Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.
Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
## Arena Latih Tanding: Kenangan yang Terbakar
"Arena latih tanding garnisun bagian dalam istana..."
**Latisha** bergumam di balik senyum getir tatkala sekelebat ingatan tentang tempat ini terlintas.
Mundur ke beberapa tahun silam, bagi **Latisha** tidak ada tempat paling nyaman kecuali perpustakaan istana. Hari-hari setelah menyelesaikan kelas, ia akan melesat ke perpustakaan kemudian kembali ke kediaman dengan membawa sejumlah buku tebal. Namun, suatu hari **Elea** mengajaknya ke lapangan latihan dengan alasan melihat para prajurit melakukan latih tanding. **Latisha** ingat saat itu ia baru mencapai usia 15 tahun dan tanpa kecurigaan sama sekali, ia menuruti **Elea**, tapi saat sampai di sana ia malah mendapati **Drakara** yang baru berusia 12 tahun berlatih bersama seorang prajurit muda.
Begitu ramai di sana dan **Drakara** terlihat hebat setiap kali menyambut serangan dari pedang kayu lawannya. Semua orang memuji kecakapannya sampai salah seorang prajurit berceletuk sinis dan mengusulkan **Latisha** untuk maju ke tengah lapangan. Melakukan sedikit pemanasan lewat latih tanding menggunakan pedang kayu.
**Latisha** jelas menolak karena tidak bisa. Komandan garnisun pun tidak memaksa dan mengatakan bahwa **Latisha** bisa menyaksikan saja dari kejauhan, tapi para prajurit yang menaruh dukungan pada **Drakara** menyudutkannya. **Elea** dan **Drakara** pun dengan sengaja melakukan permintaan sederhana untuk latih tanding meski hanya sebentar.
Tanpa tahu bahwa ia hendak dipermalukan sebagai pewaris sah saat itu, **Latisha** maju ke tengah lapangan sambil memegang pedang kayu dengan tangan gemetar. Para prajurit menahan tawa karena memegang pedang saja **Latisha** tidak tahu; terlebih gerakannya yang kaku dan penuh keraguan membuatnya terlihat tidak layak disandingkan dengan **Drakara**.
Pada akhirnya ketika latih tanding itu berlangsung, hanya dalam hitungan menit, **Latisha** berakhir menyedihkan. Ia menerima beberapa pukulan dari pedang kayu **Drakara** lalu jatuh terduduk dengan kepala tertunduk, menahan tangis karena malu. Sejak hari itu, orang-orang istana makin parah dalam melontarkan kata-kata kasar nan jahat. **Latisha** ingat betul seperti apa para prajurit menatapnya saat itu sembari melontarkan pertanyaan, *"Apa dia sungguh keturunan **Valgard**?"*
Sudah sangat lama sejak itu, dan sekarang ia kembali berdiri di sana. Ia meraih sebatang pedang kayu keras sembari memasuki lapangan latih tanding di mana **Drakara** dan **Elea** berada, sedikit keluar dari garis lapangan.
"Nah, bagaimana jika kita sedikit melepas kerinduan melalui latihan tanding, Adik-adikku yang manis?" usul **Latisha** pada salah satu adiknya, entah siapa yang akan menyambut tawarannya terlebih dahulu.
Jika itu mereka, **Latisha** menduga yang akan maju adalah **Elea**, tapi secara tidak terduga justru **Drakara** yang masuk ke lapangan latihan sambil menggenggam kuat pedang kayu. Ia telah bersiap untuk *sparring*.
Komandan garnisun sedikit cemas. Mengingat kepribadian **Drakara**, ini tidak akan berakhir baik, ditambah sekarang tidak tahu seperti apa karakter anak tertua **Valgard**. Mengingat betapa gilanya **Latisha** membawa **Prayan** dalam sidang terbuka, itu sudah menunjukkan bahwa wanita tersebut jauh lebih gila dari **Drakara**.
"Anda yakin ingin melakukannya?" Komandan bertanya agak skeptis pada **Latisha**.
**Latisha** mengulas senyum dan mengangguk. Tanpa membuang waktu, komandan mempersilakan keduanya memulai latih tanding.
**Drakara** mengambil langkah lebih dulu. Melesat dan mengayunkan pedangnya dengan rendah sebelum terangkat tinggi ke arah bahu kiri **Latisha**. Serangan itu ditujukan agar lawan terkejut, kemudian membuat celah sehingga bisa menggoyahkan pertahanan lawan. Akan tetapi, **Latisha** menyadari hal tersebut sehingga mudah berkelit seiring senyum kembali tersungging.
Pada detik berikutnya, dengan serangkaian serangan lanjutan dari **Drakara**, yang dilakukan **Latisha** hanya menghindari setiap serangan tanpa melakukan balasan. Para prajurit yang menyaksikan dari luar lapangan bertanya-tanya mengapa **Latisha** melakukan hal itu. Berpikir apa mungkin ia tidak bisa memberi serangan balasan atau sedang meremehkan **Drakara**.
**Drakara** sendiri tampak terengah, bukan lelah melainkan emosi karena **Latisha** tampak bermain-main dengannya.
"Apa kamu sengaja melakukannya?!"
Ketika pergerakan mereka terjeda karena saling menahan serangan satu sama lain, **Drakara** berkata diakhiri geraman berang, menatap **Latisha** dengan mata berkilat murka. Kekesalannya makin merebak tatkala menyadari bahwa kakaknya jadi lebih unggul darinya.
