NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Lea

WARNING!!! BIJAKLAH MEMBACA!!! NOVEL DEWASA!!! JIKA TIDAK SUKA SKIP SAJA .

Laura Elsabeth Queen tidak menduga ia akan bertemu kembali dengan Zafran Volkofrich mantan kekasihnya, di acara ulang tahun teman sekelas mereka, 10 tahun yang lalu mereka berpisah dengan tidak damai, orang tua Laura menentang keras hubungan mereka karena Zafran pria miskin. Zafran masih sakit hati pada Laura dan ingin membalas dendam.

Di sisi lain Laura mengetahui rahasia kedua orang tuanya setelah mereka meninggal, dan kini beban berat berada di pundak Laura.

Sedangkan Zafran pria miskin itu kini telah berubah menjadi penguasa dunia bisnis.

Bagaimana kisahnya yuk baca kelanjutannya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 33

Kapal pesiar itu akhirnya menepi di dermaga. Pemandangan yang terbentang di hadapan Laura terasa tak asing, sebuah resort mewah milik Philip, berdiri anggun dengan kemegahan yang memantulkan cahaya senja. Satu per satu penumpang mulai turun dari kapal, membawa koper dan cerita mereka masing-masing.

Luwis melangkah pergi tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Sementara itu, Zafran mendekati Laura yang sudah berdiri di dermaga.

“Kau tunggu aku di resort. Jangan pergi ke mana-mana.” Ujar Zafran tegas, nadanya tak memberi ruang untuk dibantah.

Setelah memastikan Laura mengangguk, pria itu kembali masuk ke dalam kapal dan menuju kamarnya. Di dalam, Stark telah lebih dulu mengemasi seluruh berkas dan dokumen penting milik Zafran. Ukuran kapal pesiar yang begitu besar membuat langkah Zafran memakan waktu cukup lama, koridor-koridor panjang seolah tak ada habisnya.

Di dermaga, Laura kini sendirian. Ia malas kembali ke Resort dan harus bertemu Luwis, perasaan tak enak terus menggelayuti dadanya.

Laura pun menoleh ke sekeliling, berharap menemukan wajah yang dikenalnya. Di antara kerumunan, matanya sempat menangkap sosok Jane.

Laura hendak memanggil. Bibirnya sudah terbuka, namun sebuah suara lebih dulu menyapanya.

Suara yang membuat langkah dan suara Laura terhenti seketika.

“Hei…”

Laura menoleh. Gaby berdiri di hadapannya, Bertha tampak di samping wanita itu.

“Ya…” jawab Laura malas, nyaris tak berminat.

“Zafran menyuruhmu menunggu di kapal itu. Ada pekerjaan yang harus kau lakukan.” Kata Gaby sambil menunjuk sebuah kapal pesiar kecil yang terparkir tak jauh dari dermaga. Kapal mewah itu hanya cukup untuk dua atau tiga penumpang, kapal milik Philip yang menganggur.

“Benarkah?” Laura mengernyit ragu.

“Aku akan menghubunginya dulu.” Lanjut Laura sambil mengeluarkan ponselnya.

“Terserah kau.” Potong Bertha dingin.

”Tapi kalau aku jadi kau, lebih baik langsung ke sana. Mengingat bagaimana tempramennya Zafran. Daripada membuat Zafran kesal dan justru memarahimu.”

Ucapan itu membuat tangan Laura berhenti. Ragu menyelusup, tapi perlahan ia menutup kembali ponselnya.

Dengan langkah hati-hati, Laura menuju kapal pesiar mini itu.

“Apa Zafran mau memancing?” Tanyanya pelan.

Gaby dan Bertha ikut naik. Gaby berdiri mengawasi Laura, sementara Bertha melangkah ke arah kemudi.

Di sana sudah ada seorang pria bertato, berdiri santai seolah telah menunggu lama.

“Ramon… Lakukan tugasmu dengan baik.” Bisik Bertha pada pria itu.

“Aku tidak akan mengecewakan kalian.” Jawabnya singkat.

“Aku akan pergi.” Gaby berbisik pada Ramon dan Ramon mengangguk tanda mengerti.

Gaby pun kemudian menoleh pada Laura.

”Apa kau tidak apa-apa menunggu di sini? Mungkin sebentar lagi Zafran akan turun dari kapal pesiar. Tadi aku melihat Stark sudah mulai mengemasi barang-barang Zafran.”

“Hm… baiklah.” Jawab Laura.

Ada perasaan aneh yang menyusup ke dalam benak Laura. Sesuatu terasa janggal. Namun ia cepat menepisnya, ia tahu bagaimana sifat Zafran jika titahnya tidak di turuti.

