangat sukses. Emil memandang Razka dengan takjub ia tersenyum bangga pada Kakaknya. Rasanya baru kemaren ia membantu Razka berjualan sate di kedai Ibu Kota. Tapi kini, ia sudah sesukses ini.
"Apa Kakak yang membeli rumah ini?" Tanya Emil begitu penasaran, benarkah Kakaknya yang hanya penjual sate itu dapat membeli rumah sebesar ini. Lihat saja pilar-pilar yang berdiri kokoh di teras rumah itu yang dihiasi ukiran-ukiran yang abstrak menambah kesan megah pada bangunan yang berdiri dihadapannya itu.
"Iya, Kakak bahkan harus menghabiskan tabungan Kakak untuk membeli rumah ini. Kakak ingin orang yang Kakak sayangi berkumpul bersama-sama dengan Kakak di rumah ini..."
Razka menoleh menatap Emil dengan senyum manis seperti biasanya. Emil tersenyum bangga pada sang Kakak.
"Emil bangga pada Kakak. Sungguh... Emil bahagia menjadi Adiknya Kakak. Terimakasih karena Kakak menepati janji Kakak untuk menjemput Emil..." Ucap Emil tulus. Matanya terlihat berkaca-kaca ia terharu dengan perjuangan Razka. Kakak sederhana yang dimilikinya itu ternyata memiliki jiwa yang besar dan begitu memikirkan orang-orang yang disayanginya.
Mobilnya berhenti tepat di halaman rumah itu, dua orang laki-laki berlari menghampiri mobil Razka dan membukakan pintu untuk Emil dan Razka. Razka keluar dari mobil diikuti Emil yang juga keluar dari sana. Mereka berdua disambut hangat oleh Nenek, Paman dan Bibi Max juga Rendy dan sederet bawahan mereka yang berbaris di teras rumah.
"Selamat datang Tuan Muda dan Nona Muda..."
Para lelaki berpakaian rapi itu membungkuk memberi hormat pada mereka berdua. Emil tersenyum canggung, karena ini adalah untuk pertama kali baginya mendapat perlakukan sopan seperti itu.
"Selamat datang sayang..."
Nenek berjalan menghampiri Emil dan Razka dengan senyum bahagia ia menyambut kedatangan Cucu kesayangannya. Nenek memeluk Emil erat yang dibalas pelukan oleh Emil. Nenek melepaskan pelukannya dan sebelah tangannya mengusap pipi Emil.
"Nenek senang akhirnya kita bisa berkumpul kembali..." Ucap Nenek lembut.
Emil meraih tangan Nenek lalu menciumnya "Emil juga senang Nek, bisa berkumpul dengan keluarga Emil yang sesungguhnya." Nenek kembali memeluk Emil.
Bibi Nuri menghampiri Emil dan memeluknya setelah Nenek melepaskan pelukannya. Selanjutnya mereka semua masuk ke dalam kecuali para lelaki yang berseragam berjejer, mereka seperti pengawal menjaga rumah Razka yang mungkin saja menjadi incaran ketamakan Pamannya. Untuk itu kini Razka menempatkan beberapa pengawal di sekitar rumah, restauran juga area gedung perusahaannya atas saran dari Paman Max. Juga bodyguard yang ditugaskan mengawal ke mana saja anggota keluarga yang pergi ke luar rumah.
baca dari awal begitu bnyk kematian
tp aku masih gak terima dgn rendy pernah memberikan harapan palsu sama emil😭😭😭
itu namaku🤭🤭
itu namaku🤭🤭
walaupun cinta tdk bisa di paksakan,tp aku bisa merasakan apa yg di rasakan mirna
bukan kah razka sering mengantarkan emil pulang🤔