*Kenapa dia bisa jadi kuat?*
*Kemana si lemah yang hanya tahu menggendong setumpuk buku?*
*Kenapa dia tidak menyerah saja!*
*Apa yang terjadi selama di **Dakrossa**!*
Pertanyaan-pertanyaan itu bergumul di dalam kepala **Drakara**, membuatnya kini terliput emosi dan fokus menjadi terpecah. **Latisha** menyunggingkan senyum. Hal yang paling ia suka adalah ketika musuhnya mulai terusik dan jengkel terhadap tingkahnya karena dengan begitu ia bisa melihat sisi jelek lawan ketika sedang marah.
*Menyenangkan, sungguh menyenangkan!*
**Latisha** berseru dalam hati. Jika dikhayalkan, ia seolah sedang melompat-lompat riang setelah menikmati waktu di **Dakrossa** tanpa bermain-main.
"Sungguh, ini belum seberapa dengan apa yang kalian perbuat padaku selama ini," **Latisha** menjawab diakhiri senyum simpul yang terkesan memuakkan bagi **Drakara**.
**Drakara** merapatkan rahang kemudian melompat mundur untuk mengambil jarak sebelum melesatkan serangan baru. Sedikit berbeda dari sebelumnya karena ia menyalurkan energi pada pedang kayu, memperkuatnya. Komandan yang menyadari hal itu membelalak, sementara **Drakara** menyunggingkan senyum.
"Kamu pikir bisa mengalahkanku dengan mudah hanya karena bertambah sedikit lebih kuat?" tanya **Drakara**.
**Latisha** agak memanyunkan bibir dan menggeleng. "Aku bahkan tidak memikirkan menang atau kalah karena bagiku ini hanya latihan untuk melepas kerinduan. Sepertinya hanya kamu yang berpikir berbeda, Adikku. Betapa busuknya hatimu itu."
Sudut bibir **Drakara** berkedut jengkel, jadi ia langsung menyerang agak brutal. Namun, **Latisha** justru sengaja bermain-main dengan jarak, di mana setiap kali mendekat ia akan langsung menjauh secepat kilat. Seperti tarik ulur sehingga **Drakara** makin tersulut emosi dan menambah jumlah energi yang melingkupi pedang kayu. **Latisha** menahan senyum lalu berpikir untuk memberi balasan ringan.
*Plak!*
*Ukh!*
Namun, tidak lama satu serangan berhasil menyentak lengan **Drakara** hingga ringisan lolos. Detik berikutnya, pedang kayu **Latisha** kembali menyapa bagian tubuh **Drakara** lainnya.
*Ukh!*
"Dia seperti memukul seekor anjing."
Komandan garnisun berkomentar dalam hati melihat pemandangan itu.
Sementara, **Drakara** sudah mencapai batas kesabaran sehingga sebagian besar energinya dipusatkan pada pedang. Kini, pedang kayu tersebut setara pedang asli kualitas tinggi; jika terkena akan meninggalkan luka serius. Komandan dan para prajurit yang melihat pedang kayu **Drakara** terbakar energi samar kejinggaan langsung melotot. Berusaha mengingatkan bahwa ini hanya latih tanding dan mereka berusaha menghentikan, tapi **Latisha** mendelik tajam dan meminta mereka untuk tetap di luar lapangan karena sekarang **Drakara** akan menyerang siapa pun yang menghalangi latih tanding.
**Drakara** menyunggingkan senyum beringas lalu melesat secepat kilat ke arah **Latisha**. Tanpa kegentaran sama sekali, **Latisha** menyambut serangan **Drakara**, dan hanya dalam satu kali blokiran, pedang kayu **Latisha** hancur berkeping-keping, meledak jadi serpihan yang berserakan di tanah berumput.
**Latisha** mengembuskan napas; kini ia sudah tidak memegang senjata. **Drakara** menjeda serangan kemudian menyunggingkan senyum angkuh.
"Butuh pedang baru?" **Drakara** begitu angkuh karena berpikir **Latisha** tidak mampu menggunakan energi seperti dirinya.
Komandan mendekati perlengkapan senjata, hendak memberikan **Latisha** pedang kayu baru, tapi **Latisha** malah menggulung lengan pakaian hingga sebatas siku. Ia menjulurkan tangan kanannya lebih kencang di sisi tubuh seraya menatap **Drakara**.
"Tidak perlu."
"Hah!" **Drakara** menyeringai. "Bersikap keren tidak akan menyelamatkanmu."
Setelah berkata demikian, **Drakara** kembali melesat. Kecepatannya bertambah seiring ayunan pedang mengarah ke batang leher **Latisha**.
"Putri!"
Komandan garnisun berseru tatkala pedang kayu **Drakara** akan menyapa batang leher **Latisha**. Ia melesat untuk menghentikan serangan, namun niatnya berganti jadi keterkejutan ketika pedang kayu **Drakara** hancur jadi serpihan karena diblokir oleh tangan kanan **Latisha** yang berlapis energi agak keperakan, bersamaan dengan tangan kiri yang meluncur meninju ulu hati **Drakara**.
*Akh!*
**Drakara** langsung melotot bersamaan tubuh terpelanting dan jatuh terlentang. Pandangannya mendadak kabur tatkala bersitatap dengan terik matahari di atas wajahnya.
"Ya ampun, sepertinya Kakak terlalu bersemangat, ya?" ucap **Latisha** yang kini berdiri di samping **Drakara** dengan tubuh agak merunduk, memayungi wajah anak kedua **Valgard** itu dari panasnya sinar matahari.