Laura hendak memasuki ruangan kapal untuk melihat-lihat kemewahannya. Namun langkahnya terhenti ketika kapal tiba-tiba bergerak perlahan.

Ia menoleh ke belakang.

Bertha dan Gaby berdiri di dermaga, melambaikan tangan dengan senyuman penuh kemenangan.

“Tidak…! Apa yang terjadi?!”

Laura berteriak. Matanya membelalak saat menyadari pria di ruang kemudi itu berkomplot dengan mereka.

Laura terus berteriak, namun semuanya sudah terlambat. Kapal melaju semakin jauh dari dermaga, ia berdiri panik, sementara dermaga tampak kian sepi dan menjauh.

Resort berada cukup jauh, dan Zafran masih berada di kapal pesiar besar, berpuluh kali lebih besar dari kapal yang kini membawanya pergi.

“Apa yang kau lakukan?!” Teriak Laura marah pada Ramon.

“Kemana kau akan membawaku?!”

Ramon hanya tertawa penuh cemooh, lalu melajukan kapal semakin cepat.

Dengan tangan gemetar, Laura mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Zafran. Namun belum sempat layar itu menyala, tangan Ramon lebih cepat merebutnya dan tanpa ragu melemparkannya ke laut.

“Tidak!” Laura menjerit.

Laura berlari keluar dan hanya bisa menatap ponselnya terlempar, jatuh, lalu menghilang ditelan air laut. Satu-satunya alat yang bisa menyelamatkannya telah lenyap.

Di kejauhan, Gaby dan Bertha telah meninggalkan dermaga.

Dan Laura kini benar-benar sendirian.

Sementara itu, Zafran sudah kalang kabut menyusuri Resort. Langkahnya cepat, matanya tajam menelusuri setiap sudut, lobi, koridor, hingga dermaga kecil di sisi timur. Namun tak satu pun bayangan Laura ia temukan.

“Padahal aku sudah berpesan agar dia jangan pergi ke mana-mana…” Gumam Zafran geram, rahangnya mengeras hingga giginya saling bergesekan.

Perasaan tak enak semakin menekan dadanya.

Tanpa membuang waktu, Zafran menuju area parkir. Dari kejauhan ia melihat Luwis yang tampak sudah bersiap pulang. Pintu limusin mewah terbuka, sopir sudah bersiaga.

Namun sebelum mobil itu sempat bergerak, tangan Zafran dengan kasar menarik Luwis keluar.

“Kemana lagi kau bawa Laura!” Bentak Zafran, mencengkeram kerah jas Luwis. Wajahnya merah padam, tinjunya mengepal, nyaris mendarat.

“Apa maksudmu?!” Balas Luwis terkejut. Ia menepis tangan Zafran dengan kasar.

“Bukankah dia bersamamu!” Nada suaranya ketus, namun seketika matanya melebar nampak terkejut.

“Kau… tidak bersamanya?” Luwis bertanya pelan, kepanikan mulai merambat di wajahnya.

Zafran tak menjawab. Wajahnya justru semakin gelap. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan mengeluarkan ponselnya.

“Stark…” Ucapnya tajam.

“Kerahkan semua keamanan. Tutup seluruh akses keluar Resort. Kalau perlu, bayar orang sebanyak mungkin. Aku ingin Laura ditemukan. Sekarang!”

“Baik, Tuan.” Jawab Stark singkat.

Zafran langsung memutus sambungan dan meninggalkan Luwis begitu saja.

Di belakangnya, Luwis terdiam beberapa detik. Niat pulangnya menguap seketika. Rasa panik mencengkeram dadanya. Ia berbalik, berjalan cepat, mengeluarkan ponsel dan mulai menelepon beberapa orang.

“Cari Laura. Sekarang juga.” Perintahnya pendek.

Tak lama kemudian, Stark menghampiri Zafran dengan wajah tegang.

“Tuan… Saya membawa seseorang.” Ujar Stark hati-hati. Dia petugas yang sedang membersihkan kapal milik Tuan Philip.”

Zafran menoleh tajam.

“Bawa dia ke sini.” Perintahnya dingin.

Perasaannya berkata, jawaban yang ia cari, ada di sana.

Mendengar kabar Laura menghilang, wajah Philip seketika memucat.

“Apa maksudmu… menghilang?” Tanyanya tak percaya pada sang istri.

Jane yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan langsung terisak. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan, tangannya gemetar menutupi mulut.

“Laura…” Gumamnya lirih, cemas dan takut membayangkan kemungkinan terburuk.

