Nekat merantau keluar dari desa yang bagai penjara baginya, siapa sangka Nirmala malah terjebak pernikahan dengan pewaris tahta perusahaan raksasa Fernandez Group. Belum lagi ternyata pria bule yang menikahinya ini super rese dan sombong tingkat dewa.
Bagaimana perjalanan bahtera rumah tangga Nirmala dan Danzel? Simak terus!!
Jangan lupa follow Ig author: @stefhany_stef
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stefhany 22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33. Bulan Madu?
"Pak Danzel!" Baru saja ia keluar dari lift khusus dan melangkahkan kaki menuju ruangannya, seseorang memanggil nama Danzel dengan keras. Lelaki itu menoleh dan berdecak sebal.
"Selamat siang, Pak." Sapa Roy dengan tumpukan berkas ditangan.
Danzel melirik apa yang ia bawa, menebak bahwa itu adalah berkas - berkas yang harus ia pelajari.
"Hmm, ada apa?" Tanya nya malas, Danzel masih sedikit pusing efek minuman semalam.
"Kebetulan sekali pak Danzel datang, satu setengah jam lagi ada meeting penting dengan perusahaan asing. Saya harap pak Danzel berkenan hadir."
Danzel menguap. "Oke, tolong minta pelayan mengantarkan kopi ke ruanganku." Ujarnya lalu berlalu dari hadapan sekretaris nya itu.
"Siap, pak." Hari Roy sudah sangat senang karena bos barunya itu ada kemajuan, berkenan menghadiri meeting ini. Dan ia berharap kedepannya bosnya itu lebih serius dalam mengurus perusahaan.
Salah satu rekan kerjanya menghampirinya saat ia masih berdiri memperhatikan punggung Danzel yang perlahan menjauh.
"Akhirnya Pak Danzel datang juga, semoga meeting siang ini lancar dan berhasil memikat hati client." Ujar rekannya itu.
"Ya, semoga saja anak itu tidak mengacaukan segalanya." Roy sebenarnya kesal akan sikap Danzel yang tak profesi dalam bekerja. Tapi apa boleh buat, Tuan Johan sendiri yang mengutusnya untuk menjadi sekretaris Danzel.
"Jujur saja, aku lebih suka kalau Tuan Yudhistira yang mengurus perusahaan ini." Sambung Roy lagi. Mengingat masa - masa saat ia masih menjadi asisten anak dari Tuan Johan tersebut yang sekarang hilang bagai ditelan bumi.
"Ngomong - ngomong, kemana ya perginya Tuan Yudhistira?. Bertahun- tahun aku penasaran apa yang terjadi padanya." Mereka masih saling mengobrol dalam perjalanan menuju ruang masing - masing.
"Cukup, jangan bahas tentang itu lagi."
****
Danzel keluar dari ruangan meeting dengan langkah lebar. Ekspresi menunjukan kekesalan dan kemarahan.
"Sialan! Sombong sekali dia menolak tawaran kerjasama kita. Akan aku pastikan dia menyesal." Danzel memukul meja sangat keras dengan tangannya. Walaupun sakit tapi ia enggan menunjukan ekspresi kesakitan.
Roy hanya menggelengkan kepalanya, memungut barang - barang yang berjatuhan karena pukulan bosnya tersebut. Dalam hatinya mengumpat kesal, karena kegagalan ini juga disebabkan sifat sombong bosnya sendiri yang sudah keterlaluan.
"Maaf pak, sepertinya anda yang harus introspeksi. Saya rasa gagalnya meeting kali ini memang wajar karena sikap anda tadi para Mr. Reinhard." Tanpa sadar Roy berucap sedemikian rupa karena rasa kesalnya sudah di ubun - ubun. Ia saja muak dengan kesombongan Danzel. Apalagi Mr. Reinhard yang jelas enggan bekerjasama dengan perusahaan mereka.
"Apa katamu?! Kau mau aku pecat?!" Emosi Danzel yang sedang memuncak membuatnya menarik kerah sekretarisnya itu dengan kasar. Roy menundukan pandangannya, ia masih membutuhkan pekerjaan ini.
'Anak ini, ingin sekali aku menjitak kepalanya. Sombongnya sudah diluar kendali.'
"Maafkan saya, Pak." Ucapnya. Meraih dokumen lalu pergi meninggalkan ruangan Danzel.
Danzel mendaratkan tubuhnya di kursi kerjanya, memijat pelipisnya pelan. Perasaannya kacau tadi karena cemburu yang berlebihan hingga terbawa sampai ruangan meeting tadi. Membuatnya lepas kendali dan mengatakan hal yang membuat clientnya bubar.
"Sialann!" Umpatnya.
"Aku akan membuktikan padanya dan seluruh keluargaku kalau aku juga bisa seperti Devan." Tekadnya bulat. Danzel selalu iri dengan kakak sulungnya itu yang selalu dibanggakan Daddy didepan keluarga besar. Terlebih ayahnya tersebut tak jarang memarahinya didepan semua orang, membuat orang - orang memandangnya remeh.
Danzel tak sadar, sifatnya dan Devan saja sudah berbeda jauh. Cara mereka bicara, bekerja, dan mengambil keputusan jauh berbeda.
***
Hari masih siang namun Mala memutuskan untuk pulang lebih awal. Ia memasrahkan pekerjaan di butik pada para karyawannya. Gadis itu mengayunkan kakinya menyusuri jalan, Mala tak langsung pulang melainkan ingin pergi ke suatu tempat lebih dulu.
