Demi membalas orang-orang yang membuatnya terpaksa terpisah dengan orangtua, Nayyara telah merencanakan sebuah pembalasan.
Dia menyamarkan dirinya dengan sempurna, menyembunyikan wajah indahnya menjadi wajah buruk yang menggunakan kacamata tebal!
Namun dalam proses balas dendamnya, Nayyara berbuat salah yang fatal—— dia telah menarik perhatian CEO dingin.
""Semua wanita itu murahan"" Harry Balwis
""Kau hanya pria arogan yang haus akan cinta"" Nayyara.
Mampukah Naya mencapai tujuannya? atau dia malah jatuh cinta pada pria itu sebelum tujuannya tercapai?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom yara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Rindu
Ruangan yang gelap, segelap hati orang yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Dimana dia?" tanyanya pada seseorang yang berdiri di hadapannya.
"Di Australia bos" jawab laki - laki yang berdiri itu.
"Jangan biarkan dia kembali, singkirkan dia setelah menginjakkan kakinya di negara ini"
"Baik bos" jawab laki - laki yang berdiri itu lagi.
"Aku sudah melakukan apa yang kau minta" ucapnya pada laki - laki yang duduk di sofa.
"Jangan terlalu percaya diri, dia wanita yang tangguh, aku hanya ingin buktinya. Ingat kalau bukan karenamu, aku tidak akan membunuh kakakku" jawabnya pada laki - laki yang duduk dikursi kebesarannya.
"Kau bilang kakak? " laki - laki itu menatap laki - laki yang duduk di sofa sembari tertawa. "Yang tega membunuh kakanya sendiri"
"Kau yang membunuhnya" sergahnya.
"Dan kau yang menikmati hartanya, ingatlah kau Gilang Wicaksono bukan Hartono. Tanpa keluarga Hartono kau bukan apa - apa, jadi jangan menyalahkanku atas kematian kakakmu"
"Herman, ingat kau yang bilang hanya ingin menguasai hartanya, dan aku menyetujuinya tapi kau malah membunuhnya, dan sialnya wanita yang kau inginkan juga meninggal bersamanya"
"Kau....?"
"Benar, kau mencintai Riska, istri Sultan Hartono, karena itu kau ingin membunuh kakakku" Gilang tertawa hambar, mengingat dia juga ikut andil dalam pembunuhan itu.
"Sedikit tahu sebenarnya lebih baik. Ingat kau juga dalang dari pembunuhan itu, apa kau pikir aku tidak tahu kaulah yang menyebabkan ayah tirimu meninggal, kita sama"
Mereka terdiam dengan pikiran masing masing, entah apa yang sebenarnya mereka inginkan. Suasana semakin mencekam ketika perdebatan itu mendadak berhenti.
*
*
Di apartemen Rangga. Harry tiba - tiba datang ke apartemennya, entah angin apa yang membawanya kesana.
"Apa kau yakin dengan apa yang kau lakukan, jangan menyakiti dirimu sendiri dengan menyakitinya" tanya Rangga setelah Harry mengatakan keinginannya.
"Aku tidak peduli, dia meremehkanku" jawabnya kesal.
"Apa yang membuatmu tidak terima, bukankah kalian sama saja, sama - sama memanfaatkan, ayolah jangan seperti anak kecil"
"Cuih... kau membelanya" ucap Harry tak terima sahabatnya lebih memilih wanita itu dari pada dirinya.
"Aku tidak membela siapapun, ingat kau punya Feby, kau akan menyakiti dua wanita sekaligus jika melakukannya"
Harry mengingat Feby yang beberpa hari ini ia abaikan. Entah kenapa hasratnya hilang terhadap Feby.
Rangga masih menatapnya menunggu jawaban apa yang akan Harry berikan, tapi Harry mengacuhkan ucapanya. Ia tetap pada pendiriannya
"Cih... jangn bilang kau mencintai dua wanita sekaligus"Menatap Harry lagi yang tak kunjung menjawab pertanyaannya. " Tentukan pilihanmu, mana wanita yang ada di hatimu. Meskipun kau menghancurkan CM Mall, aku yakin Yara tidak akan terpengaruh. Lebih baik kau mengejarnya jika dia adalah pilihanmu dan lepaskan Feby"
Harry termenung memikirkan perkataan Sahabatnya itu. Beberapa menit berlalu, ia merasa aneh ternyata ia sendirian disana.
"Dasar tidak sopan, meninggalkan tamu sendirian" ucapnya ketus. Kemudian beranjak pergi dari apartemen Rangga.
Harry kembali ke apartemennya yang tidak jauh dari sana, beberapa menit mengemudikan mobilnya ia sampai di apartemennya.
Sebelum membuka pintu apartemen ia menatap ke arah apartemen Yara.
"Kemana dia, sudah lama aku tak melihatnya, rindu" gumamnya. "Apa aku merindukannya?" tanyanya pada dirinya sendiri karena tidak ada orang lain lagi disana selain dirinya.
Masuk kedalam apartemen ia langsung merogoh ponselnya menghubungi seseorang.
"Kau sudah pulang?" tanya seseorang yang ia hubungi.
"Cihhh... tidak sopan"
"Ini di luar jam kerja bos"
"Buat janji besok dengan direktur CM Mall"
"Baiklah, siap laksanakan".