Sementara itu Edward sudah bergerak cepat. Ponselnya menempel di telinga, suaranya tegas saat memberi perintah pada para pengawal Zafran agar segera datang dan menutup seluruh area pelabuhan.

Petugas kapal berdiri gemetar di hadapan Zafran.

“S-saya sedang membersihkan kapal milik Tuan Philip…” Ucapnya terbata.

“Lalu ada satu pria yang mengatakan akan memakai kapal itu. Dia bilang sudah mendapat persetujuan dari Tuan Philip. Setelah itu… Tiga wanita datang menyusul. Karena sedang ada acara pesta, saya tidak curiga.”

Mata Zafran menggelap.

Tangannya mencengkeram kerah baju petugas itu hingga pria malang tersebut terangkat sedikit.

“Lalu…!” Desaknya dingin, tidak sabar dan penuh tekanan.

“Sa-saya melihat dari kejauhan.” Lanjut petugas itu ketakutan.

”Satu wanita masih berada di atas kapal saat kapal berlayar. Dua wanita lainnya… Tidak ikut naik.”

Kata-kata itu seperti pemicu ledakan.

Belum sempat Zafran bereaksi lebih jauh, seorang petugas keamanan datang berlari menghampiri mereka dengan napas terengah-engah.

“Tuan! Salah satu kapal milik Tuan Philip… Menghilang!”

Sekejap, insting Zafran bekerja.

Matanya menyipit tajam, rahangnya mengeras.

“Stark.” Perintahnya tanpa menoleh.

”Temukan Gaby. Jangan biarkan dia pergi.”

Lalu Zafran menoleh pada Edward.

“Siapkan helikopter.”

Edward mengangguk tanpa bertanya. Ia tahu, waktu bukan lagi sekadar berharga, melainkan penentu hidup dan mati.

Sementara itu Stark menyisir setiap ruangan dengan cepat. Lorong-lorong, tangga darurat, hingga area servis belakang. Hingga akhirnya ia melihat sosok Gaby yang berjalan tergesa, wajahnya pucat, langkahnya tak stabil.

“Berhenti.” Kata Stark dingin.

Gaby panik, ia berbalik dan berusaha berlari, namun tangan Stark lebih cepat mencengkeram pergelangan tangan wanita itu dan membantingnya ke dinding.

“Brengsek! Apa yang kau lakukan!” Teriak Gaby histeris.

“Pengawal bodoh!”

“Jangan melawan.” Jawab Stark datar, tekanannya menguat.

”Atau saya akan menggunakan kekerasan.”

Gaby terdiam, napasnya terengah, matanya liar mencari jalan kabur, namun tak ada.

Di kejauhan, suara baling-baling helikopter mulai terdengar.

Dan di tengah kekacauan itu, satu hal menjadi jelas bagi semua orang.

Laura tidak sekadar menghilang. Dia dibawa pergi dengan sengaja.

Zafran menyusuri laut dengan helikopter, ditemani Edward. Dari udara, hamparan air tampak luas dan gelap, dipenuhi kilau lampu dari beberapa kapal yang bergerak menyebar. Itu para pengawal Zafran, mereka membentuk garis pencarian, menyisir setiap kemungkinan arah.

Di sisi lain, Luwis memacu kapal lain dengan kecepatan maksimal. Wajahnya tegang, sorot matanya tak lepas dari cakrawala. Untuk pertama kalinya, ia berharap pada satu hal yang sama dengan Zafran, Laura harus ditemukan hidup-hidup.

Sementara itu, di tempat yang jauh dari jangkauan pandangan mereka. Ramon masih membawa Laura berlayar berputar-putar. Gerakan kapal yang tak menentu membuat kepala Laura pening, perutnya mual. Ketika mesin akhirnya dimatikan, keheningan terasa lebih menakutkan daripada suara ombak.

Laura duduk di sudut kapal, menekuk kedua kakinya erat-erat. Tubuhnya gemetar tak terkendali. Angin laut menerpa kulitnya, membawa dingin yang menembus hingga ke tulang. Hari telah bergeser menuju senja, langit meredup, cahaya memudar perlahan.

Laut di sekelilingnya tampak asing dan gelap.

Laura menelan ludah, berusaha mengatur napas yang tersengal. Pikirannya kacau, antara takut, bingung, dan putus asa. Setiap detik terasa panjang, setiap suara kecil membuatnya tersentak.

“Zafran…” Bisiknya nyaris tak terdengar, seperti doa yang terlepas begitu saja.