Namun seperti ada yang aneh. Kepala gadis itu menoleh ke belakang. Entah kenapa perasaannya tidak enak, seolah ada yang membuntutinya dari belakang.
Untuk memastikan, gadis itu mendekat ke salah satu motor yang terparkir sembarangan dan melihat dari kaca spion.
Dan benar dugaannya, matanya menangkap basah seorang pria yang tampak memperhatikannya. Mala tak ingin gegabah, mencoba tenang menghadapi situasi. Ia tetap tenang berjalan masuk ke salah satu kafe tujuannya.
Tempat itu cukup ramai, ia merasa cukup aman ketika masuk kedalam sana. Mala memilih kursi di pojok ruangan.
Matanya memerhatikan pria bertopi itu yang turut masuk kedalam. Jantung Mala berdetak dua kali lebih cepat.
'Apa hanya perasaanku saja, atau pria itu memang mengikutiku?'
Tiba - tiba Mala teringat petuah kakek Salim yang menyuruhnya hati - hati karena di ibukota banyak sekali kriminalitas yang mungkin bisa mengancamnya.
Mala yang gugup meraih ponselnya, mencari nama Danzel. Namun ia mengurungkan niatnya saat ingat kalau suaminya itu masih marah padanya.
****
Malam harinya.
Suara langkah kaki yang Mala yakini adalah suaminya terdengar. Mala yang kala itu sedang memasak di dapur langsung memasang wajah secerah mentari pagi.
"Danzel, kamu sudah pulang?" Mala mendekat dan membantu melepaskan jas suaminya.
"Iya, Sayang. Maafkan aku untuk semalam. Aku menyesal." Ucapnya seraya menggengam kedua tangan Mala. Danzel tersenyum penuh arti.
Mala yang awalnya ingin membujuk suaminya dengan bersikap baik mengernyit heran. Kenapa sikap Danzel cepat sekali berubah?. Padahal biasanya mereka akan bertengkar sebelum ada yang mengalah dan minta maaf duluan.
"Iya, maafkan aku juga yang terlalu memuji kak Devan." Balas Mala tersenyum kikuk.
"Jangan sebut namanya." Danzel berucap dengan suara rendah namun penuh penekanan.
Mala mengangguk patuh, malas bertengkar lagi dengan suami sombongnya itu.
"Iya, maaf. Ayo makan dulu, aku sudah menyiapkan makanan untukmu."
Seraya menggeret tangan Danzel menuju meja makan, gadis itu memerhatikan raut wajah suaminya yang aneh.
"Kamu ada masalah?" Tanya Mala.
Danzel mengangguk lemah.
"Iya, banyak sekali."
"Baiklah, kamu makan dulu. Kalau sudah nanti ceritakan padaku. Siapa tahu aku bisa memberikan saran." Mala mendudukkan tubuhnya disebelah Danzel. Lelaki itu menatapnya lekat.
"Aku lapar sekali.."
"Kalau lapar ya makan, Danzel!" Geram Mala.
Danzel menarik sudut bibirnya membentuk senyuman manis, mendekatkan wajahnya ke telinga istrinya itu.
"Nanti saja aku makan masakanmu, sekarang aku ingin memakanmu." Bisiknya dengan sangat pelan.
"Danzel!"
****
Setelah pertempuran singkat mereka yang tidak bisa Mala tolak, kedua anak manusia itu masih bergelung dibawah selimut yang sama.
Mala melirik suaminya yang masih bernapas dengan ritme cepat, entah kenapa ia suka memandang mata terang tersebut. Danzel yang sadar tengah diperhatikan, memiringkan tubuhnya dan mengusap dahi istrinya yang penuh keringat.
"Kenapa? Aku sangat tampan?"
Mala ingin berkata tidak namun takut suaminya marah lagi. Akhirnya dia hanya mengangguk singkat.
"Aku tahu, Sayang. Tidak ada yang bisa mengalahkan pesona suamimu ini." Mala kesal mendengar hal itu namun dia hanya diam.
"Sayang." Panggil Danzel mendayu.
"Cukup, Danzel. Aku sudah lelah." Mala yang tahu arti panggilan mendayu itu menolak duluan. Hendak beranjak tapi Danzel mengeratkan pelukannya.
"Bukan itu maksudku." Masih tak melepaskan pelukannya.
"Lalu?"
"Bagaimana kalau kita bulan madu? Kita belum pernah melakukannya?."
Mendengar ajakan suaminya, Mala terkejut bukan main. Apa dia tidak salah dengar, Danzel yang menyebalkan ini mengajaknya bulan madu.
Entahlah, ia rasa hubungan mereka tak sehangat itu untuk melakukannya. Hubungan mereka hanya hangat diatas ranjang saja. Walaupun Mala tanpa sadar mulai ada rasa nyaman padanya.
"Apa itu diperlukan? Lagipula seminggu ini aku akan sibuk, jadi lebih baik-"
"Kita bisa pergi setelah pameran itu selesai." Ujar Danzel yang seolah memaksa.
"Hmm, oke."
Danzel tersenyum lebar mendengar jawaban istrinya dan menghujaninya dengan ciuman.
'Aku akan membuatmu jatuh cinta dan tergila - gila padaku disana. Hingga saat itu tiba kau akan memohon agar kita bisa tetap bersama.'