Giwang gadis desa yang menikah dengan pujaan hatinya, tapi dia di tinggalkan suaminya setelah tujuh hari menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Rachman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Memenuhi janji ke readers karena telah masuk 10 besar.
Selamat membaca🥰
🌹🌹🌹
Giwang menganggukkan kepalanya tidak mengerti.
"Ingat jangan tersenyum lagi," larang Adlan.
"Tapi senyum itu ibadah Pak," sahut Giwang yang ingin tersenyum tapi sadar ketika mendapatkan tatapan tajam dari Adlan.
"Iya saya tau ibadah, tapi karena senyuman kamu bisa membuat saya jadi gila," sahutnya keceplosan.
"Maksud Bapak apa?" tanya Giwang tidak mengerti.
"Enggak ada," sahut Adlan cepat. "Ayo," ajak Adlan dan berjalan lebih dulu keluar dari rumahnya. Giwang mengikuti dari belakang. Untuk pertama kalinya dia naik mobil super mewah.
"Pak apa pintunya cuma dua?" tanya Giwang melihat pintu mobil hanya ada dua di bagian kanan dan kiri.
Adlan mengerti maksud Giwang. "Mobil sport memang pintunya hanya ada dua," sahut Adlan sembari membukakan pintu untuk Giwang tapi gadis itu belum mau masuk.
"Ayo masuk!"
"Apa Bapak tidak ada mobil yang lain?" tanya Giwang masih menatap mobil itu.
"Ada," sahut Adlan singkat sembari menunjuk garasi mobilnya. Giwang melihat arah yang di tunjuk Adlan.
"Sekarang bukan waktunya untuk pamer, ayo naik," ujar Adlan lagi.
Akhirnya Giwang naik ke dalam mobil itu. Duduk di mobil mewah sembari melihat isi mobil itu, tidak tau fungsi dan kegunaan yang ada di dalam mobil itu.
Adlan duduk di belakang setir sembari melirik Giwang tentunya dengan tersenyum.
"Kenapa Bapak boleh tersenyum sedangkan saya tidak?" tanya Giwang aneh.
"Karena kamu wanita," sahut Adlan singkat sembari menyalakan mesin mobilnya. Terdengar suara knalpot yang cukup menderu-deru membuat Giwang takut.
Adlan melajukan mobilnya menuju jalan raya tetapi Giwang terus menutup matanya.
"Cepat banget tidurnya," gumam Adlan sembari tersenyum.
Setelah melewati kepadatan lalu lintas Adlan memberhentikan mobilnya. Giwang masih tetap menutup matanya. Adlan tersenyum menurutnya tidur saja cantik apalagi bab pasti tetap cantik.
Adlan turun dari mobil dan memutari mobilnya membukakan pintu mobil untuk gadisnya. Ketika pintu di buka Giwang buru-buru keluar dan berlari entah ke mana.
"Hei mau ke mana!" teriak Adlan mengikuti Giwang.
Di bawah pohon Giwang memuntahkan semuanya. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Adlan kasihan ketika melihat gadisnya pucat. Giwang menggelengkan kepalanya.
"Tadi kamu tidur kan?" tanya Adlan sembari memperhatikan manik mata Giwang yang tidak seperti orang tidur.
"Tidak Pak tadi saya hanya memejamkan mata sembari menahan muntah," sahutnya.
"Apa kamu tidak pernah naik mobil?" tanya Adlan heran.
"Pernah tapi angkutan umum, naik mobil ceper baru tadi, saya seperti bukan berada di dalam mobil melainkan sedang berada di aspal," sahutnya jujur.
Ucapan Giwang membuat Adlan tersenyum. Biasanya gadis lain akan dengan bangga naik mobil mewahnya tapi gadis di depannya berbeda, gadis itu malah memberikan julukan baru untuk mobilnya dengan sebutan mobil ceper.
Giwang melihat gedung yang lumayan besar. "Tempat apa ini?" tanyanya bingung.
"Super market," sahut Adlan.
"Kenapa di super market?" tanya Giwang bingung.
"Kita kan mau belanja bahan makanan," sahut Adlan dan berjalan lebih dulu sembari mengajak Giwang dengan gerak kepalanya.
"Pak jangan di sini." Ucapan Giwang menghentikan langkah Adlan.
"Kenapa dengan tempat ini?" tanya Adlan dengan tatapan bingung.
"Tempatnya tidak masalah hanya saja bahan-bahan lebih segar di pasar," sahutnya.
"Oh ok kalau begitu," Adlan kembali membukakan pintu mobilnya untuk Giwang.
