SEASON 1
Tentang Azzahra yang memiliki kehidupan rumit dan dicintai banyak laki-laki sampai hampir kehilangan nyawa.
SEASON 2
Tentang kehidupan Azzahra setelah menikah dan kehidupan kakaknya yang telah mendapatkan jodohnya masing-masing. Juga cerita laki-laki yang mendapat cinta tulus dari wanita lain setelah patah hati karena Azzahra.
SEASON 3
Tentang perjuangan cinta Azam dan Aisha dengan anak-anak dari sahabat orangtua mereka.
Penuh suka duka, juga perjuangan yang kuat dan tangguh dari mereka.
***
Ig. Karlina_sulaiman
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karlina Sulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
🎻🎻 Please tap jempol kalian sebelum membaca...
🔥🔥🔥 Happy Reading all...
Setelah kepulangan mereka semua, Azzahra langsung masuk ke kamarnya. Azzahra mengambil sebuah buku tebal yang sudah selama tujuh tahun ini menjadi temannya berbagi cerita.
Kak Arvie menyusul Azzahra masuk ke kamarnya, Kak Arvie melihat Azzahra sedang memeluk sebuah buku berwarna biru tua dengan tulisan berwarna emas di covernya. Kak Arvie tau itu adalah buku diary Azzahra.
"Azzahra." panggil Kak Arvie lirih.
"Iya Kak?" tanya Azzahra, kemudian meletakkan buku itu di atas meja.
"Apa kamu mau menyusul abi dan umi saja? agar kamu bisa menenangkan diri kamu De?" tanya Kak Arvie masih berdiri di dekat pintu.
"Kemarilah!" Azzahra menepuk ranjang sebelah dia duduk.
Kak Arvie kemudian berjalan mendekat setelah sebelumnya menutup pintu, Kak Arvie duduk di samping Azzahra.
Azzahra menyandarkan kepalanya di bahu Kak Arvie, Kak Arvie kemudian merangkul dan mencium kepala Azzahra dengan penuh kasih sayang.
"Ceritakan semua masalahmu pada kakak De, kakak tidak mau kamu memendam semua ini sendiri, kakak sangat mengenalmu, dan maafkan kakak karena selama ini sudah membohongimu." ujar Kak Arvie lirih.
Azzahra kini merebahkan kepalanya di pangkuan Kak Arvie. Azzahra mulai menceritakan satu per satu masalah yang mengganjal di hatinya.
Kak Arvie membelai kepala Azzahra dengan penuh kasih sayang dan menjadi pendengar yang setia. Kak Arvie terkadang berkomentar dan tertawa mendengar cerita Azzahra.
Dia tidak menyangka adiknya sudah sedewasa ini, Kak Arvie masih ingat saat Azzahra kecil,Kak Arvie selalu menganggu Azzahra sampai Azzahra menangis hanya agar Azzahra memeluknya.
Setelah selesai bercerita, Azzahra mulai mengajukan pertanyaan kepada Kak Arvie.
"Kak Arvie." panggil Azzahra lirih sambil menatap wajah tampan kakaknya yang menunduk melihat ke arahnya.
"Ada apa sayang?" tanya Kak Arvie lembut.
"Maafin Azzahra kalau selama ini Azzahra selalu menyusahkan Kakak, dan masih bersikap seperti anak kecil, apa Kakak mau memaafkan aku?" tanya Azzahra dengan ragu.
"Kakak sudah memafkan kamu, kamu kan adik kakak satu-satunya Azzahra, kakak sangat senang ketika kamu bersikap manja dengan kakak, dan posesif saat melihat wanita yang kurang baik menggoda kakak." balas Kak Arvie.
"Kak, terima kasih selama ini sudah menyayangi Azzahra, sudah mendidik Azzahra dengan penuh kasih sayang. Azzahra sangat menyayangi Kakak." ucap Azzahra.
"Kakak lebih menyayangimu."
"Ayo kita mulai semua dari awal lagi Kak, jangan pernah ada perkelahian di antara kita, kecuali untuk kebahagiaan." pinta Azzahra.
"Baiklah, apa kamu mau tau masa lalu kamu? jika iya kakak akan menceritakan dari sedikit." tawar Kak Arvie.
"Ceritakanlah Kak."
"Baiklah, dengarkan baik-baik ya."
"Iya."Azzahra masih berbaring di pangkuan Kak Arvie, Kak Arvie memposisikan dirinya dengan bersandar di sandaran tempat tidur.
