Seorang ibu yang mengandung, melahirkan, menyusui, mendidik dan membesarkan anak-anaknya adalah wanita yang hebat.
tapi tahukah kalian bahwa ada wanita yang jauh lebih hebat, yaitu wanita yang terus berjuang untuk menjadi seorang ibu, dia yng melakukan segala hal demi memperjuangkan garis dua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahma khusnul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut Kehilanganmu...
HAPPY READING ...⚘⚘⚘
Malam hari, Afifa duduk dishofa berdampingan dengan Fauzi, mereka nampak ngobrol serius, tangan Afifa mengelus-elus pucuk kepala Talita yang sudah tertidur pulas dipangkuannya.
"Kak...", Panggil Afifa.
"Hmmm?", jawab Fauzi menoleh sekilas ke wajah istrinya, lalu kembali fokus ke layar televisi.
Afifa menyenderkan kepalanya ke bahu suaminya, Fauzi kembali menolehnya lalu mengangkat tangannya dan merangkul pundak Afifa, membuat Afifa jadi bersandar didada bidangnya. "Apa kita harus menceritakan posisi Talita saat ini?".
"Hmmm?, ada apa?", tanya Fauzi merasa istrinya nampak gelisah.
"Tadi...waktu aku jemput Talita di sekolah, teman-temannya bertanya tentang Ayahnya", Jelas Afifa.
"La...aku kan Ayahnya, terus kenapa?".
"Tapi Talita belum tau posisinya, Aku...aku merasa sakit mendengar teman-temannya terus bertanya tentang Ayahnya yang tidak tinggal bersamanya, mungkin dia juga bingung menjelaskannya".
Fauzi terdiam, dia menarik nafas panjang, "Tapi dia masih sangat kecil, fikirannya belum sampai untuk memikirkan hal seberat itu".
"Aku tahu, tapi aku takut dia malah akan mengetahuinya dari orang lain, aku takut dia akan membenciku".
Fauzi memeluk bahu Afifa, lalu mencium keningnya. "Sayang..., kamu adalah ibu terbaik, cintamu, kasih sayangmu begitu tulus untuknya, Talita tidak mungkin membencimu sampai kapanpun".
"Teman-temannya bilang, ibu tiri itu jahat, dan dia terdiam setelah itu".
"Tidak..., itu hanya cerita dongeng sebelum tidur, Talita sudah merasakan kasih sayangmu selama ini, jangan khawatir".
"Kak..., bagaimana kalau suatu saat Ayahnya Wulan bertemu denganmu?, aku takut memikirkan hal itu".
"Hei sayang...jangan terlalu memikirkan hal yang belum terjadi, kita jalani saja semua ini, sekarang kita hidup bahagia dengan kehadiran Talita bersama kita".
"Kak..., Apa cintamu tidak akan pernah lutur sampai kapanpun?", ucap Afifa tiba-tiba, seolah ingin meyakinkan bahwa dirinya begitu berharga untuk suaminya.
"Kenapa kamu masih mempertanyakan hal itu? setelah sekian banyak masalah yang kita hadapi selama hampir dua tahun ini, apa kamu masih ragu dengan cintaku Dek?" tanya Fauzi.
"Aku takut kehilanganmu Kak...", ucap Afifa lirih, tak terasa air matanya menetes.
Fauzi yang menyadari hal itu, semakin mempererat pelukannya, "Maafkan aku sayang...", Fauzi mengusap airmata Afifa dengan jedua jari jempolnya, "karna masa laluku yang bodoh itu, membuatmu harus terus menghadapi berbagai masalah yang masih saja menghantuimu hingga kini, tapi yakinlah dengan cintaku, aku akan terus meminta pada yang maha kuasa, kita tidak hanya akan bersama didunia melainkan sampai nanti di syurganya".
Afifa mendongakan kepalanya, terulas senyuman dibibirnya, mata mereka bertemu, tak ada kebohongan sedikitpun terpancar dari pandangan keduanya, wajah mereka semakin dekat dan bibirnya hampir bertemu, tapi...."Ah...kak...", Ucap Afifa membuyarkan konsentrasi Fauzi, "Pindahkan dulu Talita ke kamarnya", ucap Afifa kemudian setelah menyadari kalau Talita sedang tertidur dipangkuannya.
"Oh...iya hehe...", jawab Fauzi sambil tersenyum agak malu. Dia berdiri dan mengangkat tubuh mungil putrinya menunu kamar tengah yang sengaja Afifa tata sebagai kamar Talita. Afifa mengikuti langkah suaminya, setelah Fauzi membaringkan Talita, Afifa segera menyelimutinya dan mencium kening anak itu, begitupun dengan Fauzi. Keduanya saling pandang dan melempar senyum.
"Hmmm...gimana kalau kita buat adik bayi untuknya malam ini?", Ucap Fauzi dengan senyum nakalnya, sontak membuat Afifa tersenyum dan mencubit pinggang suaminya.
Keduanya tertawa, Fauzi merangkul Afifa menuju kamar mereka.