*
*
Keesokan harinya.
Rangga tampak menunduk hormat menyambut kedatangan Harry.
"Jam 10 kita akan ke CM Mall" ucapnya sembari berjalan mengikuti langkah bosnya.
"Kau sudah persiapkan semuanya, berapa persen?"
"Saham kita naik 10 persen, mereka tidak mau menjual sahamnya lagi, sepertinya mereka sangat menyukai Yara"
"Pastikan dalam beberapa hari kedudukannya lengser"
"Baiklah, tapi kau yakin akan melakukannya?"
"Ya"
"Apa yang akan kau dapatkan setelah mendapatkannya? Apa kau akan bahagia jika dia semakin membencimu? Kau yang memilih menjauh darinya, pastikan kau tidak akan menyesal" untuk kesekian kalinya Rangga menasehati bosnya itu, karena ia tahu Harry mencintai Yara.
"Kita berangkat sekarang?" perintahnya, ia merasa jengah dengan nasehat Rangga.
Sekitar setengah jam mereka sampai di CM Mall. Mereka berjalan menuju ruangan Yara. Setelah mengetuk pintu mereka masuk kedalam ruangan Yara yang sebelumnya sudah di infokan jika ada Harry dari perusahaan Balwis.
Harry mengerutkan alisnya melihat siapa yang duduk dikursi Yara. itu sekertaris dari perusahaan perhiasan nona X.
"Silahkan duduk tuan, apa yang membuat tuan Harry CEO Balwis berkunjung kemari?"
"Dimana Yara? " Harry bukannya menjawab malah bertanya tentang keberadaan wanita lain.
"Anda mencari nona Yara? maaf tuan nona Yara sedang tidak ada ditempat"
"Kemana?" tanya Harry tegas.
"Nona Yara pergi ke luar negeri tuan, katanya ada urusan keluarga"
"Baru beberapa hari jadi direktur sudah pergi meninggalkan pekerjaan"
Apa yag sebenarnya kau inginkan tuan?
"Saya akan memberitahu nona Yara atas kedatangan Anda" ucap Sinta ramah, namun lain dihatinya rasanya ia ingin melempar kedua pria di hadapannya.
Setelah itu mereka pergi meninggalkan CM Mall. mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil.
"Untuk apa Yara ke luar negeri?"
"Dia tinggal disana bos, seminggu yang lalu nona Yara berangkat ke Australia untuk menemui keluarganya, menurut informasi adiknya kecelakaan" setelah tahu Yara tidak ada di CM Mall Rangga segera mencari informasi tentang keberadaan Yara.
"Apa dia akan kembali?"
"Saya kurang tahu bos"
"Buat dia kembali, segera adakan rapat pemegang saham katakan kepada mereka aku ingin menduduki kursi direkrur"
"Baik bos"
*
*
Di belahan dunia lain tepatnya di Australia.
Tatapannya sendu setelah menerima telepon dari sekretarisnya. Dia mengabarkan kalau saham milik keluarga Balwis bertambah dan Harry CEO Perusahaan Balwis akan mengambil alih kepemimpinan.
Dia benar-benar melakukannya. Kau membuatku sedih.
"Nona apa yang akan kita lakukan?" tanya sekertarisnya
"Biarkan saja, mungkin itu akan lebih baik" obrolan mereka ketika sambungan telepon belum terputus.
*
*
Yara keluar dari kamar menuju ruang kerja pamannya.
Tok
Tok.
Tok
"Masuk" suara yang terdengar dari dalam ruangan, seketika pintu itu terbuka dari luar. Yara masuk ke dalam ruangan itu dengan langkah pelan.
"Apa paman sudah tahu?" tanya Yara to the point, mustahil pamannya itu tidak tahu apa - apa.
Paman mendesah pelan. Memilih untuk tak menjawab.
"Kau punya rencana?" tanya paman balik sembari menatap Yara.
"Tidak ada, aku akan membiarkannya, mungkin ini lebih baik aku bisa lebih fokus mencari bukti kejahatan mereka"
"Baiklah jika memang itu yang kau mau, paman tidak akan melakukan apapun" karena paman yakin Harry mencintaimu, meskipun yang dia lakukan malah menyakitimu lanjut paman di dalam hatinya.
*
*
Seminggu kemudian Harry sudah resmi menduduki kursi direktur Di CM Mall.
"Kenapa wajahmu seperti keset kotor? " tanya Rangga setelah mereka sampai diruangan Yara yang sekarang menjadi ruangan Harry, tidak ada yang dirubah olehnya. "Bukankah seharusnya wajahmu bersinar, karena kebahagiaan yang kau rasakan membuat wajahmu terang benderang, ini malah berwajah mendung" ejek Rangga, namun Harry tak menghiraukan ucapannya.
Kenapa kau begitu mudah menyerahkan kedudukanmu padaku, padahal kau sangat berambisi mengambilnya dari pamanmu.
"Apa dia tak kan kembali" gumamnya yang masih mampu di dengar oleh Rangga.
Rangga yang mendengarnya terkekeh kecil.
terima kasih atas karya yg sangat menghibur ini thor.. semangat terus utk karya² baru yg lebih wow lagi.