"De, apa kamu ingat dengan pria yang kamu kunjungi tadi pagi di rumah sakit, yang kamu bilang Hafizh?" tanya Kak Arvie.
"Aku mengingatnya, tapi apa hubungannya dengan masa lalu aku?" Azzahra balik bertanya.
"Sebenarnya dia memang benar-benar Hafizh, dan kakak yakin jika mimpimu dulu merupakan sebuah ingatan di masa lalumu."
"Maksud Kakak?"
"Pria itu adalah Hafizh, sahabat masa kecil kakak yang menyukaimu dari kamu lahir. Dia sering memanggilmu dengan sebutan Bee."
"Pantas saja di mimpiku dia juga memanggilku ku Bee, lalu apa lagi Kak?" Azzahra sangat penasaran.
"De, kamu lebih mengenal dia sebagai Farij, dulu kamu sering memanggilanya Kak Farij, apa kamu ingat nama ini? Hafizh Farij Al Farezel?" tanya Kak Arvie.
Perlahan Azzahra bisa mengingat kenangan di masa lalunya.
"Aku ingat Kak."
"Dulu kamu sangat dekat dengannya De. Bahkan kakak sampai iri dengannya karena kamu lebih dekat dengannya daripada denganku, bahkan jika dia melakukan kesalahan kamu selalu membelanya."Kak Arvie sedikit kesal saat menceritakan bagian ini.
"Sayang sekali aku tidak ingat hal itu, Kak apa yang terjadi dengan ku? kenapa aku bisa kecelakaan dulu?" tanya Azzahra penuh dengan rasa ingin tau.
"Hafizh meninggalkanmu."
"Kenapa dia meninggalkanku?"
"De, dulu Hafizh pernah mengatakan jika dia akan menikahimu saat kamu sudah dewasa, dia berjanji tidak akan meninggalkanmu, tapi saat dia sekolah SMA, dia menyukai perempuan lain dan meninggalkan mu."
"Apa yang terjadi denganku saat itu?"
"Waktu itu kamu berusia sepuluh tahun, dan kamu datang ke rumah Hafizh untuk memberinya kejutan ulang tahun, tapi di hari itu Hafizh pergi dengan pacarnya ke luar negeri, kamu mengajak kakak menyusul Hafizh ke Bandara, dan kita berhasil menyusulnya."
Kak Arvie sedikit bersedih saat mengingat hal itu, di mana untuk pertama kalinya dia melihat Azzahra yang benar-benar menangis karena terluka.
Air mata Kak Arvie mengalir pelan di pipinya, Azzahra yang melihat kakaknya menangis langsung bangun dan mengusap air mata Kak Arvie dengan ibu jarinya.
Azzahra memeluk Kak Arvie, kepala Kak Arvie bersandar di dada Azzahra. Pelukan yang biasanya di berikan oleh seorang laki-laki kepada perempuan. Kini Azzahra berikan pelukan seperti itu untuk Kak Arvie.
Entah kenapa sangat sulit untuk Kak Arvie menceritakan bagian ini. Kak Arvie ingin berbicara namun mulutnya seakan terkunci. Kak Arvie menangis terisak di dalam pelukan Azzahra.
Azzahra mengelus punggung kakaknya, dia bisa merasakan guncangan dari tubuh kakaknya karena tangisan yang semakin kuat.
Azzahra mengecup kepala Kak Arvie berulang-ulang, karena dia bangga mempunyai kakak yang sangat menyanyinya.
Kak Arvie memeluk Azzahra dengan erat. Isakannya semakin kuat.
"Kak Arvie tidak usah bercerita lagi, Azzahra sudah tidak ingin mengetahui itu lagi. Kak Arvie jangan menangis oke!" Azzahra menenangkan Kak Arvie.
Kak Arvie menggelengkan kepalanya, bagaimanapun juga, Azzahra harus tau masa lalunya.
"Azzahra kakak ingin segera menceritakan semuanya tapi mulut kakak sulit di ajak berbicara." batin Kak Arvie.
"Kakak sudahlah jangan menangis!" ucap Azzahra.
Kak Arvie melepaskan diri dari pelukan Azzahra, matanya sudah bengkak dan bahkan bola matanya hampir tidak terlihat karena terlalu lama menangis.
Azzahra mengompres mata Kak Arvie agar tidak bengkak lagi.
🌷🌷Aku cuma mau minta like, komen, rate dan votenya dari kalian... biar aku makin semangat nulisnya..
Setidaknya tinggalkan jempol kalian oke🙏🙏🙏 ...
Semoga kalian sehat selalu dan di lancarkan rezekinya Aamiin...