Di kejauhan, samar-samar, nyaris tak ia yakini, ada cahaya yang bergerak di langit. Laura mengangkat wajahnya perlahan, matanya menyipit, mencoba berharap di tengah gelap.

Sementara itu, di dalam helikopter, Zafran berdiri menatap laut dengan rahang mengeras.

“Persempit pencarian.” Perintahnya dingin. “Dia ada di luar sana.”

Instingnya berteriak, waktu Laura hampir habis.

Dan malam mulai turun.

Sementara Laura tak bisa menunggu lebih lama lagi, Ramon sudah melepas kan pakaiannya dan mendatangi Laura.

"Sudah saatnya, aku lelah berputar-putar..." Kata Ramon tersenyum licik.

"Jangan mendekat..." Pinta Laura masih duduk dan mundur perlahan.

"Sekarang kau boleh takut tapi nanti kau akan meminta lebih." Ramon tersenyum lagi.

Kemudian pria itu menarik kaki Laura dengan satu tarikan kasar membuat Laura terbaring dengan paksa di atas lantai deck kapal yang dingin. Kepala Laura membentur lantai membuat kepalanya terasa berkunang dan telingannya berdenging.

"Aku mohon aku akan menuruti semua permintaanmu, tapi jangan sakiti aku... Jika kau mau uang, aku akan memberikan semua uangku." Kata Laura mencoba menstabilkan diri.

Ramon tertawa.

"Aku lebih kaya darimu, dasar gadis dungu!"

Dengan kasar Ramon menyobek pakaian Laura, gadis itu menangis, melawan, memberontak, ia tahu akan sia-sia karena berada di tengah lautan tapi ia harus berjuang.

"Ya tuhan... Ambil saja nyawaku dari pada Kau selalu menghukumku dengan kehidupan ini." Laura menangis, gadis itu mulai kehilangan energinya.

"Ayah Ibu... Maafkan aku yang tidak berbakti, maaf tentang penginapan itu, aku tidak bisa mempertahankannya... Setelah semua ini berakhir... Tunggu aku... Kita akan bersama lagi. Aku sudah tidak bisa bertahan..."

Laura mulai letih melawan kekuatan Ramon yang jauh lebih besar darinya, lelah fisik dan juga batin yang mendera gadis itu, membuatnya menyerah.

Melihat Laura yang sudah melemahtak lagi memberi perlawanan, Ramon tersenyum penuh kepuasan. Otak pria itu sudah di penuhi oleh pikiran kotor.

"Kau akhirnya mengerti, percuma melawan, nikmati saja, aku janji akan melakukannya dengan lembut."

Kata Ramon berusaha membuka celananya.

Bersambung\~

1
Novita Sari
Luar biasa
Novita Sari
Lumayan
Yon Taek
Biasa
Bastian Sipahutar
luar biasa keren/Drool/
SariRani
Terbaik author 👍🏻👍🏻semangaaat, maaf baru baca karyamu ini di 2025, keren
Ririn Nursisminingsih
laura juga kbanyakan tingkaj udah tau suaminya cemburuan
Siti Sa'diah
🪭
Noni Diani
Luar biasa
Eka Sri lestari
baru kali ini aku baca novel nangis sesenggukan😭 paling ga bisa klo udh nyangkut org tua,
Alifah Azzahra💙💙
Mampir Thor 🥰🥰
Arini Zain
mampir thor
Rita Murwanti
satu sisi di cintai secara ugal* an satu sisi ada penderitaan ortu untuk kebahagian anaknya
juwita
mampir
Sandisalbiah
intinya suka dgn hasil imajinasimu thor.. sangat puas dan terhibur.. dan abaikan koment yg gak penting.. semangat...
Sandisalbiah
myngkinkah Dex jatuh hati pd Laura...?
Sandisalbiah
lagian di mension Zafran kan banyak penjaga dan oelayan.. jelas² merwka tau Geby sangat berbahaya tp kok begitu mudah Geby bisa masuk slm mension..? apa pengawal mension ada yg berhianat juga?
Sandisalbiah
jila Luwis bukan penghianat jd siapa... Edward juga tdk.. apakah Kate...
Sandisalbiah
leuwis bekerja sama dgn Geby.. dan saat ini leuwis memanfaatkan amneaia Laura buat mendoktrin ingatanya.. dan Geby.. apa yg dia dapat setelah ini.. zonk..
Sandisalbiah
leuwis...
Sandisalbiah
jika Laura dan Jane sefrekuensi mungkin mereka bisa berteman.. setidaknya Laura tdk merasa sendiri lagi di tempat asing di tambah lagi si biang rusu Geby udah muncul...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!