Seperti biasa Giwang langsung menutup matanya ketika mesin mobil mulai di nyalakan. Adlan merasa kasihan jika tau alasan Giwang menanyakan tentang mobilnya pastinya dia akan mengendarai mobil yang lain tentunya mobil yang lebih tinggi.
Mobil melaju di jalan raya, mobil harus berhenti di depan lampu lalu lintas yang berwarna merah. Giwang masih menutup matanya dan dari mobil yang ada di sebelah mobil Adlan ada mobil lain di mana di dalamnya ada Agung, tidak sengaja dia melihat wajah istrinya ada di dalam mobil mewah itu, sedangkan Giwang tidak menyadari jika suaminya melihatnya. Tapi Agung tidak bisa melihat siapa pria yang ada sebelah istrinya, pria itu mengenakan kaca mata hitam dan tentu tidak dikenalinya.
"Ternyata dia sudah dengan orang lain," gerutu Agung dan ingin turun dari mobilnya tapi lampu lalu lintas telah berwarna hijau dan dia kembali menekan pedal gas untuk mengikuti istrinya tapi kecepatan mobilnya tidak sebanding dengan mobil mewah itu, Agung kehilangan jejak istrinya.
Adlan memberhentikan mobilnya di pasar. Mobilnya parkir di antara mobil pick up dan mobil yang dalam kategori biasa. Turunnya Adlan dari mobil membuat semua mata tertuju kepadanya, orang-orang yang berada di pasar merasa penasaran dengan pemilik mobil mewah itu. Adlan membukakan pintu mobilnya untuk Giwang tapi ketika pintu di buka tidak sengaja muntahnya muncrat ke jas Adlan.
Giwang tidak bisa mencari tempat untuk muntah lagi, dia muntah tepat di depan Adlan. Pria itu merasa jijik tapi menepis rasa jijiknya dengan rasa bersalah karenanya Giwang muntah itu pikirnya.
"Maaf Pak," ujar Giwang tidak enak.
"Tidak apa-apa," sahut Adlan.
"Sebentar," Giwang pergi meninggalkan pria itu yang masih ada di samping mobil.
"Kamu mau ke mana!" teriak Adlan yang masih berdiri di samping mobil dengan baju yang terkena muntah.
Tidak berapa lama Giwang kembali dengan membawa satu botol besar air mineral.
"Ini Pak," ujarnya sembari memberikan ke Adlan.
"Saya tidak haus," sahut Adlan sembari menerima botol air mineral itu.
"Itu untuk membersihkan muntah saya yang ada di baju Bapak."
Adlan mengerutkan dahinya. "Lupakan soal jas ini, saya akan membuangnya saja," Adlan ingin melepas jasnya.
"Jangan di buang," Giwang tau itu jas mahal dan dia melarang pria itu untuk membuang jas itu.
"Kalau Bapak mengizinkan saya bisa membersihkan muntahan itu," ujar Giwang sembari menunjuk jas yang terkena muntah.
"Silakan," Adlan merentangkan tangannya dan Giwang mulai membersihkan dengan tisu basah dan air mineral itu. Adlan memperhatikan gadisnya cukup dekat, dia bisa merasakan jari jemari gadis itu menyentuh setiap tubuhnya padahal hanya jasnya tapi dia membayangkan yang lain.
Giwang mencoba mengendus jas itu, dan itu di perhatikan Adlan.
"Pak masih bau," ujar Giwang tidak enak. "Saya tidak punya parfum, tapi tunggu," Giwang kembali berlari ke warung yang ada di pasar, kembali dengan membawa parfum seterika dia menyemprotkan semuanya ke baju Adlan.
"Stop!" titah Adlan.
Giwang berhenti. "Apa Bapak tidak suka aromanya?" tanya Giwang.
"Aromanya malah membuat saya pusing," sahut Adlan.
"Maaf ya Pak," Giwang menundukkan kepalanya.
"Ya sudah ayo kita belanja," ajak Adlan.
"Ayo?" tanya Giwang bingung.
"Iya, kita akan masuk dan belanja bersama di dalam," sahut Adlan.
Giwang memperhatikan pakaian Adlan dari atas sampai bawah. Dia berpikir kalau bosnya hanya mengantarkannya tapi pria itu ingin ikut berbelanja dengannya.
Yang benar saja belanja pakai jas.
Gumam Giwang dalam hati dan berjalan beriringan masuk ke dalam pasar.
Bersambung...
Follow Instagram : anita_rachman83
seputar novel hanya di info di instagram tidak ada di grup.
🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014!