NovelToon NovelToon
Trapped By You

Trapped By You

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: BintangFRY

​​"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"

Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.

"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.

​"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"

​"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan

Pelataran tebing Uluwatu menyuguhkan pemandangan spektakuler yang memanjakan mata. Disana, Altar berbentuk panggung kaca transparan dibangun tepat membelakangi lautan. Ribuan bunga anggrek putih dan mawar menghiasi sepanjang karpet merah.

​Para tamu undangan yang terdiri dari jajaran elite, pejabat tinggi, serta pebisnis papan atas duduk rapi di kursi-kursi .

​Musik organ pernikahan mulai bergaung megah, berpadu dengan deru ombak laut Uluwatu.

​Kayna berjalan perlahan di atas karpet merah bersama Erick yang menggandeng lengannya menuju altar. Di ujung sana, Mara sudah berdiri menunggu dengan sikap tegap, tampak seperti seorang raja yang siap menyambut permaisurinya.

​Erick menyerahkan tangan Kayna kepada Mara. Mara menerima jemari dingin Kayna, menggenggamnya begitu erat seolah tak akan pernah melepaskannya lagi seumur hidup.

​Pendeta yang berdiri di hadapan mereka mulai membacakan khotbah pernikahan. Angin laut berembus kencang, menyingkap veil transparan Kayna, memperlihatkan wajah cantiknya yang tampak anggun dan cantik.

​Hingga akhirnya, moment krusial itu pun tiba.

​Pendeta berpaling menatap Mara. "Damara Lexander Veldens, apakah engkau bersedia menerima Kayna Ramida sebagai istrimu yang sah, mencintainya, menghormatinya, dan melindunginya dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, hingga maut memisahkan kalian?"

​Mara menatap lurus ke dalam sepasang mata Kayna. Tanpa keraguan sedikit pun, dengan suara bariton yang mantap dan menggema di seluruh tebing, ia menjawab,

​"Saya bersedia."

​Jantung Kayna berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Kini giliran pendeta berbalik menatap Kayna.

​"Kayna Ramida..." suara pendeta terdengar begitu menggema. "Apakah engkau bersedia menerima Damara Lexander Veldens sebagai suamimu yang sah, mencintainya, menghormatinya, dan mematuhinya dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, hingga maut memisahkan kalian?"

​Keheningan seketika membekukan seluruh tebing Uluwatu. Bahkan deru ombak di bawah sana seolah mendadak membisu.

​Seluruh mata tamu undangan tertuju pada Kayna. Mara menatapnya dengan kilatan protektif yang mematikan. Dari sudut matanya, Kayna melihat ayahnya dan ibunya tersenyum penuh keharuan di barisan depan.

​Bibir Kayna bergetar. Tenggorokannya terasa begitu kering bagaikan padang pasir. Air mata tergenang di pelupuk matanya.

​Ia tahu, satu kata dari mulutnya akan menentukan takdir hidupnya selamanya, apakah ia akan menjadi tawanan abadi Mara, ataukah pesta pernikahan ini akan berubah menjadi kekacauan karena keputusannya.

​Kayna membuka bibirnya, napasnya memburu. Namun tepat sebelum kata pertama terucap dari bibir Kayna...

​BZZZZT!

​Layar LED raksasa yang berada di belakang altar, yang semula menampilkan logo kemegahan Veldens Management, tiba-tiba berkedip kencang, mengalami gangguan sinyal.

Lalu terdengar suara tembakan disusul dengan suara tembakan yang lainnya.

​"Siapa bajingan yang berani bermain-main di altarku?!"

​DOR!

​DOR! DOR! DOR!

​Dalam hitungan detik, rentetan tembakan bersahut-sahutan melintasi area pernikahan!

​Kepanikan luar biasa seketika meledak. Para tamu undangan VIP dari kalangan pebisnis dan pejabat berteriak histeris, melompat menunduk di bawah meja bertaplak sutra, saling dorong menyelamatkan diri. Kursi-kursi terbalik, gelas-gelas kristal pecah berantakan di atas lantai marmer.

​Namun, Mara sama sekali tidak bergeming. Wajah tampannya tidak menunjukkan riak ketakutan sedikit pun. Garis rahangnya mengeras tajam.

Dengan gerakan cepat dan penuh perhitungan, lengan tegap Mara menyambar pinggang Kayna, menarik tubuh wanita itu rapat-rapat ke dalam dekapannya, menyembunyikannya secara protektif di balik tubuhnya.

​"Carlos, James. Bersihkan sampah-sampah ini," perintah Mara dengan suara bariton yang begitu dingin, datar, namun sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.

​Ternyata, Mara sudah memperhitungkan segala kemungkinan terburuk. Di balik kemewahan pesta, belasan pria berjas hitam dari jaringan rahasia Mafia Lexans yang menyamar sebagai staf keamanan bergerak cepat dari balik semak-semak dan sudut tebing. Tembakan balasan dilancarkan dengan presisi mematikan tanpa ampun.

​Adu tembak sengit terjadi di perimeter luar altar. Suara jeritan musuh yang tertembak bercampur dengan gema deburan ombak laut di bawah tebing. kurang dari tiga puluh menit kejadian berdarah itu berhasil diredam sepenuhnya. Para pengacau dari kubu musuh dunia bawah tanah yang berani memanfaatkan momen pernikahan tersebut telah dilumpuhkan dan diseret menjauh tanpa sisa.

​Mara merapikan jasnya yang sedikit bergeser, lalu menatap pendeta yang bersembunyi di balik mimbar dengan tubuh menggigil hebat.

