Bagai mimpi atau fantasi, Ariel terbangun dalam kebingungan dipagi hari setelah bus yang ia naiki terguling. Ia melihat cermin dan ternyata ia terbangun di tubuh orang lain bernama Cassandra Lilian, seorang putri tunggal dari keluarga kaya raya. Setelah akhirnya ia bisa hidup kembali setelah mengalami kematiannya yang pedih, sayangnya ia tak bisa lepas begitu saja dengan pria yang menyebabkan kehidupannya menjadi kacau,dan ia menemukan beberapa fakta yang mengejutkan setelah kehidupan barunya, hingga suatu hari ia kembali dihadapkan oleh dua pilihan, haruskah ia kembali dengan pria dari masalalunya atau haruskah ia bersama dengan cinta yang baru?
Selamat membaca.. semoga terhibur dengan cerita fantasi karya Diyah_ell 🙏❤❤❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyah_ell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Sekretaris Lux dengan sigap memanggil pegawai untung segera membersihkan pecahan botol tersebut, Keen tertunduk tak berdaya meletakkan kepalanya di atas meja sembari samar samar menatap botol botol kosongnya.Perlahan ia mulai memejamkan matanya, kini ia telah benar benar kehilangan kesadarannya.
Sekretaris Lux mencoba membangunkannya setelah beberapa saat, namun ia tak mendapat respon kemudian ia membawa atasannya itu ke mobil dengan susah payah. dengan perlahan ia menyenderkannya di kursi belakang, setelah itu ia menduduki kursi kemudi "Hahhh..sampai kapan aku harus menenderita begini, sampai kapan anda akan menderita begini bos?? Bilanglah padanya anda masih menginginkannya, memohonlah padanya untuk kembali" gumamnya kepada orang yang ia kira tak bisa mendengarnya, lalu ia menjalankan mobil dan mengantar keen ke rumahnya.
***
Keesokan harinya Keen terbangun dengan keadaan berantakan, ia masih mengenakan kemeja yang sama seperti kemarin, ia mengendus pakaiannya.."uggghhh" bau alkohol yang sangat parah, bahkan ia pun tak mengingat bagaimana ia bisa sampai rumah, ia memegang kepalanya yang pening perutnya pun mual, ia menyadari telah meminum alkohol dengan berlebihan.
Meskipun badannya sangat tak nyaman namun ia tetap harus memaksakan dirinya bergegas ke kantor, sampailah ia di depan ruang kerjanya, ia bertemu dengan secretaris Lux, sekretaris itu pun segera membungkuk dan menyapanya, seketika ia sedikit teringat dengan suara sekretarisnya itu di saat mabuk berat, ia menggelenggkan kepala tak mengingat apa pastinya," Skretaris Lux? Datanglah ke ruanganku" Lux mengangguk, kemudian ia masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Anda mau kopi?"
"Tidak!" ia masih terus berpikir. " Tadi malam kau mengatakan sesuatu saat aku mabuk kan? bisa kau katakan lagi?"
Lux kaget " Saya tak mengatakan apapun seperti yang anda minta" ia mengalihkan pandangannya.
"Benarkah?? Apa aku salah?"
"Pasti begitu kan" Lux tersenyum canggung.
"Baiklah, keluarlah"
"Baik" ia berjalan sembari berfikir,
Di perusahaan KM Mart, seperti biasa Winter berangkat lebih awal dari pada para pekerja yang lain,tidak ada kenyamanan lain baginya selain mengawali hari dengan secangkir kopi sembari mengamati hasil pekerjaan para bawahannya, kini ia menjadi semakin lega dan leluasa setelah memutuskan meninggalkan rumah yang ia tinggali bersama ayahnya sejak ia kecil, kini ia tinggal di sebuah rumah apartemen miliknya sendiri. karena setelah hari Ayahnya memukulnya, ayahnya memperlakukannya seperti orang yang tidak terlihat, disaat itulah ia merasa lebih baik untuk pindah dari rumah itu dari padaa terus saling menyakiti.
Malam itu ia pergi mendorong koper besarnya, ia melewati ayahnya yang sedang berada diruangan tengah seorang diri, langkahnya terhenti.. "Saya akan pindah ke apartemen yang telah saya beli dari jauh hari.." begitu ucapnya, namun Hernandes tak memberikan respon apapun dan hanya sesekali menyeruput teh hangat yang berada di depannya.
Winter melanjutkan langkahnya namun terhenti lagi.."Maaf saya belum bisa menjadi putra yang anda harapkan, jaga kesehatan anda.. Ayah" ia melangkah kembali dengan cepat tanpa menoleh kebelakang, ia telah memantapkan hati dan keputusan untuk hidupnya sendiri, sebenarnya ia telah menyiapkan apartement itu 1 tahun yang lalu namun ia belum bisa meninggalkan ayahnya yang seorang diri meskipun telah lama ia ingin pindah dan hidup sendiri.
