NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang CEO

Istri Rahasia Sang CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 032: Villa Puncak

Jumat sore, tiga SUV hitam meninggalkan compound Hendrawan menuju Puncak.

Rio mengatur iring-iringan seperti operasi keamanan, bukan liburan keluarga. Mobil depan berisi pengawal. Mobil tengah membawa Mama Lian, Jessica, dan Serena. Mobil belakang diisi beberapa staf dekat, termasuk Ningsih dan Ratna. Rossa Santoso datang dengan mobilnya sendiri, tetapi begitu melewati gerbang compound, kendaraannya masuk ke formasi Hendrawan tanpa banyak pilihan.

Keira duduk di mobil Darren.

Jalan keluar Jakarta padat, tetapi di dalam mobil itu justru terlalu sunyi. Darren memegang tangannya sejak kendaraan bergerak. Ibu jarinya mengusap punggung tangan Keira pelan, tepat di bekas kulit yang beberapa minggu lalu memerah karena bunga beracun.

Gerakan itu lembut.

Namun Keira tahu, di balik kelembutan itu ada perangkap yang sudah disusun sampai ke napas terakhir.

Ia menoleh ke samping.

"Ren," panggilnya pelan.

Jari Darren berhenti sepersekian detik.

Keira juga sadar setelah kata itu keluar. Nama itu terasa terlalu dekat, terlalu berani, dan terlalu alami.

Darren menatapnya.

Di matanya tidak ada kejutan yang besar. Hanya sesuatu yang menghangat cepat, lalu disimpan lagi di balik ketenangan.

"Ya?"

Keira menelan rasa panas di wajahnya.

"Kamu yakin?"

Darren menggenggam tangannya lebih erat.

"Sangat yakin."

"Kalau mereka tidak bergerak?"

"Mereka akan bergerak."

"Kenapa?"

Darren melihat ke luar jendela, ke arah langit yang mulai berubah abu-abu.

"Karena orang yang merasa hampir menang biasanya lupa menghitung lantai di bawah kakinya."

Keira diam.

Ia ingin berkata bahwa kalimat itu terdengar seperti ancaman untuk seluruh dunia. Tetapi dunia memang sedang mengancam Jessica, mengancam dirinya, dan mungkin sudah lama mengancam Darren dari segala sisi.

Jadi ia hanya membiarkan tangannya tetap berada dalam genggaman Darren.

Perjalanan ke Puncak memakan waktu hampir tiga jam karena lalu lintas akhir pekan. Ketika iring-iringan akhirnya memasuki jalan menanjak yang lebih sejuk, udara berubah. Bau aspal panas Jakarta digantikan oleh tanah basah, daun teh, dan kabut tipis.

Villa Puncak milik keluarga Hendrawan berdiri di lereng dengan cara yang membuatnya tampak seperti bagian dari bukit.

Bangunannya tiga lantai, modern tropis, dengan dinding batu alam, kaca lebar, dan balkon kayu yang menghadap hamparan kebun teh. Di sisi kiri ada kolam renang tanpa batas yang tampak menyatu dengan kabut. Di belakang bangunan utama, ada area pemandian air panas pribadi dan sebuah bangunan kecil terpisah yang dipakai sebagai rumah buku sekaligus ruang kerja.

Ningsih turun dari mobil sambil membuka mulut.

"Mbak, ini villa atau hotel?"

Keira hampir tertawa.

"Kalau kamu bertanya begitu, berarti bukan cuma aku yang kampungan."

Ningsih langsung menutup mulut, lalu cekikikan.

Suasana ringan itu hanya bertahan sebentar.

Felicia Tanuwidjaja sudah tiba lebih dulu. Ia berdiri di teras dengan selendang tipis di bahu, wajahnya tampak tenang tetapi matanya menyimpan sesuatu yang lama.

Ketika melihat bangunan itu, ia berkata pelan, cukup keras untuk didengar orang terdekat.

"Dulu ini tempat Ethan paling suka."

Udara seperti turun beberapa derajat.

Mama Lian menatap Felicia dengan ekspresi yang tidak mudah dibaca. Jessica menunduk. Serena pura-pura tidak mendengar. Rossa berdiri di belakang, dingin dan rapi, seolah kalimat itu tidak ada hubungannya dengannya.

Darren tidak menjawab.

Ia hanya menggandeng Keira melewati teras.

Sore hari, setelah pembagian kamar selesai, Keira dibawa Darren ke area pemandian air panas pribadi.

"Kamu yakin ini bagian dari rencana?" tanya Keira, menatap uap yang naik dari kolam batu.

Darren membuka tutup botol tabir surya.

"Sangat."

"Rencana apa yang butuh tabir surya?"

"Rencana agar kamu tidak terbakar matahari."

