Kebiasaan buruknya dalam berjudi, membuat dirinya terpuruk dalam kesulitan.
Di kejar kejar Dep colector kelas mafia, membuat hidupnya, mati segan hidupu pun tak mau.
Hingga di penghujung kebuntuanya, Dylan harus bertarung melawan para Dep Colector hingga membuat nyawanya melayang.
Ikuti terus kisahnya Cuy .... Ok.
Klik favorite dan kasih like and ratenya juga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arby yingjun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
STRATEGI KE 2
Sebenarnya Alexa sudah merasakan feeling tersebut, jauh sebelum Erick menanyakan hal itu padanya. Akan tetapi Alexa menganggap semua itu mungkin hanya firasatnya saja tak lebih.
"Sayang, dekatkan telinga padaku." pinta Erick yang membuat Alexa sedikit merah pada wajahnya.
Alexa mengangguk dan kini mulai mendekatkan telinganya pada Erick.
Erick membisikan strategi pada telinga Alexa, dan Alexa terlihat mengangguk paham dengan semua yang di bisikan Erick padanya.
Erick bangun dari tempat duduk dan menghampiri seorang pelayan. Dan tak berselang lama, si pelayan mengangguk dan melangkah bersama Erick menuju toilet.
Di dalam toilet, si pelayan langsung bertukar busana dengan pakaian yang di gunakan Erick. Dan setelah selesai Erick menyuruh si pelayan agar keluar terlebih dahulu dan duduk di kursi restoran bersama Alexa dengan posisi membelakangi seseorang yang di curigai Erick.
Tak ada kecurigaan sama sekali di mata bawahan Thomas yang sedari tadi mengintai Erick dari kejauhan.
Dan kini saatnya Erick keluar dari toilet, dirinya melangkah perlahan dengan tangan membawa nampan.
Erick sudah siap mendekati seseorang yang sudah di curigainya.
"Hei, kamu." panggil kepala pelayan restoran pada Erick di meja kasirnya.
Erick yang merasa terpanggil, dirinya langsung mengangguk dan melangkah ke arah si kepalaya pelayan yang memanggilnya.
"Ada apa, Pak." tanya Erick.
"Apa kau baru disini?" tanya si kepala pelayan yang merasa asing melihat Erick.
Tanpa berpikir panjang lagi, Erick langsung mengangguk mengiyakan jawabanya.
"Baiklah, cepat kau antar minuman ini ke meja 18." titah si kepala pelayan pada Erick.
Dengan cekatan Erick mengambil dan minuman tersebut dan menaruhnya pada nampan yang sedang di pegang dan kemudian membawanya.
Mata Erick sekilas memperhatikan Alexa yang masih berpura berbincang dengan pelayan yang menyamar sebagai Erick.
"Kini saatnya aku membuktikan dugaanku." Erick melangkah ke arah meja yang diduduki orang yang di curigainya.
"Maaf, Tuan. Ini minumanya." Erick menaruh minuman tersebut di meja bawahan Thomas.
"Hei, prasaan aku tidak memesan minuman lagi." ucap si bawahan Thomas.
Erick duduk dan mengambil minuman tersebut kemudian menyiramkanya ke wajah bawahan Thomas.
"Sialan, apa maksudmu menyiramku dengan minuman." ucap bawahan Thomas yang tidak terima dengan perlakuan Erick padanya.
Erick menarik kerah baju bawahan Thomas dengan wajah yang berubah menakutkan.
"Katakan padaku, siapa yang menyuruhmu mengawasiku!" ucap Erick dengan nada dingin akan tetapi menakutkan.
"Aku tidak akan memberitahumu, sekali pun kau membunuhku saat ini juga." eyel si bawahan Thomas.
Erick melemparkan bawahan Thomas hingga jatuh terjerembab dan menjadi tontonan para pengunjung yang kebetulan berada disitu.
"Pergi kau dari sini sebelum aku berubah pikiran dan membunuhmu." ancam Erick sambil membantingkan nampanya ke lantai.
Bawahan Thomas bangun dari jatuhnya dan berlari terbirit birit mendengar ancaman Erick.
Erick melepas dasi kupu kupu dan melangkah ke arah Alexa dan kedua anaknya yang kini terlihat ketakutan memeluk Alexa.
"Erick, seharusnya kau lebih bisa mengontrol emosimu." ucap Alexa yang terlihat kecewa pada perubahan Erick.
Erick berlutut setengah sujud dan meneteskan air matanya.
"Maafkan Papa nak, Tadi Papa khilaf." ucap Erick penuh dengan rasa penyesalan.
Si kembar kini melepas pelukan pada Alexa dan beralih memeluk Erick.
"Papapa ...," Si kembar kembali riang dan menciumi pipi dan kening Erick.
"Baiklah, ayo kita pergi sekarang." ajak Erick pada Alexa, dan Alexa membalasnya dengan mengangguk sambil tersenyum.
Berita keributan kecil antara Erick alias Darwin dengan anak buah Thomas, dengan cepatnya sampai pada telinga Thomas dan Diana.
"Bagaimana ini?" tanya Diana pada Thomas dan beralih memandang ke arah Rendra.
Narendra tersenyum memandang ke arah Thomas dan Diana.
"Mengapa kau tersenyum, Rendra?" tanya Thomas yang merasa heran.
"Aku punya ide cemerlang, dekatkan telinga kalian padaku sekarang." titah Rendra yang langsung di ikuti Diana dan Thomas.
Setelah mendengar ide yang di bisikan Rendra, Thomas mengangguk setuju tapi tidak bagi Diana.
"Apa ini akan berhasil?" tanya Diana penuh ragu memandang pada Thomas dan Rendra.
Thomas merangkul pundak Diana dan coba menyemangati ide yang telah di sampaikan Rendra pada mereka.
"Bibi pasti bisa, dan aku yakin akan hal itu." ucap Rendra menyemangati Diana.
LIKE LIKE JANGAN LUPA LIKENYA YA
semoga kalian selalu bahagia.. 🥰🥰😍
lanjut baca👍👍
ngangkang tuh jalan
ko tamat