​"Lanjutkan," desis Mara, matanya menatap sang pendeta tanpa ampun. "Kecuali kau ingin namamu tertulis di batu nisan malam ini."

​Di bawah intimidasi berdarah dingin sang ketua mafia, upacara janji suci pun dilanjutkan hingga selesai. Kayna mengucapkan kata "bersedia" dengan suara tercekat, menukar cincin di atas panggung yang baru saja disapu bau aroma mesiu dan pertumpahan darah.

​Pesta pernikahan berakhir dalam ketegangan yang teramat pekat. Meskipun di mata media massa acara berjalan lancar dan aman, suasana hati Mara telah hancur sepenuhnya. Aura permusuhan dan kemurkaan yang meledak-ledak terpancar kuat dari tubuh pria itu.

​Kedua orang tua Mara bersama orang tua Kayna, Erick dan Liliana, segera dievakuasi oleh tim pengawal pribadi menuju suite mewah hotel bintang lima yang dijaga ketat.

​Rencananya, Kayna dan Mara seharusnya juga menginap di hotel yang sama untuk melewatkan malam pertama mereka. Namun, Mara membatalkan keputusan itu secara sepihak.

​"Kita kembali ke vila sekarang," cetus Mara dingin saat mereka melangkah masuk ke dalam mobil limosin.

​Kayna menatap samping wajah suaminya yang membeku bagaikan pahatan batu granit. "Mara, bukankah Mama dan Papa bilang kita harus beristirahat di hotel bersama mereka?"

​Mara menoleh lambat. Jemari tangannya yang panjang dan kekar terangkat, mencengkeram rahang Kayna. Cengkeraman itu tidak terlalu keras hingga menyakiti, namun sangat padat untuk menunjukkan dominasi yang mutlak.

​"Aku tidak bisa tidur di hotel sementara ada tikus-tikus bodoh dan anak buah lalai yang berani mengotori hari bahagiamu, Kayna," bisik Mara dengan nada suara yang membekukan napas Kayna. "Ada hal yang harus kubereskan malam ini di vila."

​Limosin hitam itu membelah kegelapan malam Bali menuju vila pribadi milik Mara yang berdiri terisolasi di puncak tebing.

​Setibanya di sana, atmosfer vila terasa amat Mencekam. Belasan pengawal berjas hitam berdiri berbaris di sepanjang jalan setapak dengan kepala tertunduk penuh ketakutan. Mereka tahu betul, iblis yang memimpin mereka sedang berada di puncak kemurkaan.

​Mara menggenggam jemari Kayna, menuntun langkah wanita itu menyusuri tangga marmer menuju kamar tidur utama di lantai dua. Ia membuka pintu kayu mahoni berukir indah, menuntun Kayna masuk ke dalam kamar bernuansa kemewahan gelap yang megah.

​Mara memegang kedua bahu Kayna, menatap lurus ke dalam sepasang mata istrinya.

​"Lepaskan gaunmu dan beristirahatlah," kata Mara, suaranya mendadak melembut secara hipnotis, namun sepasang mata abu-abunya tetap menyala oleh api kemurkaan. "Jangan sekali-kali kau melangkah keluar dari kamar ini. Apa pun suara yang kau dengar di luar... tetaplah di sini. Paham, my wife?"

​Kayna menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa amat kering. "Kau... kau mau ke mana, Mara?"

​Mara menyunggingkan senyuman tipis yang amat mengerikan. Ia mendaratkan kecupan dingin di dahi Kayna. "Aku hanya perlu mengajari anak buahku tentang arti kepatuhan dan harga dari sebuah kelalaian."

​Mara melangkah mundur, lalu mengunci pintu kamar tebal itu dari luar secara otomatis, meninggalkan Kayna sendirian dalam keheningan yang mencekik dada.

​Mara melangkah turun menuju halaman belakang vila, sebuah area terbuka berumput hijau yang berbatasan langsung dengan tebing curam dan lautan malam yang menggelegar.

​Ia melepas jas premiumnya, melonggarkan dasi, lalu melemparnya sembarangan ke tanah.

​Di halaman belakang itu, belasan anak buah pengawal keselamatan yang bertugas menjaga perimeter Uluwatu kini berlutut berjejer dengan tubuh menggigil ketakutan. Di samping mereka, Carlos dan James berdiri tegak dengan wajah tegang. Sebuah cambuk kulit tebal berujung simpul baja sudah tersaji di atas meja batu.

​Mara melangkah mendekat. Sosoknya yang menjulang tinggi tampak bagaikan iblis pencabut nyawa yang keluar dari neraka terpekat. Matanya menyipit penuh kegelapan saat ia mengambil cambuk itu.

​"Siapa penanggung jawab perimeter barat Uluwatu malam ini?" suara bariton Mara bergema di tengah desir angin malam yang kencang.

​Seorang pria bertubuh kekar merambat maju sambil memohon, "Saya... Saya, Tuan Mara... Kami tidak menduga mereka berhasil me—"

​SPLASH!

​Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, Mara menyambar cambuk itu dan mengibaskannya dengan tenaga penuh. Cambuk itu menghantam dada dan bahu anak buahnya, merobek kemeja dan mengucurkan darah segar dalam satu sabetan keras.

​Jeritan kesakitan pecah, bersahutan dengan deburan ombak tebing yang menghempas karang.

​"Alasan adalah milik orang-orang mati!" amuk Mara dengan tatapan tanpa ampun. "Satu helai benang di gaun pengantin Kayna ternoda oleh bau mesiu hari ini... dan bayarannya adalah nyawa kalian semua!"

...●Bersambung●...

1
Putri💅🏻💅🏻
bagus banget
AzhuraAstra
Lanjut seng!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!