Keira menatapnya curiga. "Kita di bawah atap."

"Pantulan air tetap bisa membuat kulitmu terbakar."

Nada Darren terlalu serius untuk sesuatu yang jelas-jelas ia gunakan sebagai alasan.

Keira duduk di tepi kursi panjang, mengenakan kain tipis di atas pakaian renang tertutup yang dipilihnya dengan sangat hati-hati. Darren berdiri di belakangnya. Jari-jarinya menyentuh bahu Keira, mengoleskan tabir surya dari tengkuk ke punggung atas dengan gerakan lambat.

Terlalu lambat.

Keira langsung menegang.

"Cukup."

"Belum."

"Darren."

"Ren," koreksinya rendah di dekat telinganya.

Panas di wajah Keira naik lebih cepat daripada uap kolam.

"Ren, cukup."

Sudut bibir Darren melengkung.

"Belum cukup."

Kalimat itu jelas bukan hanya tentang tabir surya.

Keira menoleh untuk memarahinya, tetapi Darren sudah menunduk dan mencium sudut bibirnya. Kabut menutupi mereka dari pandangan luar. Air panas bergerak pelan di kolam. Untuk beberapa menit, tidak ada Serena, tidak ada Rossa, tidak ada gelang, tidak ada bunga beracun.

Hanya napas Darren, jari Darren di bahunya, dan rasa aman yang ia tahu mungkin hanya bisa dicuri sebentar.

Lalu dari sisi lain area kolam, suara Ningsih meledak.

"Aduh panas! Ratna, ini air buat manusia atau buat masak telur?"

Keira tersentak, lalu tertawa.

Darren menutup mata sebentar, seperti pria yang baru saja kehilangan satu rencana pribadi yang sangat penting.

Tetapi ketika Keira tertawa lagi, ujung mulutnya ikut naik.

Malamnya, makan malam keluarga digelar di ruang makan panjang yang menghadap kebun teh gelap.

Mama Lian duduk di kursi utama sebagai yang tertua. Darren duduk di sebelah kanannya, Keira di samping Darren. Jessica duduk dekat Keira, tampak lebih pucat dari biasanya tetapi memaksa makan beberapa suap sup. Serena berada di sisi lain Jessica, terus membantu mengambil lauk, menuang air, dan mengajaknya bicara dengan suara lembut.

"Ci Jessica, sedikit lagi. Dokter bilang kamu harus makan teratur."

Jessica mengangguk pelan.

Keira menatap piring Serena.

Hampir tidak tersentuh.

Rossa duduk lebih jauh, tenang seperti pisau dalam sarung. Ia tidak banyak berbicara, hanya sesekali tersenyum tipis saat Mama Lian menyinggung cuaca Puncak. Felicia beberapa kali menatap Keira, bukan dengan kebencian murni seperti sebelumnya, melainkan campuran antara curiga, dingin, dan rasa ingin tahu yang tidak ia akui.

Di bawah meja, Darren menyentuh lutut Keira sekali.

Tenang.

Keira mengambil napas.

Makan malam berjalan terlalu lancar.

Serena tertawa pada waktu yang tepat. Rossa diam pada waktu yang tepat. Mama Lian menjaga martabatnya. Felicia menusuk dengan satu dua kalimat lama, lalu berhenti. Jessica sesekali menyentuh pergelangan tangan kirinya yang sudah tidak memakai gelang, dan setiap kali itu terjadi, mata Keira menjadi lebih dingin.

Menjelang tengah malam, semua orang kembali ke kamar masing-masing.

Demi menjaga tata krama di depan Mama Lian, Keira dan Darren mendapat kamar terpisah di lantai dua. Kamar Keira menghadap halaman belakang dan jalan setapak menuju rumah buku. Ningsih tidur di kamar staf tidak jauh dari koridor yang sama.

Udara Puncak dingin. Selimutnya tebal. Tetapi Keira tidak bisa tidur nyenyak.

Sekitar pukul satu, ia terbangun karena suara yang sangat pelan.

Tap.

Tap.

Seperti langkah kaki yang sengaja ditahan di koridor kayu.

Keira membuka mata.

Untuk beberapa detik, ia tidak bergerak. Lalu ia duduk perlahan, turun dari ranjang tanpa menyalakan lampu, dan berjalan ke pintu.

Ia menahan napas, menempelkan mata ke celah kecil.

Koridor gelap.

Lampu dinding menyala redup di ujung. Bayangan tanaman dari jendela bergerak pelan tertiup angin.

Lalu, di ujung lorong, sebuah siluet melintas.

Tidak jelas.

Terlalu cepat.

Sosok itu menghilang di tikungan menuju tangga belakang.

Keira memegang gagang pintu.

Jantungnya berdetak pelan, berat.

"Siapa itu?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!