NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

04 : Kasir malam

Jam dinding di atas kasir nunjukin 23.40. Rumah makan udah sepi. Tinggal Zuan sama Nesya yang beres-beres dapur, Rifki nyapu depan, Mang Agus lapin meja, Abel di kasir, Naya duduk di bangku plastik lipet sebelah laci atau dimeja pembukuan tepatnya dia duduk di sebelah Abel yang sedang fokus.

Sempat Abel mencoba berbincang-bincang dengan Naya yang membuat mereka berdua terasa dekat.

Dan menurut Naya sendiri, Abel tidak sejutek yang dia bayangkan di awal.

"Besok kamu masuk siang ya, Na. Biar gantian sama aku. Aku mau pulang jam 7 malam besok." ujar Abel sambil nyatet omzet di buku tulis. Pulpennya biru, tulisannya rapi.

"Iya, Mbak," jawab Naya. Mata udah berat. Dari jam 8 pagi kebanyakan berdiri, punggung rasanya mau patah.

"Nah, sebelum pulang, kasir tuh harus ngitung duit dulu." Abel nutup buku karna sudah selesai mencatat.

Naya mengangguk.

Rifki lewat bawa sapu.

Jam 23.59 Nesya yang tinggal dikontrakan sendiri pamit pulang duluan. Zuan naik ke atas mess. Mang Agus nyusul lima menit kemudian, bawa kresek isi nasi bungkus. "Titip warung, Bel. Jangan lupa kuncinya taruh di paku tanggal," katanya.

"Iya, Mang," jawab Abel.

Tinggal Naya, Abel, Rifki. Rumah makan berasa lebih luas dan dingin. Lampu sebagian dimatiin, sisa lampu kuning di atas kasir sama lampu dapur.

00.15, Rifki pamit ke mess duluan. "Gue duluan ya, Bel. Nitip Naya. Jangan nakal." Dia ngedip ke Naya, terus keluar. Tapi Naya liat, Rifki nggak langsung jalan. Dia jongkok di depan, di balik etalase, ngerokok. Mungkin agar tidak ketahuan CCTV saat dia merokok.

00.28, Abel masih menghitung duit.

Dia buka laci kas. Bunyi klik pelan. Di dalem laci ada tiga gepok uang: merah, biru, hijau. Di bawah gepok merah, kejepit struk. Abel tarik. Struk merah, tintanya luntur.

Naya reflek baca: _'Dhahar kudu wareg - Sari 12/06'_. Tanggalnya sama kayak yg dia temuin di menu siang tadi.

"Mbak..." Naya mau nanya.

"Sstt," Abel nyetop cepet. Tangannya gemetar pas megang struk itu.

"Udah, jangan dibaca. Ini... ini struk lama." Jelas Abel nada takut.

Abel buru-buru masukin struk kembali ke laci, terus mulai ngitung duit lagi karna fokusnya yang buyar.

"Satu... Dua... Tiga..." mulutnya komat-kamit.

00.30 pas.

Bug!!

Bunyi dari bawah laci kayak kuku ngetok kayu. Sekali. Terus diem.

Abel pucet. Teringat sesuatu. Tangannya berhenti ngitung. Naya nahan napas.

BUG! BUG!

Pukulan dua kali. Lebih keras. Dari dalem laci, padahal laci udah kebuka. Kosong.

"Mbak..." bisik Naya takut.

Abel mendadak nutup laci. Kebuka lagi sendiri lacinya. Pelan. Kayak didorong dari dalem.

Di dasar laci, ada tempelan lakban coklat udah ngelupas. Di bawah lakban, goresan kuku. Tulisan: SARI

Abel mundur, nabrak Naya. Uang segepok berwarna merah nyebar di lantai.

Dari pintu depan, Rifki masuk lagi. Wajahnya dingin. "Udah gue bilang, Bel. Jangan buka laci jam setengah 1."

Abel nangis, nggak ada suara. Cuma air mata netes.

Rifki jongkok, pungutin semua duit. Bisik ke Naya, matanya nggak lepas dari laci yang masih kebuka dikit.

"Itu yang bikin Sari mati. Karna ceroboh. Makanya kunci laci tarok di paku tanggal."

BUG!

Kali ini dari bawah lantai. Tepat di ubin tempat Naya berdiri.

Lampu kuning di atas kasir kedip sekali. Terus mati. Sisa lampu dapur doang, bikin bayangan laci jadi panjang sampe ke kaki Naya.

Rifki narik tangan Naya, berdiri. "Udah. Biarin. Besok pura-pura nggak tau. Ngerti?"

