"Argh!" teriak Asqyla. Punggungnya menabrak dinding.
Werrent menatap Asqyla dengan tatapan lapar. Tidak bisa di pungkiri wajah serta tubuh Asqyla membuat pria manapun terpesona.
"Berhenti, Kak. Kita bukan lagi--"
"SHUT UP, SLUT!"
Pria itu menjilat bibirnya dan menatap Asqyla dengan tajam.
"Setelah sekian lama menghilang, kau kembali bersama selingkuhanmu, Asqyla? How perfect isn't it?"
***
Bagaimana rasanya berada di satu rumah tapi tidak di hati yang sama?
- Asqyla Dinara
Lalu, bagaimana rasanya di tinggal bersama dengan harapan yang hanya angan, Asqyla?
- Werrent Grissham Orlov
***
Dipilih atau memilih?
Bertahan atau menyerah?
Berjuang atau putus asa?
Keputusan mana yang akan kalian ambil jika berada di posisiku?
Gadis yang baru saja berusia 17 tahun tiba-tiba menikah dengan orang yang tidak dia kenal.
Klise sekali bukan? Suami tampan juga mapan.
Tapi, apa semua itu bisa membuat kalian bahagia walau hanya berada di satu rumah tetapi tidak di hati yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuyRebahan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku mencintainya?
Sudah tiga bulan aku menetap di sini. Bukan apartemen yang dulu kami tempati, tapi sebuah rumah dengan pekarangan yang sangat luas. Bahkan sudah bisa di bilang ini adalah mansion-mansion yang biasanya orang-orang penting tempati. Namun, lebih modern. Dari sini aku tidak akan membicarakan kilasan-kilasan balik seperti kemarin. Semuanya sudah usai bagiku. Werrent berubah sepenuhnya, Marlo memang tidak menyadari itu namun aku tahu. Werrent benar-benar berubah.
“*Mrs Orlov? Are you alright*?” tanya Marlo khawatir.
“I’m ok, let’s began.”
“I’m not sure if we had to continue this lesson, I’ll be back tomorrow.”
Marlo memutuskan untuk meliburkan pembelajaran di hari itu karena dia tahu aku menahan tangis setelah kepergian Werrent. Saat itu perasaanku campur aduk dan tidak bisa ku pahami, sampai beberapa detik lalu aku benar-benar tidak paham dengan apa yang aku rasakan. Semua kebingungan, ketakutan juga kekhawatiran ini terus mengusik hidupku dengan alasan yang tidak jelas. Namun, pada akhirnya aku berlari lagi kepada Radith. Orang yang tidak muncul dalam beberapa bab ceritaku ini. Orang yang bersedia memahamiku sampai bagian terbusuk sekalipun. Itulah Radith Mahendra, seorang teman, seorang keluarga, dan seorang Kakak yang aku sayangi. Selalu seperti itu dan tidak akan berubah.
Duh, aku lelah deh dengar kamu nangis terus. Bisa-bisa nanti hasil ujianku merah semua karna dengerin kamu nangis, La. Sekarang ada masalah apa lagi? Gak baik lho kamu cerita masalah rumah tangga kamu ke orang lain, apa lagi aku.
Justru karna orang itu kamu, Dit! Makannya aku bisa cerita. Gak mungkin aku cerita masalah ini ke Bunda sama Ayah apalagi Papa dan Mama. Bisa-bisa makin runyam masalahnya.
Tadi nangis, sekarang marah. Jangan-jangan kamu lagi gejala Ibu Hamil, ya?
....
Sekarang malah diam, kamu bener-bener lagi hamil, ya? Duh, Bumil, maafin Adit yang tampan ini karena udah buat Bumil—
Aku gak mau bahas itu, Radith.
Widih seremnya manggil aku pake nama itu. Jadi, kenapa sama suami kamu, Qyla? Sekarang kan masih malam di kamu, memangnya di sana gak ada dia? Kamu yakin mau bahas permasalahan ini di depan dia?
Dia gak pulang ke rumah, Dit. Sudah beberapa hari ini. Sebenarnya aku gak peduli apa yang mau dia lakuin, Dit. Tapi, belakangan ini rasanya aneh. Hubungan kita memang semakin dekat di banding dengan awal-awal kita menikah, tapi ada satu rasa yang hilang dan buat aku gak nyaman. Rasanya aku pengen kabur dari sini.
Kan sudah aku bilang, Qyla. Kalau mau kabur tinggal ke rumahku atau hubungi aku. Aku bersedia culik kamu sepenuh hati, La.
Aku mengusap cincin di jari manisku, cincin terindah dari seluruh perhiasan di bumi. Cincin yang tidak bisa dimiliki siapapun termasuk Ratu dari Negara Ini. Ikatan berharga yang tidak ingin aku hancurkan karena egoku sendiri.
Kamu sendiri tahu jawabannya apa, Dit.
Radith terdiam dan aku menitikan air mata. Bagaimana pun, aku tidak bisa lari dari semua ini. Tapi, tenggorokanku tercekat. Padahal aku hanya ingin bilang kalau aku baik-baik saja dan meminta maaf kepada Radith yang tengah meluangkan waktunya di tengah-tengah kesibukannya mempersiapkan Ujian Kelulusan. Sama sekali tidak keluar satu patah kata pun.