Waktu pun berjalan dengan cepat, ia melihat jam yang terpasang di lengannya telah menunjukan waktunya pulang, untuk pertama kalinya ia merasa harus pulang secepatnya setelah ia tinggal terpisah dengan ayahnya, tak seperti biasanya ia merasa tak ingin kembali ke rumahnya dan lebih memilih menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya bisa dilakukan esok hari, itulah sebabnya ia mendapat julukan pria gila kerja.
Winter sampai di gedung apartemennya,setelah memarkirkan mobil ia menunggu lift turun untuk naik, dengan sabar ia menunggu menghadap lift itu, lift kosong pun terbuka di hadapannya ia masuk seorang diri ketika pintu lift hampir tertutup tiba tiba kaki seseorang wanita menyelip di sela sela pintu lift, kemudian pintu pun terbuka kembali, wanita yang memakai sweater abu abu menutupi kepalanya,celana pendek di atas lutut, ia menenteng sebuah kantong belanja mini market, ia masuk ke dalam lift, sekilas ia melihat wajah yang ia kenal telah berada di dalam situ sebelumnya, ia menggeleng gelengkan kepala merasa itu hal yang mustahil ia melihat pria itu di sini, setelah itu ia kembali menengok lagi kebelakang untuk memastikan ke raguannya, pandangan mata mereka bertemu, kedua orang itu saling menunjuk secara bersamaan "KAUUU!!!" teriak bersamaan.
"Kau mengikutiku kan?" ucap Cassy dengan percaya diri.
"Untuk apa? Bukankah kau yang mengikutiku? Kau tak memencet tombol kau mau ikut turun denganku kan? Kenapa?" ia pun tak mau kalah.
"Hahhhh.. bukan urusanmu!!!"
Seketika keheningan datang, mereka sama sekali tak berbicara lagi, lalu mereka turun bersamaan, Cassy yang berada didepan sesekali terus melirik Winter yang seakan terus mengikutinya dari belakang, ia berhenti dan berbalik, "Apa maumu??" tanya Cassy menuduh.
"Apa sih??" iWinter mengalihkan pandangannya ke tempat lain sambil terus berjalan.
"Heehhh!!! Bilang saja apa maumu, aku akan memaafkanmu kali ini!!" teriaknya lagi.
Winter hanya tersenyum sinis dan menggeleng gelengkan kepalanya, ia terus mengabaikan wanita yang menurutnya sedang tidak jelas. "Wooiiii!!!" Cassy mendekatinya dengan ekspresi teramat kesal. Lalu tiba tiba cassy mengentikan langkahnya karena Winter berhenti di pintu tepat di samping tempat tinggal Cassy.
Cassy terus memperhatikan, "Apa yang ingin dilakukannya dirumah orang lain" gumamnya, winter mulai memencet kode akses masuk rumah tersebut dan benar saja pintu berhasil terbuka dalam sekali coba, ia melangkahkan kakinya masuk sementara Cassy terus menatap dengan curiga.
Winter berbalik kembali dan mendekati Cassy yang memperhatikannya dari depan pintu "Dilihat dari reaksimu sepertinya kau mengira aku penguntit lalu pencuri kan? Ini rumahku!! Sudah jelas?? Apa masih ada yang ingin kau bicarakan?"
"Ahh jadi begitu... selamat menikmati waktu istarahat anda Tuan tetangga!!!" ia membungkuk dengan kaku dan segera melarikan diri ke dalam rumahnya, ia berhenti di balik pintu dan menekankan kepalanya pada daun pintu, ia benar benar merasa malu.
Sedangkan Winter tersenyum cerah setelah mengetahui Cassy adalah tetangga sebelahnya, "Kenapa tiba tiba aku merasa senang? Ini pasti karena suasana rumahku yang menyenangkan!!" gumamnya seorang diri.
Drrrtttttttt... ponsel Winter berdering ia pun segera mengangkatnya, "Iyaa benar.. oooohh sudah dikirim?? Saya ada dirumah, baiklah saya tunggu, terimakasih selamat malam"
Tak lama pesanan Winter sampai, beberapa perabot rumah seperti sofa, meja kerja, kursi dan yang lainnya membuat suasana menjadi sedikit bising , Cassy keluar untuk memeriksa, "Hahhh.. ternyata dia baru saja pindah kesini, kenapa harus disini? seperti tak ada tempat lain saja deh" gerutunya sembari melihat orang orang memindahkan barang.
Winter keluar untuk memeriksa dan membantu mengangkat barang, ia melihat Cassy yang tengah berdiri dengan tangan menyilang di perutnya, wajahnya sinis.. namun begitu Cassy melihat Winter ia segera kembali ke rumahnya, "Braaakkkkk" ia menutup pintu dengan kencang.
Winter terkejut dan kaget mendengar suara pintu itu, "Wahh benar benar tetangga tidak punya sopan santun, wanita aneh..." gumamnya, ia melanjutkan memasukan barang barangnya.
Bersambung................