Naya ngangguk. Tenggorokannya kering. Di lantai, di antara uang merah yang berserak, ada nametag plastik. Kecil. Tulisannya: _SARI - KASIR_.

Abel ngejongkok, ngambil nametag itu pake ujung kuku, kayak takut. Terus masukin ke saku.

"Rif..." suara Abel serak. "Tanggal 13... Tinggal 5 hari lagi."

Rifki nggak jawab. Dia cuma nyabut kunci laci dari laci, terus digantungin ke paku tanggal di tembok.

"Kunci," bisik Rifki ke Naya. "Besok, kalau Abel nggak masuk... Jangan pernah buka laci ini sendirian. Ngerti?"

Naya ngangguk lagi. Keringet dingin netes dari pelipis.

Rifki ngelirik ke laci yang udah ketutup. "Dia laper. Tiap malem. Apalagi malem Jumat Kliwon."

Dari dapur, bau kemenyan nyempil. Padahal nggak ada yg bakar.

Laci udah dikunci. Kunci sudah ditaruh di paku tanggal. Lampu kuning di atas kasir masih mati.

Rifki narik napas panjang. "Udah. Cepet ambil tas di atas. Gue tungguin di depan. Jangan matiin lampu dapur."

Abel ngangguk, tapi badannya gemeter. Dia nggak lepasin nametag SARI dari tangannya. Diremes sampai plastiknya bunyi krek.

Naya ngikutin Abel naik tangga ke lantai dua. Baru tiga anak tangga, Abel langsung genggam tangan Naya. Kenceng. Dingin. Kuku Abel nancep dikit ke telapak Naya.

"Mbak..." bisik Naya.

"Jangan lepas," suara Abel serak. "Jangan sampe lepas, Na."

Sampai depan pintu “Khusus Karyawan”, Abel berhenti. Napasnya putus-putus. Dari dalem kamar mess, kedengeran suara kipas angin Teh Intan.

Mereka masuk. Tas Naya sama Abel ada di pojok, deket lemari triplek. Bau kapur barus langsung nyengat lagi.

Abel buru-buru nyambar tasnya, nyantolin di bahu. Naya juga gitu. Pas mau keluar, lampu lorong lantai dua kedip. Sekali.

Abel menjerit ketahan, terus nyuruk ke belakang Naya. Tangannya makin ngeremet tangan Naya.

"Sssudah... Udah, Mbak. Aku di sini," Naya megang balik, walau tangannya ikut dingin.

Mereka turun tangga kayak orang lumpuh. Selangkah, berhenti. Dengerin. Selangkah lagi. Rifki udah nunggu di depan pintu rumah makan, nggak ngerokok, mukanya tegang.

"Kunci depan," kata Rifki.

Abel yang kunci. Tiga kali puter karena tangannya salah mulu.

Jalan ke mess 2 menit berasa 20 menit. Sepanjang jalan, Abel nggak ngomong. Cuma genggam tangan Naya.

Sampe depan mess cat kuning, Rifki berhenti. "Gue nggak ikut masuk. Kalian kunci gerbang. Langsung tidur. Jangan cerita ke siapa-siapa. Termasuk Teh Intan."

Dia natap Naya dalem-dalem. "Ngerti?"

Naya ngangguk. Abel udah nggak bisa ngangguk, cuma gemeter.

Rifki pergi namun langkahnya terhenti sebentar, "Ini demi kebaikan kalian." Ucapnya tanpa nengok kebelakang lalu kembali melanjutkan langkahnya.

Naya buka gerbang. Abel masuk duluan, langsung nyender ke tembok ruang tengah. Terus melorot duduk di lantai. Tasnya jatuh.

Baru sedetik, pintu kamar Abel kebuka. Teh Intan keluar, masih pake daster, rambut pirang diiket asal. Liat Abel di lantai, mukanya langsung berubah.

"Bel, kenapa?" Intan buru-buru jongkok, narik Abel ke pelukannya. "Naya, ada apa? Kalian kenapa?"

Abel langsung memeluk Teh Intan, dan menangis, badannya guncang karna tangisannya. Abel merasa sangat takut.

"Udah... udah, Sayang. Teteh di sini. Udah aman, udah di mess," Intan menepuk-nepuk punggung Abel. Tangannya cekatan, kayak udah biasa nenangin orang histeris. "Sini, duduk di sofa. Naya, tolong ambilin air putih di dapur."

Naya ngangguk, lari ke dapur. Pas balik bawa gelas, dia liat Rosa.

Rosa berdiri di pintu kamarnya. Bersandar, tangan dilipet di dada. Matanya nggak ke Intan, nggak ke Naya. Lurus ke Abel yang masih terguncang di pelukan Intan.