********
Hari Minggu pagi, Fauzi berpamitan untuk pergi ke tokonya kepada Afifa dan putrinya, satu kecupan mendarat dikening keduanya. "Ayah pergi dulu ya sayang", ucap Fauzi sambil membungkuk mensejajari tinggi Talita.
"Iya Ayah", jawab bibir mungil Talita.
"Sayang...Hari ini kita mau pergi ke Mall bersama Nadia, Tadi Nadia kirim pesan minta diantar beli pakaian untuk dia kuliah, sekalian ajak Talita jalan-jalan. Bolehkan?", ucap Afifa sambil menyalami suaminya.
"Boleh, sekalian beli baju untuk Talita juga, agar tidak perlu membawa pakaian dari rumahnya kalau menginap disini", Fauzi menoleh ke arah putrinya sambil tersenyum.
"Ye ye ye...baju baruuuu", ucapnya kegirangan, "Makasih Ayah...".
Fauzi mengusap pipi cabi Talita, " Iya sayang, Ayah pergi dulu ya".
"Iya Ayah".
Fauzi kembali menatap istrinya, "gunakan kartu kredit saja!", Ucap Fauzi, dijawab dengan anggukan Afifa.
Fauzi berjalan keluar gerbang rumah, Afifa dan Talita memperhatikannya sampai tubuhnya tak terlihat lagi.
Hari itu mereka pergi ke Mall bersama Nadia sesuai rencana, Afifa memilihkan Beberapa pakaian gamis yang cocok untuk Nadia, juga pakaian rumahan untuk Talita. Nadia begitu bersemangat, tak tanggung-tanggung 7 setel baju dia beli dengan uang simpanan peninggalan orang tuanya, merekapun kembali pulang setelah adzan dzuhur berkumandang.
**********
Sore hari setelah Ashar, Nadia pulang kembali kerumah Neneknya, Talita asyik bercengkrama dengan Afifa di taman belakang sambil memberi pakan ikan-ikannya. Sesekali mereka tertawa, seolah tidak ada jarak sedikitpun diantara mereka.
"Bunda...aku mau jajan", ucap Talita.
"Hmmm...putri cantik Bunda laper ya?"
Talita mengangguk.
"Yuk bunda anter ke warung depan rumah!", ucap Afifa sambil beranjak dari tempat duduknya, membereskan kembali pakan ikan ketempatnya, lalu berjalan menuntun Talita masuk kedalam rumahnya untuk mengambil uang, keduanya keluar dari rumah menuju warung yang berada tak jauh dari rumahnya.
"Assalamualaikum...", Sapa Afifa pada sekumpulan ibu-ibu yang sedang berkerumun, entah sedang berbelanja atau hanya duduk-duduk disana, ngobrol ngalor ngidul tak tentu arah. Meski Afifa sudah hampir 2 tahun tinggal di daerah ini, tapi Afifa sangat jarang berkumpul dan bergaul dengan tetangga disekitarnya. Bukan apa-apa, selain Afifa jarang dirumah karena harus pergi ke sekolah hampir setiap hari, dia juga bukan tipe orang yang senang iseng-iseng berkumpul membicarakan sesuatu yang kurang bermanfaat baginya.
"Waalaikum salam Neng Afifa...", jawab Ibu-Ibu itu serempak, mereka nampak berbisik-bisik memperhatikan Afifa yang menggandeng tangan Talita.
"Itu anak siapa Neng?" tanya seorang ibu yang berdaster pendek dengan corak batik.
"Anak saya Ceu...", Jawab Afifa sambil mengulas senyum ke arah mereka.
"Masa sih? bukannya baru nikah 2 tahun? kok udah punya anak gede aja?".
Afifa tidak menjawab Mereka, hanya ulasan senyum yang diperlihatkan Afifa.
"Jangan-jangan, Neng Fifa mengambilnya dari panti asuhan ya, karena belum juga punya anak?". tanya ibu-ibu yang lainnya.
"Deg...", jantung Afifa berhenti sejenak, lalu kembali berbicara setelah dapat mengontrol detak jantungnya. "Permisi bu, Maaf...putri saya mau jajan", Ucapnya kemudian tanpa menghiraukan pertanyaan mereka yang terus memandang dirinya dan Talita dengan penuh keingin tahuan... (dasar Ibu-ibu rempong yang selalu kepo).
Afifa segera berlalu dari warung itu setelah mendapatkan makanan yang diinginkan Talita dan membayarnya.
**********
Bersambung...❤❤❤⚘⚘⚘
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote, like, koment...😊
selalu Author tunggu...🤗
I LOVE YOU ALL...❤❤❤😘😘😘⚘⚘⚘
By: @Rahma Husnul#
Secara dia sudah berbuat salah ...ngasih obat perangsang
Sampai di sini kok dramanya datar2 aja ?
sukses
semangat
mksh
Laki macam apa sich, bejek² aja kak Owner 🤧🤧🤧
🤔🤔🤔
#ngarep