Qyla ... kamu itu benar-benar, ya? Tidak bisa kalau tidak merepotkan orang.
Terdengar suara kursi yang tergeser lalu bisingnya udara yang masuk ke dalam audio ponsel. Sepertinya Radith sedang berjalan karena samar-samar aku mendengar orang-orang yang menyapa Radith.
Nanti aku hubungi lagi, sekarang kamu minum air dulu. Sampai aku hubungi nanti, jangan nangis. Jangan sama sekali!
Setelah itu panggilan kita terputus. Aku mendengarkan ucapan Radith untuk minum terlebih dahulu dan menenangkan diriku sendiri agar tidak menangis seperti anak kecil yang kehilangan permennya. Entah mengapa mendengar suara Radith begitu memicuku untuk meluapkan semuanya. Seakan-akan aku diciptakan untuk bersandar padanya dan dia diciptakan untuk menopang diriku. Aneh, situasi ini benar-benar aneh.
...***...
Sudah satu jam berlalu dan tidak ada kabar dari Radith. Aku memutuskan untuk tidur kembali karena seperti yang Radith bilang tadi, di sini sudah malam. Bahkan sudah melewati tengah malam. Namun, saat aku hampir saja terlarut dalam lelap, ponselku bergetar lama menandakan ada seseorang yang menghubungiku.
Dan seperti yang kalian kira, itu adalah Radith, dengan segala kata yang mampu membuatku bangkit kembali. Dia benar, jarak tidak bisa memisahkan kita.
Bukannya tidur, masih sempat-sempatnya angkat telfon aku, Qyla.
Aku tidak menjawab perkataannya. Seperti yang aku bilang tadi, rasanya aku ingin menumpahkan semua rasa yang menyesakkan ini.
Udah aku bilang, jangan menangis. Sekarang tenggorokkan kamu kering, kan? Terus air minumnya tinggal setengah gelas lagi? Ya, ampun Qyla ... kamu itu emang hobi ngerepotin orang lain, ya?
Aku hanya bisa membungkam mulutku dengan tangan. Rasanya pedih sekali menahan tangis, padahal jelas saja tadi aku berniat untuk tidur. Tapi, kenapa sekarang aku malah menangis?!
Gak perlu kamu jawab. Dengerin aja suaraku. Kalau perlu, aku bisa ceritain dongeng biar kamu tidur. Di sana sudah setengah dua pagi lho, Qyla. Nanti pagi-pagi mata kamu malah bengkak.
Selimut yang aku singkirkan aku tarik kembali, ku tutupi tubuhku dengan selimut. Berharap memberikanku sedikit kehangatan.
Qyla ... kamu itu sebenarnya lari dari apa? Bukannya kamu yang menentukan semua ini? Bukannya aku pernah menawarkan agar semua ini tidak terjadi? Sebenarnya aku ingin bilang kalau semua ini adalah efek dari keputusanmu sendiri. Tapi, aku bisa di cap jahat oleh Nona Qyla ini kalau aku berkata seperti itu, haha.
Tawanya terlalu kaku untuk menertawaiku. Aku tahu, Radith hanya kecewa pada dirinya sendiri karena tidak cukup baik untuk menjagaku dan dia sedang menyalahkan orang agar dia bisa memaafkan dirinya sendiri. Aku tahu kok, Dit, aku tahu. Tapi, aku memilih diam dan terus membebanimu.
Tidak apa-apa kalau kamu lelah. Tidak apa-apa kalau kamu ingin menangis. Asal di depanku, Qyla. Tidak boleh jika orang lain. Karena mereka tidak tahu....
Radith menghentikan ucapannya, aku yakin Radith sudah tidak bisa melanjutkan kalimat tersebut. Karena kalimat itu menyakiti aku dan dia. Namun, aku yang dulu tidak mengerti apa maksud dari perkataan Radith dan menjadikannya sebuah hal yang selalu Radith alihkan.
Kita balik ke topik utama, udara segar ini buat aku mikir kemana-mana sampai lupa kalau kamu butuh aku.
Radith menghela napas perlahan, aku semakin mengeratkan cengkramanku di selimut.
Qyla ... kamu itu mencintai Werrent, itulah kenapa kamu merasakan hal yang berbeda dari Werrent yang bahkan tangan kanannya sendiri tidak sadari. Aku tahu kamu pasti sedang menyangkal semuanya. Tapi, dilihat dari sikapmu yang marah karena Werrent tidak lagi menggodamu itu sudah membuktikan jelas kalau kamu itu sudah mencintainya.
Benarkah begitu? Itu yang ada di pikiranku, namun tak aku suarakan karena aku tidak ingin Radith mengkhawatirkanku.
Kamu bilang, kamu sudah siap untuk menjalani tugasmu sebagai istri bukan? Tapi Werrent menolaknya dengan membalikkan ucapanku dulu yang mengatakan bahwa kamu masih terlalu muda. Iya, kan?
Hening. Radith tidak berkata apapun lagi. Suara-suara angin yang tertangkap audio ponsel membuatku agak risih karena begitu kencang.