Naya nyodorin gelas ke Intan. Intan pun menyuruh Abel minum dikit.

"Minum, Bel. Dikit aja," bujuk Intan. "Abis itu tidur ya. Teteh temenin."

Abel geleng. Tangannya narik Naya. Nyuruh Naya duduk sebelahnya.

Naya nurut, duduk di lantai juga. Dia elus lengan Abel. "Udah, Mbak. Kita udah di mess. Udah dikunci."

Abel ngangguk pelan, tapi matanya masih liat ke arah laci. Padahal di mess nggak ada laci. Kayak masih kebayang laci kasir kebuka sendiri.

Intan noleh ke Rosa. "Sa, tolong ambilin selimut di kamar Teteh."

Rosa diem dua detik. Terus jalan masuk kamar Intan tanpa ngomong. Balik bawa selimut tipis, dilempar ke sofa. Nggak diserahin ke tangan Intan.

"Nih," cuma itu katanya.

Terus balik bersandar ke pintu lagi. Nonton.

Intan nyelimutin Abel.

"Apa sih? Lebay banget gitu doang." Sindir Rosa tidak suka.

"Udah, Sa. Jangan mancing," potong Intan. Nadanya tegas. "Orang lagi takut juga."

Rosa angkat bahu. "Ya udah. Terserah." Terus masuk kamar, nggak nutup pintu. Dari dalem, kedengeran dia rebahan, main hp. Kayak nggak kejadian apa-apa.

Intan narik napas. "Bel, denger Teteh. Apapun yang kejadian di warung, biarin di warung. Jangan dibawa tidur. Nanti mimpi buruk."

Abel akhirnya bersuara. Kecil banget, nyaris nggak kedengeran. "Teh... Nametagnya Sari ada."

Intan kaku.

Tangannya berhenti nepuk. Matanya ke Naya, nanya tanpa suara.

"Nametag siapa?" Tanya Intan.

Naya nggak jawab karna Naya enggak tau juga.

Di kamar, suara Rosa nyetel video lucu. Ketawa kerasnya yang terdengar disengaja.

Intan narik Abel berdiri pelan. "Yuk, ke kamar Teteh dulu. Cuci muka."

Mereka berdua jalan ke kamar mereka. Naya yang akan masuk ke kamar. Pintunya kebuka setengah. Langkah Naya terhenti melihat Rosa tiduran, hp di atas muka. Lirikan mata Rosa langsung tertuju ke arah Naya yang menatapnya membisu.

1
Sarah
Noooo! Abelllll Jangan matiiii! 🙅‍♀️😃
Sarah
Dari bahasa Sunda kah referensi kalimat dan nama tempat makannya sendiri? Atau bukan?
Sarah: Yahh... bahasa Jawa sama Sunda kayaknya emang banyak kata yang agak mirip deh. Dan kalau gak salah juga akar bahasanya sama sih. Meski tetep beda. Kalau di Sunda sih “Dhahar Kudu Wareg” itu kayak, “Makan Harus Kenyang” atau kalau konteksnya emang nama ya “Dhahar Harus Kenyang”. Meskipun di Sunda tulisan “Dhahar”-nya gak ada ‘H’-nya sih. “Dahar” aja, tapi bunyinya sama. Kalau di Jawa “Dhahar Kudu Wareg”-nya artinya apa tuh kak?
total 2 replies
Sarah
Kakaknya Naya menarik juga. Aku emang belum baca sampai jauh tapi jujur ada sedikit harapan dia bisa terlibat jugalah di cerita meskipun mungkin gak bisa bener-bener bantu tapi bisa disebut atau diceritakan lagi sih. Kayaknya dia tokoh yang potensial deh. Gimana dia yang cuek banget sama orang lain kayak gak ada ramah-ramahnya. (yang jujur agak curiga itu karena perjalanan merantau yang sulit juga. Selain entah karena mungkin itu emang sikap dasarnya.)
Mia AR-F: kk salsa mah udah tau dunia rantau sekeras apa 🥹
total 1 replies
Sarah
Maksudnya? Simak kah kak?
Mia AR-F: iya kk simak 🤭
total 1 replies
Sarah
Nama adalah doa. 😃
Sarah
Ngakak 😂
Sarah
Suasananya beneran hangat dan akrab banget yah? Biasanya kan seri horor atau thriller selalu ngasih suasana yang udah mencurigakan dan lingkungan orang-orang di sekitar yang sepi, individualis, dll. Tapi ini enggak, jadi makin serem karena yang terlihat aman ternyata ada sesuatu dibaliknya. Apalagi kalau terjadi di dunia nyata. 💀
Menarik sih, kalau ada waktu aku akan lanjut. 👍
Semangattt. 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!